****
Keesokan harinya.
Kriiiing•••••
suara alarm berbunyi. Aku terbangun dari tidur nyenyakku kemudian pergi ke kamar mandi untuk berwudhu lalu mengerjakan shalat subuh.
Setelah selesai shalat aku mengangkat kedua tanganku sembari berdoa.
“Ya Allah berikan keberkahan umur untuk ayah dan ibu ku, ya Allah berikanlah kemudahan rezeki untukku dan kedua orang tuaku, selamatkan keduanya dari segala bahaya dan penyakit, Ya Allah jika memang bang Andi itu jodohku berikan kemudahan untuk kami melangsungkan pernikahan aamiin” aku menyapukan kedua tanganku ke wajah lalu melipat kembali mukena dan sajadah.
“Sayang sudah shalatnya” tanya mama yang masuk ke kamarku.
“Sudah ma” jawabku yang mengambil handuk.
“Ya sudah mandi terus”
Setelah selesai mandi aku memakai seragam sekolah, kemudian memakai make up tipis lalu keluar dari kamar menemui mama dan bersarapan bersama.
“Cantik banget mama hari ini” godaku.
“Ah bisa saja kamu kak” mama tersenyum salting mendengar pujianku.
Aku mengambil sesendok nasi dan lauk pauk.
Di sekolah
Hembusan angin menerpa pepohonan rindang di lapangan sekolah, bel masuk berbunyi semua siswa berlarian masuk kelas menyambut kedatangan guru untuk memberikan materi pelajaran.
“Assalamualaikum” aku masuk di kelas IX B.
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” seru semua siswa.
“Bersiaaaaap graaak” teriak ketua kelas menyuruh semua siswa untuk bangun “hormaaaaat grak” semua siswa mengangkat tangannya membuat tanda hormat “beri salam”
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” seru semua siswa.
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” sahutku.
Mereka semua duduk kembali.
“Sekarang baca doanya dulu ya silahkan dibaca surah Al Fatihah dan doa belajar”
“Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Alḥamdu lillāhi rabbil'ālamīn
Ar raḥmānir raḥīm
Māliki yaumid dīn
Iyyāka na'budu wa iyyāka nasta'īn
Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm
Sirāṭallażīna an'amta 'alaihim gairil-magḍụbi 'alaihim wa laḍ ḍāllīn
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Robbis rohlii shodrii, wa yassirliiamrii, wahlul ‘uqdatam millisaani yafqohu qoulii”
“Alhamdulillah, sekarang semuanya buka buku paket halaman 125 tentang Pemanasan global”
“Baik bu” semua siswa membuka buku paketnya tanpa terkecuali.
“Sudah semua” tanyaku.
“Sudah bu”
“Sekarang ibu kasih waktu untuk kalian menulis di catatan dimulai dari pengertian dan contoh pemanasan global” suruhku untuk mencatat terlebih dahulu sebelum dijelaskan.
“Baik bu” jawab mereka tanpa ada yang membantah.
Sementara siswa membuat catatan aku duduk di kursi guru mengawasi mereka.
“Sekarang ibu absen dulu ya”
“Ansarruzin”
“Hadir bu” jawab Ansar mengacungkan telunjuknya
“Rina Annisa” panggilku lagi setelah mencentang siswa yang hadir.
“Gak datang bu, sakit” jawab Anita
Aku membuatkan tanda huruf s untuk Rina Annisa “Reza Harahap”
“Hadir bu” sahut Reza mengacungkan telunjuknya.
Setelah selesai memanggil absen aku berjalan keliling kelas untuk memastikan semua siswa dan siswi menulis catatan.
“Bu yang ini ditulis juga” tanya Desi yang melihat aku berjalan di sampingnya.
“Iya sayang” aku segera menjawabnya dan menunjukkan sampai mana yang harus di tulis.
“Terima kasih bu” serunya lagi
“Iya” aku melanjutkan ke siswa lain.
Tak serasa dua jam pelajaran telah selesai bel ganti pelajaran berbunyi.
“Baiklah anak - anak sampai di sini dulu pembelajaran kita hari ini, jika ada yang mau ditanyakan silahkan ditulis dahulu di bawah catatan yang sudah kalian tulis tadi, minggu depan setelah ibu jelaskan kalian boleh menanyakannya”
“Baik bu”
Aku keluar dari kelas IX B , melanjutkan mengajar di kelas VIII A.
“Assalamualaikum” aku masuk ke dalam kelas.
Tidak ada satu pun siswa yang menjawabnya. Aku terus berjalan ke kursi guru. Sementara siswa di kelas itu asik dengan urusannya masing - masing ada yang mengobrol, loncat - loncat, berlarian ke sana kemari, dan melempar - lempar kertas.
“Sudah ya” aku bangun dari tempat duduk “guru sudah di depan, kenapa kalian gak menghargainya”
Semua siswa duduk terdiam melihat wajahku yang sedikit marah.
“Kenapa kalian begitu sama guru, kalian pikir guru itu apa” tanyaku lagi
Tidak ada siswa yang berani menjawabnya
“Kalian tahu guru di sekolah itu sama seperti ibu kalian di rumah, apa kalian di rumah seperti ini sama ibu kalian”
“Gak bu” jawab Rafi
“Mulai hari ini siapa saja yang tidak patuh dan selalu membuat keributan di kelas saya wajibkan kalian keluar kelas dan berdiri di lapangan”
“Jangan bu” jawab Ardi, Defan dan Riki.
“Iya bu, keluarkan saja mereka. Mereka selalu buat keributan bu gak sama ibu saja tapi sama semua guru yang masuk kelas ini, gara - gara mereka kami semua gak bisa belajar bu” Rani menjelaskan semuanya.
“Iya sekali lagi saya tegas, siapa saja yang gak mau belajar silahkan keluar dari kelas ini, sama guru lain boleh kalian buat keributan seperti ini tapi sama saya gak bisa, paham kalian”
“Paham bu” jawab semua siswa.
“Sekarang ambil buku cetak dan buku tulis kalian”
“Baik bu” jawab mereka kompak
“Sekarang kalian buka halaman 100, dicatat tentang sel darah”
“Baik bu” jawab mereka tanpa ada yang membantah, mereka membuka buku paket dan mulai menulis catatan tanpa ada suara sedikit pun.
Setelah memerintahkan siswa menulis catatan aku kembali ke tempat duduk, memanggil absen.
"Devan"
"Hadir bu"
"Ratna Dewi" lanjutku
"Hadir bu"
"Indra puji"
"Hadir bu"
"Rafi"
"Hadir bu"
"Rina"
"Gak datang bu"
"Kemana Rina" tanyaku perihal ketidakhadiran Rina
"Gak tahu bu, gak ada keterangan"
"Rani"
"Hadir bu"
Setelah selesai memanggil absen aku berkeliling kelas melihat siswa - siswi yang membuat catatan.
"Kamu kenapa gak menulis catatannya" tanyaku kepada Rafi
"Tangan saya sakit bu"
"Kenapa tangan kamu" tanya ku lagi
"Kemarin jatuh bu" Rafi menunjukkan luka di lengan kanannya,
"Ya sudah kamu duduk yang rapi jangan berbicara, nanti kamu minta ya catatannya sama teman yang lain"
"Iya bu"
Aku melanjutkan perjalanan melihat siswa - siswi yang lain.
Tak terasa dua jam pelajaran telah selesai. Bel istirahat berbunyi. Semua siswa dan siswi berhamburan keluar kelas untuk membeli jajanan. Sama halnya dengan guru - guru yang juga keluar dari kelas masing - masing kembali ke kantor.
Aku kembali ke kantor.
"Hai bu Kanza" sapa bu Fizza yang sedang duduk
"Hai juga bu Fizza" sapa ku balik yang meletakkan buku di atas meja kemudian duduk bersama guru - guru lainnya.
"Kalian ada yang masuk di kelas VIII A"
"Iya ada, ribut sekali kan kelas itu" jawab bu Juli
"Iya waktu kita masuk gak ada satu pun yang peduli anak cewek begitu anak cowok pun begitu" jelas bu Fizza yang juga menjadi guru di kelas VIII A.
"Iya tadi sama saya begitu juga tapi sudah aku peringatkan, alhamdulillah sih pada nurut akhirnya" jawabku.
"Memangnya siapa yang selalu membuat keributan di kelas itu biar saya panggil nanti" tanya bu Susi yang merupakan guru BK
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
Safa Cantika humaira
Silahkan di nanti ya kakak🌹
2022-12-16
0
Re Studio
lanjut
2022-12-16
1