#14

...Episode 14...

Begitu pula kakeknya tau kalau Kesya sedang menghindari perjodohan. Kakeknya berkata, "Udahlah Kesya, suruh saja Hani untuk menggantikan pertemuan itu."

Hani adalah sahabat sekaligus sekertaris Kesya. "Udah sih Kakekku tersayang, jangan jodoh-jodohkan aku, aku belum mau menikah," jawab Kesya dengan manjanya.

"Mau sampai kapan kamu sendiri? Kamu mau lihat kakek mu ini meninggal terus gentayangan, karena cucu satu-satunya belum menikah?" tanya Kakek Kesya.

"Kok ngomongnya gitu? Aku enggak mau kehilangan kakek titik!" kata Kesya.

"Yasudah cepat menikah, kalau memang enggak mau di jodohkan, bawa calon mu sendiri. Kakek kasih watu 1 bulan, jika kamu tidak membawa calon, kamu harus janji mau menerima perjodohan!" ucap Kakek Kesya.

Agar berhenti di jodohkan, Kesya mengiyakan perkataan kakeknya itu. "Janji ya, oke... kakek tunggu." telpon di matikan oleh Kakek Kesya.

Setelah itu, Kesya berfikir bagaimana caranya bisa mendapat pria yang bisa di ajak menemui kakeknya. Selama ini Kesya masih belum ada pandangan pria, karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya.

Dulu Kesya pernah memiliki pria yang sangat dicintainya. Pria itu bernama Wiki. Pria tampan dan kaya raya. Rasa sayang Kesya menjadi rasa benci yang sangat besar.

Saat itu Kesya pergi ingin memberi kejutan dan hadiah ulang tahu ke apartemen Wiki, Sesampainya di apartemen, Kesya membuka pintu. Kebetulan Kesya hapal kode kunci pintu.

Pintu perlahan terbuka, dengan kagetnya Kesya melihat Wiki sedang berhubungan intim dengan wanita lain. Rasa marah, benci, dan sakit hati bercampur aduk.

Tak tau harus bagaimana, Kesya hanya meneteskan air matanya. Lari keluar apartemen. Wiki sadar ada yang membuka pintunya, Langsung mengambil selimut untuk menutupi badannya dan menengok pintu yang sudah terbuka.

Di lorong Wiki melihat Kesya sedang berlari, Wiki tak peduli dan mengunci lagi pintunya. Sejak saat itu Kesya di landa kesedihan, waktunya hanya dihabiskan untuk menangis.

Kakeknya yang tidak tau kenapa cucunya terus menangis, akhirnya tak sanggup melihat cucunya menangis terus. Menyuruh Hani mengajak Kesya pergi liburan ke China. Di China inilah Kesya bertemu dengan Kevin.

Perlahan Kesya sudah melupakan kejadian itu, tetapi ia masih trauma dengan pria. Kesya menganggap bahwa pria itu sama saja. Sama-sama brengsek.

Kesya tak ambil pusing dengan hal perjodohannya, menurutnya gampang menyewa pria untuk membantunya. Kesya pergi mandi dan berendam untuk menenangkan pikiran dan menghilangkan letih setelah seharian bekerja.

Setelah puas membayangkan Kesya, Kevin bergegas pergi ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit ternyata sudah ada adik Mega dan Tasya yang menunggu.

Mega berkata, "Vin, Tas, maaf sudah banyak merepotkan. Sekarang sudah ada adikku. kalian bisa pulang dan fokus dengan pekerjaan."

"Baru juga dateng, nantilah aku pulangnya," ucap Kevin.

"Yasudah, aku pulang dulu ya..." ucap Tasya.

"Iya Tas, dari kemarin kamu belum pulang kasian keluargamu," ucap Mega.

Mega tersenyum dan berkata, "Makasih ya, kalian udah baik banget sama aku."

Tasya mengedipkan matanya ke arah Kevin, kode Kevin ikut keluar dengan Tasya. Kevin enggak paham, kemudian tangan Kevin di tarik oleh Tasya.

Tasya dan Kevin keluar dari ruangan, "Vin, ada yang mau aku omongin sama kamu, kamu ikut aku ya..." ucap Tasya.

"Yasudah, aku pamit dulu dengan Mega," jawab Kevin.

Kevin masuk ke ruangan lagi dan berkata dengan Mega, "Mega, sepertinya aku juga harus pulang, ada yang mau aku obrolin soal kerjaan sama Tasya."

"Iya Vin, enggak papa. Makasih ya..." kata Mega.

Kevin menjawab, "Oke...."

Kevin ikut dengan Tasya keluar, Mereka berdua mampir ke kafe dekat rumah sakit. Disitu Tasya mulai berbicara tentang masalahnya.

Tasya berkata, "Sebenarnya aku cuma mau curhat, Vin. Aku bingung mau cerita sama siapa. Cuma kamu yang aku percaya."

Kevin merasa bingung, sebenarnya Kevin beranggapan Tasya mengajaknya untuk ngobrol soal kerjaan.

"Iya Tas, enggak papa. Cerita aja yang mau kamu ceritain, aku janji enggak bakal cerita ke siapa-siapa dan seandainya aku bisa bantu pasti aku bantu," ucap Kevin.

"Ini soal keluargaku, sebenarnya alasanku tidak mau pulang karena aku sudah muak melihat ayahku di rumah. Ayahku yang hanya mabuk-mabukan, pulang selalu memarahi ibuku." Tasya diam sejenak menahan emosinya.

"Sabar, pelan-pelan aja ceritanya," ucap Kevin.

Air mata Tasya mulai menetes, saat sudah tenang Tasya berbicara lagi, "Sampai sekarang aku enggak tau kenapa ayah jadi begitu, kalau hanya gara-gara di PHK sepertinya bukan, karena aku selalu memberikannya uang cukup."

"Coba Tas, kamu cari tau, ikuti ayahmu pergi kemana setelah pulang. Sapa tau ada masalah lain yang di sembunyikan ayahmu," kata Kevin.

"Iya, aku yakin ayahku pasti ada masalah lain, biasanya ayahku jam segini sebentar lagi pulang."

"Yasudah ayok kita ikuti ayahmu!" Kevin terlihat sangat semangat.

"Tapi..."

Tasya belum selesai bicara di sambar oleh Kevin, "Enggak usah tapi-tapi, ayok kita pergi sekarang keburu ayahmu pergi duluan."

Setelah membayar semua pesanan, Kevin dan Tasya segera pergi ke rumah Tasya. Sesampainya di rumah Tasya, benar saja ayahnya sedang marah-marah meminta uang dengan ibunya.

Kevin dan Tasya bersembunyi di sebelah rumah, menunggu ayah Tasya keluar. Tak lama, ayah Tasya keluar dari rumah, Tapi terlihat dengan jelas mata ayah Tasya meneteskan air mata.

Tasya terlihat bingung melihat ayahnya meneteskan air mata. Ayah yang galak dan setiap hari kerjanya hanya meminta uang dan marah, bisa menangis. Mereka berdua mulai mengikuti dari belakang.

Terus berjalan, Ayah Tasya memegang matanya seperti menghapus air mata. Langkah kaki ayah Tasya terhenti di sebuah warung minuman. Warung ini tempat orang-orang mabuk. Di sana sudah ada temannya sudah menunggu.

"Tas, gimana kalau aku berpura-pura menjadi pengunjung dan membeli minuman, agar aku bisa mendengar semua obrolan ayahmu," ucap Kevin.

"Ide bagus, yasudah sana!"

Kevin masuk, para pengunjung lainnya memperhatikan Kevin. "Hey Nak, bukan tempatmu di sini!" ucap salah satu pengunjung. Matanya merah dan terlihat sedang mabuk berat. Tertawa tidak jelas.

Kevin hanya diam, mencari tempat duduk yang dekat dengan Ayah Tasya. Memesan minuman, tapi tidak diminum. Setelah 15 menit menunggu, akhirnya Ayah Tasya mulai membuka obrolan tentang masalah yang sedang ia hadapi.

"Saya hidup enggak lama lagi, seandainya saya meninggal tolong sampaikan kepada anak istri, bahwa suaminya ini tidak ada niat menyakiti, dan sampaikan maaf dari saya," ucap Ayah Tasya kepada temannya.

"Yakin Bang, enggak mau mencoba pengobatan yang saya kasih tau kemarin?" tanya temannya.

"Saya udah capek dengan penyakit ini, dan jangan lupa, sampaikan salam sayang saya kepada anak dan istri." Ayah Tasya menunduk disertai air mata yang menetes.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!