"Kamu yakin? Bagaimana kalau aku membantumu membalas kekejaman suamimu itu!!"
Deg
Jangan lupakan siapa sosok yang ada di depan Dian ini. Dia adalah Reynald Arya Mahesa pengusaha tersohor yang tidak usah di ragukan lagi kemampuannya. Bukan hanya soal bisnis tapi semua hal. Mengetahui apa yang terjadi tentangnya, tentu bukan hal sulit untuk Rey.
"Jangan mencampuri urusanku apapun itu!! Aku tidak butuh bantuanmu! Aku bisa melakukannya sendiri!!"
Dian pergi meninggalkan Rey. Bukan hanya Rey, tapi pesta yang masih berlangsung di dalam sana. Dia sudah tidak peduli lagi dengan pestanya. Yang ingin Dian lakukan sekarang adalah pergi sejauh - jauhnya dari pria bernama Rey tersebut.
Mobil yang Dian tumpangi mulai membelah jalanan. Entah kemana arah tujuannya, Dian pun tidak tahu. Wanita itu hanya ingin menenangkan diri.
Kenapa kamu harus kembali? Kenapa kamu kembali setelah aku berpisah dengan Saka? Apa yang kamu rencanakan, Kak Rey?
Tepat ketika jalanan sepi, Dian menepikan mobilnya. Pikirannya kini menerawang jauh pada kejadian beberapa tahun silam
Flash Back On
"Kak Rey ... Kak Rey!!"
Dian menggedor pintu rumah Rey. Namun tidak ada jawaban. Biasanya sekali ketuk, Rey akan muncul dari balik pintu. Tapi hari ini, rumah Rey terasa sepi.
"Kak Rey buka!! Aku butuh kamu sekarang!!"
Air mata masih mengalir di wajah cantiknya. Tangan Dian bergetar hebat. Wanita cantik itu bahkan tidak memakai alas kaki.
"Kenapa kamu pergi saat aku membutuhkanmu, Kak Rey? Kamu bilang kamu akan selalu ada untukku. Tapi apa sekarang? Kamu pergi!!"
Dian melangkah gontai meninggalkan rumah Rey. ia akan kembali ke rumahnya yang berjarak beberapa meter saja dari sana. Namun langkahnya terhenti saat melihat mobil Rey datang. Dian berlari kecil untuk kembali ke rumah Rey. Senyum tersungging di balik air mata yang masih membasahi pipi. Sayangnya senyum itu luntur tat kala Rey turun bersama seorang wanita. Mereka mengenakan pakaian pernikahan.
"Terima kasih sudah mau menikahiku, Rey"
Deg
Tubuh Dian membeku, apa yang baru dia dengar membuat dunianya seketika kembali runtuh. Dalam waktu bersamaan, Dian kehilangan dua pria yang berharga dalam hidupnya.
"Aku mencintaimu, Di. Aku akan menikahimu suatu hari nanti"
"Aku juga mencintaimu, Kak Rey. Dan aku akan bersabar hingga hari itu tiba"
Diandra menggeleng kuat. Janji manis yang pernah Rey ucapkan mengisi penuh memori otaknya saat ini. Air mata semakin deras membasahi pipi. Perasaan sesak membuatnya terasa sulit bernafas.
"Kenapa kamu juga melakukan hal yang sama, Kak Rey? Kenapa?"
Dian berlari menuju ke rumahnya. Gadis remaja itu bahkan tidak menghiraukan tatapan heran orang - orang padanya.
"Di ... Kamu kemana saja? Tante-"
"Ada apa dengan Mama, Ran?!"
Rani tidak menjawab. Sahabatnya itu hanya menangis sesegukan. Merasa ada yang aneh, Dian segera memasuki rumahnya. Dia berlari menaiki tangga menuju kamar Mamanya di lantai dua. Sesampainya di atas, Dian melihat Damar dan Yasari, (orang tua Rani) di depan kamar. Mereka juga menangis. Dian yang mulai khawatir, segera memasuki kamar Mamanya.
Perempuan yang melahirkan Dian sembilan belas tahun yang lalu itu tengah berbaring di atas ranjang. Dengan langkah cepat Dian menghampiri Mamanya.
"Ma ... Mama kenapa? Mama sakit? Kenapa wajah Mama pucat sekali?"
Tidak ada jawaban, Denata tetap menutup matanya rapat.
"Ma!"
Deg
Tubuh Dian membeku. Jantungnya berdetak begitu kencang saat ia merasakan betapa dinginnya tangan Denata.
"Paman! Bibi! Cepat panggil dokter. Tubuh Mama dingin sekali!"
Damar, Yasari dan Rani menatap Dian iba.
"Di ... Mamamu sudah tiada" ucap Damar pelan
"Apa yang Paman katakan?! Mama masih ada. Dia tidak mungkin meninggalkan aku!!"
"Ma ... Bangun! Bilang pada Paman kalau Mama baik - baik saja"
Merasa tak mendapat jawaban, Dian membuka selimut yang menutupi tubuh Denata. Betapa terkejutnya Dian saat melihat leher Mamanya memerah seperti bekas lilitan. Di tambah kuku yang mulai membiru
"T-tidak mungkin! MAMA!!!"
Dian histeris saat mengetahui kenyataan bahwa wanita yang melahirkannya itu sudah tak bernyawa.
"KENAPA PAMAN DAN BIBI DIAM SAJA. KENAPA TIDAK MENOLONG MAMA?"
"Maafkan kami, Di. Kami terlambat. Kami menemukan Mamamu sudah tak bernyawa. Mamamu sudah pergi"
"PAMAN TOLONG PANGGIL DOKTER! PANGGIL DOKTER SEKARANG! MAMA MASIH HIDUP! MAMA PASTI MASIH HIDUP!!"
Damar menggeleng, dia memeluk Dian. "Mamamu sudah pergi, Di. Dokter baru saja pulang"
Dian limbung. Tubuhnya ambruk tepat di depan jasad sang Mama. "Kenapa Mama menyerah? Kenapa Mama memilih mengakhiri hidup Mama seperti ini? BANGUN, MA!! BANGUN!!"
"Nak, ikhlaskan kepergian Mamamu. Dia sudah tenang di alam sana"
"BAGAIMANA MAMA BISA TENANG DI ALAM SANA? DIA MATI BUNUH DIRI, BIBI. MAMAKU MATI BUNUH DIRI!!"
Dian semakin histeris, dia memeluk tubuh yang sudah tidak bernyawa itu begitu erat. Hancur sudah dunianya saat ini. Kehilangan orang yang paling mengerti dirinya. Paling menyayanginya adalah duka terdalam yang Dian rasakan.
"Di ... Kita harus memnadikan dan memakamkan Mamamu. Paman akan menelpon Papamu sekarang"
"Tidak perlu!! Jangan beritahu dia tentang hal ini"
"Tapi, Di-"
"Jangan beritahu dia, Paman!! *Dialah penyebab Mama mengakhiri hidupnya. Aku ingin kalian merahasiakan penyebab kematian Mama"
"Kalau itu keputusanmu, kami tidak bisa berbuat banyak"
"Aku bersumpah, suatu saat aku akan membalas perbuatan Aditama!!"
Flash Back Off
"Mereka semua harus merasakan sakit yang aku rasakan! Aku bersumpah akan membalas semuanya!"
Tok Tok Tok
Dian menoleh ke arah samping. Rey berada di luar mobilnya.
"Kebetulan dia ada disini. Sepertinya memberinya sedikit pelajaran akan menyenangkan!"
"Di ... buka"
Bruk
Dian mendorong pintu mobilnya dengan kuat, membuat Rey yang tidak siap terhuyung ke belakang.
"Lama tidak bertemu, kamu semakin bar - bar saja!" keluh pria itu
"Siapa suruh kamu mengganggu! Apa maumu?" tanya Dian ketus
Rey tersenyum simpul, "Makan malam"
"Aku sudah kenyang!"
"Menikah denganku?"
Dian tertawa sinis, "Kamu pikir, siapa dirimu itu? Sekalipun hanya tersisa kamu satu - satunya pria di muka bumi. Aku tidak akan tertarik! aku ... membenci semua pria yang ada di dunia ini. Apalagi pria yang suka berkhianat!!"
Rey menatap mata Dian yang tersirat penuh kebencian.
"Kamu membenciku?"
"Apa perlu aku menjawabnya?"
"Di -"
Bug
Satu pukulan Dian layangkan di bagian perut Rey.
Jangan lupa jika wanita berusia dua puluh delapan tahun itu jago bela diri. Melawan penjahat biasa adalah hal kecil baginya. Hanya satu lawan yang belum bisa ia kalahkan, Reynald lah orangnya. Dan hari ini, Dian akan mengalahkannya.
Bug
Rey meringis, tapi dia tidak membalas pukulan Dian.
Bug
Bug
"Kenapa diam saja? Kenapa tidak membalas pukulanku? Kamu takut?" tantang Dian
Rey tersenyum, "Aku tidak akan memukul perempuan yang aku cintai"
Tawa Dian menggema, "Cinta? Cinta seperti apa yang kamu maksud? Kalau mencintai, maka tidak akan menyakiti. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu mengkhianati aku!! Setelah meninggalkan aku dalam keterpurukan sekarang kamu datang dan mengatakan mencintaiku? Bullshit Rey!!"
"Di ..."
"Aku sudah mati rasa pada makhluk bernama pria. Lakukan apapun yang kamu mau. Tapi sampai matipun, aku tidak akan pernah menerimamu!! Ingat Rey. Kamu ... Aditama dan Saka. Kalian adalah orang - orang yang paling aku benci! Dan aku akan membalas semua sakit hatiku! Tunggu saja!!"
🍀🍀🍀
"Mas, kamu diam saja sejak tadi. Kamu memikirkan Diandra?" tanya Vika dengan nada cemas
Saka menggeleng, "Aku hanya lelah"
Kamu bohong, Mas. Kamu pasti memikirkan mantan istrimu itu. Ucap Vika dalam hati
"Sebaiknya kita istirahat. Besok pagi aku ada meeting penting"
Vika memeluk suaminya. Dia mencintai Saka, sangat mencintainya. Pelukan Saka terasa nyaman dan hangat. Dia tidak mau kehilangan semuanya. Sekuat tenaga Vika akan menjaga suaminya agar tidak jatuh kembali pada Diandra.
"Mas"
"Hm"
"Tidak bisakah kamu menghentikan kerja sama dengan perusahaan Diandra?"
Vika mendengar Saka menghela nafas, "Kita tidak bisa menghindari kenyataan, Vik. Bagaimanapun, kita tidak boleh mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan"
"Tapi aku merasa tidak nyaman, Mas. Kamu pasti akan sering berhubungan dengan Diandra" ucap Vika khawatir
"Kamu tidak percaya padaku?"
"Bukan begitu, aku hanya-"
"Landasan dari sebuah hubungan adalah kepercayaan, Vik. Kalau kamu sudah tidak percaya pada pasanganmu sendiri, bagaimana hubungan kita ke depannya? Jangan berfikir yang tidak - tidak. Pikirkan saja kandunganmu. Aku tidak mau bayi kita kenapa - napa!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Siti Nurjanah
apa kamu lupa KA kalau kamu menikah dgn istri mu yg sekarang karena kamu menghianati pasanganmu yg dulu makanya istri mu . sekarang kamu rasakan Vika karena kamu mendapatkan nya dgn merebutdr orang lain makanya kamu takut jg kalau direbut dgn orang lain
2023-08-08
1
Yunie
geli gw sm Vika...dia pelakor skrg malah ketakutan...😂😂😂
2022-11-25
0
Aliyah
makanya jgn merebut suami org pika
2022-11-24
0