BAB 20

Adrian masuk ke dalam kelas sambil melirik ke arah Shania yang telah duduk di bangkunya. Dia bisa melihat mata Shania yang agak sembab.

Kayaknya Shania habis menangis. Tapi kenapa?

Gubraakkk!!!

Tiba-tiba Adrian jatuh tersungkur yang diikuti tertawa seluruh isi ruangan. Rupanya kaki Dika yang membegal Adrian.

"Dika!!!" Adrian berdiri dan duduk dibangkunya sambil meringis kesakitan.

"Maaf bro. Habis tuh mata jangan liatin Shania mulu'. Jatuh kan jadinya."

Adrian akan memukul Dika. Untung Dika dengan cepat menghindar. "Dasar lo!"

"Ian lo kenapa memar-memar gini?" kata Devi yang melihat keadaan Adrian. Dia ingin megusap luka memar Adrian tapi belum juga tersentuh, Adrian sudah menepis tangannya.

"Gue gak papa." jawab Adrian dengan singkat tanpa ekspresi.

"Kayak gini lo bilang gak papa. Lo kenapa sih tumben berantem segala."

Adrian hanya terdiam.

"Iya. Lo ada masalah apa?" timpal Dika yang juga penasaran dengan keadaan Adrian. Sebelumnya Adrian memang tidak pernah berantem sampai parah seperti saat ini.

"Gue gak papa kok. Udahlah, kalian jangan pernah khawatirin gue."

Beberapa saat kemudian, Pak Rudi guru mereka masuk ke dalam kelas. "Ayo-ayo kembali ke tempat duduk masing-masing. Devi ngapain kamu masih berdiri di situ."

"Eh, Pak Rudi. Iya ini mau duduk pak." Kata Devi sambil duduk di bangkunya.

Pak Rudi menghela napas panjang. Saat dirasa semua murid sudah tenang, beliau memberi salam. "Pagi anak-anak."

"Pagi pak..." jawab seluruh murid secara serempak.

"Oke, untuk melanjutkan materi minggu lalu tentang golongan darah maka hari ini kita akan mempraktekkannya di lab. Kita cek golongan darah kita masing-masing. Sekarang kita keluar secara teratur, jangan ada yang ribut. Mengerti?"

"Iya, Pak."

Semua siswa keluar dengan teratur. Tapi Adrian masih saja duduk. Dia berpikir sejenak.

Tes golongan darah? Lebih baik gue gak usah ikut daripada gue gak tahan dengan aroma darah itu.

Adrian berdiri dan berbicara dengan Pak Rudi. Rupanya dia izin untuk tidak mengikuti praktikum itu. Kini Adrian berjalan sendiri menuju ruang UKS. Dia duduk di depan ruang UKS sambil menghela napas panjang. "Untung aja Pak Rudi ngijinin gue. Kalau gak bisa bahaya. Gue takut, gue gak bisa nahan gen itu."

"Ian.." panggil Dika secara tiba-tiba lalu ikut duduk di sampingnya.

Adrian sedikit terlonjak kaget. "Kok lo bisa ada di sini?" Dia takut Dika mendengar gumamannya barusan.

"Gue khawatir sama lo. Lo kenapa sebenarnya? Lo ada masalah? Gue gak pernah liat lo kayak gini. Lo udah kayak gak ada semangat hidup lagi." Dika menepuk pundak Adrian. "Gue sahabat lo, kalau lo ada masalah lo cerita sama gue. Gue pasti akan bantu lo."

Adrian menggelengkan kepalanya pelan. Bagaimana caranya Adrian untuk mulai cerita tentang dirinya. Ini bukan sebuah cerita fantasi. Tapi ini nyata baginya. Mungkinkah Dika percaya dengan ceritanya nanti.

"Apa lo ada masalah sama Shania?" tanya Dika lagi karena masih tidak ada jawaban dari Adrian.

Lagi-lagi Adrian masih terdiam. Sebenarnya dia sangat butuh teman untuk berbagi cerita saat itu untuk mengurangi segala beban pikirannya.

"Apa lo sekarang udah sembuh dari ketidak warasan lo?" canda Dika.

Adrian mendorong pundak Dika mendengar pertanyaannya yang terakhir. "Busyet, lo kira gue selama ini gila."

"Haha... Habis lo sekarang diem aja. Gue kira lo salah minum obat."

Adrian sedikit terhibur dengan gurauan Dika. Dia bisa tersenyum, meski masalahnya tidak akan bisa terselesaikan dengan cara apapun.

...***...

Di dalam ruang laboratorium, Edo terus menutup hidungnya. Dia begitu terlena dan tidak tahan dengan aroma darah manusia.

Sudah lama gue gak mencium aroma darah manusia. Kenapa gue jadi gak tahan kayak gini. Gak! Gak! Gue harus bisa menahannya. Gue udah gak pernah lagi memangsa manusia. Lebih baik gue keluar daripada taring gue tiba-tiba muncul di sini.

Edo terburu-buru keluar dari laboratorium, tapi dia justru menabrak Devi.

"Hei, lo kenapa?" tanya Devi yang melihat Edo terus menutup hidungnya.

"Hmm, gue..." Edo seperti dirasuki sesuatu. Rasa inginnya menghisap darah telah menguasai pikirannya. Dia menatap Sisi dengan tajam. Matanya menggelap. "Lo ikut gue."

Seperti terhipnotis saat Edo mengajak pergi Devi untuk meninggalkan laboratorium, dia langsung menuruti Edo.

Edo membawa Devi ke tempat yang sepi. Dia kini berdiri di belakang Devi dan mendekatkan bibirnya ke tengkuk leher Devi. Lalu membuka mulutnya dengan lebar dan terlihatlah kedua taring tajam Edo yang telah muncul. Sorot mata merahnya membuat Edo semakin terlihat menyeramkan. Taringnya kini siap untuk menembus urat nadi Devi.

"Hei, apa yang lo lakuin!" teriak Dika saat melihat Edo akan melakukan sesuatu pada Devi. Dia langsung berlari dan mendorong Edo tapi justru tubuhnya yang terpental. Seketika badannya terasa sakit saat dia akan berdiri lagi.

Edo menatap Dika sambil menyeringai. Dia berjalan mendekati Dika, seperti binatang buas yang akan memburu mangsanya. Sungguh sangat mengerikan wajah Edo saat itu.

Dika tak bisa berkutik. Edo adalah seorang vampir. Mungkinkah nyawa Dika akan habis ditangan Edo yang sedang dikuasai hasrat gelap itu.

💞💞💞

.

Buat novel ini aku berasa dongeng.. 😂

Gak ada yg baca juga. Tapi gak papa, ku tetap semangat buat namatin...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!