BAB 7

Malam itu di dalam kamar Adrian, dia duduk di atas tempat tidurnya sambil menatap jendela yang tertutup oleh tirai. "Kenapa barusan gue bilang kayak gitu sama Shania. Gue bodoh!" Adrian mengacak rambutnya sendiri seperti orang frustasi.

Kemudian Adrian beranjak dari tempat tidurnya dan berdiri di dekat jendela kamarnya. Ingin dia membukanya dan berbicara dengan Shania seperti biasanya, tapi dia mengurungkan niatnya. "Apa gue sanggup ketemu lo setelah apa yang gue bilang. Bodohnya gue. Kenapa gue gak mikir dulu sih? Nanti kalau dia marah sama gue terus jauhin gue, pasti itu jauh lebih sakit dan gue gak mau itu sampai terjadi."

Seangkan di dalam kamar Shania, dia juga sedang menatap jendela kamarnya.

"Yan, sudah cukup lo sakit hati selama ini. Gue akan akhiri sakit hati lo." Shania berjalan dan membuka tirai jendelanya. Dia melihat jendela kamar Adrian yang tertutup rapat. "Gue harap lo gak akan pernah berubah. Lo akan tetap jadi Adrian yang gue kenal."

Kemudian Shania kembali menutup tirai jendelanya lalu beranjak ke tempat tidur. Merebahkan badannya dan berusaha menutup matanya meskipun sebenarnya dia tidak merasakan kantuknya.

...***...

"Hhoooaaammm.." Adrian menguap panjang saat baru membuka matanya di pagi hari itu. Dia langsung melihat jam dinding yang ada di kamarnya. "Hah, udah jam 6. Gue kesiangan."

Adrian bergegas bangun. Dia segera mandi lalu berganti dengan seragam sekolah.

Tiba-tiba aktifitasnya terhenti sesaat karena ponselnya berbunyi. Ada panggilan masuk dari mamanya. Adrian segera mengangkat panggilan itu sambil melanjutkan lagi aktifitasnya. "Iya, hallo ma.."

"Ian maaf yah mama sama papa gak jadi pulang hari ini, soalnya mama sama papa masih ada meeting. Gak papa kan sayang?" kata mamanya di seberang sana yang memang sudah 2 minggu berada di luar negri.

"Iya Ma, gak papa. Udah yah ma, Ian kesiangan nih. Ntar Ian telpon lagi. Miss you Ma..." Adrian memutuskan panggilannya. Lalu dia segera berdiri mengambil tasnya dan bergegas pergi.

Adrian membuka dengan cepat pintu keluar rumahnya tapi ternyata ada Shania yang berdiri tepat di depan pintu rumahnya. Karena kaget, spontan Shania hampir terjatuh. Untung dengan cepat Adrian menangkapnya. Mereka saling beradu tatap. Bagai tersihir, tatapan mereka begitu lekat tak bisa lepas.

Semoga Shania gak denger bunyi jantung gue yang bedetak seperti habis maraton di pagi hari.

"Eh, Yan maaf gue..." Shania sama gugupnya. Akhirnya Shania menegakkan tubuhnya dan Adrian melepaskan pelukannya.

Adrian berusaha bersikap biasa saja sambil membenarkan jaketnya. "Shan, lo nungguin gue?"

"Iya. Lo lama banget sih. Udah siang nih. Ayo cepet."

"Iya. Iya. Bentar yah gue tutup pintu dulu." Adrian segera menutup pintu rumahnya lalu berjalan menuju motornya dan menaikinya.

Shania udah balik lagi kayak dulu. Untunglah. Semoga aja dia lupa sama kata-kata gue tadi malam.

"Nay, ayo naik." ajak Adrian karena Shania masih saja bengong.

"Iya." Shania naik ke boncengan Adrian. Lalu melingkarkan tangannya ke pinggang Adrian. Beberapa saat kemudian motor Adrian pun melaju.

Yan, mulai sekarang gue gak akan kecewain lo lagi. Gue akan jujur sama lo tentang semua perasaan gue ntar malam. Lo tunggu aja. Gue udah janji sama diri gue sendiri, gue gak akan lagi ngecewain lo.

Tak jauh dari mereka, ada Taufan yang sedang mengendarai motornya menyusul laju motor Adrian. Taufan berusaha mensejajarkan laju motornya. "Shan, gue mau ngomong sama lo soal kemaren. Dengerin gue, please."

"Gak penting dengerin penjelasan lo." Shania membuang wajahnya dari Taufan dan semakin mempererat pelukannya pada Adrian.

Adrian sedikit menyunggingkan senyum di balik helmnya dan semakin mempercepat laju motornya tapi Taufan semakin mengejarnya. Saat tepat di sisi kanan Adrian, Taufan dengan sengaja memepet motor Adrian hingga motor Adrian oleng ke sisi kiri.

"Ian!!" teriak Shania memanggil nama Adrian karena dia sangat terkejut. Tapi ternyata motor mereka tidak roboh. Seperti ada yang manahan motor Adrian. Adrian menggelengkan kepalanya seperti tidak percaya dengan apa yang dialaminya barusan. Kalau memang ada yang menahan motornya mengapa bisa secepat itu dia pergi.

"Shan, lo merasa ada yang aneh?"

"Iya. Kejadiannya cepet banget. Seperti ada yang nahan motor lo tapi gak ada orangnya."

"Kalau orang mana kuat Shan. Ah, udahlah yang penting lo gak papa kan?" tanya Adrian sambil menoleh Shania yang masih anteng diboncengannya.

"Gue gak papa kok."

Adrian kembali melajukan motornya.

Di sudut lain ternyata ada dua pasang mata yang mengintai mereka.

"Edo untung lo cepet nolong mereka." kata Aura yang berdiri di samping Edo saat itu. Ternyata Edolah yag menolong mereka berdua. Dia melesat secepat kilat menahan motor Adrian.

"Gue nolong Putri Amora bukan Leon." kata Edo begitu datar.

"Sama aja." Perkataan Aura terdengar begitu memuakkan bagi Edo.

"Kalau lo ikut gue ke sini cuma mau belain Pangeran Leon, lo mending pulang aja." kata Edo yang mulai merasa kesal dengan Aura.

"Lo pikir lo ke sini buat apa? Cuma ingin ketemu sama Kak Amora kan? Dan sayangnya dewi amor tetap berpihak pada lo untuk saling mencintai."

"Gue ke sini untuk melindungi Putri Amora dan membunuh Pangeran Leon. Lo tahu kan nanti malam akan ada bulan purnama dan gue yakin gen serigala itu akan muncul. Kalau lo ingin kakak lo gak kenapa-napa lo harus bantu gue untuk menyingkirkan Pangeran Leon."

"Gak!!" dengan tegas Aura menentang Edo. "Lo lupa kejadian 1000 tahun yang lalu dimana lo berhasil membunuh Pangeran Leon. Kak Mora ikut masuk ke dalam kobaran api itu. Kalau lo mau membunuh Pangeran Leon untuk kedua kalinya, gue gak mau kehilangan kak Mora lagi. Dan gue ngerti apa modus lo di balik semua ini, lo singkirkan Pangeran Leon biar lo bisa dekat sama kak Mora dan meneruskan perjodohan itu " Aura membalikkan badannya dan bersiap-siap untuk melesat.

"Lo gak mau kehilangan kakak lo atau lo gak mau kehilangan Pangeran Leon untuk kedua kalinya." kata Edo yang seketika menghentikan Aura. "Lo fikir gue gak tahu perasaan lo. gue tahu persis lo sangat mencintai Pangeran Leon. Meskipun gue tahu Pangeran Leon hanya mencintai Putri Amora."

Aura menoleh sesaat pada Edo dengan raut wajah yang telah berubah menjadi begitu masam. "Andai gue bisa mengatur perasaan gue sendiri, gue gak mau jatuh cinta pada Pangeran Leon yang jelas-jelas gak mencintai gue." setelah itu Aura langsung melesat.

"Aura tunggu!" Edo mengejar Aura, dengan cepat Edo menarik tangan Aura agar berhenti. "Sorry, gue gak bermaksud melukai perasaan lo. Kita merasakan hal yang sama. Jangan memikirkan tentang perasaan lagi karena bangsa kita berbeda dengan Pangeran Leon maupun Putri Amora. Tapi lo harus tetap ingat, misi kita ke tempat ini adalah untuk menghabisi Pangeran Leon karena dia sangat berbahaya."

Aura mengangguk pelan. Lalu mereka segera melesat menuju sekolah.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!