"Liburan mendadak! Kenapa pulangnya juga mendadak?" tanya Rani heran, pasalnya baru saja Dian mengabarinya dan minta di jemput di Bandara. Padahal baru kemarin sahabatnya itu berlibur, tapi kenapa sudah pulang?.
"Nanti aku ceritakan! Yang jelas, aku sudah tidak mood lagi untuk berlibur!" jawab Dian
"Apa kamu bertemu perjaka tua itu?"
Dian menatap Rani tak suka, "Tidak ada yang seperti itu! Itu hanya khayalanmu saja!"
Rani terkikik, "Doaku tidak manjur rupanya"
Dian tidak menjawab, dia hanya menatap jalanana. "Kita langsung ke kantor saja"
"Kamu yakin? Kamu baru nyampek loh Di. Nggak capek?"
"Yakin. Lagipula dirumah mau ngapain?"
"Ok. Kebetulan sekali. Hari ini aku rencananya akan menemui kontraktor baru kita yang menggantikan Saka. Kalau begitu, kamu saja yang pergi"
"Hm, biar aku yang handle"
🍀🍀🍀
"Di ... Mereka sudah tiba. Sekarang berada di ruang meeting" lapor Rani
"Bang Tri sudah menemani mereka?"
"Sudah. Tinggal menunggu kamu saja"
"Baiklah. Ayo kita ke sana"
Dian dan Rani segera pergi menuju ruang meeting.
"Maaf sudah membuat kalian menunggu", sapa Dian dengan senyuman manis. Namun saat melihat siapa orangnya, senyum itu luntur begitu saja.
Dia kan penipu itu. Bagaimana bisa dia ada di sini. Jangan bilang kalau dia yang akan menggantikan Saka. Ucap Dian dalam hati
Berbeda dengan Dian yang cukup terkejut, pria itu malah tersenyum menyeringai.
Kita bertemu lagi, wanita bar - bar. Dan kali ini aku pastikan kamu tidak akan bisa lari lagi.
Flash Back On
"Kamu harus bertanggung jawab, wanita bar - bar"
Deg
"K-kamu?"
"Ya. Ini aku! Kita bertemu lagi" ucapnya menyeringai
Dian berusaha melarikan diri, sayangnya pria itu lebih dulu menariknya
"Maling! Maling! Tolong!"
"Stop jangan berteriak!"
"Kalau kamu tidak melepaskanku, aku akan terus berteriak!" ancam Dian
Beberapa orang mulai mendekat, "Kamu wanita paling menyebalkan yang pernah saya temui!"
"Makanya jangan mau berurusan denganku!"
Si pria menatap Dian sangat kesal. "Kali ini kamu lolos. Tapi kalau takdir mempertemukan kita kembali, aku pastikan tidak akan pernah melepaskanmu!"
"Kamu percaya pada hal seperti itu? Hahah. Aku pastikan kita tidak akan bertemu lagi. Dasar penipu"
"Kita lihat saja. Kalau sampai kita bertemu lagi, aku akan meminta ganti rugi dua kali lipat!"
"Dalam mimpimu!", ejek Dian. Pria itu pun segera pergi begitu warga datang.
"Mbak, mana malingnya? Mbak tidak apa - apa?"
"Saya baik - baik saja, Mas. Malingnya sudah kabur. Terima kasih sudah datang"
"Lain kali hati - hati Mbak. Kalau begitu kami pergi dulu"
Flash Back On
"Ini ibu Diandra, pimpinan DV Hotel", ucap Tri memperkenalkan Dian
Pria itu tersenyum, "Saya Gama Mahaditya. Senang bisa bekerja sama dengan Anda, Bu Diandra"
"Tentu, Tuan Gama. Semoga kita bisa menjadi partner yang saling menguntungkan"
"Pasti", Gama meletakkan dua jarinya di pipi dan menepuk - nepukkannya seolah sedang mengingatkan Dian akan janjinya. Tentunya di sertai senyum seringainya.
Sialan. Dari banyaknya manusia yang ada di bumi ini, kenapa harus dia orangnya. Ah ... Seharusnya aku melihat profilnya dulu. Gumam Dian dalam hati
Gama Mahaditya, seorang kontraktor yang sangat berbakat. Dan tentunya lebih hebat jika di bandingkan dengan Saka. Sudah banyak perusahaan yang memakai jasanya. Selain memang hasilnya yang sangat memuaskan, Gama juga di kenal bertangan dingin. Dia selalu mengutamakan kepuasan client dan yang lebih ajaib lagi, semua pekerjaan yang di handle oleh Gama akan selesai lebih cepat dari waktu yang di sepakati.
"Karena semua sudah berkumpul. Kita bisa mulai tanda tanganya sekarang", ucap Tri memecah keheningan
Dian dan Gama saling melirik, sebelum akhirnya keduanya saling menggores tinta di atas putih. Tanda jika mereka telah resmi menjadi partner mulai detik ini.
