Andi tertawa dengan jawabanku “kurang asem kamu ya”
“Nanti kita kemana sayang” tanyaku yang tidak mempunyai referensi mau jalan kemana
“Ke hatimu, tapi sudah stay kok di sana” jawab Andi gombal lalu melirik ke arah ku
“Sudah pande ya” aku menarik hidungnya
“Au au lepasin sayang” Andi meringis hidungnya memerah karena kejahilanku
Aku melepas tarikan hidungnya
“Yah gak mancung lagi di hidungku” Andi menekuk mukanya
Bukannya minta maaf aku malah tertawa kegirangan
“Malah ketawa ya, awas nanti aku bales”
“Balas saja, aku kan masih ada paket data”
“Apa sayang” Andi meletakkan tangan kirinya di atas tanganku
“Apa nih modus” melirik genggamannya
Andi tersenyum ke arahku
“Senyum abang mengubah segalanya”
“Power Rangers kali abang”
“Lebih dari itu”
“Bunglon”
“Spiderman cuakcuakchuak” membuat tangan ala spiderman.
“Kalau buat kamu apa sih yang gak beby” Andi memulai gombalnya lagi
“Hahahah aku terpana”
“Huuft” mengusap dahinya yang sama sekali tidak berkeringat “akhirnya kamu mengakuinya juga”
“Orang aneh” ledekku
“Tapi cinta kan”
“Banget”
“Abang lucu juga ya orangnya bisa ngalahin sule nih”
“Baru tahu kamu kalau abang itu lucu, imut, dan gemesin banget” melemparkan senyumannya “ganteng lagi jungkook saja lewat”
“Lewat kemana sayang”
“Ya lewat karena dia gak mau melihat kegantengan abang yang cetar membahana badai ulala” Andi menjawabnya dengan nada tercentil
“Wesh Syahrini dong”
“Dia mah fansnya aku”
“Gak kebalik sayang, kan yang artis Syahrini bukannya abang”
“Gak lah kalau kebalik nanti tumpah”
“Yee dia pikir air kali ya tumpah”
Tanpa terasa karena asik bercanda aku dan Andi sampai di rumahnya Andi. Andi memarkirkan mobilnya di halaman rumah.
“Turun sayang” Andi keluar dari mobil
“Iya bang” aku turun dari mobil dan mengikuti Andi masuk ke dalam rumah
“Mama mana kak” tanya Andi kepada orang yang tinggal di rumahnya
“Masih di toko bang” jawab Kak Siti lalu pergi ke belakang
“Abang langsung ke kamar ya mandi dulu”
“Iya sayang”
“Adek bebas mau ngapain asal jangan curi - curi foto abang ya”
“Heii” teriakku
“Becanda sayang, sudah ah abang mandi dulu biar ganteng”
“Memangnya kamu gantengku”
“Ouh jelaslah”
“Perasaan Kamu mandi atau gak mandi mukanya gitu - gitu saja gak berubah” ledekku
“Jahat” Andi memasang wajah cemberut
“Kenapa memang gak boleh, mau nangis nangis terus memangnya aku peduli”
Tanpa menjawabnya Andi berjalan ke kamarnya. Aku kerjain ah, batinnya
“Kemana sayang, marah ya” tanyaku yang melihat Andi tidak menjawab apa - apa langsung pergi begitu saja
Di balik pintu kamarnya Andi tertawa cenge - ngesan “sekali - kali aku kerjain boleh lah ya” Andi mengambil handuk lalu berjalan ke kamar mandi.
Sementara aku yang bosan menunggu Andi mandi keluar rumah dan duduk di ayunan sambil berfoto selfie
“Selfie dulu” cekrek. Setelah mengambil beberapa selfie aku menguploadnya di IG dengan captin nungguin pangeran sampai berjamur.
Dua puluh menit kemudian Andi keluar dengan memakai kaos lengan pendek berwana hijau tosca yang menampakkan otot di kedua lengannya, bawahannya Andi menggunakan ripped jeans.
“Hai sayang” sapa Andi yang menyusulku duduk di ayunan, ia tersenyum ke arahku.
“Hmm harum sekali” mengendus bau nya Andi yang ditiup angin “jadi pengen peluk” memeluk Andi yang duduk di sampingku
“Tumben ni peluk - peluk”
“Hehe” melepas pelukannya “pengen saja abang ganteng kalau kek gini gak mirip kakek - kakek lagi”
“Habis muji di jatuhin” Andi menepuk jidatku
“Hehe” tawaku pelan “selfie yuk mumpung abang lagi ganteng jadi harus wajib diabadikan”
“Ya Allah sabarkanlah hambamu ini”
Aku mengambil beberapa foto selfi dengan Andi lalu menguploadnya di IG dengan caption akhirnya keluar juga pangerannya.
“Sudah kan foto sama pangeran ganteng yang limited edition ini “
“Sudah” jawabku cuek
Andi mengerutkan keningnya “ayo - ayo jalan, lama - lama kamu kepincut nanti sama kegantengan aku” Andi berjalan ke mobilnya tangannya menggandeng erat tanganku.
“PD banget” aku mencubit pinggangnya
“Dicubit selalu akunya, lama - lama aku kurus ni” merangkulku.
Sampai mobil Andi membukakan pintu untukku “silahkan naik tuan putri”
“Hahahaha terima kasih pangeran”
Andi berjalan ke pintu satunya lalu menyetir mobilnya.
“Kita kemana sayang” Andi yang lagi menyetir mobil melirik ke arahku
“Cafe saja gimana sayang” usulku
“Boleh sayang, oh kita ke Romeo cafe saja kalau begitu”
“Oke sayang gas kan” jawabku setuju dengan usulan Andi.
Andi dan aku melanjutkan perjalanannya sampai di Romeo cafe.
“Yuk sayang” Andi menarik rem tangan mobilnya.
“Iya” aku turun dari mobil begitu juga Andi, kemudian kami masuk ke dalam cafe lalu memilih tempat duduk.
“Sini saja sayang” aku menunjukkan meja di samping jendela
“Boleh sayang”
Setelah duduk waiters menghampiri.
“Ini kak menunya” waiters meletakkan buku menu beserta pulpen lalu pergi
“Mau pesan apa sayang”
“Abang apa” tanyaku balik karena bingung mau memesan apa
“Abang kayaknya mau mie goreng saja” jawab Andi setelah melihat - lihat menu
“Samain saja sayang” jawabku yang juga memilih menu yang dipilihin Andi.
“Oke abang tulis ya” Andi menulis di kertas “minumnya sayang, kalau abang” melihat menunya lagi “abang es americano saja, adek apa mau es americano juga” Andi melirikku
“Gak sayang” aku merasa kapok dengan es americano yang super pahit.
“Kenapa sayang”
“Ah gak mau adek americano itu rasanya pahit banget kapok adek minumnya”
“Adek pernah minum emangnya”
“Iya, kemaren pas jalan - jalan sama Dewi dan Laras jadi adek pesan itu kan gara - gara penasaran sama Suga yang selalu minum es Americano, waktu datang es nya adek rasa ya Allah pahit banget” aku bercerita dengan polosnya sampai membuat Andi tertawa terbahak - bahak “aduh sayangku” Andi mengelus kepalaku “jadi kapok ya sayang gak mau coba lagi, padahal kalau minumnya samping abang bakalan berasa manis deh”
“Gak ah Adek mau es jeruk peras saja”
“Iya deh abang tulis ya” Andi menulis 2 mie goreng, 1 es americano, 1 es jeruk dan 1 paket gorengan sosis, bakso dan tahu walik di kertas yang telah disediakan waitersnya.
“Kak” aku memanggil waitersnya kembali
Waiters menghampiri kami lalu mengambil buku menunya kembali.
“Eh ngomong - ngomong setelah kita nikah nanti adek pengen anak pertama kita cowok apa cewek” tanya Andi yang mulai menghayal
“Kalau adek, sukanya cewek sih nanti bisa adek make up in gitu, terus adek panjangin rambutnya pakai bando gitu, terus nanti anaknya mirip sama kamu”
“Kok mirip sama aku”
“Iyalah kan abang ayahnya masak iya mirip sama orang lain”
“Oh iya ya” Andi menjawabnya dengan nyengir kuda andalannya.
“Kalau abang gimana”
“Gimana apanya”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments