...Episode 6...
"Aku enggak mau lihat Ibu sedih," jawab Kevin.
Lanjut ibu Kevin berkata, "Minimal kamu ngomong Nak, biar ibu tau dan bisa belain kamu."
Setelah kejadian itu, orang tua Kevin selalu memantau semua kegiatan Kevin dari berangkat sekolah sampai pulang. Berbicara dengan guru SMA Kevin untuk diawasi.
Masa SMA justru ini adalah titik terberat Kevin. Jarang di bully tapi tidak sama sekali ada yang mau menemaninya. Bukan karena keanehannya, tapi karena kepintaran dan kecerdasannya.
Kevin diterima di SMA unggulan, di sekolah ini berisikan anak-anak berprestasi. Kevin lebih unggul dari pada teman-temannya. Banyak anak yang beranggapan Kevin tidak memerlukan teman lagi karena, semua bisa dikerjakannya sendiri.
Kondisi sulit itu terus dilalui dengan lapang dada oleh Kevin. Terkadang saat di kantin sekolah, Kevin duduk sendirian tanpa ada yang menemani dan saat di kelas, Kevin duduk di paling pojok sendirian.
Waktunya disekolah diisi dengan belajar, terkadang saat bosan membaca buku pelajaran, Kevin membaca novel. Dari kebiasaan membacanya itu, Kevin semakin berwawasan dan menjadikannya lebih dewasa.
Menurut Kevin tidak sepenuhnya kesalahan teman-teman yang tidak mau menemaninya tetapi, bisa jadi kesalahannya sendiri. Rasa iri dan tersaingi dalam hidup itu lumrah di rasakan orang lain terhadap kelebihan seseorang.
Tetapi, rasa iri dan tersaingi yang tidak di kendalikan akan berdampak buruk bagi diri sendiri. Kevin bersyukur banyak membaca karena dengan membaca lebih bisa mengenal karakter setiap orang.
Bakat dan Prestasi Kevin memang tidak diragukan lagi, dikelas 11 SMA, Kevin mendapat juara olimpiade teknologi tingkat nasional. Banyak Universitas yang sudah siap menerima Kevin, saat lulus nanti.
Benar saja setelah lulus SMA, Kevin langsung diterima di Universitas ternama. Bisa di bilang Universitas ini memiliki kualitas no 1 tingkat nasional.
Ibu Kevin sangat senang dan bahagia mendengar anaknya diterima di Universitas ternama. Di fase kuliah inilah Kevin yang culun, di panggil salah satu tentara.
Saat ada kelas di kampus tiba-tiba seseorang masuk ke kelasnya dan berkata, "Maaf siapa yang namanya Kevin?" Badannya tinggi besar dan menggunakan seragam loreng milik Tentara.
Semua anak yang ada di kelas itu kebingungan dan ketakutan karena suara tentara tersebut terdengar sangat tegas. "Ini Pak," ucap teman Kevin sambil menunjuk ke arah Kevin.
Kevin bingung dan sedikit ketakutan, berfikir salahnya apa sampai-sampai di panggil tentara. Kevin berkata, "Iya saya Pak, maaf salah saya apa ya?" tanya Kevin.
Tentara itu malah tertawa, "haha, kamu enggak ada salah. Saya ada perlu sebentar sama kamu, bisa kita ngobrol sebentar?"
Kevin kemudian berjalan keluar ruangan dan mengikuti tentara tersebut. Kevin dibawa ke salah satu ruangan yang memang sudah disiapkan untuk ngobrol empat mata dengan tentara tersebut.
Hampir 3 jam mereka ada di ruangan tersebut dan tak ada yang berani menguping karena di depan ruangan itu di jaga 2 tentara lainnya yang bersenjata laras panjang.
Tidak tau apa yang di obrolkan dan tujuannya apa. Hanya Kevin yang tau semuanya. Sudah berjalan 5 jam Kevin di ruang itu, tak lama Kevin keluar dengan tentara yang membawanya.
Muka Kevin terlihat sangat lelah dan terlihat cemas. Tentara itu berjabat dengan Kevin kemudian pergi begitu saja. Datang teman Kevin yang penasaran, kemudian bertanya, "Ngomong apa aja Vin, lama banget di ruangan?"
"Cuma tanya-tanya tentang karya baruku yang belum aku rancang, tentara itu penasaran dengan teknologi rancangan desain mobil militer yang aku buat kemarin," jawab Kevin.
