Cp 4
“Nah jadi gini nak, kami rasa” menunjuk dirinya “ayah sama mamanya andi merasa cocok dengan kamu, ya walaupun kamu baru hari ini ke sini, tapi kami sudah percayakan semua pada pilihan Andi untuk memilih siapa perempuan yang berhak mendampingi dia untuk hari ini dan selamanya. Ayah sama mama sebagai orang tua gak hanya mendukung keputusan Andi tapi juga ikut andil dalam memilih yang tepat untuk anak lelaki kami satu-satunya dan kamu orang yang dipilih Andi ayah setuju kalau Andi bersama kamu ya kan ma” mengiyakan kepada istrinya. Perkataan Ayah cukup lembut seakan ia memberikan pengharapan besar untukku.
“Iya sayang, jadi kami ingin melamar kamu menjadi istrinya Andi”
Perkataan mamanya membuat hatiku degdegan jantungku berdegub kencang, pengharapan besar yang diberikan Ayahnya dinyatakan jelas oleh mamanya.
“Ya walaupun kalian tunangan dulu lah karena menjadi istri seorang Tentara pasti banyak urusannya ya kalian harus melapor sana sini dulu nanti, ya kan bang”
“Iya ma”
“Gimana sayang setuju kan”
“Kanza terserah sama bang Andi saja ma”
“Kalau sama Andi pasti mau secepatnya”
“Nanti Kanza sampai kan sama Ayah dan mama dulu ma”
“Iya sayang, nanti kami juga mau silahturahmi dulu ke sana, abang juga kan harus pelatihan dulu selama 3 bulan”
“Iya ma mulai minggu depan”
“Iya gak apa - apa, nanti kita silahturahmi selagi abang pelatihan, tunangannya baru setelah abang selesai”
“Boleh ma” jawabku berbarengan dengan Andi
“Nah nak, itulah alasan kami memanggilmu ke sini”
“Iya pokoknya mama dan ayah akan secepatnya ke sana”
Pembicaraan itu selesai. Aku diantar pulang oleh Andi.
Seminggu kemudian mama dan ayahnya datang kerumah menemui keluargaku.
“Assalamualaikum” mamanya mengetuk pintu
“Waalaikumsalam, oh pak buk silahkan masuk” mamaku menyuruh mereka masuk dan mengantarnya ke ruang tamu “silahkan duduk, sebentar ya saya ke belakang dulu” mama pergi ke dapur membuat minuman, setelah minuman siap mama kembali menemui mereka di ruang tamu. “Silahkan diminum”
Ayahku juga menemui dan duduk bermusyawarah dengan mereka
“Jadi gini maksud kedatangan kami untuk bersilahturahmi sekaligus berkenalan sama kalian, saya ayahnya Andi dan ini mamanya kalau itu” menunjukkan kakaknya Andi “itu kakaknya Andi dan suaminya, jadi kami ingin membicarakan bahwasannya kami akan melamar anak bapak sama ibu yang bernama Kanza untuk putra kami Andi”
“Oh Andi iya - iya”
“Jadi kami berecanakan akan membuat acara tunangannya setelah Andi pulang dari pelatihan”
“Berapa lama pelatihannya”
“3 bulan kalau gak salah ya ma ya”
“Berarti 3 bulan lagi kami ke sini untuk acara pertunangan”
“Iya saya Ayahnya Kanza inshallah menerima niat baik bapak dan ibu untuk anak satu - satunya kami”
“Alhamdulillah kalau seperti itu, kalau begitu kami pamit pulang”
Keluarganya Andi pulang.
Tiga bulan kemudian, Andi telah menyelesaikan pelatihannya. Ia kembali menghubungiku
Via whatsapp
Andi
Assalamualaikum
Aku
Aa abang sudah pulang ya
Andi
Anak ini bukannya menjawab salam
Aku
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh
Andi
Nah gitu dong
Aku
Abang dimana
Andi
Masih di tempat latihan ini, adek dimana?
Aku
Di rumah ini
Andi
Yasudah abang lanjut lagi dulu ya
Aku
Alah abang ini baru sebentar di chat sudah ditinggal lagi
Tanpa sepengetahuanku Andi pergi ke rumah.
