Shan, gue udah buat lo nangis. Gue udah buat lo sakit hati dan kecewa. Gue gak mau seperti ini. Tapi gue gak tahu bagaimana caranya biar kejadian tadi pagi gak terulang lagi. Apa gue harus jauhin lo. Yah, kalau lo gak mau jauhin gue, gue yang akan jauhin lo.
Saat itu Adrian tengah berdiri di depan toilet, melihat sekilas Shania yang sedang menangis. Rasa bersalah pun muncul begitu dalam di hatinya. Tentu saja selama ini Adrian tidak pernah membuat Shania menangis sampai seperti ini. Mungkin saat ini Shania berpikir kalau Adrian adalah cowok yang brengsek setelah apa yang dia lakukan semalam tapi sekarang Adrian justru menjauhi Shania.
Adrian pun membalikkan badannya. Tak disangka ada Devi yang berada tepat di belakangnya sampai hampir tertabrak.
"Yan..." Adrian langsung membekap mulut Devi agar dia tidak berteriak. Dengan sedikit memaksa Adrian menarik Devi menjauh dari toilet. "Ian lo apa-apaan sih?" tanya Devi saat Adrian sudah melepaskan bekapan tangannya.
"Ssssttt.. Lo jangan teriak-teriak."
"Lo kenapa marah sama Shania. Tumbenan banget lo. Gue kira tadi malem lo udah jadian sama Shania. Yah, tapi ada senengnya juga sih, jadi kan lo belum jadi hak milik Shania. Gue ada kesempatan dong."
"Kesempatan?" Adrian mengernyitkan dahinya. Kalau bukan dia mau titip pesan pada Devi, Adrian gak akan mau bicara berlama-lama dengan Devi. "Lebih baik lo sekarang masuk ke dalam toilet, lo hibur Shania. Gue minta tolong banget sama lo."
"Tanpa lo suruh pun gue juga ngerti. Tapi sebenarnya lo ada masalah apa sih, kenapa tiba-tiba lo berubah sama Shania?" tanya Devi, jiwa keponya meronta.
"Ini semua demi Shania.." jawab Adrian singkat lalu dia membalikkan badannya dan berjalan pergi meninggalkan Devi.
Meski sebenarnya Devi belum mengerti apa alasan Adrian, dia langsung masuk ke dalam toilet dan berdiri di samping Shania. "Shan..." panggilnya sambil memegang pundak Shania.
"Devi.." Shania langsung memeluk Devi untuk menghilangkan rasa gundah di hatinya.
"Shan, udah lo jangan sedih. Pasti Ian punya satu alasan kenapa dia tiba-tiba kayak gini sama lo."
"Vi, selama ini Ian gak pernah bentak gue kayak gini. Emang gue salah kalau khawatir sama Ian. Gue itu peduli sama dia." Shania mengeluarkan segala kegundahannya yang masih dalam pelukan Devi.
"Mungkin Ian lagi ada masalah. Atau mungkin Ian memang lagi sakit. Lo jangan khawatir, Ian masih perhatian banget kok sama lo." kata Devi menghibur Shania.
Shania melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya mendengar perkataan Devi yang begitu yakin. "Lo tahu darimana?"
"Barusan gue ketemu Ian di depan toilet lagi liatin lo. Meskipun tatapannya beda dari biasanya. Kayaknya Ian lagi ada masalah yang berat."
"Ian? Dia sekarang dimana?"
"Dia udah pergi. Sepertinya dia bolos hari ini, soalnya gue liat barusan dia bawa tas dan berjalan ke parkiran."
Perlahan Shania berjalan keluar dari toilet sambil terus memikirkan Adrian. Selama ini Adrian tidak pernah bolos sekolah. Ada apa dengan Adrian sebenarnya?
...***...
Apa yang gue lakuin sampai gue harus bolos sekolah kayak gini. Terus gue mau kemana? Gak mungkin juga gue pulang.
Adrian mengendarai motornya pelan di jalanan. Tiba-tiba saja ada sesuatu yang dengan cepat menyeberangi jalan. Seketika Adrian menghentikan motornya. "Eh, itu apaan?" dan terlihat lagi sesuatu yang berjalan dengan cepat itu. Karena rasa ingin tahunya, Adrian melajukan motornya mengikuti kemana arahnya pergi.
Tiba di pinggiran hutan yang ada di pinggiran kota, dia berhenti. Nampak seekor serigala berjalan ke arahnya. "Haduh, serigala lagi." Adrian menggerutu, merasa kesal dengan apa yang dia temui.
Serigala itu berubah menjadi manusia. Berdiri tegak dan berjalan mendekati Adrian. Adrian hanya menyunggingkan bibirnya karena dia sudah mulai biasa dengan apa yang dia lihat. "Ternyata ada juga serigala yang wajahnya lumayan."
"Akhirnya aku ketemu sama kamu Pangeran Leon," katanya sambil meraih pundak Adrian agar bisa memeluknya. Sepertinya dia begitu kangen pada sosok Pangeran Leon.
