...Episode 10...
Tasya tak hanya membelikan beberapa baju dan celana, dia juga membelikan sepatu kerja yang keren. "Besok harus di pakai!" ucap Tasya. Sedikit memaksa Kevin.
"Tas, aku enggak biasa berpenampilan begini," jawan Kevin. Terlihat Kevin sedikit keberatan.
Tasya langsung berkata, "Aku enggak mau tau, pokoknya pakai aja. Jangan banyak protes!"
Kevin hanya diam dan tak berdaya melihat Tasya yang galak. Setelah puas berbelanja, Tasya mengantarkan Kevin pulang. Saat di perjalanan pulang, Kevin tak sengaja tertidur.
Melihat Kevin tidur, Tasya hanya tertawa. "Dasar," ucap Tasya.
Sambil menyetir, terkadang Tasya memperhatikan Kevin. Tasya merasa bahagia dan nyaman saat di dekat Kevin. Senyum-senyum sendiri, sontak berkata, "Apa sih, gw ini." Tasya memukul-mukul pipinya.
Sesampainya di depan rumah Kevin, "Vin, bangun Vin. Udah di depan rumahmu ni!" Tasya menggoyangkan tangan Kevin.
Kevin mulai terbangun, "Loh... aku ketiduran, maaf Tas," ucap Kevin. Matanya sayup.
"Iya, enggak papa Vin, aku yang minta maaf, waktumu seharian di habiskan hanya untuk bantu pekerjaanku. Makasih ya Vin," ucap Tasya.
Kevin menjawab, "Sama-sama Tas, aku juga makasih udah dibeliin banyak barang."
"Ingat loh Vin, besok barang-barang itu di pakai!" kata Tasya.
"Iya... besok aku pakai, yasudah aku masuk dulu, hati-hati di jalan." Kevin turun dari mobil Tasya.
Tasya memutar balik mobilnya dan Kevin melambai ke Tasya. Diperjalanan pulang, Tasya masih senyum-senyum sendiri hanya karena Kevin berkata hati-hati di jalan dan melambaikan tangannya.
"Gw ini suka apa sama Kevin. Gak mungkin gw suka sama Kevin. Tapi... ah enggak tau lah." Tasya berbicara sendiri di dalam mobil.
Sesampainya di rumah, Tasya mendengar suara gemuruh barang-barang rumah di banting sana-sini. Ternyata ayahnya yang sedang mabuk, sambil marah-marah dengan ibunya.
Ayahnya meminta uang dengan ibu, tapi tidak dikasih. Ibu sengaja tidak memberikan uang, setiap di kasih uang hanya untuk berjudi dan mabuk.
Ayah Tasya dulunya tidak seperti ini, ayah Tasya adalah suami sekaligus ayah yang sangat baik dan perhatian. Semenjak ia di PHK dari perusahaan tempat ia bekerja, setiap malam kerjaannya hanya keluar malam.
Pulang dalam kondisi mabuk dan sering sekali marah-marah. Tasya sangat tertekan jika berada di rumah. Ingin sekali Tasya pergi dari rumah itu. Tetapi, Tasya masih memikirkan ibunya.
Jika, Tasya pergi tidak ada yang menemani, menenangkan saat bersedih, dan melindungi ibunya. Disisi lain Tasya masih ingin ayahnya berubah.
Sebenarnya, Tasya sangat menyayangi ayahnya. Tasya berlari saat ibunya akan dipukul oleh ayahnya dan berkata, "Ayah! jangan sekali-kali berani memukul ibu!," Tasya menarik ibunya dan menyuruh ibunya masuk kamar.
"Oh... sudah berani kamu melawan ayah ya?" ucap ayahnya. Matanya merah dan jalannya sudah tidak imbang.
Ayah Tasya mendekatinya, gelagatnya akan memukul Tasya. Tapi, seketika ayahnya jatuh dan pingsan. Pingsannya bukan karena penyakit, tapi karena sudah sangat mabuk berat.
Tasya memapah ayahnya ke sofa ruang tamu, dan membaringkannya di sana. Tasya mencopot sepatu yang masih menempel di kaki ayahnya. Dia menangis.
Tasya berkata sambil mencopot sepatu ayahnya, "Kenapa sih Yah, harus seperti ini. Aku dan Ibu sangat menyayangi ayah, tapi kenapa Ayah memperlakukan aku dan Ibu seperti ini...." Suara Tasya lirih, air matanya terus menetes.