“Assalamualaikum” mengetuk pintu
“Waalaikumsalam” mama membukakan Andi pintu “oh Andi, silahkan masuk bang”
“Iya ma” masuk ke dalam rumah, duduk di ruang tamu “ma kanza mana”
“Ada tuh di kamarnya, sebentar mama panggilin ya”
“Iya ma, tapi jangan bilang Andi yang datang ya ma”
“Oke beres” mama pergi ke kamarku “kak, ada Dewi di depan nyariin kamu”
“Iya ma” aku bangun dari kasur kesayanganku berjalan menuju ke ruang tamu
Di ruang tamu, aku melihat tamu yang datang
“Abang” aku duduk di sampingnya bersalaman. Aku tersenyum melihat kedatangannya kemudian mencubit lengannya
“Sakit” mengelus tangannya yang aku cubit “eh lu pikir guwe apaan”
“Cuma memastikan ini beneran abang atau hantu”
“Palamu” menepuk jidatku
Aku memasang wajah cemberut
“Kan kan kalau dia gak bisa digituin, aku dicubit boleh”
Aku masih terdiam
“Aku kelitikin ya”
Aku masih diam tidak menghiraukan dia
“Oke” dia menggelitik pinggangku yang membuat aku tertawa kegelian
“Udah -udah” kataku yang menyerah “ngomong - ngomong abang kapan pulangnya”
“Semalam” Andi sudah semalaman pulang tapi dia tidak menghubungi kanza karena ingin membuat suprise untuk kekasihnya.
“Ih kok gak dikabarin”
“Biasa, capek jadi kangen - kangenan dulu sama kasur”
“Dasar kebo, di otak tidur aja taunya” ledek ku
“Kan tidur itu lebih nikmat dari segalanya”
“Mana oleh-oleh”
“Ini” berpura - pura meludah di tanganku
“Ih jorok” aku memasang wajah jijik
“Sayang, kita pergi jalan - jalan yuk”
“Gak mau”
“Yakin, siap - siap sana”
“Gak mau”
“Yasudah kalau gitu aku mau pergi sendiri saja”
“Eh jangan tunggu ganti baju dulu ya”
“Iya jangan lama”
Andi dan aku pergi menghabiskan waktu bersama.
“Sudah lama ya kita gak jalan - jalan”. Andi terlalu lama pergi latihan sehingga tidak ada waktu untuk Kanza.
“Iya tapi sekarang kan abang sudah kembali” Andi menyetir mobilnya pelan “kangen ya sama abang”
“Enngak tuh”
“Dia mah gitu”
“Iyalah, masa aku kangen sama kamu ya engak - enggak saja”
“Jadi selama abang pergi kamu gak kangen sedikit pun” memperagakan tangannya tanda sedikit
“Secuil pun enggak”
“Tega”
“Empat”
Andi semakin kesal dengan tingkah ku mukanya menjadi cemberut
“Kenapa tuh muka” ledekku melihat muka Andi yang ditekuk
Andi hanya diam, dia fokus menyetir mobil
“Kok diam sih” tanyaku lagi “ayo ngomonglah, masa didiemin” muka ku berubah cemberut
Andi melihat perubahan muka ku “kamu sih nyebelin banget”
“Kok saya bapak” menunjuk diriku sendiri
“Masa kita pergi lama gak ada sedikit kangen, tiga bulan loh ini” Andi menjelaskan maksud hatinya. Ia menginginkanku untuk kangen sama dia.
“Oh jadi mau dikangenin ini”
Tidak ada jawaban Andi hanya menghembus nafasnya. Mukanya kembali kesal. Rasanya aku mau tertawa karena berhasil mengerjainnya.
“Uh cup - cup anak bayi gede aku lagi marah. jangan marah lagi dong nanti aku beliin es krim”
Andi menahan tawanya “Gimana ya, kok disogoknya pakek es krim sih?”
“Jadi mau disogok pakai apa”
“Pakai cinta dan kasih sayang kamulah” Andi memberiku penawaran
“Itu sudah pasti gak usah diminta lagi” jawabku enteng tanpa berpikir panjang
“Sayang” Andi memanggilku lagi dia sudah tidak marah
“Kapan kamu ada waktu biar kita cari perlengkapannya”
“Memangnya kita yang beli sayang”
“Eh bukan ya, gak tahu juga abang belum berpengalaman soalnya”
“Dasar sotoy, oh awas saja kalau sudah ada pengalamannya” ejekku
“Emang mau diapain”
“Mau aku dijual di online shop”
“Memangnya laku”
“Laku lah nanti aku gratisin onkir sama ada cashbacknya 50 persen biar gak rugi - rugi amat”
“Uh seram ya tuan putri ini”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
Re Studio
marayon ini bacanya
2022-12-13
1