episode 12

"bibir kamu masih luka do" kata Melinda saat Aldo ijin maen basket di lapangan sekolah

ya, mereka masih di kawasan sekolah, Aldo yang masih menjabat sebagai ketua tim basket harus berlatih bersama dengan teman yang lain nya

"yang luka hanya bibir, tangan dan kaki ku masih sehat mel" jawab Aldo tersenyum senang karena Melinda mengkhawatirkan nya

"gue masih penasaran, kenapa samuel bisa repot repot nolongin Lily" celetuk Andi di dekat Aldo

"ouh iya di, Lo inget pas bulan lalu ada seorang cewe yang terjatuh di depan nya, Samuel malah pergi gitu aja" kata Bimo menimpali omongan mereka

"apa mereka punya something ya?" kata Andi berpikir

"tapi kan Lily itu bucin banget sama Lo do" kata Bimo heran

"alah, orang kaya Lily mana bisa di percaya, dia ngomong cinta sama gue, tapi buktinya beberapa hari dia datang sama anak Arion sambil meluk mesra lagi, mungkin dia udah jadi bahan giliran anak Arion" kata Aldo tersenyum sinis

"gak boleh gitu do, mungkin mereka cuma temenan, gak baik ngomongin kejelekan orang yang belum tentu kejelasan nya" kata Melinda mengusap punggung Aldo

"kamu bener bener baik ya Mel, meskipun kamu terus terusan di Jahatin Lily tapi kamu malah terus bela bela dia, gak salah emang aku pilih kamu jadi pacar aku, udah cantik, pinter, baik hati pula" kata Aldo tersenyum manis pada Melinda

"kamu bisa aja" jawab Melinda tersipu malu, "akhirnya Lo ada di genggaman gue do, tinggal gimana caranya untuk jerat Lo selama nya" lanjut Melinda dalam hati sambil tersenyum miring saat Aldo tak melihat nya

Bimo yang melihat senyum yang berbeda dari Melinda, merasa ada yang tidak beres pada gadis yang cintai oleh sahabatnya itu

"udah ayo main basket" ajak Andi

"jangan salah langkah, bisa jadi musuh terbesar kita ada dalam orang terdekat kita" kata Bimo menepuk punggung Aldo

Melinda yang mendengar perkataan Bimo, terasa Bimo tengah menyindirnya, dan harap harap cemas Aldo tidak menghiraukan ucapan Bimo

"aku latihan dulu ya sebentar" kata Aldo pamit sembari mengelus pipi Melinda

"iya, aku tunggu di sini" jawab Melinda tersenyum manis

"Aldo sudah ada di genggaman gue, dan gue bakalan ancurin keluarga Butragueno seperti dia menghancurkan keluarga gue" kata Melinda di dalam hatinya sembari melihat punggung Aldo yang menjauh

sedangkan Azka menatap bingung gedung yang menjulang tinggi itu di depan nya, menurut supir tadi, bisa di pastikan Lily akan berada di tempat ini

"mobil yang di pake Lily bukan?" tanya Samuel menunjuk mobil sport putih yang di parkiran secara asal

Azka merasa kesal, sang supir tadi yang entah siapa nama nya sudah berlari masuk ke dalam gedung itu

"masuk aja" kata Azka langsung memasuki gedung yang menjulang tinggi itu

"gila .. ini gedung apaan?" gumam Jo yang penasaran dengan gedung tinggi ini

"kantor atau tempat apa?" timpal beni yang juga tidak tau

sedangkan Azka dan Samuel hanya terdiam sembari melihat ke sekeliling nya, mereka berdua juga bingung karena tempat itu seperti tempat latihan, namun entah apa

"tuan muda" sapa sang supir tadi menunduk hormat pada Azka

Jo berdecak kagum, Azka sudah seperti anak konglomerat sampai sampai supir tadi memanggilnya tuan muda, bahkan supir tadi membungkuk hormat pada azka

"dimana Lily?" tanya Azka langsung

"nona Lily ada di ruang latihan tuan, namun untuk saat ini nona tidak bisa di ganggu dulu tuan, kami sudah telepon tuan kenan, hanya beliau yang bisa menenangkan nona Lily" jawab sang supir tadi dengan sopan

"biar gue yang temuin Lily " jawab Azka namun di tahan oleh beberapa pengawal yang mengikuti supir tadi

"apa apaan ini? gue mau temuin Adek gue" bentak Azka

Samuel langsung menahan azka, terlihat jelas dari wajah beberapa pengawal itu sedang dalam gelisah

"maaf tuan, ada telepon untuk anda dari tuan kenan" kata salah satu pengawal menyerahkan ponsel nya pada Azka

"CK" Azka berdecak kesal karena mereka menghalangi nya untuk bertemu Lily

"halo pih" kata Azka

"halo boy, kamu dengan Lily?" tanya papi kenan

"iya pih, tapi pengawal papi menghalangi Azka untuk bertemu Lily" jawab Azka melirik kesal pada para pengawal papi nya Lily

"kamu turuti mereka boy, jangan dulu temui Lily beberapa menit dulu, jika amarah Lily sudah selesai kamu bawa Lily ke rumah ya, papi gak mau ada yang terluka oleh Lily, turuti perkataan papi nak, papi akan pulang sekarang" kata papi kenan sedikit menjelaskan

"tapi pi-

"turuti saja boy, nanti papi akan jelaskan kalo papi sudah ada di rumah, papi mohon jaga adik kamu ya nak, papi tutup dulu, pesawat papi akan berangkat" kata papi kenan langsung menutup sambungan telepon nya

Azka hanya bisa menuruti perkataan papi kenan saat ini, bahkan untuk mendengar yang sedang terjadi di ruangan tersebut pun tidak bisa, karena ruangan itu tertutup dan menggunakan alat kedap suara

"kalian bisa menggunakan ruangan yang lain jika kalian ingin berlatih" kata sang supir tadi

"ada waktu sekitar 30 menit untuk kalian bisa melihat lihat tempat ini" lanjut nya pada Azka dan teman teman nya

"kalian siapkan baju bara dan peralatan medis, jika sesuatu terjadi pada bara atau Lily langsung hubungi dokter Terawan" kata sang supir tadi pada para pengawal nya

"siap pak, kami juga sudah siapkan obat untuk nona Lily" jawab pengawal tadi

"tunggu... maksudnya Lily berdua bersama seorang cowo di dalem ruangan itu?" kata Azka menunjuk ruangan yang di pake Lily

"bara hanya pelatih nona dari kecil tuan, dia juga yang memahami emosi nona" jelas supir tadi yang ternyata asisten kepercayaan papi kenan di bidang alat tempur

Azka merasakan cemas pada adik nya itu, apa yang sebenarnya terjadi? tapi Azka tidak bisa melawan mereka, bahkan papi kenan pun menyuruh nya untuk menurut, sampai sampai papi kenan akan langsung pulang saat ini

begitu pun dengan Samuel yang terlihat begitu cemas dengan Lily, apalagi Lily berdua dengan seorang pria di satu ruangan yang terkunci, Samuel yang pencemburu pun hanya bisa menahan emosi nya kali ini

sedangkan beni dan Jo berdecak kagum pada senapan yang berjajar di dinding ruangan yang mereka masuki

senjata senjata berjejer rapi lengkap dengan semua tempat latihan di gedung ini

penasaran mereka akan gedung ini akhirnya terjawab, berganti kini pada siapa kenan Collins sebenarnya? tak mungkin hanya bos perusahaan biasa karena senjata bahkan alat alat yang tidak mengerti ada di tempat ini

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!