...Episode 9...
Selama seminggu Kevin ada di China. Pulang dari negeri orang sepetinya tidak pantas tidak membawa buah tangan. Sebelum pulang, Kevin belanja oleh-oleh di pusat pembelanjaan yang ada di China.
Sesampainya di rumah, mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Terdengar suara ibunya menjawab salamnya dan mengatakan, "Tunggu sebentar."
Pintu perlahan terbuka, "Ya Allah," ucap ibunya. Matanya berkunang-kunang, air matanya perlahan menetes melihat tamunya adalah Kevin, anak kebanggaannya.
Sebelum pulang, Kevin memang sengaja tidak mengabari ibu dan ayahnya, supaya menjadi kejutan. Benar saja, ibunya terkejut melihat anaknya yang sudah lama tidak pulang.
Seketika ibu Kevin memeluknya dan berkata, "Kenapa enggak ada kabar dulu kalau mau pulang?"
Kevin tersenyum dan berkata, "Supaya menjadi kejutan haha."
"Dasar anak nakal." Ibunya berbicara sembari mengelap air mata.
"Aku bawa oleh-oleh banyak dari China, Ayah di mana Bu?" tanya Kevin.
"Ayah belum pulang kerja, Nak. Kamu pasti capek, istirahat dulu, biar ibu masakin makanan kesukaanmu," jawab ibunya.
Sejak saat itu, Kevin selalu menceritakan kebahagiaanya di luar negeri, padahal banyak cerita kesedihan yang ia sembunyikan. Termasuk pernah menjadi anggota paksa organisasi terlarang.
Sampai disitu cerita tentang Kevin, sebelum menjadi seorang karyawan pabrik mobil. Melanjutkan Kevin yang sekarang sedang ada di perjalanan menuju kafe bersama Tasya.
"Vin, kamu kok bisa hebat banget sih dalam urusan desain?" tanya Tasya.
Tasya tak tau saja kalau Kevin ini sudah seorang Profesor dan banyak prestasi yang diterima karena kecerdasannya di bidang teknologi. Bagi Kevin, sangat mudah dan sepele jika hanya mendesain mobil.
"Mungkin bukan hebat, Tas. Aku lebih banyak belajar, jadi lebih sedikit unggul," jawab Kevin.
Kevin tak suka di anggap orang yang hebat. Baginya, di anggap hebat akan menjadi masalah di kehidupannya sendiri. Akan ada bibit kecemburuan sosial dan terlalu banyak pujian akan membuat rasa percaya dirinya berlebihan yang bisa menjadikan Kevin orang sombong.
Ingin di anggap biasa saja, tapi kemampuannya dalam bidang teknologi tidak bisa membuat dirinya biasa saja dimata orang lain. Dia memang sangat luar biasa, wajar banyak orang memujinya.
"Tapi, memang kamu luar biasa. Buktinya Pak Tio yang orangnya sangat teliti dan perfeksionis aja bisa langsung bangga sama kerjaan kamu," ucap Tasya.
"Perasaan kamu aja, Tas. Perlakuan Pak Tio sama aku biasa aja sama kaya yang lain," jawab Kevin sambil tersenyum.
"Kamu ini Vin, merendah." Muka Tasya sedikit kesal.
"Oiya makasih banyak, Tas. Kamu udah banyak membelaku." Kevin berkata seperti itu untuk mengalihkan pembicaraan supaya tidak membahas soal kinerja Kevin.
"Iya sama-sama, Kamu ini ngelawan ngapa kalau di lecehkan Aldo dan Mega!" jawab Tasya.
Mendengar kata-kata Tasya, Kevin langsung menjawab, "Untuk apa melawan, toh hari-hari berikutnya aku masih harus bertemu mereka. Yang perlu aku lakukan hanya membuat mereka bisa menerimaku layaknya teman dekat."
"Tapi Vin, mau pakai cara apa saja, mereka itu enggak bisa di jadiin teman!" tegas ucap Tasya.
"Mereka juga manusia, mereka juga punya hati. Pasti ada sisi baik di hati mereka. PR ku sekarang, cari cara agar mereka bisa baik denganku, udah itu aja," jawab Kevin.
"Terserah kamu ajalah, Vin. Udah enggak usah bahas-bahas mereka. Ngerusak suasana hati aja kalo denger nama mereka!" Muka Tasya terlihat sangat kesal.
Melihat muka Tasya yang kesal, Kevin justru tertawa terbahak-bahak. "Lihat mukamu, Tas. Lucu... hahaha," ucap Kevin.
"Kurang ajar kamu ya, Vin. Berani menertawakan aku, mau aku banting kaya Mega?" Tasya kesal, tapi tersenyum. Ucapan Tasya hanya guyon.
Kevin seketika diam, sedikit takut dengan wanita kuat satu ini. Melihat Kevin ketakutan, Tasya gantian tertawa. "Hahaha... becanda Vin," ucap Tasya.
"Berani banting aku, lihat aja. Aku enggak mau bantuin kerjaan kamu haha..." jawab Kevin.
Tasya berkata, "Apa sih, Vin. Dendam gitu!"
"Bercanda hehe..." kata Kevin.
Sesampainya mereka di kafe, mereka langsung duduk dan saling memesan makanan dan minuman. Duduk berdua, berdiskusi, terlihat seperti sepasang kekasih.
Banyak pengunjung kafe yang melihat Kevin seperti heran. Tatapan pengunjung itu terlihat sangat melecehkan penampilan Kevin yang sedikit aneh.
Kevin menggunakan celana bahan yang besar, bajunya dimasukan di tambah kaca mata klasik yang ia pakai. Sebenernya, Tasya ingin memberi masukan kepada Kevin, agar mengganti celana yang besar itu. Tapi, mulut Tasya tak sanggup mengatakannya.
Kevin tak sadar mata para pengunjung terfokus dengan penampilannya. Berbeda dengan Tasya yang sedikit merasa terganggu dengan tatapan para pengunjung lainnya.
Bukan hanya tatapan, para pengunjung lainnya juga menggunjingkan tentang penampilan Kevin. Tasya berkata dengan Kevin, "Vin, kita pindah tempat aja yuk."
"Kenapa pindah?" tanya Kevin. Mukanya terlihat bingung.
"Enggak enak disini ramai banget," jawab Tasya. Menengok ke kanan dan ke kiri.
"Udah disini aja, baru aja pesan minuman." Kevin merasa biasa saja.
Tasya menuruti Kevin dan tetap melanjutkan pekerjaannya. Padahal penampilan Tasya sangat keren, terlihat cantik.
Tasya mencoba tak peduli dengan perkataan dan tatapan pengunjung lainnya. Tak terasa mereka menghabiskan waktu 3 jam duduk di kafe tersebut.
Kevin benar-benar fokus membantu pekerjaan Tasya. Terkadang mata Tasya melirik ke muka Kevin, berkata dalam hati, "Kalau di perhatikan sebenarnya Kevin ini tampan juga. Coba... seandainya penampilan Kevin keren pasti banyak perempuan yang suka."
Tak sadar Tasya senyum-senyum sendiri melihat muka Kevin. "Kenapa kok senyum-senyum sendiri?" tanya Kevin.
"E... nggak papa, kok. hehe," ucap Tasya. Tasya terlihat salah tingkah.
Reflek Kevin mengucapkan, "Aneh."
"Apa? Aneh?" Mata Tasya melotot ke arah Kevin.
"Enggak kok, Tas. Kamu salah denger, aku enggak ngomong apa-apa," jawab Kevin.
"Vin, tapi makasih ya... udah banyak bantu kerjaan aku. Seandainya enggak ada kamu pasti enggak bakal beres." Tasya tersenyum, senyumnya terlihat sangat tulus.
"Iya... Kita kan kerja sebagai tim, ya harus kompak dong," ucap Kevin.
"Sebagai tanda terimakasih, gimana kalau aku bayarin belanja? Setelah ini kita pergi ke Mall, beli baju sama celana untukmu." Tasya ingin mengubah sedikit penampilan Kevin.
"Enggak usahlah, Tas. Repot-repot, aku ikhlas kok bantunya," jawab Kevin.
"UDAH NURUT AJA!" bentak Tasya.
Kevin diam danau tidak mau menuruti kemauan Tasya. "Tinggal sedikit lagi pekerjaanku, aku bisa kerjakan sendiri. Ayuk kita pergi ke Mall." Tasya membereskan laptopnya.
Setelah membereskan laptop dan membayar semua tagihan pesanan. Tasya langsung menarik tangan Kevin. "Cepetan Vin, keburu tutup nanti Mall!" kata Tasya.
Kevin berkata, "Sabar...."
Mereka berdua bergegas masuk ke dalam mobil. Tasya langsung tancap gas menuju Mall terdekat. Sesampainya di Mall, Tasya memilihkan baju kemeja yang sangat bagis, serta celana bahan yang cocok dipakai Kevin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments