…………..
"Bang Andi kemana ya, kenapa hari ini tidak ada kabar sama sekali" aku menelpon Andi, tapi tak ada jawaban dari Andi. Andi benar - benar hilang tanpa kabar hari ini.
“Sudah seharian bang Andi tidak memberikan kabar untukku, aku chat gak dibalas, telpon pun gak diangkat, sebenarnya kamu kemana sih sayang” aku merasa sangat gelisah dengan keberadaan Andi yang tidak seperti biasanya selalu memberikan kabar dimana pun dia berada dan apa pun yang dia lakukan.
Malam semakin larut aku tertidur dengan tangan masih menggemgam erat handphoneku sampai detik ini aku masih berharap Andi menghubungiku.
Kriiiiing
Aku terbangun dari tidurku, aku memeriksa notifikasi handphone tapi tidak sama sekali Andi menghubungiku. Aku meletakkan kembali handphone di atas ranjang. Berjalan ke kamar mandi mengambil wudhu kemudian melaksanakan shalat subuh.
Selesai shalat aku mengangkat kedua tanganku sembari memohon kepada Allah
“Ya Allah ya Tuhanku berikanlah kesehatan dan keberkahan umur kepada kedua orang tuaku dan juga untukku, berikanlah kelancaran untukku hari ini. Aaamin” aku menyapukan kedua tangan ke wajah.
“Mama” aku memanggil mama yang sedang sarapan bersama Ayah. “Mama gak sekolah hari ini” melihatnya yang masih menggunakan pakaian rumah.
“Gak mama mau ke tempat Kakaknya Ayah yang sedang sakit” jawab mama yang meneguk minumannya.
“Iya kamu sendiri ya di rumah hari ini, Ayah sama mama mau pergi, nanti kalau kamu bosan kamu ajak Andi saja jalan - jalan”
“Iya yah, memang ayah dan mama mau menginap di sana” tanya ku yang mengunyah nasi.
“Iya rencananya dua hari di sana, atau kamu mau ikut juga” ajak mama
“Gak deh ma, aku di rumah saja” jawabku menolak ajakan mama dan ayah.
“Sudah besar ma putri kita sudah gak mau kita ajak lagi, padahal dulu kalau kita kemana - mana pasti nangis kalau kita tidak membawanya”
“Maklum yah sudah punya tunangan sekarang” mama menambah candaan ayah.
“Apa sih ma ayah” aku tersenyum salting dengan candaan mereka. “Mama sama ayah mau berangkat jam berapa” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Tuh yah lihat salah tingkah kan dia, mungkin sebentar lagi, nungguin bunda selesai dulu” jawab mama yang mengangkat piring kotor.
“Kalau gitu kakak berangkat sekolah dulu ya, takut telat nanti, kalau mama sama ayah berangkat telpon kakak ya” pergi meninggalkan mereka.
****
Di sekolah
Bel jam masuk berbunyi. Siswa \- siswi berbondong \- bondong masuk ke kelas masing \- masing. Sama halnya dengan guru \- guru yang mengajar. Aku berjalan dari kantor utama setelah melakukan fingerprint ke kantor satunya.
“Hai” sapa ku kepada guru - guru yang sedang berkumpul.
“Hai bu Kanza” pak Jamal menyapaku balik.
Aku tersenyum ke arahnya lalu masuk ke dalam kantor untuk meletakkan tas.
“Ciee pak jamal” goda bu Susi.
“Apa sih bu Susi, kan bu Kanza menyapa kita ya saya sapa balik lah” bantah pak Jamal membela dirinya.
“Pak Jamal lihat itu di jari manisnya jangan lupa” Pak Dayat menggodanya lagi.
“Gak kok gak lupa, maklum sudah keduluan”
Aku mengambil kursi dan bergabung dengan mereka. “Lagi ngomong apaan sih” tanyaku yang melihat mereka terdiam saat aku bergabung dengan mereka.
Dengan sigap pak Jamal menjawabnya “gak bu Kanza, bu Kanza gimana sehat”
“Sehat, sehat. Bapak bagaimana sehat juga kan” tanyaku balik.
“Kalau pak Jamal jangan ditanya lagi pasti sehat wal afiat ya kan pak Jamal” pak Dayat menepuk paha pak Jamal yang duduk di depannya.
“Saya ada bawa pepaya di bagasi motor” seru bu Dewi.
“Wah enak tu” jawabku
“Nanti waktu istirahat kita makan sama - sama ya” serunya lagi.
“Oh pasti itu bu Dewi”
“Wah kalau pak Jamal sudah makan gak disisain tu” bu Juli meledek pak Jamal yang kalau makan buah - buahan pasti kalap.
“Ah jangan seperti itu bu Juli, malu saya sama bu Kanza”
Bel pergantian jam berbunyi.
“Yang ada jam yang ada jam, silahkan masuk” seru pak Said seperti biasa. “Saya diamanahkan oleh bapak kepala sekolah hari ini untuk mengawasi guru - guru masuk kelas”
“Memangnya bapak kepala kemana pak” tanya bu Juli
“Ada di kantornya”
“Wah itu lagi menuju ke sini” bu Juli yang melihat bapak kepala sekolah bangun dari duduknya masuk ke dalam kantor mengambil buku untuk mengajar “masuk - masuk” membawa buku nya menuju ke kelas.
“Sudah bel kenapa masih di sini” Tanya pak kepala sekolah yang melihat kami yang masih berkumpul.
“Saya jam terakhir pak” jawabku dengan penuh kesopanan.
“Saya dan bu Dewi guru BK pak” jawab Bu Susi.
Pak kepala sekolah melanjutkan perjalanannya berkeliling sekolah mengontrol kelas yang belum ada gurunya. Setelah berkeliling ia kembali ke tempat kami berkumpul.
“Silahkan duduk pak” seru ku yang mengambil kursi untuknya.
“Iya terima kasih bu” mengambil kursi lalu duduk. “Bagaimana sekolah apa sudah bosan kalian perginya”
“Gak bosan lah pak” jawab bu Dewi
“Kalau kalian merasa sudah bosan gak apa - apa tinggal bilang sama saya nanti saya keluarkan dari sini” tegasnya yang tidak ada angin tidak ada hujan mengeluarkan kata - kata seperti itu untuk aku, bu Dewi dan bu Susi.
“Pak ada tamu di kantor” kata bu Riza yang menghampiri bapak kepala sekolah.
“Iya, saya kesana dulu ya” bangun dari tempat duduk mengikuti langkah bu Riza.
“Iya pak” angguk ku mengiyakan kepergian bapak kepala sekolah. “Kenapa bapak berbicara seperti itu sama kita” tanyaku kepada bu Dewi dan bu Susi.
“Entah juga mungkin bapak tidak senang dengan kita”
“Iyalah bapak kepala sekolah itu kan senangnya sama guru - guru yang cantik yang modis gitu” sambung bu Susi.
“Iya coba lihat sama bu Riza tadi, baik kan cara ngomongnya”
“Iya kan bu Riza cantik berarti” jawabku.
“Sudahlah kita biasa saja sama beliau jangan diperduliin kata - katanya”
“Kata - kata apa” tanya bu Fizza yang datang dari kantor utama, mengambil kursi lalu duduk di samping bu Dewi.
“Itu tadi masak bapak kepala ngomong sama kita kalau sudah bosan sekolah suruh ngomong sama dia untuk dikeluarkan”
Bu Fizza tertawa mendengar penjelasan bu Dewi “sudah ah bapak itu memang seperti itu ngomongnya, kalian gak usah perduliin, sama saya dan beberapa guru yang lain juga selalu seperti itu ngomongnya.” Jelas bu Fizza yang memberikan semangat untukku, bu Dewi dan bu Susi agar tidak down dengan apa yang barusan keluar dari mulut bapak kepala sekolah.”gimana tadi saya dengar ada pepaya, mana pepayanya sini saya kupasin”
“Sebentar saya ambil” sahut bu Dewi yang berdiri mengambil pepayanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments