Sepulang sekolah Adrian berjalan menuju tempat parkir sambil terus merogoh tasnya. "Aduh, kunci motor gue mana sih?"
"Kenapa Yan?" tanya Shania sambil mengimbangi langkahnya.
"Kunci gue gak ada. Masak iya ilang. Biasanya juga gue taruh tas," kata Adrian yang masih belum menyerah mencarinya.
"Mungkin lo lupa nyabut kali."
"Lupa?" Adrian menutup kembali tasnya dan mempercepat langkahnya yang masih diikuti oleh Shania. Dia mencari motornya di tempat parkir tapi tidak ada. "Lho, motor gue mana?" Adrian menjadi bingung karena motornya sudah raib dari tempat semula. Dia kini mengitari tempat parkir mencari motornya, mungkin saja motornya berpindah tempat. Tapi nihil kaca spionnya saja tak terlihat.
"Yan, motor lo mana?" tanya Shania yang semakin membuat Adrian panik.
"Aduh, gak tahu gue." Adrian mengacak-acak rambutnya frustasi. "Masak iya ada maling motor di sekolah? Gimana nih. Mana cicilan belum lunas lagi."
Shania mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Adrian. Masak iya, seorang putra tunggal dari pengusaha sukses kredit buat beli sepeda motor. "Itu motor kredit?"
Adrian tertawa sendiri karena Shania menganggap perkataannya serius. "Gak Shan. Biar keliatan susah gitu siapa tahu malingnya denger terus kasihan lalu balikin deh motor gue."
Shania memicingkan matanya. Mana ada sih maling kasihan. "Cari dong Yan."
"Cari kemana? Malingnya aja gak ninggalin pesen." kata Adrian yang masih saja menggaruk rambutnya yang sebenarnya tidak gatal.
"Ian mana ada sih maling ninggalin pesan. Emang pacar lo! Carilah tanya sama orang-orang yang jualan di depan-depan sana. Siapa tahu mereka lihat motor lo, atau lo lapor polisi kek."
"Temenin nyari yah," ajak Adrian sambil menarik tangan Shania.
"Ogah, gue capek. Gue mau pulang dulu yah sama Devi." Shania berjalan meninggalkan Adrian.
"Shan, lo tega banget sama gue." kata Adrian yang mulai kesal karena Shania malah pergi dengan Devi. "Aduh, apes banget sih gue hari ini. Dika mana lagi, gak keliatan batang hidungnya. Giliran dibutuhin pada ngilang semua."
...***...
Hari sudah mulai sore, nampak Adrian berjalan dengan lemas di ujung jalan rumahnya. "Aduh, capek banget gue. udah jalan kaki muter-muter, gak ketemu juga tuh motor. Nasib.. Nasib.. Mana hari udah sore lagi."
Adrian melangkah menuju teras rumahnya tapi tiba-tiba ada yang menyiramnya air dari atas. Byuurr! Hingga seluruh seragamnya basah. "Aduuuhhh.. Siapa nyiram gue pakai air. Dikira gue taneman." Adrian langsung melihat ke atas rumahnya tapi tidak ada siapa-siapa. Lalu dia bergegas masuk ke dalam rumah, tapi pintu rumahnya pun terkunci rapat.
"Bibi.. Bik.. Bukain pintunya!!" teriak Adrian sambil menggedor-gedor pintu. Tapi sepertinya tidak ada siapa-siapa di rumah.
"Ian, lo ngapain? Teriakan lo kedengeran sampai rumah." Kata Shania sambil menghampiri Adrian.
"Gue gak tahu Shan. Rumah gue sepi amat. Si bibi kemana?"
"Gue gak tahu. Loh, seragam lo kenapa basah semua? Emang hujan?" kata Shania yang pura-pura tidak mengerti.
"Barusan ada yang nyiram gue dari atas, tapi gue gak tahu siapa yang nyiram. Masak iya hantu bisa nyiram gue. Rese banget."
"Haha." Shania tertawa lebar mendengar kata-kata Adrian.
"Lo kok malah nertawain nasib sial gue." Adrian pun berlari mengejar Shania yang mulai berlari. "Kena kan lo." Dia berhasil mengejar Shania dan memeluknya dari belakang.
"Ian baju gue ikut basah nih. Ih, lepasin." kata Shania sambil berusaha melepaskan tangan Adrian.
"Biarin." Adrian semakin mengeratkan pelukannya.
"Ian!" Shania sedikit menoleh Adrian. Tak disangka wajah Adrian begitu dekat dengannya yang nyaris membuat detak jantung Shania hampir berhenti. Mereka bertatapan sejenak sebelum akhirnya Adrian perlahan melepaskan tangannya dari pinggang Shania. Seperti salah tingkah Adrian tersenyum dan menggaruk kepalanya.
Setelah detak jantung mereka stabil, Shania menarik tangan Adrian agar mengikuti langkahnya, "Yan, lo mandi di rumah gue aja yah daripada lo masuk angin. Gue ada ganti baju kok buat lo."
Mereka pun masuk ke dalam rumah Shania. Shania segera mengambil sebuah kemeja dan celana panjang untuk Adrian.
"Kok lo nyiapain baju buat gue. Lo punya baju cowok? Jangan-jangan lo sering cosplay jadi cowok ya." Adrian sedikit bingung.
"Udah gak usah banyak tanya daripada lo masuk angin. Lo mandi aja dulu, gue juga mau siap-siap." kata Shania sambil mendorong tubuh Adrian ke kamar mandi yang ada dekat dapur.
Adrian tersenyum miring sambil menatap Shania, "Siap-siap buat mandi bareng?"
"Ih, ngaco!" Shania mencubit pinggang Adrian. "Piktor mulu' lo!" Shania langsung membalikkan badannya dan berlari kecil menuju kamarnya.
"Yah, kena satu cubitan lagi," kata Adrian sambil mengusap pinggangnya. "Ini mulut memang gak bisa dijaga." Dia masuk ke dalam kamar mandi dan segera membasuh dirinya. Setelah selesai dia memakai pakaiannya.
Beberapa saat kemudian Adrian pun keluar dari kamar mandi. Dia menunggu Shania di ruang tamu. Cukup lama sampai hampir satu jam. "Shania lama banget sih. lama-lama gue susul juga nih ke kamar," gerutu Adrian.
"Ian!" panggil Shania yang tanpa sepengetahuan Adrian sudah keluar dari kamarnya.
Adrian menoleh ke arah suara itu. Bagai terhipnotis, pandangan Adrian terpaku pada penampilan Shania. Shania yang saat itu tengah memakai dress warna merah selutut dengan rambut yang tergerai seperti efek-efek di sinetron Indonesia yang membuat Adrian semakin terpesona.
"Lo mau kemana? Cantik banget." Adrian berdiri dan berjalan pelan mendekati Shania.
"Gue mau ke acara temen gue. Anterin yah," pinta Shania.
"Tapi kan lo tahu motor gue ilang. Mau anterin pakai apa?"
"Kan ada taksi Yan," jawab Shania sambil menatap Adrian yang saat ini ada di hadapannya sambil menunjukkan senyuman termanisnya. "Lo kalau diliat-liat gini ganteng juga."
Adrian pun semakin mendekatkan tubuhnya pada Shania. "Lo baru nyadar kalau gue ganteng."
Shania mengangkat satu alisnya, "Yah sifat narsis lo kambuh lagi."
Adrian tersenyum kecil kemudian pegang kedua pundak Shania dan dia tatap dalam kedua mata Shania. Dari tatapan itu, Adrian seperti ingin mengungkapkan sesuatu namun tertahan. Shan, andai gue bisa miliki lo pasti gue akan jadi lelaki yang sangat bahagia di dunia ini.
"Shan..."
"Yan..." panggil mereka secara bersamaan yang membuat mereka saling tersenyum malu. Detak jantung mereka pun semakin berdebar tak menentu.
Adrian menempelkan keningnya di kening Shania. Semakin menatapnya begitu dalam yang membuat Shania tak sanggup lagi berkedip. Apa yang ingin dilakukan Adrian? Atau apa dia ingin mengucapkan sesuatu? Tapi Shania kembali ke pemikirannya setelah melambung beberapa saat.
"Hmm, Yan udah jam segini," kata Shania sambil melangkah mendahului Adrian.
Tapi Adrian justru memeluk Shania dari belakang. "Shan, gue mau bilang sesuatu sama lo.. Gue.. Hmmm.."
Perlahan Shania melepaskan tangan Adrian yang ada dipinggangnya. "Yan, ntar aja yah kalau lo mau bilang sesuatu. Udah jam segini.." Shania menarik tangan Adrian agar cepat keluar dari rumahnya.
Shan, gue cuma mau bilang kalau gue bener-bener cinta sama lo. Gue gak mengharap status dari lo kalau lo memang merasa kita udah nyaman seperti ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments