Via telpon
Aku
Assalamualaikum
Andi
Waalaikumsalam, kenapa sayang
Aku
Sayang mie nya sudah adek beli, abang jemput ke rumah ya.
Andi
Iya sayang, sebentar lagi abang kesana ya. Adek tunggu ya jangan kemana - mana dulu,
Aku
Iya.
Panggilan berakhir. Aku masih saja bersantai di ruang tamu menikmati beberapa camilan menunggu kedatangan Andi menjemput mienya.
“Lama banget sih perginya” aku memainkan sosial media menghilangkan kejenuhan.
Setengah jam kemudian. Bunyi klakson motor terdengar dari pagar. Aku membukakan pintu utama melihat siapa yang datang. Aku menemukan Andi yang sedang membuka pintu pagar.
“Heeiii apakabar” teriaknya seraya berjalan ke pintu utama.
“Apa sih garing banget” ledekku yang tidak ingin bercanda.
“Kenapa kok bete gitu mukanya” tanyanya yang melihat ke arah wajahku.
“Gak kenapa - napa, habisnya abang lama banget ke sininya” rengekku mengadu kepadanya.
“Tadi ada tugas sedikit sayang, duh yang gak sabaran menunggu aku ciieee” Andi mencolek daguku. “Tuan putri kangen ya sama pangeran”
“Dih mana ada, HALU itu kamu atau jangan - jangan kamu ada kepentok apa gitu tadi waktu jalan ke sini”
“Iya kepentok cintamu”
“Bisa ae mas jamu” aku duduk di kursi depan rumah.
“Mas jamu, masa ganteng begini jualan jamu impossible” Andi ikut duduk di sampingku yang terpisah dengan meja.
“Memangnya abang ganteng” tanyaku meledek
“Iyalah sudah ada sertifikatnya sudah diakui dunia juga” Jelasnya perihal kegantengan yang ia miliki sejak lahir.
“Uuu dipikir Kim Taehyung kali yang kegantengannya diakui dunia”
“Kim Taehyung itu kan”
“Apa, mau dibilang tetangga kamu lagi, se SD bareng sama kamu lagi gitu” jawabku yang menyeka omongannya.
“Bukan” Andi menggeleng kepalanya.
“Jadi”
“Jadian”
“Siapa”
“Kitalah. Aku dan kamu, masa kamu sama Taehyung ya gak mau lah dia sama kamu, kamu cerewet gitu”
“Tanya” tertawa ngakak
“Rese banget sih tuan putri aku, gemes deh” menyolek pipiku.
“Jangan di colek - colek nanti pipiku kempesy” aku bangun dari tempat duduk “bentar ya sayang, abang makan mienya di sini saja ya”
“Iya, mau adek mintakan”
“Suuzon banget” aku berjalan ke dalam mengambil piring dan minuman untuk Andi.
Beberapa menit kemudian aku keluar membawa piring dan dua minuman dingin.
“Silahkan tuan” meletakkan minuman di atas meja.
“Terima kasih bibik” senyum melirikku
“What bibik” kembali duduk di posisi semula. “Silahkan dimakan ya tuan”
Andi mengambil mie yang dibungkus rapi oleh penjualnya, menaruhnya di atas piring.
“Kamu mau gak” menawarkan aku.
“Gak” aku menolaknya padahal aku sangat ingin menikmati mienya.
“Gak usah malu - malu kali bik” mengambil sesuap mienya dengan sumpit memasukkan ke dalam mulutnya.
“Bik lagi” aku memanyunkan bibirku tidak terima dipanggil bik oleh Andi.
“Gak deh sayang ini aammp dulu” Andi menyogokku dengan sesuap mie.
Aku membuka mulut memakan mie yang Andi suapkan mengunyahnya perlahan menikmati kenikmatan mienya yang dibuat dengan banyak rempah.
“Enak kan sayang, enak dong kan aku yang suapin” Andi memasukkan lagi mie ke dalam mulutnya.
“Mana ada, mienya sudah enak dari sananya dari penjualnya” bantahku yang meneguk minuman.
“Tapi karena aku yang suapin jadi kenikmatannya bertambah berjuta - juta kali lipat ya kan mbak” mengedipkan matanya.
“Apa sih om, goda - goda aku, aku masih di bawah umur kali”
“Om - om, sugar daddy ni”
“Mending Min Suga dari pada kamu yang jadi sugar daddy”
“Hah bulshit itu, yah mie nya habis” Andi baru menyadari mienya yang terus dimasukkan ke dalam mulut sudah habis tanpa sisa.
“Ah aku baru sesuap” aku merasa kesal karena baru memakannya satu suap itupun dari suapan yang diberikan Andi.
“Maaf sayang, seperti itulah resiko kalau makan sambil lihatin adek peu yang na abeh (peu yang na abeh \= apa yang ada habis)” mencari alasan karena tanpa sadar sudah menghabiskan mienya.
“Alah gombal banget padahal kriet (pelit)”
“Gak sayang” terkekeh melihat wajahku. “Nanti kapan - kapan kita pergi lagi ya sayangku cintaku, abang beli yang banyak besok. Kalau perlu gerobak dan penjualnya juga kita beli, biar kalau adek pengen bisa lansung dibuatkan sama abang - abangnya”
“Aaaa aku terpana” membuat gaya lebay.
“Sama kegantengan aku kan pastinya”
“Pede sekali kamu bapak Andiku” aku menepuk jidatnya Andi.
“Iih sakit tahu” memegang jidatnya.
“Ya ampun kasiaannya” mengelus jidat Andi.
“Iiiya atit banget” mode bayi 5 bulan.
“Tapi masak iya TENTARA merengek, gimana mau perang, sebelum perang saja sudah kalah tuh” ledekku.
“Oh gak tuh” Andi tiba - tiba bangun membenarkan bajunya bergaya kuat dengan mengangkat lengannya layaknya superhiro.
“Mau kemana” tanyaku heran melihat Andi tiba - tiba bangun dari duduknya.
“Biar gak adek bilang letoy”
Aku yang mendengar penjelasan Andi tertawa terbahak - bahak.
“Abang pulang ya”
“Yah jangan dulu”
“Abang mau piket nanti malam”
“Yah, sepi deh nanti malam” Aku mengerutkan wajahku teringat jika Andi piket pasti tidak bisa main handphone otomatis dia tidak bisa menghubungiku.
“Gak apa - apa sayang, kan ini semua untuk masa depan kita bertiga” jelasnya memberiku semangat.
“Iya deh, tapi kok bertiga, siapa” tanyaku lagi maksud kata bertiga.
“Aku, kamu dan anak kita” jawab Andi berlari ke motornya.
“Heeeiii kok lari sih”
“Takut kamu jewer” Andi memasangkan helmnya “abang pulang dulu ya” teriaknya sembari menghidupkan mesin lalu menancap gasnya.
“Jahil banget sih anak itu, jadi makin bucin deh akunya” mengambil piring dan gelas kotor memasukkannya ke dalam rumah.
****
Di dalam rumah
“Aku ngapain sekarang ya, mandi dulu apa rebahan dulu, mandi dulu kali ya” merebahkan tubuhku di kasur. Beberapa menit kemudian aku terlelap tidur.
Beberapa jam kemudian aku terbangun “ah aku ketiduran” mengecek handphone. Membuka aplikasi chattingan, aku mendapatkan 1 pesan dari Andi yang berisi abang di koramil ya piket dadaaah sayangku, tulisnya.
Aku tidak membalas pesan dari Andi karena aku pikir percuma saja membalasnya toh Andi tidak lagi memegang handphonenya. Setelah meletakkan handphone kembali aku mengambil handuk, pergi ke kamar mandi.
Selesai mandi aku bergegas melaksanakan shalat magrib.
“Aaah pengen nasi goreng seafood” melipatkan mukena dan sajadah kembali lalu meletakkannya di rak mukena. “Aku ganti baju dulu setelah itu aku cus berangkat berburu nasi goreng eh kok berburu sih mencari memangnya apa yang dicari kan dijual terus penjualnya yang membuat nasi gorengnya” aku benar - benar kesepian tidak ada orang yang bisa aku ajak mengobrol.
“Aku sudah rapi” setelah mengganti pakaian aku menggunakan make up tipis “udah ah cuuss jangan cantik \- cantik nanti dilirik orang akunya, nangis deh bang Andi” mengpede di depan cermin.
Aku keluar rumah mengambil motor kesayanganku di garasi, memakaikan helm, menyalakan mesin lalu menancap gas mencari tukang nasi goreng.
Di perjalanan aku melihat toko es krem yang biasa aku pergi dengan Andi “jadi pengen es krim kan” aku berbicara sendirian di atas motor. “Mampir dulu ah” membelokkan motor ke depan toko es krim, memarkirkannya dengan rapi.
“Bang, mau es krim coklat vanila dan roti manis satu ya take a way” pintaku kepada penjaga toko.
“Iya, ditunggu sebentar ya” jawabnya yang pergi membuat pesananku.
Aku duduk berdiam diri sendirian “ngapain take a way makan di sini sajalah, bang” memanggil penjaganya yang baru 3 langkah berjalan dariku.
“Iya ada yang mau dipesan lagi” memutarkan badannya ke arahku.
“Bang makan di sini saja ya es krimnya tidak jadi dibawa pulang” jelasku meminta es krim untuk dimakan di tempat.
“Baik silahkan ditunggu ya” penjaga berjalan kembali.
Selang beberapa menit kemudian ia kembali dengan membawa semangkok es krim yang aku pesan.
“Terima kasih bang” menarik mangkok es krim ke depanku
“Iya silahkan dinikmati” balasnya dengan senyuman lalu berjalan ke meja pengunjung lainnya.
“Foto dulu hihi” mengeluarkan handphone dari saku celana, mengambil beberapa gambar lalu menguploadnya di sosial media, aku menambahkan caption me time di bawahnya. Memegang mangkok es krim menikmatinya perlahan “lucu juga ya sendirian duduk di cafe” seru ku yang terus menyendok es krim. “Gabut banget aku malam ini” aku tidak menyangka pergi sendirian duduk sendirian di cafe, ini pertama kalinya untukku.
Es krim telah habis aku masukkan ke dalam mulut, rasanya benar \- benar nikmat tak berasa lagi sendirian. Aku bangun dari tempat duduk melangkah ke meja kasir membayarnya.
Aku melanjutkan perjalananku mencari nasi goreng yang menjadi tujuan utamaku keluar malam - malam sendirian tanpa ada siapapun menemaninya hanya cahaya rembulan yang setia mengikuti langkahku.
Aku memberhentikan motorku di depan gerobak penjual nasi goreng.
“Bang nasi goreng seafoodnya satu ya yang pedas”
“Baik, mau yang level berapa” tanya penjualnya.
“Level 4 saja bang” jawab yang merequest tingkat kepedasannya di level 4.
“Silahkan ditunggu dulu ya”
Aku menunggu dengan setia di atas motor seraya melihat - lihat sosial media di handphoneku, sesekali aku melihat fotonya Andi yang terpampang di layar beranda handphoneku.
“Dek sudah ini” tukang nasi goreng memanggilku memberitahuku nasi goreng yang kupesan telah siap.
“Oh iya bang, berapa bang” tanyaku.
“30.000 saja”
Aku mengeluarkan uang dari saku celana memberikan kepada penjualnya. Aku melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.
#thank you atas kunjungannya. Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.
Di tunggu part selanjutnya ya bye.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments