Bab 20

Via telpon

Aku

Assalamualaikum

Andi

Waalaikumsalam, kenapa sayang

Aku

Sayang mie nya sudah adek beli, abang jemput ke rumah ya.

Andi

Iya sayang, sebentar lagi abang kesana ya. Adek tunggu ya jangan kemana - mana dulu,

Aku

Iya.

Panggilan berakhir. Aku masih saja bersantai di ruang tamu menikmati beberapa camilan menunggu kedatangan Andi menjemput mienya.

“Lama banget sih perginya” aku memainkan sosial media menghilangkan kejenuhan.

Setengah jam kemudian. Bunyi klakson motor terdengar dari pagar. Aku membukakan pintu utama melihat siapa yang datang. Aku menemukan Andi yang sedang membuka pintu pagar.

“Heeiii apakabar” teriaknya seraya berjalan ke pintu utama.

“Apa sih garing banget” ledekku yang tidak ingin bercanda.

“Kenapa kok bete gitu mukanya” tanyanya yang melihat ke arah wajahku.

“Gak kenapa - napa, habisnya abang lama banget ke sininya” rengekku mengadu kepadanya.

“Tadi ada tugas sedikit sayang, duh yang gak sabaran menunggu aku ciieee” Andi mencolek daguku. “Tuan putri kangen ya sama pangeran”

“Dih mana ada, HALU itu kamu atau jangan - jangan kamu ada kepentok apa gitu tadi waktu jalan ke sini”

“Iya kepentok cintamu”

“Bisa ae mas jamu” aku duduk di kursi depan rumah.

“Mas jamu, masa ganteng begini jualan jamu impossible” Andi ikut duduk di sampingku yang terpisah dengan meja.

“Memangnya abang ganteng” tanyaku meledek

“Iyalah sudah ada sertifikatnya sudah diakui dunia juga” Jelasnya perihal kegantengan yang ia miliki sejak lahir.

“Uuu dipikir Kim Taehyung kali yang kegantengannya diakui dunia”

“Kim Taehyung itu kan”

“Apa, mau dibilang tetangga kamu lagi, se SD bareng sama kamu lagi gitu” jawabku yang menyeka omongannya.

“Bukan” Andi menggeleng kepalanya.

“Jadi”

“Jadian”

“Siapa”

“Kitalah. Aku dan kamu, masa kamu sama Taehyung ya gak mau lah dia sama kamu, kamu cerewet gitu”

“Tanya” tertawa ngakak

“Rese banget sih tuan putri aku, gemes deh” menyolek pipiku.

“Jangan di colek - colek nanti pipiku kempesy” aku bangun dari tempat duduk “bentar ya sayang, abang makan mienya di sini saja ya”

“Iya, mau adek mintakan”

“Suuzon banget” aku berjalan ke dalam mengambil piring dan minuman untuk Andi.

Beberapa menit kemudian aku keluar membawa piring dan dua minuman dingin.

“Silahkan tuan” meletakkan minuman di atas meja.

“Terima kasih bibik” senyum melirikku

“What bibik” kembali duduk di posisi semula. “Silahkan dimakan ya tuan”

Andi mengambil mie yang dibungkus rapi oleh penjualnya, menaruhnya di atas piring.

“Kamu mau gak” menawarkan aku.

“Gak” aku menolaknya padahal aku sangat ingin menikmati mienya.

“Gak usah malu - malu kali bik” mengambil sesuap mienya dengan sumpit memasukkan ke dalam mulutnya.

“Bik lagi” aku memanyunkan bibirku tidak terima dipanggil bik oleh Andi.

“Gak deh sayang ini aammp dulu” Andi menyogokku dengan sesuap mie.

Aku membuka mulut memakan mie yang Andi suapkan mengunyahnya perlahan menikmati kenikmatan mienya yang dibuat dengan banyak rempah.

“Enak kan sayang, enak dong kan aku yang suapin” Andi memasukkan lagi mie ke dalam mulutnya.

“Mana ada, mienya sudah enak dari sananya dari penjualnya” bantahku yang meneguk minuman.

“Tapi karena aku yang suapin jadi kenikmatannya bertambah berjuta - juta kali lipat ya kan mbak” mengedipkan matanya.

“Apa sih om, goda - goda aku, aku masih di bawah umur kali”

“Om - om, sugar daddy ni”

“Mending Min Suga dari pada kamu yang jadi sugar daddy”

“Hah bulshit itu, yah mie nya habis” Andi baru menyadari mienya yang terus dimasukkan ke dalam mulut sudah habis tanpa sisa.

“Ah aku baru sesuap” aku merasa kesal karena baru memakannya satu suap itupun dari suapan yang diberikan Andi.

“Maaf sayang, seperti itulah resiko kalau makan sambil lihatin adek peu yang na abeh (peu yang na abeh \= apa yang ada habis)” mencari alasan karena tanpa sadar sudah menghabiskan mienya.

“Alah gombal banget padahal kriet (pelit)”

“Gak sayang” terkekeh melihat wajahku. “Nanti kapan - kapan kita pergi lagi ya sayangku cintaku, abang beli yang banyak besok. Kalau perlu gerobak dan penjualnya juga kita beli, biar kalau adek pengen bisa lansung dibuatkan sama abang - abangnya”

“Aaaa aku terpana” membuat gaya lebay.

“Sama kegantengan aku kan pastinya”

“Pede sekali kamu bapak Andiku” aku menepuk jidatnya Andi.

“Iih sakit tahu” memegang jidatnya.

“Ya ampun kasiaannya” mengelus jidat Andi.

“Iiiya atit banget” mode bayi 5 bulan.

“Tapi masak iya TENTARA merengek, gimana mau perang, sebelum perang saja sudah kalah tuh” ledekku.

“Oh gak tuh” Andi tiba - tiba bangun membenarkan bajunya bergaya kuat dengan mengangkat lengannya layaknya superhiro.

“Mau kemana” tanyaku heran melihat Andi tiba - tiba bangun dari duduknya.

“Biar gak adek bilang letoy”

Aku yang mendengar penjelasan Andi tertawa terbahak - bahak.

“Abang pulang ya”

“Yah jangan dulu”

“Abang mau piket nanti malam”

“Yah, sepi deh nanti malam” Aku mengerutkan wajahku teringat jika Andi piket pasti tidak bisa main handphone otomatis dia tidak bisa menghubungiku.

“Gak apa - apa sayang, kan ini semua untuk masa depan kita bertiga” jelasnya memberiku semangat.

“Iya deh, tapi kok bertiga, siapa” tanyaku lagi maksud kata bertiga.

“Aku, kamu dan anak kita” jawab Andi berlari ke motornya.

“Heeeiii kok lari sih”

“Takut kamu jewer” Andi memasangkan helmnya “abang pulang dulu ya” teriaknya sembari menghidupkan mesin lalu menancap gasnya.

“Jahil banget sih anak itu, jadi makin bucin deh akunya” mengambil piring dan gelas kotor memasukkannya ke dalam rumah.

****

Di dalam rumah

“Aku ngapain sekarang ya, mandi dulu apa rebahan dulu, mandi dulu kali ya” merebahkan tubuhku di kasur. Beberapa menit kemudian aku terlelap tidur.

Beberapa jam kemudian aku terbangun “ah aku ketiduran” mengecek handphone. Membuka aplikasi chattingan, aku mendapatkan 1 pesan dari Andi yang berisi abang di koramil ya piket dadaaah sayangku, tulisnya.

Aku tidak membalas pesan dari Andi karena aku pikir percuma saja membalasnya toh Andi tidak lagi memegang handphonenya. Setelah meletakkan handphone kembali aku mengambil handuk, pergi ke kamar mandi.

Selesai mandi aku bergegas melaksanakan shalat magrib.

“Aaah pengen nasi goreng seafood” melipatkan mukena dan sajadah kembali lalu meletakkannya di rak mukena. “Aku ganti baju dulu setelah itu aku cus berangkat berburu nasi goreng eh kok berburu sih mencari memangnya apa yang dicari kan dijual terus penjualnya yang membuat nasi gorengnya” aku benar - benar kesepian tidak ada orang yang bisa aku ajak mengobrol.

“Aku sudah rapi” setelah mengganti pakaian aku menggunakan make up tipis “udah ah cuuss jangan cantik \- cantik nanti dilirik orang akunya, nangis deh bang Andi” mengpede di depan cermin.

Aku keluar rumah mengambil motor kesayanganku di garasi, memakaikan helm, menyalakan mesin lalu menancap gas mencari tukang nasi goreng.

Di perjalanan aku melihat toko es krem yang biasa aku pergi dengan Andi “jadi pengen es krim kan” aku berbicara sendirian di atas motor. “Mampir dulu ah” membelokkan motor ke depan toko es krim, memarkirkannya dengan rapi.

“Bang, mau es krim coklat vanila dan roti manis satu ya take a way” pintaku kepada penjaga toko.

“Iya, ditunggu sebentar ya” jawabnya yang pergi membuat pesananku.

Aku duduk berdiam diri sendirian “ngapain take a way makan di sini sajalah, bang” memanggil penjaganya yang baru 3 langkah berjalan dariku.

“Iya ada yang mau dipesan lagi” memutarkan badannya ke arahku.

“Bang makan di sini saja ya es krimnya tidak jadi dibawa pulang” jelasku meminta es krim untuk dimakan di tempat.

“Baik silahkan ditunggu ya” penjaga berjalan kembali.

Selang beberapa menit kemudian ia kembali dengan membawa semangkok es krim yang aku pesan.

“Terima kasih bang” menarik mangkok es krim ke depanku

“Iya silahkan dinikmati” balasnya dengan senyuman lalu berjalan ke meja pengunjung lainnya.

“Foto dulu hihi” mengeluarkan handphone dari saku celana, mengambil beberapa gambar lalu menguploadnya di sosial media, aku menambahkan caption me time di bawahnya. Memegang mangkok es krim menikmatinya perlahan “lucu juga ya sendirian duduk di cafe” seru ku yang terus menyendok es krim. “Gabut banget aku malam ini” aku tidak menyangka pergi sendirian duduk sendirian di cafe, ini pertama kalinya untukku.

Es krim telah habis aku masukkan ke dalam mulut, rasanya benar \- benar nikmat tak berasa lagi sendirian. Aku bangun dari tempat duduk melangkah ke meja kasir membayarnya.

Aku melanjutkan perjalananku mencari nasi goreng yang menjadi tujuan utamaku keluar malam - malam sendirian tanpa ada siapapun menemaninya hanya cahaya rembulan yang setia mengikuti langkahku.

Aku memberhentikan motorku di depan gerobak penjual nasi goreng.

“Bang nasi goreng seafoodnya satu ya yang pedas”

“Baik, mau yang level berapa” tanya penjualnya.

“Level 4 saja bang” jawab yang merequest tingkat kepedasannya di level 4.

“Silahkan ditunggu dulu ya”

Aku menunggu dengan setia di atas motor seraya melihat - lihat sosial media di handphoneku, sesekali aku melihat fotonya Andi yang terpampang di layar beranda handphoneku.

“Dek sudah ini” tukang nasi goreng memanggilku memberitahuku nasi goreng yang kupesan telah siap.

“Oh iya bang, berapa bang” tanyaku.

“30.000 saja”

Aku mengeluarkan uang dari saku celana memberikan kepada penjualnya. Aku melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.

#thank you atas kunjungannya. Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.

Di tunggu part selanjutnya ya bye.

Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53 : Pak Said suka sama aku??
54 Bab 54 : Pelukan dari Andi
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59 : Inna li llahi wa inna ilayhi rajiun
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62 : Ternyata Pak Said Menyukai ku
63 Bab 63 : Aku Rindu
64 Bab 64 : Kasus di Parkiran
65 Bab 65
66 Bab 66 : Panggilan itu
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74 : Andi vs Anti
75 Bab 75 : Tatapan dokter Elita
76 Bab 76
77 Bab 77 : Andi Keluar dari Rumah Sakit
78 Bab 78 : Haruskah Hatiku Terluka
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82 : Apa yang Andi bicarakan??
83 Bab 83
84 Bab 84 : Andi Bakalan Pergi??
85 Bab 85 : Bersamamu
86 Bab 86
87 Bab 87 : Dokter Elita???
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90 : Siswa Kelas VIII d
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95 : Kanza Kecelakaan
96 Bab 96 : Kondisi Kanza
97 Bab 97
98 Bab 98 : Kanza Sadar
99 Bab 99 : Kasih sayangnya Andi
100 Bab 100 : Andi dan Dokter Elita
101 Bab 101 : Marahan
102 Bab 102
103 Bab 103 : Mawar Merah Bukti Cinta
104 Bab 104 : Fansnya Andi
105 Bab 105 : Andi Mencintai Wanita Lain
106 Bab 106 : Bakso
107 Bab 107 : Liburan
108 Bab 108 : Hari Pertama Liburan
109 Bab 109 : Pantai
110 Bab 110 : Andi Pergi
111 Bab 111 : Penantianku
112 Bab 112
113 Bab 113 : Ini Beneran Andi?
114 Bab 114
115 Bab 115 : Mengurus Pernikahan bagian 1
116 Bab 116 : Mengurus Pernikahan bagian 2
117 Bab 117 : Andi dan Kanza Bersatu
Episodes

Updated 117 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53 : Pak Said suka sama aku??
54
Bab 54 : Pelukan dari Andi
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59 : Inna li llahi wa inna ilayhi rajiun
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62 : Ternyata Pak Said Menyukai ku
63
Bab 63 : Aku Rindu
64
Bab 64 : Kasus di Parkiran
65
Bab 65
66
Bab 66 : Panggilan itu
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74 : Andi vs Anti
75
Bab 75 : Tatapan dokter Elita
76
Bab 76
77
Bab 77 : Andi Keluar dari Rumah Sakit
78
Bab 78 : Haruskah Hatiku Terluka
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82 : Apa yang Andi bicarakan??
83
Bab 83
84
Bab 84 : Andi Bakalan Pergi??
85
Bab 85 : Bersamamu
86
Bab 86
87
Bab 87 : Dokter Elita???
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90 : Siswa Kelas VIII d
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95 : Kanza Kecelakaan
96
Bab 96 : Kondisi Kanza
97
Bab 97
98
Bab 98 : Kanza Sadar
99
Bab 99 : Kasih sayangnya Andi
100
Bab 100 : Andi dan Dokter Elita
101
Bab 101 : Marahan
102
Bab 102
103
Bab 103 : Mawar Merah Bukti Cinta
104
Bab 104 : Fansnya Andi
105
Bab 105 : Andi Mencintai Wanita Lain
106
Bab 106 : Bakso
107
Bab 107 : Liburan
108
Bab 108 : Hari Pertama Liburan
109
Bab 109 : Pantai
110
Bab 110 : Andi Pergi
111
Bab 111 : Penantianku
112
Bab 112
113
Bab 113 : Ini Beneran Andi?
114
Bab 114
115
Bab 115 : Mengurus Pernikahan bagian 1
116
Bab 116 : Mengurus Pernikahan bagian 2
117
Bab 117 : Andi dan Kanza Bersatu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!