BAB 14

"Aaarrggghh!" Adrian berlari menaiki tangga sambil terus memegang dadanya yang terasa semakin sesak. Kini dia sampai di atap sekolah dan berjalan gontai

Sekuat tenaga dia menahan dirinya agar tidak berubah. "Aaarrrggghhh. Apa yang terjadi sama gue? Kenapa gue merasa kayak gini? Kenapa gue gak bisa nahan diri saat di dekat Shania? Gue begitu ingin memangsa Shania. Gue udah gila!" Napas Adrian semakin memburu dan sekujur tubuhnya pun terasa begitu sakit.

"Gue... Gue harus bisa nahan diri. Gue harus bisa nahan diri gue!!" Adrian berjuang sekuat tenaga melawan gen serigala yang terus bereaksi di tubuhnya. Sampai tubuhnya terasa lemas dan sakit itu perlahan hilang.

Adrian kini terduduk dengan lemas sambil menangkup kakinya. "Apa yang terjadi sama diri gue. Gue gak mau jadi manusia serigala kayak gini!!!" Teriak Adrian melampiaskan rasa kesal pada dirinya sendiri. Napasnya sudah tak menentu bahkan air matanya mulai merembes dari pelupuk matanya.

"Ian..."

Adrian tersentak kaget saat ada tangan yang memegang pundaknya.

Adrian mengusap air matanya dan menoleh memastikan siapa yang datang. "Aura, kenapa lo bisa tahu kalau gue ada di sini?" Adrian melihat Aura sesaat lalu mengalihkan pandangannya kembali.

Aura duduk di sebelah Adrian dan menatapnya. "Gue bisa ngerti apa yang lo rasain."

Adrian tak merespon perkataan Aura. Dia sedang galau setengah mati memikirkan dirinya. Tapi kini Adrian menghirup udara begitu dalam hingga dia menyadari aroma tubuh Aura yang berbeda. Dia tak mencium aroma darah yang mengalir. "Lo siapa sebenarnya?" tanya Adrian lagi tanpa menatap Aura.

Aura hanya terdiam. Yah, tentu saja Adrian pasti tahu siapa dirinya karena penciuman Adrian yang berubah menjadi sangat tajam.

"Gue gak mencium darah di tubuh lo. Apa lo vampir yang gak mempunyai jantung dan aliran darah." Adrian masih tetap dalam tatapan kosongnya tanpa menoleh Aura.

"Iya. Tebakan lo benar. Lo tahu, ada banyak makhluk di dunia ini. Jadi, lo jangan sedih kayak gini. Lo jangan pernah putus asa." kata Aura.

"Gimana gue gak sedih dengan diri gue. Tiba-tiba gue berubah menjadi binatang buas. Benar-benar di luar akal sehat dan ini sangat mengerikan." Adrian menghela napas panjang lagi. "Dan entah kenapa gue gak bisa nahan diri gue saat di dekat Shania. Gue hampir aja membunuh dia. Gue bener-bener gak bisa hidup kayak gini." Adrian mengepalkan tangannya dan memukul dengan keras atap sekolah yang kokoh itu hingga tercetak kepalan tangannya.

"Ini udah takdir. Lo gak bisa merubah takdir ini." Perlahan Aura memberanikan diri untuk mengusap pundak Adrian.

Tapi tiba-tiba Adrian menoleh dan menatap tajam Aura. Dia teringat sesuatu. "Kalau lo vampir berarti Edo juga vampir?"

Aura hanya mengangguk pelan.

"Pantas aja Edo sangat membenci gue dan mungkin tujuan Edo sama lo ke sini untuk membunuh gue. Meskipun gue gak tahu kenapa tapi gue rela kalian bunuh gue biar gue gak menyakiti Shania."

"Ian, lo ngomong apa sih. Lo gak mungkin menyakiti Shania karena lo udah ditakdirkan untuk saling mencintai dari 1000 tahun yang lalu."

"1000 tahun yang lalu?" Adrian mengernyitkan dahinya. Apa iya dia pernah hidup di 1000 tahun yang lalu?

"Ya, mungkin lo belum ingat tentang masa lalu lo sebagai Pangeran Leon." Aura mencari sesuatu di dalam tasnya. Dia memberikan sepasang gelang pada Adrian. "Ini gelang dulu adalah milik Pangeran Leon dan Putri Amora. Gelang berinisial A ini punya lo yang berarti Amora dan L, ini lo kasih ke Shania. L itu adalah Pangeran Leon dan itu adalah lo yang dulunya adalah putra dari raja serigala, Raja Erros. Gue yakin setelah lo pakai gelang ini, perlahan lo pasti ingat masa lalu lo." Aura menjelaskan semuanya. Dia tersenyum pahit karena dia tahu, Adrian jelas tak mungkin mengingatnya. Kenangannya bersama Pangeran Leon hanyalah secuil saja.

Adrian masih terus menatap dua gelang itu. Apa semuanya bisa terkuak hanya dengan memakai gelang itu?

"Yan, bentar lagi masuk. Kita ke kelas aja yuk." ajak Aura.

Adrian berpikir sejenak lalu menganggukkan kepalanya. Mereka berdiri dan pelahan, kali ini tanpa melesat mereka menuruni anak tangga menuju kelas mereka.

...***...

Shania masuk ke dalam kelas setelah berputar mencari Adrian. Dia kini melihat Adrian yang sudah duduk di bangkunya. Senyuman pun mengembang di bibirnya karena sedari tadi dia sangat mengkhawatirkan keadaan Adrian. Shania langsung berlari menghampiri Adrian dan meraih tangannya lalu menggenggamnya dengan erat. Meski tangan Shania terasa hangat tapi Adrian dengan cepat menarik tangannya. Lagi-lagi dia menangkup hidung dan mulutnya.

"Ian lo kenapa sih? Lo sakit? Kenapa lo pucat banget?" segala pertanyaan khawatir Shania muncul. Dia menyentuh kening Adrian untuk memastikan suhu badannya. Tapi Adrian justru menyingkirkan tangan Shania dari keningnya.

"Lo gak usah khawatir sama gue." kata Adrian yang masih menutup mulutnya.

"Tapi Yan, elo..."

Adrian langsung membuka mulutnya dan dengan keras dia membentak Shania. "Udah gue bilang lo gak usah khawatir sama gue! Lebih baik lo sekarang jauhin gue! Jangan pernah deket-deket sama gue lagi!!" suara Adrian menggema di seluruh ruang kelas hingga membuat seluruh perhatian tertuju padanya.

Air mata Shania langsung mengalir. Selama ini dia tidak pernah sama sekali diperlakukan Adrian seperti ini. Tanpa berkata apa-apa lagi Shania membalikkan badan dan keluar dari kelas.

"Ian lo udah gak waras?" Dika benar-benar tidak menyangka dengan apa yang dikatakan Adrian barusan. "Gue kira semalam lo jadian sama Shania tapi kenapa lo malah berantem?"

Adrian tak menggubris lagi perkataan Dika. Dia berdiri dan mengambil tasnya. Kemudian dengan langkah cepatnya dia keluar dari kelas.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!