Adrian merebahkan badannya di atas tempat tidur setelah mengantar mama dan papanya ke bandara.
Dia ingin menghilangkan segala rasa lelah di tubuhnya. Dia teringat sesuatu yang hampir dia lupakan. Gelang itu, gelang yang harusnya di berikan pada Shania.
Adrian duduk kembali dan mengambil tas sekolahnya, merogoh tas dan mencari gelang itu. Adrian sedikit tersenyum saat melihat kedua gelang itu, gelang kulit yang berwarna coklat yang cukup antik.
Adrian memakai gelang yang berinisial A. Huruf A dari nama Amora. Dia kini memandangi gelang yang sudah ada di pergelangan tangannya. Tiba-tiba ada bayangan yang melintas di dalam benaknya. Bayangan itu sangat nyata.
Adrian memejamkan matanya seperti memutar kembali kenangan yang telah lama hilang itu.
Terlihat dirinya sedang bersama dengan seorang gadis yang tak lain adalah Putri Amora dengan wajah yang sama persis dengan Shania. Mereka saling berpandangan penuh cinta dan memadu kasih.
Pangeran Leon membelai lembut rambut panjang Putri Amora. "Aku mencintaimu..." ucap Pangeran Leon dengan segenap perasannya.
Putri Amora tersenyum dan membalas perkataan Pangeran Leon, "Aku juga mencintai kamu, Leon." Putri Amora menyandarkan kepalanya di bahu Pangeran Leon.
Pangeran Leon kini merengkuhnya. "Aku janji, apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkan kamu."
Putri Amora mengangguk pelan, "Aku juga tidak akan meninggalkan kamu. Meskipun... Meskipun bangsa kita berbeda."
"Ssssttt.." Pangeran Leon menutup bibir Putri Amora dengan telunjuknya sehingga Putri Amora mendongakkan kepalanya dan menatapnya. "Jangan pernah menyebut lagi tentang perbedaan bangsa kita. Aku akan segera menikahimu Amora, karena ayah aku sudah setuju dengan hubungan kita dan pernikahan kita akan menjadi simbol perdamaian antara bangsa serigala dan vampir."
Putri Amora tersenyum mendengar perkataan Pangeran Leon, seseorang yang telah membuatnya jatuh cinta begitu dalam.
Kemudian Pangeran Leon mencium kening Putri Amora.
Putri Amora hanya memejamkan matanya sesaat merasakan hangatnya kecupan itu.
Adrian membuka matanya lagi dan menarik napas panjang. "Ternyata benar gue dan Shania sudah saling mencintai dari dulu dan cinta itu tetap sama sampai sekarang."
Adrian berjalan menuju jendela kamarnya. Menatap jendela kamar Shania yang tertutup. Tiba-tiba ada suatu energi yang membuatnya menatap ke atas langit. "Bulan purnama..." Bulan purnama muncul lagi di malam itu.
Adrian mengerang merasakan sesuatu yang aneh muncul dalam dirinya. Aliran darahnya terasa begitu panas. Dadanya terasa sangat sesak.
"Arrrgghhh!!! Gue gak mau berubah! Gue gak mau berubah!" Adrian berusaha menahannya tapi dia semakin terasa kesakitan.
Dia berjalan menuju tempat tidur dan melempar tubuhnya ke atas tempat tidur. Berguling-guling sambil terus mengerang. "Arrrggghhh!!!" Dia tak sanggup lagi menahannya dan Adrian kembali berubah menjadi serigala.
Serigala itu menatap tajam jendela kamarnya yang terbuka dengan sorot mata merahnya. Dengan cepat seperti hanya kilatan cahaya, Adrian melompat dari jendelanya menuju jendela kamar Shania yang kebetulan saat itu tidak terkunci.
Adrian dengan wujud serigalanya masuk ke dalam kamar Shania. Saat itu Shania sedang tertidur pulas di atas tempat tidurnya.
Adrian semakin mendekat dan naik ke atas ranjang. Apa yang dilakukan Adrian saat itu benar-benar diluar kesadarannya.
Adrian kian mendekat dan mengendus tengkuk leher Shania.
Tiba-tiba dia berubah lagi menjadi manusia. Sorot matanya yang merah menyala menandakan dirinya sedang dikuasai oleh gen serigala itu. Kedua taring tajam pun muncul di giginya. Dia semakin mendekatkan mulutnya yang telah terbuka lebar di tengkuk leher Shania.
Apa yang gue lakuin?
Adrian tersadar dan langsung menjauhkan dirinya dari Shania. Meskipun hasrat untuk memangsanya masih sangat kuat di benak Adrian tapi dengan sekuat tenaga Adrian menjauh.
Dia berdiri sesaat di dekat jendela dengan menatap nanar Shania.
"Adrian..." mendengar suara panggilan dari Shania, secepat kilat Adrian melompat dari jendela.
Shania mengucek matanya sesaat memastikan bahwa yang dilihatnya itu adalah Adrian. Tapi bagaimana bisa Adrian menghilang begitu cepat hanya dalam hitungan detik.
Shania segera menyingkap selimutnya, bangun dan berjalan menuju jendela kamarnya yang terbuka. Segera dia menutupnya kembali. Saat berjalan, tak sengaja dia menginjak sesuatu.
Shania melihat dan mengambil benda itu. "Gelang? Gelang siapa? Kenapa bisa ada di kamar gue?"
Shania melihat dengan intens gelang itu. "Berinisial L. Maksudnya L? Dan siapa yang telah menjatuhkan gelang ini di sini?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments