Rani menatap sahabat sekaligus atasannya dengan sendu. Kenapa Dian harus mengalami pengkhianatan lagi. Rani kira, Saka adalah pria terakhir yang bisa membahagiakan Dian. Tapi nyatanya, dia sama saja dengan para pria pengkhianat itu.
Padahal tidak ada yang kurang dengan Dian. Wanita itu bahkan terlihat sempurna. Dia cantik, mandiri, penyayang dan sabar tentunya kaya juga. Tapi kenapa hidupnya selalu berakhir menyedihkan? Kenapa kebahagiaan seolah selalu menjauh darinya?
"Di ... Kamu mau mampir ke suatu tempat dulu?" tanya Rani memecah keheningan
Dian menggeleng, "Kita langsung pulang saja"
Rani mengangguk, dia kembali fokus pada kemudi mobilnya. Melihat sahabatnya hanya diam sejak tadi, Rani yakin Dian sedang tidak baik - baik saja sekarang.
"Are you really okay, Di?"
"I am okay. Don't worry"
"Aku akan selalu ada buat kamu, Di. Kapanpun kamu butuh. Jadi jangan sungkan berbagi kesedihanmu denganku, oke?"
"Tentu saja" jawab Dian tersenyum, "Tapi kali ini aku tidak mau bersedih lagi, Ran. Aku lelah terus menjadi orang lemah. Meratapi kesedihan hanya akan membuang - buang waktu. Semua juga tidak akan kembali seperti dulu. Hidup akan terus berjalan dan aku hanya perlu melangkah ke depan"
Inilah yang Rani kagumi dari sosok Dian. Dia adalah sosok wanita yang tegas. Di tambah pengalaman hidup yang berat membuat Dian menjadi wanita yang kuat.
Mobil yang di kendarai Rani kini memasuki pintu pagar besi berwarna putih yang menjulang tinggi. Di depan teras sudah ada Yasari dan Damar, orang tua Rani sekaligus orang kepercayaan mendiang Kakek Dian.
"Selamat datang kembali di rumah ini, Di" Yasari memeluk Dian begitu wanita itu turun dari mobil. Dian membalas pelukan Yasari dengan lembut. Ada kehangatan dan kenyamanan yang Dian rasakan. Mungkin karena sudah lama ia kehilangan sosok ibu.
"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Damar
"Seperti yang Paman lihat, aku baik - baik saja"
Damar tersenyum. "Kamu pasti lelah. Sebaiknya kamu masuk lalu istirahat"
Dian hanya mengangguk sebagai jawaban. Kakinya mulai melangkah memasuki rumah. Matanya menelisik setiap bagian dari rumah ini. Tidak ada yang berubah. Semua masih sama seperti dulu.
"Kamu mau Bibi buatkan teh madu kesukaanmu?" tawar Yasari
"Boleh, Bi. Tolong nanti di antar ke kamar ya"
"Tentu. Pergilah ke kamarmu dulu. Nanti biar Rani yang mengantar tehnya"
Dian tersenyum, "Terima kasih"
Perempuan cantik itu menaiki tangga menuju ke lantai dua dimana kamarnya berada. Begitu membuka pintu kamar, pemandangan pertama yang Dian lihat adalah fotonya bersama mendiang Mamanya. Dian berjalan ke arah nakas kemudian mengambil figura itu.
"Aku kembali, Ma" lirih Dian
Dia membelai foto Mamanya dengan senyum lembut. "Aku merindukan Mama. Sangat merindukan Mama. Aku juga merindukan pelukan Mama. Tidak bisakah kita bertemu sebentar saja meski hanya lewat mimpi? Aku ingin sekali di peluk, Ma. Aku butuh pelukan Mama sekarang"
Dian yang tadi tegar kini berubah menjadi wanita rapuh. Sebagai manusia biasa, Dian juga bisa merasakan kesedihan. Hanya saja, dia tidak pernah mau menunjukkan kesedihan itu di depan orang lain. Jujur ... Dia butuh tempat bersandar sekarang. Tidak hanya bathin dan hatinya yang terluka. Fisiknya pun sudah begitu lelah dengan keadaan yang menimpanya. Berpura - pura tegar dan baik - baik saja nyatanya tak semudah yang ia kira. Di depan semua orang, Dian masih bisa tersenyum. Namun saat dirinya sendiri seperti ini dia benar - benar terlihat rapuh dan menyedihkan.
Aku tidak baik - baik saja, Ma. Hatiku sakit. Dadaku terasa begitu sesak. Aku hancur. Aku terluka. Kenapa aku harus mengalaminya lagi? Kenapa aku harus mengulang cerita yang sama? Kenapa semua laki - laki itu sama? Papa ... Kak Rey dan juga Saka. Mereka semua menorehkan luka yang sama. Aku lelah, Ma. Aku sungguh lelah.
Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya luruh juga. Kenangan tentang para pria itu kembali berputar. Memori menyedihkan itu kembali hadir menyapa dirinya. Semua bayangan di mana mereka tertawa di atas penderitaannya seolah menjadi cambuk yang memecut Dian berkali - kali.
"Aku lelah di khianati, Ma. Aku lelah untuk terlihat baik - baik saja. Kenapa selalu berakhir seperti ini? Kenapa kebahagiaan yang aku rasakan semuanya semu? Dada ini sungguh sesak rasanya, Ma. Sungguh sesak!" Dian memukul dadanya berulang kali. Berharap rasa sesak itu akan berkurang, namun tetap saja sesak masih memenuhi hatinya.
"Di ... Ini teh nya"
Dian segera mengusap sudut matanya lalu tersenyum pada Rani.
"Terima kasih"
Rani duduk di ranjang, dia menatap Dian dengan iba. "Menangislah kalau kamu ingin menangis, Di. Orang menangis bukan berarti dia lemah. Terkadang, dengan menangis, seseorang bisa melepas beban yang dia rasakan. Melepas semua kenangan menyakitkan yang ingin di lupakan. Lepaskan semuanya. Jangan di pendam. Menangislah jika itu bisa membuatmu lega. Tapi setelah itu, kamu harus janji tidak akan menangisi Saka lagi!"
Dian tersenyum miris, "Aku ternyata lemah, Ran. Aku tidak bisa berpura - pura tegar dan baik - baik saja sekarang. Aku terluka. Aku sakit hati. Aku ... Aku hancur untuk kesekian kalinya"
Rani memeluk Dian. Tangis wanita cantik itu kembali pecah. Dia tidak baik - baik saja.
"Ini terakhir kali kamu menangisinya, Di. Jangan pernah lagi buang air matamu untuk pecundang itu. Lepaskan semua bebanmu hari ini. Tapi esok, jadilah Diandra yang baru. Diandra yang kuat dan tegar. Kamu wanita hebat. Kamu pasti bisa melewati semuanya dengan baik. Ada aku yang akan selalu menemani kamu"
"Kamu memang sahabat yang selalu mengerti aku, Ran"
"Kita sudah mengenal sejak kecil. Aku tahu betul kamu seperti apa. Jadi jangan coba - coba membohongiku"
Dian terkekeh, "Aku lupa kalau kamu seperti cenayang"
"Ya ... Ya. Kamu benar. Dan kamu tidak bisa menyembunyikan apapun dariku. Sudah selesai kan menangisnya? Sekarang waktunya melupakan semua kenangan pahit itu. Aku sudah memesan tiket ke Bali. Dan besok pagi, kita akan pergi berlibur"
"Kamu serius?" tanya Dian
"Tentu saja. Sudah lama juga kita tidak libur berdua kan? Jadi, mari habiskan waktu untuk bersenang - senang!"
🍀🍀🍀
"Bunda benar - benar kecewa padamu, Ka. Kenapa kamu setega itu pada Diandra? Kamu melukai hatinya. Kamu juga menyakiti perasaannya. Kenapa dulu kamu menikahinya kalau pada akhirnya kamu mencampakkannya?" Hastari terlihat begitu terpukul. Ia tidak menyangka jika putra semata wayang yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang, nyatanya tega menyakiti istrinya sendiri. Padahal Saka tahu betul, Hastari juga pernah mengalami hal seperti Diandra di masa lalu. Saka paham bagaimana hancur dan terlukanya dia dulu. Tapi kenapa Saka juga melakukan hal yang sama seperti Ayahnya.
"Bun. Aku sungguh minta maaf. Aku tidak pernah berniat membuat Dian menderita. Aku bahkan masih mencintainya. Tapi anak dalam kandungan Vika membutuhkan aku. Aku terpaksa menceraikan Dian karena Vika-"
"Jangan beralasan apapun! Jika saja kamu tidak tergoda, kamu tidak akan pernah melakukan kesalahan itu!! Atau jangan - jangan, kamu sengaja melakukan itu agar bisa kembali bersama Vika, iya?"
"Bun ... Bunda tahu betul aku seperti apa. Aku tidak seperti yang Bunda tuduhkan"
"Tapi kenyataannya apa, Ka? Kamu membuat Bunda kecewa. Kenapa kamu melakukan hal yang sama seperti yang Ayahmu lakukan dulu?"
Saka bersimpuh di kaki Hastari. Dia memohon ampun atas semua kesalahan yang sudah di perbuatnya. "Aku minta maaf, Bun. Aku sungguh minta maaf"
Perempuan paruh baya itu menggeleng. "Bunda sudah gagal mendidik kamu. Bunda gagal mengajarimu menjadi pria setia. Bunda gagal menjadikanmu pria yang hanya memiliki satu cinta. Kamu bahkan dengan tega membuang wanita yang menemanimu dari awal. Wanita yang menerimamu apa adanya bahkan ikut berjuang bersamamu dan mendukung apapun yang kamu lakukan. Bunda malu, Ka. Bunda malu dengan kelakuan kamu. Kamu sama saja dengan Ayahmu. Kalian sama!"
"Aku tidak sama seperti Ayah, Bun! Kami berbeda!" ucap Saka tak terima
Hastari menatap Saka dengan senyum mencibir. "Dimana letak perbedaannya? Coba jelaskan pada Bunda apa perbedaan kalian? Tidak ada, Ka! Tidak ada!!" Hastari menghela nafas kasar. "Menikahlah dengan Vika. Berbahagialah dengan wanita pilihanmu itu. Mulai hari ini, Bunda akan kembali ke kampung"
Deg
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Siti Nurjanah
semoga anak yg di kandungan selingkuhanmu bukan anakmu. biar kamu jd laki laki pecundang yg sesungguhnya
2023-08-08
0
Siti Nurjanah
apanya yg beda ? kalau beda buktinya udah ada kamu pengkhianat dlm hubungan rumah tangga. bedanya kamu sebagai alibi ingin mbantunya eh gak taunya kamu makan jg
2023-08-08
0
Rabiatul Addawiyah
menikahlah dgn Vika! setelah anaknya lahir lakukan test DNA eeeh ternyata itu anak laki2 lain yg sdh tidur dgn Vika 😅, rasain lo Saka klo itu smp terjadi
2022-12-02
1