Setelah selesai mandi keluar kamar dan menemui mama lagi yang masih sibuk membuka barang bawaan dariku. “Mama suka sama sepatunya”
“Ini buat mama” tanya mama seraya mengambil sepatunya
“Iya ma” jelasku yang mengambil posisi duduk di samping mama “ini” menunjuk sepatu yang dipegang mama “sepatunya untuk mama, sandalnya untuk ayah” mengambil sendal, lalu mengambil kaos lengan pendek dan gamis “ini baju untuk mama dan Ayah dan yang ini buat aku dan itu buat bang Andi”
“Lengkap banget ya” ledek mama “terus buat mama sama ayah calon mertua kamu mana” ledeknya lagi
“Oh iya kakak lupa” aku menepuk jidat sendiri “duh gimana ma, kakak lupa”
“Mama gak tahu, padahal mamanya siabang selalu ngasih kamu hadiah kalau pergi kemana - kemana”
“Ma gimana dong” aku merasa sangat bingung karena aku melupakan hadiah untuk kedua mertuaku. “Oh iya ma” aku mengingat sesuatu
“Apa” mama memanglingkan wajahnya kearahku
“Kakak kan beli ini banyak ma” aku mengambil beberapa kantong buah - buahan.
“Kamu bawa itu saja besok ke mereka”
“Iya ma”
Akhirnya masalahnya selesai aku akan memberikan buah - buahan dari sana untuk calon mertuaku.
Keesokan harinya aku bersiap berangkat ke sekolah untuk mengajar seperti biasanya.
“Hai” sapa bu husna yang baru saja datang, ia langsung duduk di sampingku “mana oleh - olehnya”
“Ada tuh di atas meja di dalam” jawabku yang sebelumnya sudah meletakkan beberapa makanan ringan yang telah aku bawa dari sana
“Haha makasih sayangku” ia memelukku.
Aku dan buk husna merupakan teman sedari kecil, walaupun umurnya lebih jauh di atasku tapi dia tetap teman kecilku, namun sekarang kami sama - sama telah menjadi seorang guru, tapi terkadang ia masih menganggapku adik kecilnya.
Bel setelah istirahat berdering, semua siswa berlarian masuk ke dalam kelas begitu halnya dengan guru yang mengajar langsung mengambil peralatan untuk masuk kelas masing - masing sesuai roster pelajaran.
“Yang punya jam masuk kelas” seru pak said yang juga bangun untuk mengambil buku pegangannya
“Gak ada jam pak” jawab ku
“Saya wakil kepala sekolah ini, tadi bapak kepala sekolah menyuruh saya untuk mengontrol guru - guru untuk segera masuk kelas ketika bel sudah berbunyi” serunya dengan wajah penuh bercanda
“Iya pak said bapak kan ada jam bapak lah yang seharusnya masuk terus, kasian anak - anak menunggu gurunya” seru bu Fizza
“Bentar lagi” pak said duduk kembali di kursinya “lagian gak ada bapak kepala sekolah” ucapnya sambil nyengir kuda
“Tadi kata bapak, bapak wakilnya” ledekku mengembalikan kata - kata dari pak said
“Itu tadi” pak said bangun lalu berjalan ke ruang kelas
Setelah pak said pergi tinggallah aku, buk husna, buk Fizza dan buk Ana yang masih duduk bersama
“Kamu gak masuk dek” tanya buk husna kepadaku
“Biasa kak jam terakhir” jawabku
“Kalau aku, buk Anna dan buk Kanza sudah kumpul jangan tanya lagi jam keberapa pasti jam terakhir” seru buk Fizza yang kembali mengunyah oleh - oleh dari ku.
“Iya benar itu dek” jawab buk Anna yang membenarkan keadaan
“Biasa kak kami ini parte jam terakhir, nanti pasti anak - anak itu sudah gak mau lagi belajar sudah ribut sana - sini, ya kan”
“Iya apa lagi kelas IX A itu pasti sebagian anak laki - lakinya tidur itu di kelas”
“Kalau kelas kakak dek, beh baunya tapi maklumlah ya anak - anak jam segini”
Tanpa terasa bel jam terakhir akhirnya berbunyi krriiiiiiiing
Aku, buk Anna dan buk Fizza berjalan menuju ke kelas masing - masing. Sementara buk Husna duduk sendirian di kantor.
