Bab 19

"Hari ini kamu harus menemui Diandra, Ka. Bunda dengar dia sudah pulang dari liburannya" seru Hastari

Vika menatap kesal mertuanya. "Kenapa Bunda selalu mengatur Mas Saka? Dia tahu apa yang seharusnya dia lakukan, Bun. Lagipula, masih banyak orang yang bisa di mintai bantuan selain Diandra! Kenapa harus Diandra?!"

"Bukankah orang yang memiliki kesalahan memang harus meminta maaf?"

"Memang benar Bun, tapi coba bunda lihat, di mana letak kesalahan Mas Saka. Dia tidak bersalah pada Diandra! Justru Diandra yang bersalah pada kami karena dia telah membuat Mas Saka bangkrut!" geram Vika

"Kalau kamu bisa berpikir dengan baik. Kamu pasti tahu siapa yang bersalah di sini. Saka dan Kamulah yang bersalah pada Diandra. Kamu dengan nyata telah menghancurkan hidupnya"

"Aku tidak peduli apapun yang Bunda katakan, tapi yang jelas aku tidak setuju jika Mas Saka pergi menemui Diandra apalagi harus meminta maaf. Di dunia ini masih banyak orang yang bisa membantu Mas Saka. Suamiku itu di kenal pekerja keras, rajin dan pantang menyerah. Dia berhasil menjadi pengusaha sukses bukan karena Diandra tapi karena memang Mas Saka mampu. Untuk apa juga harus meminta belas kasihan darinya. Lagipula, aku masih punya tabungan dan juga simpanan perhiasan yang bisa digunakan sebagai modal jika Mas Saka membuka kembali usahanya. Tidak perlu meminta bantuan pada Diandra!"

"Bukan masalah mampu atau tidak, yang jelas setiap orang yang memiliki kesalahan pada orang lain, dia wajib meminta maaf. Kecuali orang bermuka tebal yang selalu merasa dirinya benar!"

"Kenapa setiap kali bersama kalian pasti bertengkar? Tidak Bisakah satu hari saja kalian membuat suasana tidak panas? Aku pusing setiap kali melihat kalian selalu berdebat, bertengkar dan ujung-ujungnya tidak pernah akur. Aku ingin kalian berdua itu hidup dengan rukun, saling menyayangi. Bukan berdebat setiap hari seperti ini!"

"Bunda dulu yang mencari masalah Mas, bukan aku"

"Enak saja menyalahkanku, jelas - jelas kamu yang salah" sahut Hastari tak terima

"Sudah stop! Aku mohon jangan berdebat lagi!" ucap Saka jengah, "Dengarkan aku, Vik, aku akan tetap meminta maaf pada Diandra karena aku memang salah. Semoga dengan begitu, kehidupan kita ke depan bisa berjalan lebih baik lagi"

"Kehidupan itu baik atau tidak tergantung pada yang menjalaninya. Bukan karena orang lain. Ibaratnya, tidak kerja ya tidak makan. Seperti itulah hidup! Bukan orang lain yang menentukannya!"

"Kalau sudah bermuka tebal, mau di beri tahu seperti apapun tetap saja tidak bisa!" sindir Hastari

Vika beranjak dari kursinya lalu pergi begitu saja. "Lihat betapa tidak sopannya istrimu itu pada Bunda! Jauh sekali dengan Diandra!" ucap Hastari kemudian juga pergi

Saka memijit kepalanya yang terasa berdenyut. Masalah perusahaan belum beres, dirumah pun dia tidak bisa mendapatkan ketenangan.

"Aku akan menemui Diandra sekarang!"

Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu segera pergi menuju ke kantor mantan istrinya.

🍀🍀🍀

"Sudahlah Kak Rey, sebaiknya kamu kembali ke kantor daripada mengganggu aku bekerja!" pinta Dian, baru saja dirinya tiba di kantor. Rupanya Rey telah menunggunya. Pria itu seperti orang yang kurang kerjaan pagi - pagi berada di kantor orang.

"Aku akan tetap disini sampai kamu menjelaskan alasanmu meninggalkan aku kemarin!"

Dian berdecak, "Kamu bukan anak kecil Reynald Arya Mahesa! Kamu tahu betul kenapa aku pergi"

"Di ... Tidakkah kamu bisa memberiku sekali saja kesempatan?" tanya Rey penuh harap

"Dalam hidupku, tidak ada kesempatan kedua bagi yang namanya pengkhianat!"

Rey terlihat menghela nafas,

"Di ... Ada Saka di depan. Dia ingin menemuimu"

Dian menatap Rani sekilas, "Suruh dia masuk!"

Rey memperhatikan Dian, pria itu tentu tahu siapa Saka yang Rani maksud. Ada rasa kesal karena Dian mempersilahkannya masuk sementara masih ada dirinya di sini.

"Selamat pagi, Bu Diandra. Maaf jika saya mengganggu waktu Anda" sapa Saka.

Saka menatap Rei yang juga menatapnya. Keduanya terlibat saling tatap beberapa detik.

"Ada apa pagi-pagi begini anda ingin menemui saya tuan Saka. Apa ada hal penting yang ingin anda sampaikan?" tanya Dian

Saka menghela nafas pelan kemudian menatap Diandra. "Sebenarnya ini adalah masalah pribadi. Maaf kalau saya harus menyampaikannya di kantor, karena saya pikir Anda tidak akan pernah mau bertemu dengan saya jika membahas masalah pribadi. Makanya saya menyempatkan waktu untuk menemui Anda sekarang"

"Jujur saya tidak suka membicarakan masalah pribadi di kantor. Tapi karena anda sudah terlanjur datang kemari, jadi katakan apa yang ingin anda bicarakan dengan saya"

"Kedatanganku kemari bermaksud untuk meminta maaf, Di. Kesalahan yang sudah ku perbuat memang tidak akan pernah bisa kamu lupakan sampai kapanpun. Tapi jauh dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku benar-benar meminta maaf padamu. Aku ingin hidup damai setelah ini. Dan aku meminta kebesaran hatimu untuk memaafkan semua perbuatan yang pernah aku lakukan"

"Cih! Setelah menyakiti Diandra begitu dalam, dengan seenaknya kamu meminta maaf!Memangnya rasa sakit yang Diandra rasakan bisa hilang begitu saja? Dasar pecundang"

"Tidak ada yang menyuruhmu ikut bicara Kak Rey. Lagi pula kamu dan Saka itu sama saja! Kalian adalah para pria yang sama-sama pernah menyakitiku" sahut Dian

"Tapi aku masih lebih baik daripada dia, Di. Setidaknya aku tidak melakukan Zina di luar pernikahan"

Saka menatap Rey tidak suka. "Saya tidak merasa mengenal Anda, tapi kenapa seolah-olah Anda adalah musuh saya?"

"Itu karena kamu sudah berani menyakiti Diandra! Kamu menghianati dia. Kamu menduakan dia dan yang paling menyakitkan adalah kamu lebih memilih memiliki anak dengan selingkuhanmu di banding dengan istrimu sendiri! Perbuatanmu sungguh sangat kejam"

"Itu adalah urusan saya, tidak ada sangkut pautnya dengan anda. Jadi jangan ikut campur masalah orang lain"

Dian semakin jengah melihat keduanya berdebat, "Kalian sudah selesai? Kalau sudah silakan keluar dari ruanganku!" usir wanita cantik itu

"Tapi aku tidak salah, Di. Aku tidak akan pergi!" ucap Rey.

"Aku juga tidak akan pergi!" ucap Saka tak mau kalah

"Baiklah, kalau kalian berdua tidak ada yang mau pergi. Aku saja yang pergi!"

Dian mengambil tas miliknya lalu keluar dari ruangannya. Rey yang melihat hal itu segera mengejar Dian, begitupun dengan Saka.

"Di ... tunggu" teriak Rei.

"Di ... kita belum selesai bicara. Kamu belum mengatakan jika kamu memaafkanku" Ucap Saka tak mau kalah.

Mendengar hal itu Dian segera berbalik dan menatap kedua pria yang pernah menyakitinya.

"Dengarkan aku baik-baik! untuk kamu Kak Rey. Aku tidak akan pernah kembali padamu sampai kapanpun!" Saka tersenyum mendengar hal itu. "Dan untukmu, Ka! Jika kata maaf bisa mengembalikan semua rasa sakit yang aku rasakan baru aku akan memaafkanmu"

"Tapi Di ...!"

"Berhenti mengikutiku! Atau aku akan semakin membanci kalian!"

Terpopuler

Comments

guntur 1609

guntur 1609

gama jodohnya dian

2023-05-26

0

Yolan

Yolan

hajar terus dian jgn beri ampun🤭🤭🤣🤣

2022-12-12

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!