#4

...Episode 4...

Bukannya menerima bantuan dari Kevin, Aldo dan Mega malah diam tak bersuara. Nengok ke muka Kevin pun, enggak. "Udah biar aja Vin, nggak usah di bantu!" ucap Tasya.

Kevin yang bingung, hanya bisa pergi dari mereka berdua. Berfikir, salahnya sebesar apa sampai-sampai mereka seperti itu. Dalam lingkungan pergaulan baik tempat kerja, sekolah, dan lingkungan manusia pasti pernah menemukan masalah.

Masalah itu datangnya dari diri sendiri, bisa juga dari orang lain. Yah... tentu, sebaik apa perlakuan kita terhadap orang lain, pasti ada aja yang nggak suka. Kevin merasa tidak pernah melukai orang lain, selalu menjaga lisannya, menjaga perilakunya. Tapi, karena perbedaan dan kelebihannya membuat iri dan iri hati itu yang menjadi bibit kebencian.

Apakah perlu Kevin menjadi orang bodoh agar orang lain tidak membencinya? Tentu... tidak perlu, seandainya Kevin menjadi orang bodoh pun, pasti akan di benci dan mendapat hinaan lebih parah.

Hidup itu mengerti bukan minta dimengerti, memahami bukan minta dipahami. Dengan prinsip hidup yang seperti itu, akan menjadikan diri kita lebih dewasa dan menghormati satu sama lain.

Kevin dalam berinteraksi selalu melihat sudut pandang orang lain, bukan sudut pandangnya sendiri. Saat ada yang membencinya, ia mencari tau, alasan kenapa orang lain membencinya.

Sepulang kerja, Kevin duduk di depan rumah melihat ayah dan ibunya sedang kelelahan, di dalam hatinya berkata, "Umurnya sudah tua dan anaknya ini sudah kerja, kenapa harus bekerja keras lagi?"

Air matanya mulai menetes, tak tega melihat orang tuanya. Harusnya, diusia mereka sudah waktunya duduk dan bersenang-senang menikmati masa tua. Sejak saat itu, Kevin bertekad akan bekerja lebih keras lagi.

Kevin masuk ke rumah, ditanya ayahnya, "Gimana pekerjaanmu Vin?"

" Baik, Ayah. Nggak ada masalah," jawab Kevin.

"Ayah do'akan semoga kamu sukses terus, dan jangan pantang menyerah. Oiya bulan depan, ayah dan ibumu pergi ke tempat sepupumu, di sana ada acara keluarga. mungkin, seminggu ayah dan ibu di sana," ucap ayah Kevin.

"Oke Yah." Kevin berjalan masuk ke kamarnya dengan muka murung.

Ayahnya heran tumben-tumbennya, Kevin murung seperti itu. "Bu, anak kita kenapa ya kok murung gitu?" tanya ayah kepada ibu Kevin.

"Mungkin, kecapean pulang kerja," jawab ibu Kevin.

Ayah Kevin hanya mengangguk. Di kamar, Kevin berbaring dan masih memikirkan perlakuan Aldo dan Mega. Berfikir untuk mencari kesalahannya, tapi lama memikirkannya tidak ada hal yang salah di dalam diri Kevin.

Kevin masih belum sadar, kedua temennya itu membencinya karena merasa lebih senior, merasa dirugikan oleh kelebihannya, dan iri melihatnya selalu dipuji atasan.

Lelah dan risih, badannya lengket karena keringat, Kevin pergi mandi. Setelah mandi, kemudian Kevin duduk di balkon atas rumahnya. Rumah Kevin tidak terlalu besar. Tapi, terlihat minimalis. Atap rumahnya bisa untuk duduk santai memandangi bintang di langit.

Besok hari minggu, Kevin libur kerja. Malam itu ia habiskan dengan begadang membaca novel dan memandangi langit. Kevin selalu membaca novel karya dari R.A.

Disela-sela membaca, Kevin melihat bintang yang bersinar terang dan ditemani jangkrik yang hanya diam disebelahnya. Banyak dan terangnya bintang membuat hatinya sangat kagum. Dibalik kekagumannya, Kevin berkata, "Oh Tuhan, kenapa aku tidak bisa seperti bintang-bintang di atas sana yang bebas bersinar dengan indahnya!"

Setelah mengatakan itu, tiba-tiba terdengar suara, "krik... krik... krik," suara jangkrik berbunyi. Jengkelnya Kevin mendengar suara jangkrik, "Diam kau jangkrik!" ucap Kevin.