“Assalamualaikum” aku berjalan masuk ke kelas, kemudian duduk di kursi guru dan meletakkan buku - buku. “Sudah ya anak - anak jangan ribut lagi kalian mau belajar kan”
“Mau bu” sebagian anak - anak bersiap untuk belajar, tapi ada sebagian yang masih berbicara, berjalan kesana - kemari.
Aku merasa sangat kesal kalau sudah masuk ke kelas ini, tapi rasanya harus ditahan kekesalan itu bagaimana pun juga mereka siswa yang perlu di didik dengan baik. Aku merasa kasian kepada siswa yang mau belajar tapi terhalang oleh siswa lain yang terus saja membuat keributan di kelas.
“Siapa yang gak mau belajar silahkan keluar kasian teman - teman kalian yang mau belajar terganggu dengan kebisingan yang kalian buat” aku berdiri dan mengeluarkan suara lantang “kalau kalian ribut seperti ini rugi saja waktu kalian datang ke sekolah kalian menghabiskan waktu untuk ke sini tapi ketika di sini kalian main - main sayang ibu sama bapak kalian yang telah bersusah payah mencari uang untuk kalian sekolah”
Semua anak - anak berhenti dengan kelakuannya dan duduk dengan tenang “ibu capek marah - marah sama kalian, selalu ibu bilang kalian jangan terus membuat keributan di kelas kalau tidak mau belajar dengan ibu silahkan kalian keluar”
“Iya bu mereka selalu seperti itu gara - gara mereka kami gak bisa belajar” jawab Sarah
“Iya bu” jawab Rina
“Uuuuuuuuu” teriak Aqsa
“Sudah ya jangan ribut lagi, kalau kalian gak mau keluar kalian tolong diam ya jangan ribut - ribut lagi”
“Iya bu saya akan belajar” jawab Alil
“Baik bu saya gak akan ribut lagi” jawab Aqsa
“Alhamdulillah kalau begitu kamu bagaimana Dafi” tanya ku kepada siswa yang juga selalu membuat keributan
“Iya bu”
“Kamu zidan apa sudah siap belajar”
“Iiiya bu” jawab Zidan dengan terbata - bata
“Baik sekarang coba kalian buka buku halaman 127 tentang pencemaran”
“Sudah bu” seru beberapa siswa
“Oke sekarang coba dengar ibu jelaskan sedikit” aku berjalan ke papan tulis lalu menulis pencemaran “ada yang tahu apa itu pencemaran”
“Tercemar bu kaya buang sampah di sungai” jawab Rina
“Iya itu jadi perlu kita ketahui bahwa pencemaran adalah masuknya suatu zat ke dalam lingkungan yang menyebabkan lingkungan tersebut tidak terdapat kehidupan lagi”
“Tapi bu sungai yang ada sampahnya kok masih bisa hidup ikan” tanya Zidan
“Iya bagus pertanyaan zidan, ada yang bisa jawab ibu kasih nilai 100”
“Saya bu” Maira mengacungkan jari telunjuknya
“Iya Maira apa jawabannya”
“Berarti sungai itu tidak tercemar bu”
“Iya 100 untuk Maira” aku menuliskan nilai 100 untuk Maira di buku penilaian “jadi simpel saja jawabannya sungai itu tidak tercemar walaupun banyak sampah, nah jadi sampah - sampah itu masih bisa dibersihkan jadi dengan sampah dibersihkan maka air sungainya akan mengalir dengan air sungainya mengalir dengan lancar maka tidak akan terjadi kebanjiran” aku menambahkan jawaban Maira “paham ya anak - anak”
“Paham bu”
“Siapa di sini yang sering buang sampah di sungai”
“Alil bu” jawab Aqsa
“Gak buk Aqsa yang buang sampah di sungai” jawab Alil membuat pembelaan untuk dirinya
“Uuu mana ada” jawab Aqsa lagi
“Sudah ya Alil Aqsa, mulai sekarang kita semua tidak boleh lagi membuang sampah di sungai itu nantinya akan menyebabkan banjir dan bisa saja akan terjadi pencemaran ya, oke sekarang kita lihat di mana saja bisa terjadi pencemaran” aku menuliskan ada empat pencemaran “ada yang tahu dimana saja bisa terjadi pencemaran”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments