Bab 7

"Baiklah, kita akhiri meeting pagi ini" Dian menutup rapat yang di hadiri oleh beberapa pegawai yang bertanggung jawab atas pembangunan cabang DV hotel dan juga Saka, selaku kontraktor yang menangani pembangunan.

Mereka baru saja mengadakan rapat tentang perkembangan pembangunan cabang DV Hotel.

"Tuan Saka, Anda tidak keberatan kan jika saya meminta Anda ikut peninjau perkembangan pembangunan cabang hotel?"

Saka menatap Dian sejenak, "Biasanya Anda tidak pernah meninjaunya secara langsung, bukan?"

Dian tersenyum, "Dulu saya memiliki orang kepercayaan. Tapi karena sekarang saya sudah kembali memimpin DV Hotel, wajar kan kalau saya ingin tahu seperti apa perkembangan pembangunannya"

Saka mengangguk, "Saya akan mengirim orang saya untuk menemani Anda"

"Saya mau Anda sendiri yang menemani saya"

Saka nampak berfikir, cabang hotel yang sedang di bangun berada di luar kota. Perjalanan kesana membutuhkan waktu lima jam. Jika mereka tidak menginap, maka Saka akan sampai di rumah larut malam. Bagaimana dia akan mengatakan pada Vika jika dirinya akan pergi bersama Diandra. Vika pasti akan marah. Istrinya itu akan uring - uringan. Apalagi Vika begitu cemburu jika menyangkut tentang Diandra.

"Anda khawatir istri Anda akan marah? Jangan lupa kalau Anda masih terikat kontrak dengan DV Grup hingga lima tahun ke depan Tuan Saka. Seseorang pernah berkata, tidak boleh mencampurkan masalah pribadi dengan masalah pekerjaan" ucap Dian santai

"Saya paham, Nona. Saya adalah orang yang profesional. Saya akan menemani Anda"

Dian kembali tersenyum, "Kalau begitu, kita bisa pergi bersama. Saya akan meminta sopir untuk mengantar kita"

"Apa saya bisa izin pulang sebentar?" tanya Saka sungkan

"Lebih cepat kita pergi, lebih cepat juga kita kembali. Dan Anda tidak perlu membuat alasan tidak masuk akal pada istri Anda"

Saka kembali menatap Dian, baru kali ini Dian bersikap tidak ingin di bantah. Perempuan itu terlihat berbeda dari Dian yang dulu saat masih menjadi istrinya.

"Baiklah. Kita akan berangkat sekarang" putus Saka. Masalah istrinya, akan Saka pikirkan nanti.

Dian mengambil tas miliknya kemudian berjalan lebih dulu. Beberapa karyawan menatap ke arah mereka. Kemunculan Dian secara tiba - tiba tentu membuat mereka bertanya - tanya bagaimana kehidupan pribadi atasan mereka itu. Kedekatan Dian dengan Saka menarik perhatian mereka tentunya. Apa mereka memiliki hubungan? Atau hanya sekedar rekan bisnis.

Dian sendiri acuh terhadap rasa penasaran para karyawannya. Dia bukan tidak tahu jika mereka penasaran siapa dirinya dan bagaimana kehidupannya. Tapi sekarang belum saatnya. Mungkin nanti. Dian hanya tidak mau orang merasa iba dan kasihan padanya.

Selama perjalanan, antara Saka dan Dian keduanya sama - sama diam. Saka duduk di depan di sebelah sopir, sedangkan Dian di kursi penumpang. Masih beberapa jam perjalanan lagi, sesekali Saka melirik Dian lewat kaca spion. Bohong jika Saka sudah benar - benar melupakan Dian, dalam hati kecilnya, masih ada nama Diandra di sana.

"Pak, kita cari makan dulu" perintah Dian

"Baik, Nona"

Beberapa menit kemudian sopir membelokkan mobilnya ke sebuah reatoran. Mereka semua turun lalu masuk ke dalam.

"Pak Harto bisa makan dengan Tuan Saka, saya akan makan sendiri"

Saka menatap Dian sejenak, perempuan itu berjalan menjauh dan ia benar - benar memilih duduk sendirian.

"Kalau Anda tidak nyaman makan dengan saya, Anda bisa makan sendiri, Tuan" seru Harto

"Tidak Pak, kita makan bersama saja"

🍀🍀🍀

Perjalanan kembali di lanjutkan setelah makan siang selesai. Suasana kembali hening karena baik Dian dan Saka tak ada yang memulai pembicaraan. Hingga terdengar dering dari ponsel Saka

[Aku sedang meninjau pembangunan hotel]

[...]

[Aku ... Bersama Dian], Saka melirik Dian sejenak

[...]

[Kami hanya bekerja, Vik. Jangan- Hallo ... Vika!]

"Sepertinya istrimu cemburu. Kamu mau pulang sekarang?" tawar Dian

"Kamu ingin aku pulang setelah kita hampir sampai?" tanya Saka sedikit jengkel

"Aku hanya bertanya. Kenapa kamu marah? Kalau memang kamu khawatir pada istri tercintamu, pulanglah. Kita akhiri kerja sama ini dan jangan lupa membayar penalti yang sudah kita sepakati!"

Saka bungkam, memutus kerja sama dan membayar penalti yang jumlahnya tidak main - main tentu bukan hal yang akan Saka pilih. Dia lebih memilih menghubungi Vika, daripada kehilangan apa yang sudah di bangunnya susah payah. Sayangnya panggilannya malah di matikan oleh istrinya itu.

Dian menatap wajah Saka yang tampak khawatir,

Kamu begitu khawatir pada selingkuhanmu itu. Mari kita lihat apa yang bisa dia lakukan setelah melihat kita bersama. Bathin Dian

Mereka telah sampai di kota B. Perjalanan yang cukup jauh tentu membuat mereka lelah. Dian meminta sopir membawanya ke hotel untuk beristirahat sejenak. Awalnya Saka menolak, namun karena lokasi bangunan lumayan dekat dari sana, akhirnya Saka tak punya pilihan selain menyetujuinya.

"Kita bertemu setengah jam lagi di lobbi"

"Hm" jawab Saka

Keduanya memasuki kamar masing - masing. Dian segera merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang. Tak lupa ia mengambil ponsel miliknya lalu mengirim pesan pada seseorang.

"Suamimu sedang bersamaku. Kami sedang berada di hotel"

Dian menyeringai. Dugaannya benar. Tak menunggu lama, orang tersebut menelponnya. Bukan menggeser tombol hijau, Dian justru menekan tombol merah.

"Mari kita bermain - main sejenak!"

Dian beranjak lalu mengganti pakaiannya dengan gaun yang sedikit terbuka. Membuat penampilannya terlihat begitu seksi dan menggoda.

"Satu ... Dua ... Ti-"

Tok Tok Tok

Kaki jenjangnya melangkah mendekati pintu

Ceklek

"Ada apa?"

Wajah Saka yang tadinya marah kini berubah saat melihat betapa cantiknya Dian sekarang. Pria itu menelan ludah kasar. Tidak di pungkiri, Dian memang cantik bahkan sangat cantik. Tapi entah kenapa setelah bercerai, dia justru kelihatan semakin cantik.

"Ada perlu apa? Kalau tidak ada, aku akan istirahat lagi"

"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Saka penuh harap

"Masuklah"

Saka tidak tahu jika ada yang merekam dirinya saat masuk ke kamar Dian.

"Apa harus seperti ini?"

"Diamlah, Bang. Semua kita lakukan demi Dian" sahut Rani

Triyoga, suami Rani menghela nafas. Mau - maunya saja dia menurut pada Rani untuk jadi penguntit.

"Selesai! Pelakor itu pasti kebakaran jengggot sekarang!" Rani tersenyum setelah mengirim video itu pada Vika.

Sedangkan dirumahnya, Vika semakin di buat marah. Dian tidak mengangkat telponnya dan sekarang, dia mendapat kiriman video dari nomor tak di kenal yang memperlihatkan suaminya masuk ke kamar Dian.

"Tidak mungkin mereka berselingkuh! Tidak! Aku akan menelpon Mas Saka. Dia harus ingat kalau sudah punya istri dan calon anak!"

Vika terus menghubungi Saka sayangnya tidak di angkat juga.

"Apa yang kamu lakukan, Mas? Kenapa telponku tidak kamu angkat? Apa kamu benar - benar selingkuh dengan wanita itu? Tidak! Ini tidak boleh terjadi!"

Vika uring - uringan sendiri.

"Brensek!! Kenapa tidak di angkat juga! Awas kamu Diandra! Kalau sampai kamu menggoda suamiku, aku akan buat perhitungan denganmu!!"

Vika membanting ponselnya di atas ranjang. Dia begitu frustasi membayangkan apa yang sedang di lakukan suaminya dengan mantan istrinya itu.

Drrt Drrt

Vika langsung mengangkat telpon begitu nama Suamiku tertera di layar ponselnya.

[Hallo Mas! Kenapa kamu baru mengangkat telponku? Apa yang kamu lakukan dengan wanita itu!]

[Saka sedang tidur. Kamu mau meninggalkan pesan?]

Deg

[D-diandra!]

Terpopuler

Comments

Siti Nurjanah

Siti Nurjanah

good di. biar tau bagaimana rasanya dulu saat suaminya bersama wanita lain

2023-08-08

0

Modish Line

Modish Line

rasain lu Vika😀😃

2023-03-16

0

Aliyah

Aliyah

baru seru nih lawan terus pelakor kaya vika harus diberi pelajaran ..

2022-11-27

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!