"Mantap Vin, desain yang kamu buat mulai dilirik," ucap teman Kevin.
"Alhamdulilah." Kevin tersenyum dengan temannya.
Di bangku perkuliahan, meski Kevin terlihat masih culun dan berbeda dengan teman-temannya, tapi masih ada sebagian teman yang mau menemaninya dan bersahabat dengannya.
Mungkin, karena sudah lebih dewasa jika dilihat dari umur dan lebih berwawasan. Kevin memiliki 2
sahabat yang selalu menemani dan melindunginya.
Sejak saat itu, Kevin sering sekali keluar malam dan tidak tau pergi kemana. Kedua sahabatnya sampai heran tumben-tumbennya Kevin yang tidak pernah keluar malam, sekarang berani keluar malam sendirian.
Kevin pulang jam 2 pagi kebetulan sahabatnya ini masih belum tidur dan berkata, "Vin sini dulu, Lu ini sering banget keluar malem, udah nggak mau ngajak-ngajak kita lagi apa?"
"Aku ini kerja, bimbel anak-anak sampai jam 10, terus lanjut kerja di Kafe," jawab Kevin.
Kedua sahabatnya hanya terdiam dan merasa kasihan, karena Kevin memang bukan dari keluarga punya. Tapi, temannya bangga memiliki sahabat yang pantang menyerah.
Duduk dan ngobrol sebentar dengan sahabat-sahabatnya, kemudian Kevin pergi mandi dan setelah mandi langsung tidur. Oiya... lokasi Universitas jauh dari rumah Kevin. Kevin ngekost di dekat Universitas bersama sahabat-sahabatnya.
Waktu terus berjalan, tak terasa Kevin dan sabat-sahabatnya sudah memasuki semester akhir. Kevin yang dikenal pekerja keras setiap malam harus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
Tiba-tiba terdengar kabar Kevin di utus oleh Universitas ke luar negeri untuk pertukaran pelajar. Sahabat-sahabatnya yang mendengar berita itu kegirangan, bahagia melihat kerja keras Kevin selama ini tak sia-sia.
"Sahabat gua bakal ke luar negeri." Menepuk pundak Kevin.
Kevin hanya tersenyum, seolah-olah tak kaget mendengar berita itu.
"Jangan lupa sama kita kalau sudah sukses nanti," ucap salah satu sahabatnya.
"Pastilah, aku enggak bakal lupa sama sabat-sahabatku," jawab Kevin.
Setelah obrolan itu dan selesai perkuliahan, Mereka merayakan kebahagian itu, pergi ke kafe dan nongkrong bareng. Banyak yang di obrolkan mereka. "Oiya Vin, Kapan lu berangkat?" tanya sahabatnya.
"Mungkin besok malam," jawab Kevin.
"Loh dadakan banget, masa kabar hari ini besok sudah berangkat," ucap sahabatnya yang satu lagi.
"Iya dadakan, barusan aku di chat. Besok malam aku harus sudah berangkat." Kevin tersenyum.
Berhubung Kevin yang besok harus sudah berangkat, sahabat-sahabatnya langsung ngajak pulang, karena banyak yang harus dipersiapkan Kevin.
Tak lama, mereka pulang ke kosan dan Kevin mulai berkemas mempersiapkan semua barang-barang yang akan dibawa. Dimalam itu Kevin menelpon kedua orangtuanya dan baru mengabari bahwa dirinya akan keluar negeri untuk pertukaran pelajar.
Ibu dan ayah Kevin seperti di banjiri kebahagiaan anaknya sangat luar biasa. Ibunya hanya berpesan jangan sampai tinggalkan sholat dan mengaji. Sedangkan ayahnya berpesan jangan lupa makan yang teratur di sana.
Mendengar semua pesan kedua orang tuanya, Kevin meneteskan air matanya dan hanya berkata, "Iya Bu... Iya Yah, doakan aku selamat sampai tujuan dan bisa sukses menyelesaikan tugasku di sana ya...."
"Pasti Nak, ibu dan Ayah selalu mendoakan kamu,"
jawab ibunya di telpon.
"Yasudah Bu, aku harus tidur karena besok aku harus berangkat dan masih banyak barang yang belum aku bereskan," ucap Kevin.
"Iya Nak," jawab ibunya, telpon pun, dimatikan oleh Kevin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments