Adrian berlari di pinggir jalan yang telah sepi. Dia begitu menyesal dengan apa yang akan dilakukannya pada Shania barusan. Hampir saja dia membunuh Shania.
"Dan untuk kedua kalinya gue hampir melukai Shania..." Adrian teramat kecewa dengan dirinya sendiri.
Tiba-tiba ada seseorang yang menarik kaosnya dengan keras dan membuat Adrian menghentikan langkahnya. Mereka saling bertatap tajam dengan sorot mata merah dan memamerkan taring tajam mereka
"Mau apa lo?" tanya Adrian.
"Elo barusan hampir saja membunuh Shania." Edo semakin menyeringai menunjukkan keganasannya.
"Ini bukan mau gue. Gue gak mau kayak gini!" teriak Adrian.
Bughhh!!!
Tiba-tiba saja Edo memukul Adrian dengan keras sampai membuat Adrian jatuh tersungkur.
Adrian mengepalkan tangannya. Dia bangkit. Dia kembali seperti kerasukan. Matanya semakin merah membara. Taringnya pun terlihat semakin tajam.
Adrian menarik krah jaket Edo dan berancang-ancang medaratkan pukulannya tapi entah kenapa Adrian tiba-tiba menghentikan aksinya.
"Kenapa lo gak pukul gue! Lo pukul aja gue! Gue tahu kekuatan yang ada di diri lo sangat besar." tantang Edo.
Adrian hanya terdiam dengan napas tidak teraturnya.
Edo pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia langsung mendaratkan pukulannya dengan keras di pipi Adrian sampai Adrian mengeluarkan darah di ujung bibirnya.
"Gue gak akan lawan lo! lo bunuh gue aja sekalian! Buat apa gue hidup kalau gue cuma membahayakan hidup Shania." Adrian berteriak di hadapan Edo dengan segala rasa kecewanya.
"Oke, kalau ini mau lo. Gue gak perlu buang-buang tenaga gue terlalu banyak untuk membunuh lo." Edo memukul Adrian lagi dengan keras sampai Adrian jatuh tersungkur. Edo berjalan mendekat. Menarik kaos Adrian dan menguncinya hingga Adrian tidak bisa berkutik. Edo bersiap-siap untuk memukul Adrian lagi tapi tiba-tiba ada yang mendorong tubuhnya dengan keras hingga dia menjauh dari Adrian.
"Ken! Ini bukan urusan lo!" Edo begitu geram melihat Ken yang melindungi Adrian.
"Gue panglima perang dari kerajaan serigala sekaligus sahabat Pangeran Leon akan setia melindungi Pangeran Leon meski nyawa sebagai taruhannya."
"Lo pikir kekuatan lo masih ada. Lo bukan tandingan gue!" Edo mendekati Ken dan saling bertatap tajam.
Adrian dengan sekuat tenaga berdiri dan mendorong Ken agar menjauh dari Edo. "Ken, lo sebaiknya pergi. Lo gak usah ngelindungi gue. Biarin Edo membunuh gue karena itu jalan yang terbaik tanpa harus menyakiti siapapun."
"Ian, lo jangan pernah putus asa. Lo punya kekuatan yang lebih besar dari Edo." Ken memegang kedua pundak Adrian meyakinkannya bahwa dia mempunyai kekuatan yang sangat besar, jauh lebih besar daripada Edo.
Adrian menggelengkan kepalanya tanda penolakan. "Buat apa gue pakai kekuatan yang tidak ingin gue miliki. Gue ingin menjadi manusia normal, bukan seperti ini."
"Drama macam apa ini." Edo mulai menyerang mereka lagi.
"Edo hentikan!" Teriak Aura menghentikan perkelahian itu. "Udah berapa kali gue bilang, lo jangan turuti emosi lo."
"Ini misi kita untuk datang ke sini. Lo kenapa cegah gue? Lo tahu, Adrian sudah hampir dua kali gigit Putri Amora."
"Edo, tapi gue yakin Ian bisa menahan dirinya." Aura masih terus membela dan melindungi Adrian.
"Iya sekarang!" Edo dan Aura lagi-lagi mulai berseteru. "Tapi besok, atau mungkin lusa gimana kalau Adrian berhasil mengigit Shania tanpa sepengetahuan kita."
"Gue percaya sama Ian. Dia gak mungkin ngelakuin itu."
"Aura gue tahu lo ngelindungi Adrian karena lo masih cinta sama Pangeran Leon yang sekarang menjelma dalam diri Adrian. Iya kan?" kata Edo yang membuat Aura melebarkan matanya begitu juga dengan Adrian. Cinta?
"Edo, kita sudah sepakat untuk tidak membahas lagi soal perasaan." Aura menarik tangan Edo dan membawanya melesat menjauh dari Adrian dan Ken.
Adrian masih berdiri mematung sambil memegang dadanya yang terasa sakit. Dia berusaha mencerna arti perkataan Edo tentang Aura. Cinta? Apa benar Aura masih mencintai Pangeran Leon walau raganya sudah berbeda.
...***...
"Ian..." Shania tersenyum saat dia melihat Adrian sedang berjalan di lorong kelas. Shania segera mempercepat langkahnya untuk menghampiri Adrian. "Ian..." panggil Shania lagi yang membuat langkah Adrian terhenti.
Adrian membalikkan badanya. Shania sedikit terkejut melihat wajah Adrian yang nampak memar membiru. "Yan, lo kenapa? Lo habis berantem?" Perlahan Shania ingin menyentuh luka Adrian untuk mengusapnya tapi Adrian dengan cepat memegang tangan Shania untuk mencegahnya.
Shania melihat tangan Adrian yang memegangnya. Gelang? Dia kini melihat gelang yang melingkar di tangan Adrian. Dia teringat dengan gelang yang ditemukan di kamarnya semalam. Sama persis dengan yang Adrian pakai. "Yan, itu..." belum sempat Shania bertanya, Aura datang menghampiri Adrian.
"Yan.." mendengar suara Aura, Adrian langsung melepaskan pegangan tangannya pada Shania. "Lo gak papa kan?" tanya Aura lagi.
"Iya gue gak papa. Makasih yah semalam." kata Adrian.
Bagai tersambar petir di siang bolong. Apa maksud dari perkataan Aura? Sejak kapan Adrian begitu akrab dengan Aura. Apa Aura adalah gadis pilihan Adrian? Lalu apa maksud perkataan cintanya padanya dulu?
Perasaan Shania benar-benar terasa di gantung di atas tiang yang tinggi.
"Gue mau bicara sama lo." kata Aura yang sepertinya ingin mengajak Adrian berbicara berdua.
Tanpa sengaja Shania menatap Aura. Aura tahu apa maksud tatapan itu. "Hmm... Shan, maaf gue mau bicara berdua sama Ian, sebentar aja." kata Aura sedikit gugup.
"Iya gak papa. Gue juga mau ke kelas kok." Lain di mulut lain di hati. Shania sebenarnya tidak rela. Dengan terpaksa dia membalikkan badannya dan meninggalkan mereka berdua.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments