"Tentu saja saya kenal dengan Jeng Vika" Dian menatap Vika dengan tatapan dinginnya. "Dia ini pelakor yang sudah merusak rumah tangga saya!"
Deg
Semua orang tampak tercengang. Sedangkan Vika, jangan di tanya seperti apa wajahnya sekarang. Keringat dingin mulai membasahi wajahnya. Bibirnya sudah memucat.
"Jadi kamu ini pelakor, jeng?"
"Katanya tadi wanita terhormat, kok ternyata pelakor juga?!"
"Jeng Vika beneran jadi pelakornya jeng Dian?"
Melihat wajah Vika yang tegang sekaligus pucat dan bingung, Dian tersenyum tipis. "Kenapa kalian serius sekali? Saya hanya bercanda" ucap Dian tiba - tiba
Mereka kembali di buat bingung oleh Dian.
"Jeng Dian ini serius atau bercanda?"
"Iya jeng? Kalau memang benar jeng Vika ini pelakor. Kita harus kasih pelajaran! Klub kita ini anti sekali sama yang namanya perebut suami orang!"
Dian tersenyum manis, "Saya hanya bercanda kok Jeng. Kalian saja yang baperan. Mana mungkin wanita sekelas jeng Vika itu pelakor? Ya kan jeng Vika?"
Vika diam tak menjawab. Wajahnya kini terlihat kesal, dia merasa di permainkan oleh Dian.
"Maaf kalau saya membuat suasana menjadi tegang. Maaf juga kalau candaan saya garing. Anggap saja tadi sebagai salam perkenalan kita. Biar kita lebih akrab"
"Jeng Dian suka bercanda juga ya ternyata. Saya kira tadi beneran loh? Saya sudah siap nyakar soalnya"
"Saya suka hal - hal humoris" jawab Dian santai, "Oh ya? Bisa kita mulai acaranya sekarang?" tanya Dian
"Oh bisa - bisa. Kita mulai saja acaranya"
Acarapun di mulai. Setiap orang akan mentransfer uang seratus juta untuk yang dapat arisannya.
"Yang dapat kali ini?" ketua klub membuka kertas yang tadi sudah dia ambil secara acak, "Jeng Vika"
"Wah ... Selamat jeng Vika. Rejekinya si bayi tuh"
"Iya jeng, rejekinya anaknya itu"
"Terima kasih. Ya kalian benar. Ini sudah rejeki anak saya. Anak kesayangan suami saya" jawab Vika mulai percaya diri
"Suaminya kerja dimana jeng?" tanya salah satu temannya
"Iya ya? Kan jeng Vika baru gabung lagi nih kumpul - kumpulnya. Cerita dong awal pertemuan sama suami barunya. Kita penasaran nih. Seperti apa sih suami barunya"
Vika tersenyum, "Suami saya itu seorang kontraktor hebat. Awal kami bertemu itu pas SMA. Dia mantan saya"
"Wah ... CLBK rupanya"
"Iya. Kebetulan setelah bertemu lagi, ternyata kami masing saling mencintai. Jadi kami memutuskan untuk kembali bersama" Vika bercerita sambil melirik ke arah Dian yang tampak santai menikmati cake nya
"Suaminya jeng Vika itu kolega DV Hotel" ucap Dian
"Oh ... Rekan kerjanya jeng Dian? Berarti jeng Dian kenal dong"
Kini Dian yang tersenyum, "Kenal luar dalam malah"
"Hah ... Maksudnya bagaimana jeng?"
"M-maksud jeng Dian, dia dan suami saya sudah kenal akrab. Begitu kan jeng Dian?" sahut Vika cepat
Dian mengangguk, dia masih asyik menikmati cake coklatnya.
"Oh ... Kirain gimana"
Acara di lanjut obrolan dan makan - makan ringan. Menurut Dian, hal ini membosankan dan garing.
"Saya permisi ke toilet sebentar" pamit Dian
Setelah kepergian Dian, para anggota klub mulai menggosip, "Lihat deh tas nya jeng Dian. Memang beda ya, orang yang kaya banget sama yang kaya nanggung"
"Dia mah bukan kaya lagi. Tapi kaya banget"
Merasa panas mendengar teman - temannya memuji Dian, Vika pun akhirnya juga pamit ke toilet.
"Saya juga mau ke toilet sebentar, ya" pamit Vika
"Iya jeng"
Ibu hamil itu segera menuju ke toilet. Ada rasa kesal, sebal dan jengkel dalam hatinya. Dari sekian banyaknya klub arisan, kenapa Dian memilih klub yang sama dengannya. Pasti wanita itu sedang merencanakan sesuatu.
"Apa yang sebenarnya kamu rencanakan, Diandra!" tanya Vika to the point begitu dirinya tiba di toilet
Dian hanya melirik Vika dari cermin, wanita itu sedang memoleskan lipstik pada bibirnya. "Apa?" jawab Dian santai
Vika berjalan mendekat, "Kamu tahu betul apa maksudku, Diandra!"
Dian tersenyum ke arah Vika, "Ini pertemuan pertama kita, loh. Harusnya kan kamu say hai baik - baik. Senyum. Kenapa kamu malah ketus padaku? Sama sekali tidak mencerminkan sikap wanita terhormat seperti yang kamu katakan pada mereka tadi"
"Aku tidak peduli apapun yang kamu katakan! Kita bahkan tidak saling kenal. Kenapa aku harus ramah padamu?"
"Benar - benar tidak tahu malu! Eh ... Aku lupa, kamu kan memang tidak punya malu. Wanita yang menghalalkan segala cara untuk mewujudkan obsesinya mana punya rasa malu" sindir Dian
"Terserah kamu mau bilang apa. Tapi ini pertama dan terakhir kalinya aku peringatkan kamu, Diandra! Jauhi suamiku!"
Dian tersenyum manis, "Kenapa? Kamu takut aku berhasil merebutnya kembali?"
"Itu tidak akan terjadi! Sekarang Mas Saka suamiku! Kamu hanya masa lalunya! Akulah masa depannya! jangan lupa kalau kami akan segera memiliki anak!"
"Kamu yakin itu anak Saka?" pancing Dian
"Tentu saja! Aku bukan wanita murahan yang dengan gampangnya mengobral tubuhku pada semua pria!!" jawab Vika marah
"Lalu yang kamu lakukan pada suamiku dulu, apa? Mengaku bukan wanita gampangan tapi merayu suami orang agar di tiduri. Kamu waras?"
Wajah Vika memerah, dia terlihat kesal bercampur marah. "Apapun masa lalu kami, akulah yang Mas Saka pilih! Aku pemenangnya, Diandra! Kamu sudah di buang! Kamu di campakkan! Dan aku yang Mas Saka pilih untuk mengandung benihnya. Bukan kamu! Kamu tahu artinya apa? Itu artinya, yang Mas Saka cintai hanya aku! Bahkan setelah menikah denganmu yang dia pilih, aku!!"
Dian tertawa pelan, dia mendekati Vika dengan gaya anggunnya. "Kamu bangga bisa mendapatkannya dan membuatku tersingkir. Tapi kamu lupa kalau aku pernah menjadi bagian dari hidup Saka. Aku yang menemaninya dari awal. Aku yang selalu bersamanya saat dia susah. Aku! Bukan kamu! Dan dengan tidak tahu dirinya kamu menggantikan posisiku setelah semua yang aku perjuangkan berhasil? Kamu pikir aku akan terima? Oh ... tentu saja tidak! Mau bertaruh? Bagaimana kalau aku bisa membuat Saka kembali bertekuk lutut padaku?"
Plak
Satu tamparan mendarat di pipi mulus Diandra. Bukannya marah, Dian justru tersenyum menyeringai. "Kenapa kamu menamparku? Aku bicara baik - baik, Vika. Aku sudah menjelaskan semua padamu kalau aku dan Saka tidak melakukan apa - apa. Tapi kenapa kamu tidak percaya?"
"Dasar pembual! Sekali calon pelakor, tetaplah pelakor! Ingat Diandra! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah membiarkanmu merebut Mas Saka dariku! Kalau kamu masih mendekati suamiku, aku tidak segan - segan memberimu pelajaran! Ingat itu!"
Vika pergi meninggalkan Diandra. Tanpa Vika tahu, Dian sedang terhubung sambungan video call dengan Saka. "Kamu lihat kan, Ka! Istrimu mengancamku! Bukan hanya itu, dia juga berani menamparku!"
Wajah Saka terlihat menahan amarah, "Aku minta maaf Di. Nanti aku akan bicara dengan Vika!"
"Tidak perlu! Mulai sekarang kerja sama kita berakhir! Seperti permintaan istrimu, aku tidak mau lagi berhubungan denganmu! Dan ingat, Ka. Jangan lupa membayar penalti sebesar lima milyar seperti kesepakatan awal!"
Tut
Dian kembali menyeringai. "Dasar perempuan bodoh! Dia pikir aku akan mudah di kalahkan? Lihat apa yang akan terjadi setelah ini?"
Dian keluar dari toilet, dia kembali berjalan ke ruang arisan. Suasana masih sama, mereka mengobrol tidak jelas. Dan yang pasti isi obrolannya tidak berfaedah.
Dian menatap Vika sekilas, wanita itu terlihat santai menikmati cemilannya.
"Maaf, aku harus pergi sekarang. Masih ada pekerjaan yang harus aku kerjakan" pamit Dian
"Oh iya, jeng. Tidak masalah, kami tahu kalau jeng sibuk. Silahkan pulang dulu"
Dian tersenyum, "Terima kasih atas pengertiannya. Ini kartu namaku. Silahkan kalian belanja di DV Jawelty dan tunjukkan kartu ini. Aku memberi kalian diskon empat puluh persen"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Aliyah
selamat .enikmati hasil dari kelakuanmu pelakor vika
2022-12-02
0
Rabiatul Addawiyah
Mantap kamu Di.... Saka hrs byr 5 M gara2 istri bodoh yg sdh dia pilih. Selamat menikmati kemiskinan dan kehancuran hidupmu Saka dan Vika 😏
lanjut thor
2022-12-02
0
Yunie
menjelang kemiskinan wahai pelakor ....
vika2 dah jd pelakor gaya2 ny wanita terhormat....🤣🤣🤣 stress deh lu
2022-12-02
0