"Saya dengar, Pak Gama ini juga seorang fotografer ya?" tany Rani
Gama tersenyum, "Hanya menyalurkan hobi saja", Gama menatap Dian, "Tapi sepertinya, beberapa waktu ke depan, saya belum bisa memotret lagi"
"Pekerjaan Anda sebagai kontraktor pasti membuat Anda sibuk", kali ini Tri yang menjawab
Gama menggeleng kecil, "Kemarin ada insiden kecil. Ada seseorang yang mengaku tidak sengaja menabrak saya. Alhasil, kamera milik saya tercebur ke air laut. Dan saya belum sempat memperbaikinya"
"Kenapa Anda tidak meminta ganti rugi pada orang yang menabrak Anda saja?"
Ingin sekali Dian menutup mulut sahabatnya itu.
Gama tertawa pelan, "Dia seorang wanita. Kemarin dia berlari setelah melihat seorang pria yang tertawa bahagia dengan wanita lain"
Deg
Dian menatap Gama sekilas, bagaimana bisa Gama tahu hal itu? Apa dia memperhatikannya.
"Wah ... Palingan patah hati tuh"
"Kalau semua sudah selesai, saya permisi dulu" pamit Dian
"Sepertinya Ibu Dian bukan orang yang suka berbincang" celetuk Gama
"Jika setiap waktu bisa menghasilkan uang. Maka kita tidak boleh menyia - nyiakannya bukan?"
Gama tersenyum, "Sepertinya kita akan menjadi partner yang pas. Semoga kerja sama ini bertahan lama"
"Semoga saja"
"Baiklah, karena urusan kita sudah selesai, saya permisi" pamit Gama
"Terima kasih Tuan Gama" ucap Tri
"Sama - sama"
Tri dan Rani mengantar kepergian Gama sampai di depan lobi. Sedangkan Dian langsung menuju ke ruangannya.
"Di ... Kenapa aku merasa sikapmu berbeda pada Tuan Gama" tanya Rani yang baru tiba di ruangan Diandra
"Berbeda bagaimana?" tanya Dian balik
"Biasanya setiap tamu yang datang kemari akan kamu jamu dengan sangat baik. Mengajak mereka makan atau sekedar kopi dan cemilan. Tapi kenapa pada Tuan Gama tidak?"
Dian menatap Rani, "Bukankah urusannya hanya tanda tangan. Dia juga pasti sibuk dengan pekerjaannya" kilah Dian
"Tidak, Di. Aku merasa kamu bersikap dingin padanya. Ada apa? Apa kalian pernah bertemu sebelumnya? Apa yang tidak aku tahu?" cecar Rani
Wanita berusia dua puluh delapan tahun itu menghela nafas. "Kemarin aku melihat Aditama"
"Papamu?" pertanyaan Rani langsung mendapat tatapan tajam dari Dian, "M-maksudku ya ... Emh"
"Ya ... Pria itu. Aku melihatnya di Bali. Kamu tahu, dia sedang bermain dengan putrinya dan juga istrinya"
Rani menatap Dian dengan sedih, terlihat jelas kesedihan dari sorot matanya. "Di ..."
"Dia bahagia. Sangat bahagia" Dian tertawa miris,
"Kamu juga pasti akan bahagia suatu saat nanti, Di. Jangan pikirkan dia lagi"
"Yang aku pikirkan bukan karena dia bahagia. Tapi putrinya" Dian menatap Rani, "Usianya terlihat seperti remaja yang beranjak dewasa. Menurutku sekitar dua puluh dua atau dua puluh tiga. Bukankah itu artinya, Aditama sudah lama mengkhianati Mama? Jauh sebelum dia membawa wanita itu kerumah"
Rani menggenggam tangan sahabatnya, "Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Di"
"Kamu benar. Pecundang itu bahkan pergi setelah mengenalkan selingkuhannya"
"Karena itu pula kamu memilih pulang dari liburanmu?"
"Bukan itu saja"
"Lalu? Tanya Rani penasaran
"Aku bertemu pria menyebalkan. Dia membuatku kesal setengah mati. Padahal aku tidak sengaja menabraknya"
"Tunggu Di. Kenapa ceritamu mirip dengan yang Tuan Gama ceritakan? Jangan - jangan-"
"Kamu benar. Akulah yang dia ceritakan. Aku wanita yang tidak sengaja menabrak Gama Mahaditya hingga kameranya tercebut ke pantai"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Rabiatul Addawiyah
Lanjut thor
2022-12-10
0
Yolan
jodohnya diandra lagi otw kayaknya😛😛😛😛
2022-12-10
0
Gadis Manggar
semoga dian dan gama berjodoh....
2022-12-10
0