……
“Boleh juga, kucingkan imut, hewan kesayangan Nabi pula”
“Sabi lah”
“Siapa lagi itu” tanya Dewi
“Heeeii norak kali Anda, sabi itu kebalikan dari bisa tahu, ah gak gaul kali ini” ledekku lagi.
“Iya deh ibu guru gaul” Dewi mempasrahkan keadaannya.
“Heeii aku bukan ibu guru gaul tapi ibu seleb, you know” jelasku.
“Heeeii” Dewi mengikuti kata - kataku “seleb apaan seleb ija broek” ledeknya.
( ija broek \= kain bekas atau kain lap)
“Sudah - sudah, tulis lagi menunya” Laras melerai pertengkaran imut kami yang saling ledek - ledekan.
“Dia tuh” tunjukku ke arah Dewi
“Heeei kamu ya” Dewi menunjuk balik ke arahku.
“Diam diam” Laras mengerutkan wajahnya.
Aku dan Dewi diam tanpa ada yang bersuara tampak seperti patung yang membuat Laras kembali jengkel.
“Kalian ah diam - diam bae” Laras melihat ke araku dan Dewi.
Aku dan Dewi masih diam tanpa menyahutnya.
“Ah” Laras benar - benar jengkel terhadap aku dan Dewi yang sama sekali tidak mengubris keberadaannya.
Aku tidak bisa menahan diam mulutku ingin tertawa kencang melihat wajahnya Laras. Sama halnya dengan Dewi yang juga terkekeh.
“Tadi diam - diaman sekarang pada tertawa” Laras memperhatikan aku dan Dewi.
“Udah ah, capek ketawa” ujar Dewi yang memegang perut.
“Yee siapa suruh ketawa” ledek Laras.
“Ah, jadi kalian mau pesan apa lagi ini” aku mengambil kembali kertas yang terabaikan karena sibuk bercanda.
Roni diam \- diam masih sibuk memperhatikanku dari kejauhan.
Kenapa dulu aku meninggalkan dia begitu saja dan selingkuh, batinnya.
“Sayang” panggil kekasihnya
“Iya sayang, kenapa” jawab Roni yang memindahkan matanya dariku memfokuskan ke kekasihnya.
“Aku sayang banget sama kamu, kamu jangan pernah ninggalin aku ya” serunya menggenggam tangan Roni.
“Iya sayang” mengelus pipi kekasihnya menunjukkan kemesraannya di hadapanku.
“Za itu Roni mantan kamu kan” tanya Laras yang baru melihat Roni.
“Iya, kenapa memangnya” aku melihat ke arah Roni yang masih mengelus pipi kekasihnya.
“Kamu gak cemburu melihat kemesraan mereka” tanya Dewi mencoba menggodaku.
“Gak lah, dia kan masa lalu, segimana pun aku mencintainya dulu tapi rasa itu sudah terhapus untuk sekarang dan selamanya. Untuk apa aku mempertahankan lelaki yang bersamaku tapi dia memberikan cintanya untuk wanita lain” jelasku tentang perasaanku sekarang.
“Ah salut banget sama kamu” Dewi memelukku.
“Lagian aku punya bang Andi sekarang, yang inshaAllah akan menjadi suamiku semoga dia menjadi lelaki terbaik dalam hidupku”
“Doa terbaik untukmu bebs” seru Laras yang juga memelukku.
“Aku mau makan mie goreng sajalah, kalian ada yang mau dipesan lagi” tanyaku setelah menulis pesananku.
Waiters mengambil kembali kertas dan buku menunya“Silahkan ditunggu ya”
“Iya kak” jawab Laras.
Roni tetap saja mencuri pandang terhadapku, seakan mau tahu apa yang sedang kulakukan.
Kriiiiing, bunyi notifikasi handphoneku. Aku melihatnya. Andi mengirimku sebuah pesan.
Via chattingan
Andi
Sayang
Aku
Iya sayang
Andi
Kamu dimana
Aku
Masih di Sandy cafe, abang dimana?
Andi
Oh iya sayang, abang masih di kantor
Aku
Abang ada yang mau dititip biar adek cari
Andi
Abang pengen mie goreng yang biasa kita makan itu sayang
Aku
Oke nanti adek bawakan ya
Andi
Iya sayang thank you baby
Chattingan itu berakhir. Dari parkiran mobil datanglah sebuah keluarga berjalan ke meja di belakang kami.
Aku melihat ke arah orang yang datang “mama” panggilku yang melihat mamanya Andi.
“Kakak” iya melihat ku yang memanggilnya.
Aku berjalan ke arahnya, mencium tangannya. “Kak” aku mengulur tangan ke Kak Anti “bang” mengulurkan tangan ke bang Rama suaminya kak Anti “bu” mengulurkan tangan dua ibu - ibu.
Mereka berjalan ke kursi di belakang kami, sementara aku kembali duduk bersama Dewi dan Laras.
“Siapa Za” tanya Dewi
“Mamanya bang Andi” jawabku singkat.
Pesanan datang kami menyantapnya tanpa sisi.
“Aku ke sana bentar ya” bangun dari tempat duduk.
“Oke” jawab Laras yang masih sibuk dengan makananya.
Aku berjalan menuju meja mereka. Roni melihat kepergianku dia tersenyum, aku membalas senyumannya seakan tidak terjadi apa \- apa diantara aku dengannya.
“Kakak sama siapa ke sini” tanya mama Andi
“Itu ma sama Dewi dan Laras” jawabku yang berdiri di samping mama.
“Ini siapa kak” tanya tante Fatma adik mamanya Andi yang baru pulang dari perantauan.
“Ini loh tunangannya Andi tan” jawab Kak Anti yang menggendong Ziya.
“Iya tante, aku Kanza”
“Uu cantik sekali ya kak calon menantumu” puji Tante mawar yang merupakan sepupu dari mama Andi.
“Amiin terima kasih tante” Jawabku merendah “Ziya ikut bunda yuk” ajak ku melihat Ziya yang super gemoy, matanya bulat, pipinya tembab. Ziya anak pertama Anti dan Rama yang baru berusia 4 tahun.
Aku mengulur dua tanganku untuk menggendongnya, Ziya membalas uluran tanganku.
“Ziya mau sama bunda Zaza ya” mengangkatnya untuk aku gendong.
“Zaza bawa kesana ya kak” aku meminta izin membawa Ziya ke Dewi dan Laras.
“Iya sayang” jawab Kak Anti yang ikut senang anaknya mau berada digendongan aku.
Aku menggendong Ziya membawanya ke Laras dan Dewi. Roni masih saja memperhatikan aku.
“Hai” panggil Dewi yang memegang pipinya Ziya “gemoi banget sih kamu”
“Nama kamu siapa” Laras juga ikutan memegang pipinya Ziya
“Iya tante, kenalin nama aku Ziya”
“Aku tante Dewi”
“Aku tante Laras”
“Kita telpon om Andi yuk sayang” ajak ku kepada Ziya. Aku mengambil kontak Andi melakukan video call.
Andi menjawab panggilan dari ku.
Via video call an
Andi
Iya sayang
Aku
Sayang, coba lihat deh ini siapa
Andi
Wah baby Ziya hai, kok sama kamu sayang
Aku
Iya mama, kak Anti, bang Rama dan dua tante abang ada di cafe ini juga.
Andi
Oh giti sayang.
Aku
Udah dulu ya sayang, bye bye om Andi
“Sayang mau pulang” ajak kekasihnya Roni
“Iya ayo sayang” Roni mengiyakan ajakan kekasihnya.
Roni dan kekasihnya berjalan ke parkiran. Roni mengandeng tangan kekasihnya lagi - lagi ia memperlihatkan kemesraannya dengan kekasihnya.
“Kita pulang yuk, sudah sore ini” ajak Laras.
“Ayo” jawabku “aku kembalikan Ziya dulu”
Aku menggendong Ziya membawanya kembali ke mamanya.
“Kak ini Ziyanya, teman - teman Ziya ngajak pulang”
“Hati - hati ya sayang pulangnya” jawab Kak Anti
“Ma aku pulang duluan ya” aku berpamitan kepada mama Andi
“Iya sayang hati - hati ya” jawabnya yang mencium pipi kiri dan pipi kananku.
“Tante pulang ya” aku juga berpamitan kepada kedua tantenya Andi.
Aku kembali menghampiri Dewi dan Laras yang sudah menungguku setelah membayar semuanya. Aku dan keduanya berjalan ke parkiran mobil.
“Bebs bang Andi tadi nitip mie goreng nanti kita ke sana sebentar ya” ajakku kepada Dewi yang menyetir mobil
“Oke siap bebs” jawabnya mengiyakan permintaanku.
Selesai membeli pesanan Andi kami melanjutkan perjalanan pulang.
SKIP
Dewi memarkirkan mobilnya di depan pagar rumahku
“Thank you baby, masuk dulu yuk” aku turun dari mobil
“Gak deh, kami langsung cus ya” jawab Dewi setelah aku turun menancap gasnya lagi.
“Aku telpon bang Andi dulu suruh ke sini ambil mienya, malas banget ke koramil” aku membuka pintu rumah, masuk dan duduk di ruang tamu, kemudian mengambil handphone di tas menelpon Andi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments