Bab 3

"Jadi Bunda tidak mau datang ke pernikahan kita?" tanya Vika setelah Saka menceritakan jika Bundanya sudah kembali ke kampung halaman

"Bunda hanya butuh waktu. Jangan terlalu di pikirkan. Kita akan tetap menikah meski Bunda tidak datang"

Vika terlihat sendu, "Bunda pasti tidak mau menerimaku sebagai menantu, kan? Apa yang salah denganku, Mas? Apa yang tidak aku miliki dan di miliki Diandra? Kenapa Bunda menolakku padahal aku saat ini sedang mengandung cucunya. Seharusnya Bunda senang"

Saka menghela nafas, "Ini hanya masalah waktu, Vik. Bunda bukan tidak mau menerimamu. Dia hanya belum bisa menerima semua ini. Jangan berprasangka yang tidak - tidak. Suatu saat dia pasti akan menerimamu. Apalagi jika anak kita sudah lahir. Kamu hanya perlu bersabar"

Vika berusaha mengontrol perasaannya yang sedih dan kecewa karena ibu mertuanya lebih memilih pulang kampung di banding menghadiri pernikahannya bersama Saka. Dia memang bersalah, tapi bukankah Saka sudah menentukan pilihan? Dan dialah yang Saka pilih. Di tambah saat ini Vika mengandung anak Saka. Bukankah seharusnya Bunda menghargai keputusan Saka dan mendukung mereka. Tapi kenapa Bunda malah pergi seperti ini!

"Kamu sudah siap kan? Penghulunya sudah datang" Vika mengangguk.

Hari ini Saka dan Vika akan menikah. Acara sengaja Saka gelar di rumah untuk menghindari sesuatu yang tidak di inginkan. Apalagi statusnya yang belum resmi bercerai dengan Diandra. Masalah resepsi atau acara syukuran bisa menyusul nanti. Tidak ada sanak saudara yang hadir. Ayah Saka tidak tahu ada dimana. Setelah bercerai, dia menghilang bak di telan bumi. Sementara Bunda Saka, dia memang memiliki saudara, tapi sekarang mereka ada di Kalimantan. Orang tua Vika sendiri, dua - duanya sudah meninggal.

Saka berjalan menuju ruang tamu bersama Vika. Penghulu dan saksi sudah menunggu mereka disana.

"Bagaimana Pak Saka? Apa acaranya sudah bisa di mulai?"

"Sudah, Pak"

"Baiklah, sekarang jabat tangan saya" Saka mengangguk kemudian menjabat tangan penghulu yang akan menikahkannya dengan Vika. Mereka akan menikah menggunakan wali hamil sebab Ayah Vika adalah anak tunggal.

"Saudara Saka Ari Prasetya bin Kusuma Ari Prasetya, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Avika Saraswati binti Jalal Kamarudin dengan mas kawin emas 50 gram dan seperangkat alat shalat di bayar tunai"

"Saya terima nikah dan kawinnya Avika Saraswati binti Jalal Kamarudin dengan mas kawin tersebut, tunai!"

🍀🍀🍀

Tiga Bulan Kemudian

"Dengan ini hakim memutuskan bahwa saudara Saka Ari Prasetya dengan saudari Diandra Veronica resmi bercerai!"

Tok Tok Tok

Ketok palu hakim sudah menggema. Menandakan jika sekarang, Saka dan Dian sudah menjadi orang asing. Mereka tidak memiliki hubungan apa - apa lagi.

Saka menatap wanita yang kini resmi menjadi mantan istrinya dengan tatapan sendu. Jujur ... Saka belum bisa melupakan Dian sepenuhnya. Meski sudah menikahi Vika, tetap saja sebagian pikirannya masih di isi oleh Dian.

"Di ... seperti janjiku sebelumnya, aku memberikan rumah kita padamu. Kamu bisa menempatinya mulai sekarang"

Dian mengangguk, "Berarti rumah itu boleh aku apakan saja kan?"

"Kamu tetap ingin menjualnya?" tanya Saka lirih

Dian menatap Saka dengan sinis. "Kamu keberatan aku menjualnya?" Saka tidak menjawab. "Aku tidak akan menjualnya" ucap Dian

Saka tersenyum tipis. Dia lega. Setidaknya rumah yang penuh dengan kenangannya bersama Dian itu tidak akan berpindah ke tangan. Bahkan mungkin, dia bisa mengunjunginya suatu hari.

"Berbahagialah setelah ini, Di. Kamu wanita yang baik. Aku yakin kamu akan menemukan pria yang baik juga"

Lihat ... setelah mencampakkannya seperti sampah, sekarang Saka mendoakan Dian agar mendapat pria baik. Tidak tahukah Saka, karena ulahnya, Dian sudah mati rasa terhadap makhluk lawan jenis itu. Luka yang Saka torehkan membuat Dian yakin jika tidak ada pria yang benar - benar baik di dunia ini.

"Aku pasti bahagia, Mas. Tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku bisa hidup dengan baik meski seorang diri. Ada atau tidaknya pria yang mendampingiku, semua sama saja. Aku justru khawatir padamu" alis Saka terangkat. "Aku tanpamu akan menjadi seorang berlian. Tapi kamu tanpaku ... " Dian kembali tersenyum sinis, "hanya butiran debu!"

Deg

Saka merasa tertampar mendengar ucapan Dian. Rasanya, harga dirinya sebagai seorang pria telah di injak - injak. Tapi semua yang di katakan Dian memang benar. Saka bisa seperti sekarang karena bantuan Dian. Berkat ide - ide cemerlang wanita itulah, usahanya mampu berkembang sesukses sekarang. Tapi apa yang sekarang Saka lakukan. Dengan tidak tahu diri, hasil dari kesuksesan dan kejayaan itu malah ia berikan pada wanita lain.

"Satu lagi!" Saka kembali menatap mantan istrinya. "Menurutku, kalau kamu memang punya rasa malu, seharusnya kamu memberiku setidaknya setengah dari hartamu! Kamu tentu tidak lupa kan, dari mana kamu mendapatkan modal untuk membuka usahamu dulu? Dan siapa yang ikut berjuang menemanimu dari nol!!"

Lagi - lagi Saka merasa tertohok. "Di ... Vika sedang hamil dan dia butuh-"

"Ya ... Ya. Pria sepertimu memang tidak akan bisa bersikap adil. Tidak masalah. Aku anggap tiga tahun ini aku bersedekah padamu!"

"Aku merasa kamu sudah keterlaluan, Di!" ucap Saka tak terima

Untuk ke sekian kalinya Dian tersenyum sinis. "Kamu marah?" tanya Dian remeh, "Lalu harus aku anggap apa hidupku selama tiga tahun ini? Aku hidup bersusah payah! Mengorbankan semua tenaga dan waktuku untuk hal yang sia - sia! Tapi apa akhirnya? Aku di buang begitu saja oleh pria tidak tahu diri sepertimu!"

"Di ... Aku benar - benar minta maaf. Sungguh" Saka berkata dengan nada penuh menyesalan

Kekesalan Dian sungguh berada di ubun - ubun.

"Andai kata maaf bisa mengobati luka yang aku rasakan, tentu aku akan memaafkanmu dengan mudah, Mas. Sayangnya tidak bisa. Semua terlalu menyakitkan. Satu hal yang harus kamu ingat. Semua yang kamu lakukan padaku, tidak akan pernah aku lupakan bahkan hingga aku mati sekalipun. Dan aku berdoa, semoga suatu saat kamu juga merasakan hal yang sama!"

Saka menatap kepergian Dian dengan nanar. Hubungannya dengan wanita itu benar - benar berakhir. Semua impian yang dulu ingin dia bangun dengan mantan istrinya itu harus kandas karena kesalahannya sendiri. Andai waktu bisa di ulang, tentu Saka akan berpikir ribuan kali sebelum berbuat kesalahan. Benar orang bilang, penyesalan memang selalu datang belakangan.

Pria tampan itu melangkah gontai meninggalkan gedung pengadilan agama. Setelah menaiki mobilnya, entah kenapa Saka ingin pergi ke rumah lamanya. Tanpa berfikir dua kali, pria itu mengemudikan Pajero hitamnya menuju kediaman Diandra.

Perjalanan terasa sedikit lambat akibat kemacetan yang melanda jalanan Ibukota. Saka harus sedikit bersabat untuk bisa sampai di rumah.

"Ada apa? Kenapa ramai sekali?" tanya Saka pada dirinya sendiri ketika mobil yang ia tumpangi hampir sampai. "Apa yang mereka lakukan?!!"

Saka turun lalu berlari saat alat berat meruntuhkan dan meluluhlantakkan rumahnya. Terlambat, semua sudah rata dengan tanah.

"SIAPA YANG MENGIZINKAN KALIAN MENGHANCURKAN RUMAHKU!!"

"Aku orangnya!"

Deg

"D-dian"

Terpopuler

Comments

bunda syifa

bunda syifa

ralat, wali hakim Thor

2023-11-04

0

Yunie

Yunie

apa ada niat buruk dr Vika yaa ....d lihatvny mantan pacar sdh sukses ..hd lah pelakor...mw hidup nyaman gt....ternyata Vika salah 🤭

2022-11-21

0

Paula Abdul

Paula Abdul

Bener rumahnya ga dijual sama Dian cuma diancurin doang 😂😂

2022-11-21

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!