"Edo, tahan emosi lo. Jangan sampai yang lain curiga sama kita."
Edo tak mendengar perkataan Aura. Dia justru menghampiri Adrian dengan langkah cepatnya. Dengan sengaja Edo menyenggol punggung Adrian.
Seketika Adrian menghentikan nyanyiannya dan menatap Edo. "Ada apa?" tanyanya.
Aura segera menyusul Edo dan menenangkan suasana. "Maaf yah, kita datangnya telat tapi belum terlambat banget kan."
"Iya gak papa. Thanks yah udah datang." kata Adrian. Meski sebenarnya dia cukup kesal dengan Edo.
"Iya, selamat ulang tahun yah." Aura mengulurkan tagannya yang dibalas okeh Adrian sambil tersenyum.
"Thanks."
Aura sedikit menyenggol lengan Edo agar bersalaman dengan Adrian. Untuk menjaga suasana, akhirnya Edo dengan terpaksa mau bersalaman dengan Adrian. Tanpa berkata apapun, Edo justru mencengkeram tangan Adrian dengan erat hingga Adrian meringis kesakitan. Edo kini menatap Adrian dengan tatapan tajam. Bola mata Edo berubah menjadi merah dan bercahaya. Adrian mengerjapkan matanya tak percaya dengan apa yang dia lihat. Ini sudah kedua kalinya dia melihat mata merah Edo.
Menyadari itu, Aura segera menarik Edo agar menjauh.
Adrian masih berdiri mematung. Makhluk apa dia sebenarnya? Apa dia bukan manusia? Dalam hati Adrian terus bertanya-tanya.
Bagaimana mungkin ada makhluk lain selain manusia di tempat ini.
...***...
Selesai acara, Shania duduk di bangku taman belakang rumahnya menunggu seseorang yang tengah membuat janji dengannya. Sambil sesekali tersenyum sendiri seperti para remaja pada umumnya yang sedang merasakan kasmaran. Dia terus membayangkan apa yang akan dikatakan Adrian padanya. Apakah Adrian akan mengatakan cinta?
Tiba-tiba ada yang menutup kedua matanya. "Ian." Nayla melepaskan tangan Adrian. Ya, tentu saja siapa lagi kalau bukan Adrian.
"Eh, kok tahu." kata Adrian lalu duduk di samping Shania.
"Emang mau siapa lagi. Kan yang buat janji sama gue cuma elo."
Adrian pun tersenyum manis, rasanya dia ingin mengungkapkan semua perasaannya pada Shania saat itu juga tapi dia harus menata dulu detak jantungnya yang kian maraton.
Adrian berdiri dan sedikit berjalan menatap langit malam itu yang penuh dengan bintang serta bulan yang bulat penuh bersembunyi di bailik awan hitam.
Shania hanya tersenyum menatap tingkah Adrian. Apalagi saat Adrian duduk di rerumputan lalu membaringkan tubuhnya agar lebih leluasa menatap langit malam itu. "Shan, sini deh. Langit begitu dekat seperti ada di depan mata gue."
Shania mengikuti perkataan Adrian. Dia berjalan mendekat lalu ikut berbaring di samping Adrian dengan menindih lengan Adrian yang terlentang di lehernya. Senyum Shania seketika mengembang menatap keindahan langit malam itu. Menatap langit dengan hamparan bintang yang luas seperti hanya ada jarak sejengkal dari depan mata mereka.
Kini Adrian sudah mengalihkan pandangannya dari langit. Dia melihat sosok gadis cantik yang ada di sampingnya. Dia terus menatap Shania sampai Shania menyadari tatapan mata Adrian.
Shania kini juga menatap Adrian.
Tatapan mereka sama-sama memancarkan cinta. Untunglah detak jantung mereka tidak bisa di loudspeaker. Meskipun detaknya begitu cepat dan keras mereka tak bisa saling mendengarkan satu sama lain.
Adrian sedikit memiringkan badannya agar bisa lebih leluasa menatap Shania. Tanpa ada sepatah katapun Adrian mengusap lembut pipi Shania. Meski hanya lewat tatapan dan bahasa tubuh mereka bisa merasakan cinta mereka.
Mereka saling tersenyum tipis. Hembusan angin malam yang sepoi-sepoi begitu terasa memabukkan. Wajah mereka semakin dekat seperti ada magnet yang begitu hebat menarik dua kutub yang berbeda. Tinggal beberapa centi lagi bibir mereka saling bersentuhan. Shania memejamkan matanya seperti tak menolak apa yang akan dilakukan Adrian.
Shania menarik pelan napasnya yang hampir sesak saat bibir dingin itu berhasil menyentuh bibirnya. Terasa kenyal, hangat dan basah. Ciuman yang terasa begitu kaku dan ragu-ragu untuk memulainya.
Ian ternyata ciuman pertama gue justru sama lo. Sumpah, gue bingung. Bagaimana caranya?
Hati Shania berkecamuk sambil merasakan indera pengecap Adrian yang telah berhasil membuka mulutnya.
Shan, apa yang gue lakuin sama lo saat ini berasa mimpi. Jadi seperti ini rasanya ciuman itu. Rasanya seperti tidak ada oksigen lagi untuk bernapas.
Adrian semakin memberanikan diri memagut bibir Shania. Meskipun belum ada balasan sam sekali dari Shania, rasa panas telah menjalari tubuh mereka.
Cukup lama hingga akhirnya Shania mencoba membalas pagutan itu tapi...
"Au.." pekik Adrian yang membuatnya melepaskan ciumannya.
Shania justru menggigit bibir bawah Adrian hingga ciuman itu terlepas. "Eh, maaf, Yan." kata Shania sambil menutup wajahnya dengan tangan karena malu dengan hal bodoh yang dia lakukan tanpa sadar barusan.
"Kok malah lo gigit?" Adrian tersenyum kecil sambil menggigit kecil lagi bibir bawahnya yang merah. Lalu Adrian duduk dan menarik tangan Shania agar duduk di hadapannya.
"Maaf, gue... " Shania bingung harus bicara apa.
"Maafin gue. Gue kelepasan barusan." kata Adrian memotong ucapan Shania. Dia menarik napas panjang untuk menstabilakn pernapasannya.
"Iya gak papa kok." Shania lagi-lagi hanya bisa tersenyum menatap Adrian dengan mata yang berbinar. "You are so spesial, Yan."
"Apalagi lo, Shan. Lo segalanya buat gue." Kemudian Adrian menggenggam kedua tangan Shania. "Hmm.. Shan, gue... Sebenarnya gue cinta sama lo. Sejak lama gue ingin merubah status kita dari sahabat menjadi pacar. Itupun kalau lo mau jadi pacar gue. Apa lo juga cinta sama gue?"
Shania terpaku beberapa saat. Tiba-tiba saja bibirnya terasa berat untuk bersuara. "Gue juga.."
Belum selesai Shania menjawab tiba-tiba Adrian meronta kesakitan.
"Aaarrrrghh!!!" Adrian memegang dadanya sambil mendongak menatap bulan purnama yang bulat penuh tepat berada di atas kepalanya dan sudah tanpa awan hitam yang menghalangi.
"Aarrrggghhh..." teriaknya lagi. Dia semakin merasa kesakitan di seluruh tubuhnya. Otot-ototnya terasa begitu kaku. Tubuhnya terasa panas seperti ada sesuatu yang akan meledak di dalam dirinya.
"Ian... Ian lo kenapa?" Shania begitu khawatir dan memegang kedua pundak Adrian berusaha untuk menenangkannya.
Adrian justru menatap tajam Shania. Ini bukan tatapan Adrian melainkan ada sesuatu yang telah merasuki dirinya yang membuat Shania bergidik ngeri.
Adrian sedikit mendorong tubuh Shania agar melepaskan genggaman tangannya. Lalu dia berdiri dan berlari meninggalkan Shania dengan memegang dadanya.
Shania pun berdiri dan menatap kepergian Adrian dengan mata nanarnya. "Adrian lo kenapa? Gue juga cinta sama lo, Yan. Gue juga cinta sama lo." ulang Shania sampai beberapa kali. "Gue ingin bilang itu sama lo. tapi kenapa lo tiba-tiba kesakitan kayak gini. Gue khawatir banget sama lo." Ingin dia menyusul Adrian tapi Shania urungkan niatnya. Perlahan Shania membalikkan badannya dan masuk ke dalam rumahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments