#16

...Episode 16...

Kevin melongo dan bengong melihat Kesya yang seperti itu. Langsung menggandeng tangan Kevin dan keluar rumah. Sambil berjalan, Kevin bertanya, "Kita mau kemana?"

"Udah sih ikut aja. Cepat naik mobil," ucap Kesya.

Mereka berdua naik mobil, Kevin benar-benar bingung apa yang sedang terjadi. Terlintas di pikirannya, bosnya ini sepertinya sedang mabuk. Tapi, dilihat-lihat sepertinya tidak mabuk. Sembari menyetir terkadang mukanya menghadap kearah Kevin dan tersenyum.

Sampailah mereka di tempat yang sangat romantis. Seperti taman tapi banyak hiasan bunga. Berdiri di papan bunga berbentuk hati. Kesya tiba-tiba mendekati Kevin.

Memeluk Kevin dari belakang, dagunya diletakkan di bahu Kevin. Mulutnya berbisik berkata, "Aku mencintaimu."

Darah serasa langsung naik ke otak, jantung berdebar sangat kencang, badannya gemetaran, mulutnya terkunci tak bisa mengatakan apa-apa, Kevin seperti patung yang di peluk wanita cantik.

"Kenapa kamu diem aja? Apa karena aku ini atasanmu?" tanya Kesya masih memeluk Kevin erat-erat.

"Aku bingung harus mengatakan apa, ini nyata atau bohongan," kata Kevin.

"Coba kamu lihat ke arahku!" Kesya melepas pelukannya dan memutar badan Kevin.

Muka Kevin di pegang dengan kedua tangan Kesya, sentuhannya terasa sangat lembut bagi Kevin. "Apa ini bohongan?" suaranya lirih terdengar sangat lembut.

Kevin hanya menggeleng-gelengkan kepala, tangan Kesya mulai menarik Kevin dan memeluknya dari depan. Kevin merasakan hangat dan nyaman dipeluk Kesya. Perlahan tangan Kesya mulai naik ke arah leher Kevin.

Kedua tangannya memegang leher Kevin dan muka yang ikut mendekat. Angin yang berhembus, sepinya malam, mereka berdua mulai memejamkan mata. Bibir yang mulai mendekat, mereka sudah larut dalam keromantisan. "Vin... Vin...." Kevin membuka mata terlihat ibunya ada di depan mata. Ternyata semua itu hanya mimpi. Badan yang sedang berbaring, tiba-tiba berdiri.

"Sial!" Kevin berteriak.

Reflek tangan ibunya memukul badan Kevin, berkata, "Kurang ajar! Kamu ngatain Ibu ha!" Teriak ibunya lebih keras.

"Adu duh... Maaf Bu, bukan maksudnya itu, aku sedang bermimpi indah tadi, sial hanya mimpi," ucap Kevin sambil memegang bagian badan yang dipukul oleh ibunya.

"Sana mandi!" bentak Ibu Kevin.

Setelah dimarah oleh ibunya Kevin bergegas mandi dan siap-siap berangkat kerja. Pagi yang cerah, hati yang sedang berbunga-bunga, penuh bahagia dan senyum Kevin berangkat kerja. "Lihat anakmu Yah, kesurupan apa ya kok beda banget," ucap Ibu Kevin.

"Haha... biasa anak muda Bu," jawab Ayah Kevin.

Ibunya hanya geleng-geleng kepala. "Apa udah jadian sama Tasya ya, Yah?" Senyum Ibu Kevin lebar sekali.

"Bisa jadi," ucap Ayah Kevin.

Terlihat raut muka bahagia, tertawa-tawa Ibu Kevin. "YES!" Ibu Kevin teriak kencang.

Sesampainya Kevin di kantor, melihat sudah ada Tasya dan Aldo yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Tasya melihat Kevin masuk ke ruangan berkata, "Cie senyum-senyum sendiri."

Tasya mendekat ke arah Kevin, "Vin, aku mau ngobrol bentar boleh?" tanya Tasya.

"Boleh."

"Kemarin malam, Ayahku pulang. Aku cerita semua tentang apa yang kita denger. Awalnya ayahku enggak ngaku, tapi lama-lama kalau dia sedang sakit dan cerita semua alasan kenapa dia kasar, sekarang masalahnya udah selesai Vin, ayahku sudah mau berobat, dan berhenti mabuk-mabukan. Makasih Vin sudah banyak bantu," ucap Tasya

"Alhamdulillah... syukur kalau gitu, doa terbaik untuk keluargamu," kata Kevin.

Tasya yang penasaran kenapa sahabatnya itu senyum-senyum sendiri bertanya, "Ngapa tadi kamu senyum-senyum sendiri?"

"Ah... enggak papa haha," ucap Kevin.

"Parah sih... rahasia-rahasia gitu, apa enggak?" Tangan Tasya menjewer Kevin.

"Aduh duh... nanti juga tau," ucap Kevin sambil kesakitan.

"Yasudah." Tasya pergi membuang mukanya.

Kevin hanya tersenyum dan mulai bekerja. Terkadang Tasya memperhatikan Kevin, matanya tidak bisa menutupi kalau ia sekarang benar-benar jatuh hati dengan pria culun satu ini.

Bukan jatuh cinta dengan penampilannya, tapi cintanya tumbuh dari kebaikan, ketulusan dan perhatian Kevin. Melihat Kevin yang sedang sibuk dengan layar monitor, Tasya tersenyum.

Sedangkan Aldo marah-marah sendiri, pekerjaannya yang tak kunjung selesai membuatnya sangat pusing. "Kevin ikut saya sebentar ada yang mau saya bicarakan," Kevin menengok ke arah pintu ternyata Kesya yang berbicara.

"Baik Bu," ucap Kevin.

Tasya masih belum curiga dengan apa yang terjadi dengan mereka berdua, begitu pula dengan Aldo. Kevin keluar dari ruangan, dan mengikuti Kesya.

"Kamu masih ingat janjimu, kan?" Kesya berjalan sambil berbicara.

"Iya Bu." Kevin berjalan di belakang Kesya, senyumnya semakin menjadi-jadi.

"Malam ini saya enggak bisa, jadi kita ajukan siang ini aja. Aku mengajak kamu pergi untuk mengubah semua penampilanmu," ucap Kesya.

"Tapi siang ini saya ada rapat dengan Pak Tio," jawab Kevin.

"Udah santai aja, nanti biar saya yang ngomong dengan Pak Tio."

"Siap Bu," ucap Kevin dengan semangatnya.

Kevin dan Kesya menuju Salon, semua penampilan Kevin benar-benar diubah. Sekarang pria yang berpenampilan culun disulap menjadi pria yang berpenampilan seperti bos besar.

Mengenakan jas, celana formal serta sepatu kulit yang sangat mahal. "Maaf Bu, apa ini tidak berlebihan?" tanya Kevin.

"Enggak, coba kamu berjalan!"

Kevin berjalan bak layaknya model. "Kevin... jalanmu yang tegak, dan berwibawa!" ucap Kesya.

Kevin mengubah cara berjalan dan badannya sedikit tegap. Terlihat sangat tampan dan keren ternyata jika Kevin seperti ini. "Nah... gini kakek pasti suka."

Kevin dan Kesya menuju rumah kakek Kesya. Tugas Kevin di sana hanya menunggu kakek Kesya datang dan berkata kalau ia adalah kekasih Kesya.

Sebenarnya Kevin merasa sangat gerogi, jantungnya berdegup kencang. Tapi mau enggak mau, harus menghadapinya. Justru momen Kevin menunggu dengan Kesya yang hanya berdua di ruang tamu, membuat Kesya banyak mengetahui semua tentang Kevin.

Kevin banyak bercerita tentang dirinya. Sebelum kakeknya datang Kesya berpesan kepada Kevin, "Jika kakek bertanya tentang pekerjaan, kamu jawab saja pemilik perusahaan di luar negeri."

Di dalam hati Kevin, sebenarnya sedikit keberatan. Tetapi tidak bisa mengelak, karena yang menyuruh adalah wanita yang ia suka dan di tambah Kesya ini bosnya.

Tidak lama kemudian, Kakek Kesya datang. Kesya dan Kevin langsung berdiri menyambutnya. Kevin berjabat tangan dan duduk kembali.

Kakek Kesya terlihat senyum-senyum sendiri, melihat Kevin dari ujung kepala sampai kaki. Kemudian mengangguk-angguk, "Perkenalkan Kek, nama saya Kevin," ucap Kevin.

"Oke... pekerjaanmu apa Nak?" tanya Kakek Kesya.

"Saya hanya karyawan biasa," ucap Kevin dengan polosnya.

Kesya merasa sangat kaget mendengar jawaban Kevin, padahal sudah disuruh berbohong olehnya. Mata Kesya melotot ke arah Kevin. Melihat respon Kesya yang terlihat marah, Kevin tak peduli.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!