Ibunya keluar dari kamar, sama seperti Tasya, ibunya menangis dan merasa tak kuat menghadapi suaminya itu.
"Tasya, lama-lama ibu takut dengan Ayahmu," ucap ibunya. Memeluk Tasya.
"Sabar Bu... Ayah pasti berubah. Seandainya Ibu takut langsung kunci aja kamarnya," jawab Tasya.
Tasya dan ibunya membereskan barang-barang yang berantakan. Pecahan piring berserakan dimana-mana. Tasya berbicara dengan ibunya, "Bu... apa untuk sementara kita pindah aja ya?"
"Pindah kemana Nak?" ucap ibu Tasya.
Tasya menjawab, "Kita sewa rumah, sementara kita tinggal disitu sampai ayah berubah."
"Percuma, Ayahmu pasti datang. Udah enggak papa, kita tinggal disini aja dan menyadarkan ayahmu." Tangan ibunya memegang pipi Tasya.
Jika dibandingkan dengan keluarga Kevin, yang selalu harmonis dan menerima keadaan. Sederhana tapi bahagia. Beralih ke Kevin yang sedang tidur-tiduran di atas kasur.
Saat di mobil, Kevin ngantuk berat sampai tertidur. Waktu di rumah, rasa ngantuk nya hilang. Diam dan melamun melihat ke atas, entah apa yang dipikirkan Kevin. Tak lama kemudian, Kevin menulis surat dan di masukannya surat itu ke dalam amplop.
Setelah menulis surat, Kevin menghidupkan laptopnya. Mulai mengetik, tak tau apa yang di ketiknya. Tapi, tangannya sangat cepat mengetik setiap angka dan huruf yang ada di keyboard.
Setelah mengetik, mata Kevin terasa sangat berat. Kevin berbaring di atas kasur dan tidur. Keesokan harinya, Kevin menggunakan barang-barang yang diberikan oleh Tasya.
Sesampainya di kantor, berjalan menuju ruangan semua orang melihat kearah Kevin. Penampilannya benar-benar berubah drastis. Kevin terlihat keren. Tapi, tetap saja tingkah Kevin sedikit aneh.
Masuk keruang kerja, di sana sudah ada Tasya, Mega, dan Aldo. "Mantap, kawan gw sekarang keren banget," ucap Tasya.
Aldo dan Mega lirik-lirikan. "Aneh ya tetap aja aneh," ucap Aldo. Aldo berbicara tapi matanya ke arah Mega.
"Ngomong apa lu?" saut Tasya.
"Enggak... orang gw ngomong sama Mega," jawab Aldo.
"Iya... dari tadi kita ngobrol berdua, enggak ngatain kawan lu itu," kata Mega.
"Alah, enggak usah bohong lu berdua!" bentak Tasya.
"Udah Tas... mending melanjutkan pekerjaanmu aja," ucap Kevin.
Tasya terdiam dan fokus lagi dengan pekerjaannya. Kevin duduk di kursinya dan bingung akan mengerjakan apa, karena semua pekerjaannya sudah beres.
Sedangkan Aldo dan Mega masih garuk-garuk kepala, kebingungan, pusing, dan tak tau harus bagaimana untuk mengerjakan semua pekerjaannya.
Kevin mendatangi Aldo dan Mega, kemudian memberikan rancangan desain untuk mesin dan interior. Kevin berkata dengan mereka berdua, "Silahkan ambil, ini hanya sekedar masukan dari aku, siapa tau bisa membantu." Kevin tersenyum dengan mereka berdua.
Melihat Kevin tersenyum, Aldo dan Mega malah merasa terhina dan menolak desain yang diberikan Kevin. "Ambil, kita enggak butuh bantuan, mu!" bentak Mega.
"Jangan sombong ya, mentang-mentang jadi anak tersayang Pak Tio!" bentak Aldo.
Niat baik Kevin malah ditanggapi dengan kasarnya oleh Aldo dan Mega. Salah satu contoh hati yang di penuhi kebencian, seberapa banyak kebaikan yang diberikan rasanya sia-sia.
Saat seseorang sudah dipenuhi rasa benci dengan orang lain, kebaikan dari orang yang dibencinya akan terasa hinaan.
"Ambil Vin, enggak usah bantu-bantu orang enggak tau diri!" bentak Tasya.
Kevin mengambil rancangan itu lagi, dan kembali ke tempat duduknya. Tasya berjalan mendekati Kevin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments