BAB 13

Ada aroma yang tiba-tiba membuat Adrian mabuk kepayang. Dia begitu terlena seperti tidak bisa menahan aroma itu. Adrian mulai mengendus lagi. Hasrat ingin memangsa didirinya seolah datang dan tidak bisa dia tahan

"Yan, lo kenapa sih dari tadi kayak mendesis gitu?" tanya Shania yang sedang duduk anteng di boncengan Adrian.

"Gak tahu nih. Kayak ada gangguan sama penciuman gue." Adrian berulang kali menekan hidungnya dengan sebelah tangannya agar penciumannya kembali normal.

"Lo kalau sakit istirahat dulu di rumah jangan paksain buat masuk sekolah." kata Shania yang mulai khawatir dengan kondisi Adrian.

"Gue gak papa, Shan." kata Adrian lagi sambil menghentikan motornya di tempat parkir sekolah karena mereka telah sampai.

Shania kini turun dari motor Adrian dan berdiri membelakangi Adrian saat Adrian mengunci motornya.

Ternyata ini aroma tubuh Shania...

Adrian menghirup napas dalam. Dia semakin mendekatkan dirinya di belakang Shania. Mencium aroma tubuh Shania di tengkuk lehernya.

Dia terus menghirup aroma memabukkan itu. Pupil matanya tiba-tiba berubah menjadi warna merah menyala. Adrian membuka mulutnya lebar, gigi taringnya pun memanjang dan begitu tajam. Dia ingin menggigit leher Shania dan mencabiknya. Tinggal satu centi lagi taring tajam Adrian akan berhasil mengoyak leher Shania.

Tiba-tiba Edo datang dan langsung mendorong tubuh Adrian dengan keras sampai badannya terpental ke tanah.

Kini tangan kiri Adrian menutup hidung dan mulutnya sedangkan tangan kanannya memegang dadanya yang terasa sangat sesak. Badannya kembali terasa sangat sakit dan memanas.

Kejadian itu begitu cepat yang membuat Shania seketika menoleh ke belakang. "Edo, lo apa- apaan sih. Lo ngapain dorong Ian keras banget gitu!" Shania membungkukkan badannya dan akan menolong Adrian tapi tangan Shania ditarik Edo agar dia tidak menolong Adrian.

"Jangan mendekat, Shan. Bahaya banget. Ian yang sekarang bukan Ian yang dulu. Dia udah berubah." kata Edo. Shania jelas tak percaya dengan perkataan Edo.

"Apa lo bilang? Bahaya? Lo gila!" Shania menarik tangannya dan langsung berjongkok di sisi Adrian. "Lo gak papa, Yan?" tanya Shania sambil memegang pundak Adrian tapi Adrian justru menghindar.

"Lo gak usah khawatirin gue." kata Adrian sedikit membentak Shania. Dia masih menangkup hidung dan mulutnya. Adrian dengan cepat berdiri dan berlari meninggalkan Shania.

Saat berlari pun dia masih saja memegangi dadanya yang sangat sesak.

"Ian!" Shania pun ikut berlari mengejarnya tapi sia-sia. Adrian begitu cepat berlari bahkan dia tidak tahu ke arah mana Adrian berlari. "Ian lo kenapa sih?" mata Shania pun kini berkaca-kaca. Dia begitu khawatir dengan keadaan Adrian. Sejak semalam Adrian berubah seperti ini. Apa yang sebnarnya terjadi? Apa Adrian punya penyakit serius?

Shania tidak sadar bahwa Edo telah mengikutinya. Edo menepuk pundak Shania yang membuat Shania langsung menoleh ke arahnya.

"Lo kenapa ikutin gue?" tanya Shania

"Nay, ada banyak hal yang lo gak tahu." kata Edo. "Gue cuma gak mau lo kenapa-napa kalau dekat sama Adrian."

"Makasih sebelumnya lo udah khawatir sama gue. Ian itu sahabat gue dari kecil, dia gak mungkin nyakitin gue." lalu Shania berbalik dan meninggalkan Edo.

"Shan, suatu saat lo pasti akan tahu apa maksud kekhawatiran gue." teriak Edo yang sempat menghentikan langkah Shania sesaat. Shania tak terpengaruh lagi oleh Edo. Dia pergi tanpa berbalik arah lagi.

"Edo..." Aura datang dan melihat ekspresi tegang Edo. "Apa yang terjadi?"

"Pangeran Leon telah kembali." jawab Edo begitu serius.

"Pangeran Leon?" Aura menghirup udara cukup dalam dan mengendus bau tubuh Adrian untuk mencari arah kepergiannya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!