"Lo siapa tiba-tiba peluk gue. Nama gue Adrian."
Dia melepaskan pelukannya yang membuat Adrian bisa bernafas lega. "Raga kamu boleh Adrian tapi sukma kamu Pangeran Leon. Aku sahabat kamu di masa lalu."
"Sahabat?" Adrian mengernyitkan dahinya. Haruskah dia percaya tentang suatu hal yang berada di luar akal sehat itu. Darimana Adrian tahu kalau seorang lelaki yang berdiri dihadapannya yang merupakan jelmaan dari serigala itu adalah sahabatnya.
"Oke. Oke. Kamu turun, biar aku ceritakan semua tentang kehidupan kamu di masa lalu. Kehidupan saat kamu bersahabat dengan serigala ganteng kayak aku."
Adrian hanya berdecak tapi dia pun turun dari motornya. Mereka kini duduk di atas akar pohon besar yang keluar dari tanah. "Emang lo siapa sebenarnya?" tanya Adrian.
Dia mengulurkan tangannya dan bersalaman. "Oke, kita kenalan dulu. Nama aku, eh maksudnya nama gue, biar gaul gitu pakai gue-elo kayak anak zaman sekarang. Gue Peter Kenzie."
Mendengar namanya yang seperti orang luar, Adrian menaikkan satu alisnya. "Lo serigala impor?"
"Hahaha..." Ken langsung tertawa dengan keras sambil mendorong-dorong pundak Adrian. "Emang lo pikir gue beras. Lo dari dulu tetep sama, masih suka bercanda."
"Habis nama lo gak mencerminkan ke-Indonesia-an banget."
"Iya.. Iya bercanda. Nama gue Kenzo."
"Nah, itu baru gue percaya. Namanya sama jadulnya kayak orangnya."
"Hah, gue jadul. Keren gini lo bilang jadul." Ken mengusap rambutnya sambil mengerlingkan matanya.
"Terserah apa kata lo-lah. Lo mau ketemu gue ada urusan apa, ada perlu apa dan bertujuan apa?" tanya Adrian bertubi-tubi seperti Pak RT saat kedatangan warga baru.
"Pertanyaan lo banyak banget. Gue ke sini itu di suruh baginda raja untuk nemuin lo dan ngelindungi lo. Sekalian gue juga kangen sama lo. Sejak kematian lo yang tanpa pamit ke gue." tiba-tiba Ken menjadi baper. Dia mewek dan bersandar di bahu Adrian.
Adrian mendorong kepala Ken agar tidak bersandar di bahunya. "Lo apa-apaan! Gue masih hidup, lo bilang udah mati. Dan jangan pernah nyandarin kepala lo di bahu gue ntar dikirain gue pasukan tulang lunak."
"Gue itu lagi baper. Maksud gue yang mati itu Pangeran Leon. Lo reinkarnasi dari Pangeran Leon sang pangeran serigala."
"Leon lagi. Leon lagi. Ini semua gak masuk akal banget Emang ini zamannya kera sakti?"
"Ini tuh lebih keren daripada kera sakti man. Lo emang mau salah masuk terus jadi chu pat kai." Ken tak henti-hentinya bercanda.
Adrian menjitak kepala Ken. "Lo bercanda muluk. Oke, kalau lo tahu masa lalu gue. Lo jelasin semuanya sekarang ke gue, kenapa gue bisa berubah menjadi serigala?"
"Lo lahir tepat di 1000 tahun kematian Pangeran Leon. Pangeran Leon dulu dibunuh oleh vampir, dia dibakar hidup-hidup hingga baginda raja marah besar dan beliau merasakan akan ada reinkarnasi dari Pangeran Leon di 10 abad mendatang dan ternyata itu adalah lo. Lo sekarang belum bisa mengontrol kekuatan baru lo, tapi gue yakin lo bisa menguasai kekuatan itu, karena lo itu sebenarnya adalah serigala yang kuat."
Adrian hanya manggut-manggut mendengar cerita Ken. Sebenarnya ada satu masalah yang terus mengganggu pikirannya yaitu tentang Shania. Mengapa dia begitu ingin memangsa Shania saat berada di dekatnya. "Gue ngerti, cuma yang gue gak ngerti apa bangsa serigala itu memangsa manusia?"
"Yah, gaklah. Itu dilarang dalam undang-undang pasal 1 negeri manusia serigala."
"Undang-undang? Whateverlah, maksud gue itu apa bangsa serigala tertarik dengan aroma tubuh manusia?"
Ken terdiam sejenak. "Kenapa lo nanya gitu?"
"Karena gue rasanya selalu ingin memangsa setiap gue dekat dengan Shania. Aroma tubuhnya seperti makanan yang begitu lezat. Gue gak bisa mengontrol diri gue tiap kali ada di dekatnya. Rasanya gen serigala itu bereaksi dengan kuat," cerita Adrian
"Shania?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments