Tiba-tiba ponsel Shania berbunyi. Ada Whatsapp masuk dari Taufan. Shania langsung membuka dan membacanya.
Shan, nanti sepulang sekolah kita jalan yuk. Gue tunggu lo di taman deket sekolah.
Seketika senyum mengembang di bibir Shania.
Adrian melirik tajam Shania. Dia merasa cemburu lagi. "Mau jalan lagi sama Taufan? Ntar ditinggal lagi." kata Adrian. Rasa cemburu itu kembali memenuhi hatinya, tapi yang lebih penting, dia sebenarnya tidak ingin Shania terluka karena Taufan.
"Ih, lo kok bilang gitu sih. Taufan kan gak sengaja kemarin."
"Ya.. Ya.. Ya.. Terserah lo!" karena Adrian merasa emosinya naik lagi diapun berdiri dan pergi meninggalakan Shania.
"Ian!" panggilan Shania pun sudah tak digubris oleh Adrian.
Adrian berjalan menuju kelas sambil terus mendumel. "Emang gue cuma sahabat lo dan sampai kapanpun akan tetap jadi sahabat lo."
Setelah masuk ke dalam kelas, Adrian duduk di bangkunya dengan keras yang membuat seseorang yang berada di sampingnya menoleh ke arahnya.
"Hei, kenapa?" tanya Aura.
"Gak papa." jawab Adrian dengan singkat karena dia masih merasakan kekesalan itu. Dia seolah tak sadar dengan siapa yang bertanya di sampingnya itu. Tapi beberapa saat kemudian dia tersadar dan menoleh Aura. "Eh, sorry gue malah nyuekin lo."
"Iya gak papa. Lo kenapa? Keliatannya lagi galau?" tanya Aura. Dia berusaha mengakrabkan dirinya dengan Adrian. Sepertinya sifat Adrian hampir mirip dengan Pangeran Leon.
"Biasa urusan hati. Eh, btw lo pindahan darimana?" Adrian mengalihkan pembicaraannya, meski sebenarnya tadi pagi sudah diberi tahu oleh Pak Rudi, dia seolah lupa darimana Aura berasal.
Aura terdiam sejenak. Tidak mungkin juga dia bilang kalau dia dari keraajaan vampir di bukit Starlight. "Gue pindahan dari Banyuwangi."
"Lo adiknya Edo?" tanya Adrian karena dia melihat kedekatan Edo dan Aura seperti kakak beradik.
"Bukan. Ya kita memang dari satu sekolah yang sama dan kita pindah ke sini karena ada program beasiswa." Tentu saja Aura mengarang semua ceritanya. Itu sudah kesepakatan dengan Edo.
"Berarti lo pintar dong." tebak Adrian sambil menopang dagunya menatap Aura.
"Gak juga." Aura tersenyum tipis pada Adrian. Tatapan mata Aura berujung pada mata Adrian. Dia begitu melihat sesosok Pangeran Leon di depannya.
Aku kangen sama kamu, Pangeran Leon. Meskipun kamu sekarang belum tahu siapa diri kami yang sebenarnya tapi aku tahu kamu memang Pangeran Leon. Tatapan mata kamu yang begitu teduh dan penuh kenyamanan masih tetap sama seperti dulu.
Aura mengingat kembali beberapa kenangannya bersama Pangeran Leon dulu. Meskipun rasa cinta itu hanya tersimpan dalam hati tapi sampai sekarang, dia tidak bisa melupakannya. Bahkan saat bertemu Adrian, wajahnya, senyumnya begitu mirip dengan Pangeran Leon.
"Kok melamun? Lagi mikirin apa? Jangan banyak melamun nanti cepat tua." kata Adrian yang menyadarkan lamunan Aura.
Aura hanya tertawa. Sepertinya inilah Pangeran Leon versi kini, yang lebih fresh karena dia tak terpengaruh dengan kedudukan.
...***...
"Adrian aneh banget sih. Apa coba maksudnya tiba-tiba marah gak jelas gitu. Udah gitu dari tadi ngomongnya ngelantur." Shania berjalan sambil mendumel sendiri. Tanpa melihat orang yang berjalan di depannya, hingga tak sengaja dia menabrak Edo. "Eh, maaf."
Shania menatap Edo sesaat, lalu dia menggeser langkahnya untuk pergi tapi tiba-tiba Edo menarik tangan Shania.
"Putri Amora." ucap Edo pelan tapi masih bisa ditangkap oleh telinga Shania. Beberapa detik kemudian, Edo tersadar dan segera melepaskan tangannya. "Maaf."
"Gak papa." ucap Shania sambil tersenyum lalu dia mengulurkan tangannya. "Kenalin gue Shania bukan Putri Amora."
Edo membalas uluran tangan Shania. "Iya. Gue Edo." Sampai beberapa detik Edo masih saja memegang tangan Shania. Dia semakin yakin bahwa Shania itu adalah reinkarnasi dari Putri Amora.
"Hmm.." Shania perlahan menarik tangannya karena Edo tak juga melepasnya.
"Eh, maaf." kata Edo lagi yang membuatnya semakin salah tingkah. "Lo mau ke kelas?" tanyanya mecairkan keadaan yang kian canggung.
"Iya." Kemudian mereka berjalan bersama menuju kelas.
Shania menghentikan langkahnya sesaat ketika berada di depan pintu kelas. Tatapannya terpaku pada Adrian yang sedang tertawa bersama Aura.
Tersadar dengan tatapan Shania, Adrian kini juga menatapnya. Mereka saling beradu tatap sesaat sebelum akhirnya Shania berjalan dan duduk di bangkunya.
Ian, apa lo udah nemuin cewek yang lo sukai, kata Shania dalam hatinya lalu dia mengusap sesaat wajahnya. Mikir apa sih gue, kayak gue gak mau kehilangan Adrian aja. Justru bagus dong kalau Adrian sudah naksir cewek lain, jadi dia gak akan ganggu gue lagi.
...***...
Bel pulang sekolah pun berbunyi. Semua siswa dengan terburu-buru keluar dari kelas. Termasuk Shania. Dia berjalan dengan cepat menuju pintu tapi tiba-tiba Devi menarik tangannya.
"Shan, tolongin gue nyusun mading dong." pinta Devi. Sebenarnya menyusun mading itu tugas kelompok, tapi karena sebelumnya Devi tidak memiliki bahan, hingga dia yang harus menyusun mading itu sendiri.
"Tapi Vi, gue lagi ada janji." kata Shania. Tentu saja dia sudah ada janji dengan Taufan.
"Ayolah sebentar aja. Please..." Devi begitu memohon karena dia merasa tidak sanggup jika harus menyusun mading itu seorang diri.
Shnai pun menjadi tak tega dengan sahabatnya yang memohon seperti ini. "Iya.. Iya gue bantuin" akhirnya dia mengiyakan permintaan Devi. Meski dengan terburu-buru Shania membantu Devi sampai semuanya beres.
Setelah memastikan semua selesai, Shania segera pergi dari kelas. "Vi, gue duluan ya. Gue udah ada janji sama Taufan." kata Shania sambil memakai tasnya lalu melangkah jenjang keluar dari kelas.
"Makasih ya, Shan." teriak Devi karena Shania kian menjauh.
Shania segera berlari menuju taman yang berada tak jauh dari sekolahnya, seusai tempat janjiannya dengan Taufan. Tapi setelah dia sampai, ternyata Taufan sudah tidak ada di sana. Dia mencarinya berkeliling taman tapi tak juga menemukan Taufan.
Akhirnya Shania pun duduk di bangku taman sambil mengatur napasnya karena lelah berlari. Dia mengambil ponsel yang ada di sakunya dan melihat beberapa chat yang masuk dari Taufan yang tidak dia buka sedari tadi.
Shan, lo dimana sih?
Lama banget. Gue udah nungguin lo dari tadi.
Shania segera membalas chat dari Taufan itu.
^^^Sorry gue baru datang sekarang. Barusan habis bantuin Devi di kelas. Lo dimana? Sekarang gue udah di taman.^^^
Sampai beberapa saat Taufan tak juga membalasnya, bahkan pesannya pun masih centang dua abu. Apakah Taufan begitu marah padanya sampai dia meninggalkannya tanpa pesan? Shania menghela napas panjang. "Oke, gue akan tungguin lo di sini sampai lo datang."
Sifat Shania yang keras kepala membuatnya masih kekeh terus menunggu Taufan. Padahal belum tentu Taufan mengingatnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments