Setelah meninggalkan tempat arisan, Diandra segera menuju ke kantornya. Ada beberapa hal yang harus dia kerjakan, salah satunya adalah pemutusan hubungan kerja dengan Saka. Bukan tanpa alasan Dian melakukan semua ini. Dia hanya ingin Vika merasakan bagaimana perjuangannya dulu. Siapa yang membantu Saka sampai bisa seperti sekarang. Vika harus tahu bahwa Saka bisa mencapai kesuksesan seperti sekarang, itu karena usaha dan dukungan darinya.
Setibanya di kantor, Dian segera menuju ke ruangannya. "Berkas pemutusan kerja sama dengan perusahaan Saka sudah siap?" tanya Dian pada Rani
"Semua sudah siap. Kamu tinggal menandatanganinya saja"
"Bagus! Aku sudah tidak sabar bertemu dengan Saka. Sebentar lagi dia pasti akan kemari"
Benar dugaan Dian, tidak lama setelahnya, Saka datang. "Di ... Aku ingin meluruskan masalah ini. Aku mohon jangan mengambil keputusan sepihak apalagi dalam keadaan marah!"
Dian menatap Saka dengan tatapan dinginnya, "Tuan Saka yang terhormat! Kita tidak seakrab itu hingga anda bisa memanggil saya dengan nama saja. Tolong bersikaplah yang lebih sopan!" tegur Dian
Saka seketika canggung, "Maafkan saya"
"Saya maafkan. Tapi maaf, dengan sangat menyesal saya mengatakan bahwa saya tidak mau lagi bekerja sama dengan orang yang tidak profesional! Istri anda sudah berlaku tidak sopan pada saya. Dia menampar dan mengancam saya! Jika saja saya tega, saya sudah melaporkan istri anda pada polisi karena perlakuan tidak menyenangkan! Tapi saya masih punya hati karena istri anda sedang hamil! Dan konsukuensi yang harus anda terima akibat perbuatan istri tercinta anda adalah pemutusan kerja sama. Saya sudah putuskan, kerja sama kita, kita akhiri sampai di sini saja! Saya tidak mau berurusan dengan istri bar - bar anda lagi!"
"Saya minta maaf atas nama istri saya. Tapi saya mohon, jangan putuskan hubungan kerja sama kita. Kita sudah menjadi partner tiga tahun lebih. Selama menjalin kerja sama, saya tidak pernah merugikan anda. Jadi saya mohon, tolong pertimbangkan kembali keputusan anda"
"Saya enggan berurusan dengan hal - hal receh yang bisa mengganggu konsentrasi dan kinerja saya kedepannya. Keputusan saya sudah bulat. Kerja sama kita berakhir! Ran, tolong berikan berkasnya pada Tuan Saka dan pastikan dia membayar penalti sesuai kesepakatan" putus Dian
"Tap-"
"Silahkan pergi dari kantor saya dan jangan lupa biaya penaltinya" usir Dian
Saka hanya mampu menghela nafas, setelah menerima surat pemutusan kerja sama. Ia pergi dengan langkah gontai
"Di ... Apa ini tidak keterlaluan?" tanya Rani setelah kepergian Saka
"Ini belum seberapa dengan apa yang aku rasakan. Biarkan saja. Biar Saka berjuang sendiri dan kali ini, tanpa bantuanku!"
🍀🍀🍀
Vika pulang dengan perasaan senang. Selain mendapat arisan, dia juga senang karena bisa memberi Dian pelajaran. Ia merasa berada di atas angin karena merasa menang dari mantan istri suaminya itu. Vika tidak tahu saja akibat yang sudah dilakukannya pada Diandra.
"Loh ... itu kan mobil Mas Saka? Kok jam segini dia sudah pulang?"
Vika bergegas turun saat mobil sudah berhenti tepat di samping teras. Dengan senyum bahagia, ia berjalan memasuki rumah. Ia melihat Sa
"Mas, tumben kamu sudah pulang jam segini? Apa pekerjaannya sudah selesai?" tanya Vika pada suaminya
Saka menatap istrinya dengan tatapan tajam, "Apa yang sudah kamu lakukan pada Diandra?"
Deg
Vika balik menatap Saka. Tapi bukan tatapan sayang, melainkan tatapan tidak suka. "Memangnya apa yang sudah aku lakukan pada mantan tercintamu itu?" jawab Vika mengelak
"Kenapa kamu begitu ceroboh, Vik? Gara - gara kamu, Dian memutus kerja sama secara sepihak. Dan kamu tahu? Aku harus membayar penalti sebesar lima milyar akibat kebodohan yang sudah kamu lakukan!"
"Kenapa jadi aku? Aku tidak melakukan apa - apa!" jawab Vika tanpa rasa bersalah
Saka mengusap rambutnya frustasi, "Kamu masih mau mengelak? Kamu menamparnya! Selain itu kamu juga mengancamnya! Itu yang membuat Dian marah! Kenapa kamu tidak berfikir dulu sebelum bertindak, hah!!"
Vika menatap Saka semakin kesal, "Kenapa kamu malah marah - marah padaku?! Aku melakukan semua itu karena dia sudah berani mendekatimu! Kalian berdua ke hotel bersama! Meski kamu mengatakan tidak terjadi apa - apa. Bisa saja kalian melakukan sesuatu tanpa sepengetahuanku, bukan? Dia juga terang - terangan bilang akan membuatmu kembali padanya. Karena itu aku marah! Wajar kan kalau seorang istri berusaha mempertahankan suaminya?!"
"Kamu selalu saja curiga. Kamu boleh tidak percaya pada orang lain, tapi kamu harus percaya padaku. Lagipula, Dian bukan wanita seperti yang kamu tuduhkan!"
"Kamu selalu saja membelanya. Bilang saja kamu masih mencintainya! Ya kan?" tuduh Vika
Saka menghela nafas berat, "Berapa kali harus aku katakan! Aku sudah memilihmu! Kenapa kamu masih berburuk sangka? Kalau seperti ini, sama saja artinya kamu tidak mempercayaiku!!"
"Bagaimana aku bisa percaya! Kamu masih saja berhubungan dengan Diandra! Bahkan kamu keberatan ketika aku memintamu berhenti kerja sama dengannya. Pekerjaan hanya kamu jadikan alasan agar kamu bisa terus melihatnya! Dan itu adalah fakta!"
"Sifatmu curiga dan negatifmu itu yang tidak aku suka, Vik! Aku sudah katakan! Aku ini hanya berusaha profesional! Aku tidak boleh mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Dan asal kamu tahu, karena Dianlah aku bisa seperti sekarang! Harusnya kamu malu padanya. Kamu harusnya bersikap baik padanya. Bukan mengancam dan membuatnya marah hingga berakibat merugikan perusahaan!"
"Kenapa jadi aku yang di salahkan? Diandra saja yang pendendam! Dia jelas tidak terima kalau aku dan kamu bahagia! Dia hanya mencari kambing hitam dan itu aku orangnya! Sekarang kamu menyalahkan aku! Benar - benar wanita perayu itu!!"
Saka menatap Vika tak percaya, "Berhenti menghina Dian, Vik. Kalau ada wanita perayu di sini, itu kamu orangnya! Kamu tentu tidak lupa bagaimana sikapmu ketika awal kita bertemu lagi!"
Vika tertawa masam, "Bagus! Sekarang kamu membandingkan aku dengan wanita itu! Kamu berkata seolah akulah yang paling rendah dibanding dia! Kamu benar - benar tidak punya hati, Mas! Kamu keterlaluan!!" ucap Vika emosi
Saka semakin dibuat kesal. Dia pusing! Perusahaan sedang tidak baik - baik. Dan sekarang Vika bersikap egois pula.
"Aku tidak mau berdebat denganmu! Renungkan semua kesalahanmu! Kalau kamu masih belum bisa berubah, maka jangan berharap aku akan pulang!"
Deg
Vika menatap Saka dengan nanar. "A-apa maksud ucapanmu, Mas? Kamu mau meninggalkan aku?" tanya Vika tidak percaya
"Aku hanya ingin kita sama - sama merenung. Kita butuh waktu untuk saling instropeksi diri. Setelah itu, mari kita mulai semuanya dari awal" Saka beranjak meninggalkan istrinya,
"Mas ... Kamu tidak serius kan? Kamu tidak bisa seperti ini! Aku sedang hamil anakmu! Kamu tidak bisa meninggalkan aku dengan cara begini!" cegah Vika menggelayuti lengan Saka
Saka menatap istrinya sekali lagi, "Aku tidak meninggalkanmu. Aku hanya butuh waktu untuk menenangkan diri. Jaga diri dan bayi kita dengan baik"
Saka benar - benar pergi meninggalkan Vika sendirian. Ia tetap melangkah meski istrinya itu terus berteriak memanggil namanya.
"Mas Saka jangan pergi!! Kamu tidak boleh meninggalkan aku!! Mas Saka!!!" teriak Vika
Wanita itu meraung meratapi kepergian suaminya, "Semua ini gara - gara wanita sialan itu!! Awas kamu Diandra! Aku akan membuat perhitungan denganmu!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Rabiatul Addawiyah
pelakor gemblung neh Vika... dah merebut suami Dian msh blm puas buat jahatin Dian.
lanjut thor
2022-12-04
1
Yunie
mau balas apa kamu vika...jelas2 kamu kalah dan salah....dasar pelakor kapal keruk kamu....lama2 bisa s tinggal Saka ini mah
2022-12-04
0
Yunie
mantap....
2022-12-04
0