Bunyi jangkrik makin keras, Kevin memukul jangkrik itu sampai mati. Melihat jangkrik yang terkapar mati, Kevin merasa sangat menyesal. Memegang bangkai itu dan berkata, "Maaf jangkrik."

Setelah menguburkan jangkrik yang sudah mati dibunuhnya, ia kembali ke atas. Duduk sambil menatap ke atas langit. Tiba-tiba, terlintas sesuatu dipikirannya. "Aku tau kenapa Aldo dan Mega membenciku!" ucap Kevin.

Kevin beranggapan Aldo dan Mega membencinya karena, merasa lebih senior dan merasa harus dihormati. Sama seperti jangkrik yang barusan berbunyi, jangkrik itu lebih dulu ada di atas rumah, jangkrik berbunyi karena merasa terusik dengan kedatangannya .

Alasan lainnya, mereka iri, sama seperti Kevin iri dengan keindahan bintang yang bersinar sangat indah. Kemudian yang sedikit membuat hati Kevin sedih, alasan mereka yaitu menganggap Kevin aneh. Kevin sadar orang lain tidak akan berbicara dengan jangkrik dan menguburkannya ketika mati.

Setelah sadar akan semua alasan Aldo dan Mega membencinya, Kevin mulai membuat rencana atau strategi agar mereka bisa menerimanya dengan baik.

Pertama, Kevin akan sedikit demi sedikit mengubah prilakunya yang aneh dan bersikap ramah. Kedua, Kevin akan membantu pekerjaan mereka diam-diam. Ketiga, Kevin akan berbicara dengan Pak Tio, untuk tidak memujinya di depan teman-teman yang lainnya, meski sehebat apapun pekerjaannya.

Malam pun, semakin larut. Lama kelamaan, Kevin merasa sangat ngantuk. Ia turun dan masuk ke kamarnya. Kemudian tidur dengan pulas.

Keesokan harinya, Pagi hari seperti biasa Kevin bantu-bantu ibunya membereskan rumah. "Assalamualaikum!" terdengar dari depan pintu.

"Bu ada tamu!" ucap Kevin sambil nyuci piring.

Ibunya bergegas membukakan pintu. "Maaf Bu mengganggu, saya teman kantornya Kevin," ucap Tasya dan tersenyum kepada ibunya Kevin.

"Iya iya, silahkan masuk. Sebentar ibu panggilkan Kevin dulu," jawab Ibu Kevin tapi ekspresi mukanya heran.

Ibunya Kevin heran, karena anaknya yang tidak pernah membawa teman ke rumah, apalagi perempuan. Dulu ibunya Kevin pernah takut kalau anaknya susah berinteraksi dengan sebayanya.

"Kevin, ada teman kantormu!" berkata sambil berjalan ibu Kevin.

"Iya Bu, sebentar," ucap Kevin.

Kevin berjalan menemui Tasya sedangkan ibunya pergi ke halaman belakang. Di halaman belakang, ayahnya sedang sibuk mengurus tanaman sayuran hidroponik yg beliau rawat sudah lama.

"Yah... liat anak kita, udah berani bawa perempuan ke rumah haha." Ibunya Kevin tertawa bahagia.

"Masa iya Bu?" ayahnya pun, ikut terheran-heran.

"Itu di ruang tamu lihat sendiri kalau enggak percaya. Mana cantik lagi," jawab ibunya Kevin.

Ayah Kevin berjalan menuju ruang tamu, menemui Tasya. Seolah-olah sedang menyambut tamu. "Oh ada tamu, temen kantornya Kevin ya?" tanya ayah Kevin.

Tasya bersalaman dengan ayah Kevin dan berkata, "Iya Om, Kevin janji mau bantu saya ngerjain tugas kerjaan. Saya kesini mau tagih janjinya." Tasya berbicara sambil cengar-cengir.

"Kalau sudah janji ya harus di tepati, iya kan Vin?" ayah Kevin mengedipkan matanya.

"Iya... ini mau di bantuin Yah," ucap Kevin dan membalas kedipan mata ayahnya.

Keluarga yang lucu, Kevin sudah paham kelakuan ayahnya yang suka meledek. Ayah Kevin berkata lagi, "Yasudah kalau gitu, ayah mau ambil sendal doang kok di depan."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!