Bab 17

Begitu tiba di Pulau Dewata, Diandra segera menuju ke vila di salah satu daerah Kuta. Memilih istirahat sejenak dan menikmati waktu santainya seorang diri. Dian membuka tirai kamar dan langsung di suguhi dengan pemandangan kolam renang yang cukup luas. Suasana terasa sangat nyaman.

Ingatannya kembali ke beberapa tahun silam. Waktu dirinya pergi bulan madu dengan Saka. Dulu, Dian merasa sangat bahagia. Kala itu Dian percaya bahwa tidak semua laki - laki seperti Papanya dan Reynald. Saka berbeda, itulah yang Dian pikirkan. Tapi itu dulu. Nyatanya Saka sama saja. Ia juga menorehkan luka yang semakin membuatnya trauma pada pria.

Tak mau larut dalam ingatan menyakitkan dari masa lalu, wanita cantik itu membuka ponsel. Memotret kedua kakinya dan mengunggah foto itu di sosial media dengan caption "Melangkah ke depan". Tak berselang lama, postingannya langsung mendapat puluhan komentar dari teman - temannya dan juga beberapa netizen yang mulai mengikutinya sejak dirinya viral beberapa waktu lalu.

Setelah membuat postingan, Dian merebahkan tubuhnya di atas ranjang lalu mulai memejamkan mata.

"*Papa sayang kamu, Nak. Papa sangat menyayangi kamu", seorang pria paruh baya tersenyum lembut sambil mengusap kepala Dian

"Dian juga menyayangi Papa. Sangat ... Sangat menyayangi Papa"

Dian memeluk erat, Aditama, Papanya. "Papa akan selalu menyayangi Dian kan?"

"Tentu saja. Kamu adalah separuh hidup Papa"

"Sampai kapanpun?" tanya Dian pada Papanya

"Selamanya*"

Mata bermanik warna cokelat itu kembali terbuka. Baru saja ia memejamkan mata, kini harus kembali terjaga.

"Kenapa aku bermimpi dia lagi setelah sekian lama"

Tak mood lagi untuk tidur, Dian melihat jam, ternyata sudah pukul empat sore. Dia mengambil tas nya lalu berjalan ke luar Villa. Sengaja memilih tempat yang dekat dengan pantai, sore ini Dian akan menghabiskan waktunya menikmati pemandangan hamparan laut luas yang pastinya menakjubkan.

Menapaki jalanan dengan langkah pelan, sekitar sepuluh menit akhirnya Dian sampai di pantai Kuta. Suasana tak pernah sepi. Banyak wisatawan lokal maupun asing yang sedang menikmati indahnya lautan di sore hari.

Dian berjalan kembali menuju pinggir pantai. Lagi - lagi bayangan masa lalu menyapanya. Bayangan dimana Saka dan dirinya bermain kejar - kejaran di bibir pantai seketika terlintas.

Lupakan, Di! Kamu harus bisa melupakan semuanya! Saka sudah menyakitimu begitu dalam. Untuk apa masih mengingatnya? Dia bahkan berbahagia di atas kesedihanmu.

"Papa kejar aku!"

"Tunggu Papa, Papa akan mengejarmu!"

Deg

Suara itu? Suara yang sudah lama tidak Dian dengar. Wanita cantik itu berbalik, dan ...

Deg

Jantung Dian kembali berdetak cepat. Pria paruh baya sedang mengejar seorang gadis remaja. Di ikuti wanita paruh baya di belakang mereka. Ketiganya tampak tersenyum bahagia.

Dian meremas dadanya. Sakit! Rasanya begitu sakit! Ia tertawa miris, tanpa sadar air mata menetes begitu saja dari pelupuk mata. Dian mengusapnya kasar, pemandangan yang terlihat manis itu justru menyayat hatinya.

Kenapa semua orang berbahagia di atas penderitaanku! Kenapa? Lihatkan pria itu, Ma. Dia berbahagia di atas penderitaan kita.

Dian berlari menjauh dari mereka, tanpa ia sadari, dirinya menabrak seseorang dan membuat kamera orang tersebut jatuh.

"Hei! Kalau jalan hati - hati! Kameraku jatuh ke air!"

"M-maaf" Dian terus berlari menjauh.

Pria itu menatapnya heran, "Dasar aneh!" dia memeriksa kameranya, sayangnya tidak bisa hidup lagi. "Sial! Mati! Aku harus mencari wanita itu!"

🍀🍀🍀

"ARRGGHH ...! Kenapa semua orang bahagia di atas penderitaanku!!"

Tidak kuat menahan sesak dalam dada, Dian berteriak sekuat tenaga untuk membuat perasaannya lega.

"Aditama! Reynald dan sekarang Saka! Kenapa Tuhan? Kenapa mereka semua jahat padaku!! Apa salahku?!! Kenapa harus aku?" tanya Dian pilu

"Dasar lemah! Hanya karena laki - laki, kamu serapuh ini?" cibir seseorang di samping Dian

Dian menatap pria itu tajam, "Siapa kamu? Kenapa kamu sok tahu dan mencampuri urusanku!"

Pria itu tersenyum sinis lalu memberikan kameranya ke tangan Dian. "Aku tidak ada urusannya dengan kegalauanmu itu. Kamu tadi menabrakku! Dan karenamu, kameraku rusak! Aku mau kamu menggantinya!"

"Tidak mau!" Dian mengembalikan kameranya,

"Kamu penipu kan? Kamu sengaja mengada - ngada agar aku memberimu uang! Ya kan?"

Pria itu menatap Dian dari atas hingga bawah. "Kamu bukan orang susah. Jadi jangan lari dari tanggung jawab!"

Dian melipat kedua tangannya di dada. "Aku tidak sengaja menabrakmu. Dan itu pelan. Mustahil kameramu bisa rusak. Kalau mau menipu, cari alasan yang lebih logis!"

Geram, pria itu menarik tangan Dian. Keduanya semakin dekat, "Kamu harus bertanggung jawab!!"

"Sekali tidak! Ya tidak!"

Duk

"Arrrggh" erang si pria. "Jangan kabur wanita sialan!"

Sayangnya Dian sudah berlari menjauh. "Awas saja kalau kita bertemu lagi. Aku akan membuat perhitungan denganmu!!"

🍀🍀🍀

Setelah kabur dari pria tadi, Dian memutuskan kembali ke Villa. Hari sudah mulai malam, dan dia merasa lelah.

"Kamu sudah pulang?"

Dian menatap Rey dingin, "Mau apa kamu kemari?"

"Tentu saja menyusulmu" jawab Rey tersenyum

"Pulanglah. Aku tidak membutuhkanmu di sini"

"Kamu yakin?"

"Tentu saja. Tujuanku berlibur adalah menghindari kalian semua. Apa gunanya aku di sini kalau orang yang ingin aku hindari juga berada di sini!" kesal wanita cantik itu

Rey terkekeh, "Aku akan menjadi guide untukmu. Dan itu gratis. Kita akan berlibur dan berkeliling sesukamu. Bagaimana?"

"Tidak terima kasih! Aku lebih suka kamu pulang!"

Dian berjalan menuju ke kamar, dan Rey segera menyusulnya. "Di ... Tolong beri aku kesempatan"

"Kesempatan?"

"Ya"

"Dalam hidupku, tidak ada kesempatan untuk seorang pengkhianatan!"

"Di ... Izinkan aku menjelaskan semuanya" pinta Rey

"Pulanglah! Jangan mendekati aku lagi! Anggap kita tidak saling kenal!" Dian menutup pintu lalu menguncinya.

"Aku akan menunggumu sampai kamu memaafkan dan mau mendengar penjelasanku" ucap Rey dari balik pintu

Kesal. Itulah yang dia rasakan. Niatnya berlibur ingin mencari ketenangan tapi malah mendapat kesialan. "Aku harus pergi dari Villa ini!"

Dian mengurung diri beberapa waktu di dalam kamar. Setelah hampir satu jam, Dian keluar dan memperhatikan sekeliling. Merasa aman, wanita itu segera membawa kopernya keluar. Dia sudah memesan taksi online yang kini sedang menunggunya di luar.

"Pak, antarkan saya ke Villa X"

"Baik Nona"

Tanah Lot adalah tujuan Dian bersembunyi dari Rey. Jika pria itu masih bisa menemukannya, maka Dian akan pulang.

Perjalanan dari Kuta menuju ke Tanah Lot membutuhkan waktu satu setengah jam, mungkin bisa lebih singkat jika jalanan renggang.

Menikmati pemandangan malam di Bali sungguh menyenangkan. Sayangnya kenapa harus ada para pengkhianat itu. Rasa kesal kembali muncul. Mood Dian seketika turun.

"Sudah sampai Nona" ucap si sopir

"Terima kasih, Pak"

Setelah memberikan ongkos, Dian turun dari mobil. Villa yang akan dia tempati kali ini terlihat sama nyamannya dengan Villa nya tadi. Dian menggeret kopernya masuk, namun ia tiba - tiba merasa ada yang menariknya dari belakang. Dian kita itu Rey, nyatanya dia salah.

"Kamu harus bertanggung jawab, wanita bar - bar"

Deg

Terpopuler

Comments

Siti Nurjanah

Siti Nurjanah

tuh jodohmu Dian . udah launching

2023-08-08

0

Yunita Indriani

Yunita Indriani

ga kemana" kok diandranya bang.
ga usah marah'gitu tar jodoh loh🤭

2022-12-09

0

Rabiatul Addawiyah

Rabiatul Addawiyah

Lanjut thor

2022-12-09

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!