...Episode 15...
Kevin yang sudah tidak tahan dengan aroma minuman keras kemudian keluar dari warung itu. Menghampiri Tasya yang menunggu di luar.
Melihat Kevin keluar,sontak Tasya berdiri dan bertanya, "Gimana Vin?"
Jari telunjuk Kevin ditaruh di mulut, meminta Tasya untuk tenang agar tidak ketahuan. Kevin berjalan dan menarik tangan Tasya. Kevin berbisik, "Jangan berisik nanti aku ceritakan semua di mobol."
Mereka berjalan menuju mobil. Saat di dalam mobil, Kevin mulai bercerita. "Ayahmu sedang sakit parah. Ada kemungkinan nyawanya sudah tak tertolong lagi. Mungkin, ayahmu sengaja terlihat jahat. Tadi aku dengar sebenarnya ia sangat-sangat sayang denganmu dan ibumu."
"Serius Vin?" ucap Tasya.
"Serius, tadi ayahmu bercerita dan meminta temannya. Nanti ketika dirinya meninggal, teman ayahmu disuruh menjelaskan semua tentang penyakit yang di deritanya," ucap Kevin.
Tasya sangat menyesal telah membenci ayahnya sendiri. "Aku tau kenapa ayahku tidak mau bercerita tentang penyakitnya, mungkin karena tidak mau merepotkan aku dan ibu," ucap Tasya. Air mata menetes dari matanya.
"Tas, mungkin hal terbaik yang bisa kamu lakukan adalah pura-pura tidak tau. Tadi ayahmu berkata penyakitnya sudah tidak bisa di obati lagi," kata Kevin.
Tasya berkata, "Mana bisa aku pura-pura enggak tau, Vin. Aku harus bercerita dengan ibu."
Kevin semakin bingung dan tak bisa berkata apa-apa lagi. Hidup yang Kevin jalani lebih baik dari pada Tasya. Mengingat masa lalu Kevin yang pernah diancam orang tuanya akan dibunuh, Kevin mulai paham dengan kondisi Tasya sekarang.
"Yasudah Tas, coba kamu ngobrol pelan-pelan dengan ayahmu. Siapa tau ia mau berobat lagi." Kevin memegang pundak Tasya.
"Walaupun aku membenci kelakuannya yang sering mabuk-mabukan dan kasar, Aku ini sayang banget Vin dengan ayahku," tangisnya semakin jadi.
"Sabar Tas... Sabar... lebih baik sekarang kita pulang dan mendatangi ibumu. Kasian ibumu sendirian," ucap Kevin.
Tasya menghentikan tangisnya, kemudian berdiri dan berjalan menuju rumah. Diperjalanan Kevin hanya diam, tak berani berkata-kata. Sesampainya di rumah, Tasya berteriak, "Bu... Bu...." Teriakannya dibarengi tangis.
Ibunya keluar, mendatangi Tasya,"Kenapa Nak, kok nangis?"
Spontan Tasya memeluk Ibunya, "Ayah, Bu... Ayah...."
Ibu Tasya bingung ada apa dengan suaminya. "Kenapa Ayah?" tanya Ibu Tasya.
Kemudian mereka duduk dan ibunya mengambilkan minum untuk Tasya. Setelah Tasya tenang, Ibu Tasya berkata, "Sekarang cerita, Ayahmu kenapa?"
"Tadi aku dan Kevin mengikuti ayah pergi, dan mendengar semua pembicaraan Ayah dengan temannya. Ayah berkata dirinya sedang sakit parah dan umurnya tak lama lagi."
"Jangan bercanda kamu Tas!" Bentak Ibu Tasya.
"Iya Tante, saya yang mendengar semuanya. Om bilang kepada temannya, bahwa dirinya sakit parah. Seandainya om meninggal disuruh menyampaikan maaf kepada anak istrinya," ucap Kevin.
Air mata mulai membasahi wajah Ibu Tasya. Tangisnya tak tertahan lagi, "J-jadi Ayah selama ini bertingkah kasar hanya untuk menutupi penyakitnya?"
Tasya dan ibunya saling memeluk. "Bu... kita harus bicara dengan ayah untuk pengobatannya," ucap Tasya.
Kevin yang merasa tidak enak hati, karena masalah ini, tidak bisa membantu lebih banyak lagi akhirnya berpamitan pulang. Sebelum Kevin pulang, Tasya berkata, "Makasih banyak ya, Vin."
"Iya sama-sama Tas, yasudah aku pulang ya...."
"Kamu naik ojek?" tanya Tasya.
"Iya... kamu urus masalahmu aja, enggak usah mikirin aku," kata Kevin.
Kevin pulang naik ojek. Saat sedang diperjalanan Kevin melihat Kesya sedang duduk sendirian di pinggir jalan. "Berhenti sebentar Mas," ucap Kevin sambil menepuk pundak driver.
"Kenapa mas?" tanya driver.
"Saya berhenti disini aja."
Kevin turun dari motor dan membayar ongkos. Berjalan mendekati Kesya, melihat dari jauh Kesya sedang melamun. Terlihat dari wajahnya, Kesya sedang bingung dan sedih.
Kevin berjalan dengan tegap, matanya fokus ke depan, supaya terlihat jantan, langsung menghampiri Kesya dengan dengan polosnya langsung menyodorkan minuman.
Kagetnya Kesya, melihat di depannya sudah ada Kevin. Badannya yang di paksakan tegap terlihat sangat lucu. Kesya justru tertawa terbahak-bahak. "Apa kamu lupa, aku ini atasanmu?" Kevin langsung mengkerut seperti cacing kepanasan.
"Hahaha... bercanda," Kesya mengambil air yang ada di tangan Kevin, "Makasih."
"Boleh saya duduk disini Bu?" tanya Kevin. Mukanya menunduk.
"Boleh, santai aja." Kesya tersenyum. Sebenarnya Kesya masih ingin tertawa, tapi di tahan-tahan.
"Ibu, kenapa duduk sendirian? Kan bahaya."
"Enggak papa saya masih ingin menyendiri saja," ucap Kesya sambil tersenyum.
Melihat secara dekat muka Kevin, di dalam hati berkata, "Ternyata tampan juga Kevin." Ada niatan Kevin yang akan dibawa oleh Kesya menemui kakeknya.
"Boleh enggak saya minta tolong?" tanya Kesya.
"Boleh Bu."
"Saya masih ada masalah, saya akan dijodohkan oleh kakek. Tapi saya menolak perjodohan itu, mau enggak kamu berpura-pura menjadi kekasih saya?"
Kagetnya Kevin mendengar bosnya meminta dia menjadi kekasihnya, walau hanya berpura-pura. Spontan Kevin menjawab, "M... mau Bu."
"Oke, setelah perjodohan di batalkan, silahkan minta apa yang kamu inginkan, sebagai imbalan. Tapi sebelumnya penampilanmu harus diubah, setuju?"
"Setuju." Mereka saling berjabat tangan.
"Besok sepulang kerja saya tunggu di tempat ini, saya akan merubah penampilanmu dan datang menemui kakek."
Kevin hanya tersenyum, "a-e-a-e." ucap Kevin, tak jelas apa yang ingin dibicarakannya.
"E... sebenernya saya mau minta tolong anterin saya pulang, soalnya udah enggak ada ojek lagi," ucap Kevin.
"Oke, ayok naik mobil saya. Tapi ingat besok kamu beneran datang kesini."
Kevin mengangguk dan berjalan naik mobil mewah yang dikendarai Kesya. Diperjalanan Kevin hanya diam dan menundukkan kepalanya. Bingung mau bicara apa, canggung karena Kesya adalah bosnya.
Kesya membuka obrolan, "Boleh saya tau, sebelumnya kamu sudah pernah pacaran?"
"Belum pernah, Bu," ucap Kevin.
"Serius belum pernah??"
"Belum," jawab Kevin. Mukanya memerah.
Kesya terheran-heran, diumur Kevin sekarang belum pernah pacaran. Disisi lain kagum melihat kepolosan Kevin. Sampailah mereka berdua di gang jalan dekat rumah Kevin. "Berhenti disini aja," ucap Kevin.
Kesya menghentikan laju mobilnya, berhenti di depan gang. Sebelum turun Kevin berkata, "Makasih ya, Bu."
"Iya sama-sama." Kesya tersenyum manisnya.
"Manisnya..." kata Kevin di dalam hati.
Kesya langsung tancap gas pulang ke apartemen. Sedangkan Kevin masih duduk di depan rumah, masih melamun membayangkan senyum manis Kesya.
Tak lama Kevin masuk ke kamar, berbaring. Terdengar suara ketukan pintu, "Vin... Vin..." suaranya mirip Kesya. Kevin beranjak dari tempat tidurnya dan membukakan pintu kamar.
Kagetnya Kevin melihat di depan mata ada Kesya. "Loh Bu, Kok kesini?" tanya Kevin.
"Memangnya enggak boleh ya, Vin?" sorot matanya sedikit berbeda, sebelumnya terlihat bijaksana sekarang terlihat sangat feminim.
"Boleh banget, Bu," jawab Kevin.
"Keluar yuk, kita kencan."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments