“
Ah bosan banget sendirian di rumah” aku meletakkan sepatu di rak sepatu, membuka kunci rumah menuju ke kamar. “Mandi dulu ah” menyalakan keran air lalu mandi.
Selesai mandi aku melaksanakan shalat zuhur.
Kriiiing dering handphonenya yang berada di atas meja.
Aku
Assalamualaikum ma
Mama
Waalaikumsalam, kamu dimana
Aku
Di rumah ma, mama sudah sampai ke sana
Mama
Alhamdulillah mama sudah sampai, kamu baik - baik ya di sana sendirian.
Aku
Iya ma, mama sama ayah cepat pulang ya kangen ni
Mama
Huu baru sebentar mama dan ayah perginya, mama tutup dulu ya telponnya kamu jangan lupa shalat, makan, kalau kemana - mana jangan lupa pintunya di kunci ya.
Aku
Iya ma
Panggilan itu berakhir aku berjalan ke dapur mengambil nasi makan siang. Makan siang di meja makan sendirian itu sungguh sangatlah membosankan, menghilangkan kebosanan aku melihat handphone seraya mengunyah nasi, sesekali aku meneguk minuman dingin yang sebelumnya telah aku sediakan.
Kriiiing
Notifikasi chat yang masuk ke handphoneku, segera mungkin aku membacanya ternyata itu pesanan dari Dewi sahabatku.
Via chattingan
Dewi
Nanti sore kita jalan - jalan lah sudah sekian abad kita gak kumpul bareng.
Aku
Boleh, kemana
Dewi
Ke cafe biasa
Aku
Siapa saja yang pergi, Laras ikut?
Dewi
Ikut dong
Aku
Oke nanti kabarin ya
Setelah membalas pesan terakhir dari Dewi aku mencari kontak Andi mengirimkan pesan singkat untuknya.
Aku
Sayang, nanti sore aku pergi sama Dewi dan Laras ya
Tidak ada balasan dari Andi. Aku melanjutkan menonton Run BTS di handphoneku.
“Ah ngantuk” menguap “aku tidur bentar sebelum pergi” aku meletakkan piring kotor di tempat cuci piring, kemudian berjalan ke kamar, sebelum tidur aku memasangkan alarm di handphone.
SKIP
Dering alarm berbunyi aku segera bangun dari tidur nyenyakku walaupun hanya sesaat. Selesai mandi aku menyempatkan shalat Asar sebelum pergi.
Selesai shalat aku melipatkan mukenan dan sajadah meletakkannya kembali di rak mukena.
“Pakai baju yang mana ya” aku melihat membolak - balikkan baju yang tergantung rapi di lemari. “Apa ini” memegang kemeja hitam polos lengan panjang “atau yang ini” memegang kemeja biru tosca motif bunga “ah ini saja” mengambil baju yang pernah aku belikan bersama kak Anti.
Setelah melihat beberapa baju akhirnya aku memilih outfit berwarna hitam dengan kemeja hitam di atas lutut dan celana jeans. Aku memakaikan riasan wajah yang natural dengan lipstik nude sebagai base ombrenya dan lipstik berwarna merah di tengah bibir.
“Sudah cantik kali ah” memonyongkan bibir “pakai parfum dulu biar wangi membahana badai” mengambil parfum menyemprotnya di beberapa area baju, lengan dan di belakang telinga.
Kriiing
Bunyi notifikasi handphone yang berdering di atas meja. “Pasti mereka sudah jalan” pikirku yang mengambil handphone. Pesan itu berasal dari Andi yang membalas chat dari ku beberapa jam yang lalu.
Via chattingan
Andi
Iya sayang, kamu hati - hati perginya ya. Abang di kantor ini ya gak kemana - mana.
Aku
Iya bang
Andi tidak membalas pesan dari ku lagi.
Dewi dan Laras sampai di rumahku dengan mobilnya. Bunyi klakson membuatku keluar rumah dengan segera.
“Masuk terus” seru Dewi yang duduk di bangku pengemudi.
“Oke” jawabku membukakan pintu bagian belakang.
Dewi menyetirkan mobilnya dengan santai. Selang beberapa menit kemudian aku, Dewi dan Laras sampai di depan Sandy Cafe. Dewi memarkirkan mobilnya dibantu oleh tukang parkir yang sesekali meniupkan peluitnya.
Dewi menarik rem tangan kemudian mengambil tas bersiap keluar dari mobil, sama halnya dengan Dewi, aku dan Laras juga keluar dari mobil. Tiga sekawan, persahabatan kami awet dari SMP sampai sekarang, walaupun Laras sudah nikah duluan tapi ia masih setia bersama kami. Suaminya LDR sehingga ia masih punya banyak waktu untuk sekedar jalan - jalan bersama aku dan Dewi.
“Kita duduk dimana” tanya Laras yang celingak celinguk mencari spot tempat duduk yang nyaman.
“Gimana kalau di sana” Dewi menunjukkan tempat duduk yang berada di tengah antara sepasang kekasih.
“Boleh” jawabku mengiyakan pilihan Dewi
Aku, Dewi dan Laras berjalan beriringan ke tempat duduk yang ditunjukkan Dewi. Aku berada di tengah, Dewi di sebelah kiriku sedangkan Laras berjalan di sebelah kananku. Ketika hampir sampai aku melihat di sisi kanan sepasang kekasih yang sedang duduk adalah Roni mantanku dengan kekasih barunya. Aku terus berjalan sambul tertawa \- tawa bersama Dewi dan Laras tanpa menghiraukannya. Roni melihat ke arahku, matanya melirik langkah kakiku yang terus berjalan ke tempat duduk.
“Kamu kenapa lihat cewek itu” kekasih Roni memprotesnya yang sedari tadi melihatku tanpa mengedipkan matanya. “Ih kok masih dilihat sih” serunya lagi yang melihat ke arah Roni yang masih fokus melihatku.
“Apa sih kamu” Roni sedikit membentak ke kasihnya itu.
“Apa kamu bilang, kamu ya yang dari tadi melihat ke cewek itu” menunjuk ke arah ku “apa dia cewek kamu hah” wajah kekasih Roni semakin memerah karena rasa cemburunya.
“Dia mantanku, lagian aku pacar kamu sekarang ngapain kamu cemburu” jelas Roni memegang tangan pacarnya.
“Iya maafin aku ya” menyender di bahunya Roni.
Roni masih saja mencuri pandangan terhadapku.
“Mau pesan apa” waiters menghampiri meja kami, meletakkan buku menu dan selembar kertas lengkap dengan pulpen, ia pergi setelah meletakkannya.
“Mau pesan apa bebs” tanyaku bergaya seperti waiters
“Jadi mbok sekarang bekerja sebagai waiters” Dewi mengejekku, dia selalu saja memanggilku mbok.
“Iya nona manis” seruku sambil ngakak.
“Aku” Dewi mengambil buku menu, aku bersiap dengan kertas di tangan kiriku dan pulpen di kanan tanganku. “Aku mau es lemon tea, makannya” melihat halaman yang berisi berbagai jenis makanan yang disediakan “nasi goreng seafood kayanya enak” melihat gambarnya “aku nasi goreng seafood plus telur dadar”
Aku menulis 1 es lemon tea dan 1 nasi goreng seafood lengkap telur dadar. “Kamu Ras” menanyakan Laras.
Laras mengambil buku menu yang dipegang Dewi “aku mau” membolak - balik halaman buku menu “apa ya, aku bingung” dia melihat mie goreng “aku mie goreng saja” ia memutuskan untuk memesan mie goreng.
“Kemaren aku makan mie goreng di sini enak kok” seru Dewi yang sudah pernah mencoba mie goreng di Sandy cafe.
“Ciee sama siapa kamu ke sini” godaku
“Biasalah”
“Sama bang Ical”
“Uuuh ya bukanlah, sama kakakku dan suaminya, bang Ical mah jauh” jelasnya tentang calon kekasihnya.
“Heei apa kabar sama kakak dan suaminya, maksudnya kamu jadi nyamuk diantara mereka gitu” godaku lagi sambil nyenyir kuda.
“Huuft enggak ya”
“Terus jadi apa, jadi kucing” jawab Laras yang menyambung candaan dariku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments