"Capek juga habis futsal. Sekarang on the way pulang." kata Adrian sambil naik ke atas motor sport kesayangannya. Beberapa saat kemudian motor itu telah melaju meninggalkan tempat futsal.
"Taufan!" Adrian langsung menghentikan motornya saat melihat Taufan berjalan dengan seorang gadis di pinggir jalan. Mereka berjalan dengan mesra lalu masuk ke dalam sebuah cafe. "Benar-benar cowok brengsek!" Adrian begitu geram. Dia segera turun dari motornya dan berjalan dengan cepat menyusul Taufan.
Adrian langsung menarik jaket Taufan saat telah berhasil menyusulnya. Taufan langsung membalikkan badannya dan saat itu juga satu pukulan keras mendarat di pipi kiri Taufan hingga badan Taufan terhuyung ke belakang.
Taufan meringis kesakitan sambil memegang pipinya. Saat Adrian akan mendaratkan pukulannya yang kedua, Taufan segera menepisnya. "Ian, lo apa-apaan!"
"Lo yang apa-apaan. Bukannya lo janjian sama Shania. Kenapa lo sekarang bisa jalan bareng sama cewek lain di sini."
"Taufan, Shania itu siapa?" tanya gadis yang ada di sebelah Taufan.
"Dia bukan siapa-siapa gue. Dia cuma ngefans saja sama gue." jawab Taufan.
Jawaban Taufan semakin membuat Adrian geram. "Mulai sekarang lo jangan pernah deketin Shania lagi. Kalau lo berani deketin dia lagi, lo berurusan sama gue!!" ancam Adrian. Kemudian dia segera berlalu meninggalkan Taufan. Dengan terburu-buru dia menaiki motornya.
"Shania pasti sekarang masih menunggu Taufan di taman. Gue harus ke sana sekarang." Adrian melajukan motornya dengan kencang karena hari juga sudah mulai gelap.
Adrian kini menghentikan motornya di depan sebuah taman. Dia turun dari motornya dan segera berlari mencari Shania. Jelas saja Shania masih duduk dengan antengnya di bangku taman sambil melipat tangannya. Adrian hanya menggelengkan kepalanya melihat betapa kerasnya Shania menunggu Taufan. Seseorang yang tidak pantas untuk ditunggu.
Secara perlahan Adrian berjalan mendekat. Shan," Adrian menepuk pundak Shania dan membuyarkan lamunannya. Seketika Shania beralih menatap Adrian.
"Ian..." Shania berdiri dan langsung memeluk Adrian. Jujur saja dia merasa lelah dan kesal hari itu.
"Shan, lo ngapain nungguin Taufan sampai sore gini." Adrian mengusap punggung Shania yang bergetar agar dia bisa tenang.
"Gue yang salah, Yan. Gue telat datangnya."
"Shan, asal lo tahu, seorang lelaki yang benar-benar cinta sama lo, dia bakal rela nungguin lo selama apapun itu." Adrian melepas pelukannya lalu memegang kedua pipi Shania agar Shania yakin. "Mulai sekarang lo jangan pernah mikirin Taufan lagi. Dia itu cuma cowok brengsek yang mainin hati lo aja."
"Lo tahu darimana soal Taufan?" tanya Shania sambil mengerutkan dahinya.
"Gak penting gue tahu darimana, yang jelas gue gak mau lo sakit hati. Lo pasti bisa ngerasain mana cowok benar-benar tulus menyayangi lo. Kita pulang yuk, nyokap lo pasti khawatir di rumah." ajak Adrian sambil menggandeng tangan Shania.
Shania hanya mengangguk pelan. Dia mengikuti langkah Adrian yang berjalan menuntunnya.
Setelah mereka mengendarai motor, tak butuh waktu lama Adrian sudah mulai melajukan motornya.
Shan, lo gak pantas nangisin cowok sebrengsek Taufan. Andai lo tahu betapa gue mencintai lo. Betapa gue menyayangi lo. Gue bener-bener gak mau lihat lo sakit hati. Gue janji, gue akan bahagiain lo semampu gue.
Hati Adrian terus berkecamuk sambil pandangan tetap lurus ke depan. Dia merasakan hangatnya pelukan Shania di punggungnya yang diterpa angin dingin sore itu karena rintik hujan yang juga mulai turun.
Sesampainya di depan rumah mereka, Shania turun dari motor tapi dia masih saja berdiri menatap Adrian, bahkan sampai Adrian memutar motornya dan menghentikan motornya di depan teras rumahnya.
Adrian kini melepas helmnya dan berjalan menghampiri Shania yang masih saja berdiri mematung.
"Lo kenapa gak masuk? Gerimis, ntar lo sakit." kata Adrian sambil memegang kedua pundak Shania.
Shania hanya menggelengkan kepalanya dan terdiam menatap Adrian dengan mata nanarnya.
"Shan, gue tahu apa yang ada difikiran lo. Lo pasti bisa merasakan, mana cowok yang benar-benar sayang sama lo, cowok yang selalu ada buat lo, dan yang paling penting dia harus selalu bisa jagain lo, gak buat lo menangis dan sakit hati kayak gini." Adrian tersenyum sambil mengusap puncak kepala Shania. Kemudian Adrian membalikkan badannya dan berjalan lagi menuju rumahnya.
Lagi-lagi Shania masih tetap berdiri mematung dan menatap Adrian.
Yan, gue tahu. Gue bisa merasakan. Cowok yang lo maksud itu adalah lo. Please, lo balik badan sekarang dan kembali.
Seperti mendengar suara hati Shania, Adrian pun menoleh lalu dia membalikkan badannya dan berjalan kembali mendekati Shania. "Shan, ngapain masih berdiri di sini? Apa perlu gue gendong masuk ke dalam seperti waktu kita masih kecil." kata Adrian sambil tersenyum kecil.
"Yan, boleh gue peluk lo." ucap Shania dengan tatapan yang berbeda dari biasanya. Dia menatap sendu Adrian.
Adrian hanya terdiam dan menatap Shanja. Tapi sedetik kemudian, dia membentangkan kedua tangannya pertanda Shania boleh memeluknya.
Shania langsung memeluk Adrian dengan erat. Dia tenggelamkan wajahnya di dada bidang Adrian untuk merasakan nyamannya pelukan Adrian.
Adrian juga mempererat pelukannya. Pelukan yang berbeda dari biasanya, bukan pelukan yang memiliki arti sahabat tapi pelukan dengan penuh rasa cinta. Entah memang karena suasana hujan gerimis malam itu yang membuat suasana berbeda atau karena perasaan mereka.
"Yan, gue sayang sama lo. Gue sayang banget sama lo." kata Shania yang masih berada dalam dekapan Adrian.
Adrian menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya yang kian berlomba. Mereka memejamkan mata sesaat menikmati hangatnya pelukan itu. Sebelum akhirnya Adrian mulai berbicara. "Iya, gue tahu kok kalau lo sayang sama gue sebagai sahabat, gak lebih. Tapi asal lo tahu..." Adrian menghentikan kata-katanya.
Shannia kini sedikit mendongak menatap kedua mata Adrian dan menanti apa yang akan dikatakannya.
Adrian pun begitu dalam menatap kedua mata Shania. "Dari dalam hati gue, gue ingin anggap lo sebagai kekasih gue, bukan sahabat. Meskipun gue tahu lo gak akan pernah mau mengubah status kita." Adrian tersenyum pahit menatap Shania lalu perlahan dia melepaskan pelukannya dan berjalan menjauhi Shania, memasuki rumahnya.
Shania sempat terpaku mendengar kata-kata Adrian. Dia sadar jika Adrian memiliki semua perasaan itu, jadi selama ini betapa sakit hati yang Adrian rasakan. Dia pendam semua perasaannya dan seperti tidak terjadi apa-apa. Dia tekan dalam-dalam rasa cemburunya dan tertawa lebar dengan humor-humornya bersama Shania. Sebesar itukah hati Adrian untuk Shania.
Shania tak kuasa lagi menahan setetes air matanya. Lalu dia berjalan dengan lemas masuk ke dalam rumahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments