"Gue gak pernah lihat mereka. Apa mereka anak baru? Masih baru aja belagu!" gerutu Adrian sambil masuk ke dalam kelas lalu melempar tasnya ke bangkunya.
"Udahlah, ngapain sih lo gitu aja emosi." kata Shania sembari duduk dibangkunya.
Beberapa saat kemudian Devi masuk ke dalam kelas lalu duduk di bangkunya yang berada di depan Adrian dengan menyamping agar dia bisa melihat wajah Adrian. Dia memang sahabat Shania yang naksir berat dengan Adrian. "Pagi, Ian. Ngapain sih pagi-pagi udah uring-uringan gini. Tambah cakep tahu."
Mendengar perkataan Devi membuat Adrian semakin emosi. "Ini lagi! Ngapain sih lo duduk situ. Bikin gue tambah emosi aja!"
"Yee, Ian gue kan pengen liat lo lebih dekat. Btw gue kemaren liat foto lo di instagram. Pengen dong gue foto kayak gitu sama lo, masak sama Shania terus sih." goda Devi sambil tertawa kecil.
Adrian malah menutup wajahnya mendengar perkataan Devi.
Tiba-tiba Shania menyahut obrolan mereka berdua. "Udah Yan, lo terima aja biar lo gak jones terus."
"Tuh, Shania aja ngedukung elo sama gue. Masak lo mau ngarepin dia terus." kata Devi sambil memelankan suaranya karena dia tahu semua perasaan Adrian hanya untuk Shania.
Kata-kata Devi begitu menancap di hati Adrian. "Terserah gue. hidup hidup gue." Adrian memang tak bisa berhenti berharap pada Shania. Meskipun sampai kapanpun dia akan menjadi sebastian, sebatas teman tanpa kepastian.
"Eh, ada Devi cantik duduk di bangku gue. mau sebangku berdua sama gue?" kata Dika yang baru datang dan melihat Devi duduk dibangkunya. Dika memang suka menggoda Devi. Bukan suka lagi, dia memang sudah jatuh cinta dengan Devi.
Devi langsung berdiri dan membuang muka. "Ih, ogah banget gue duduk sama lo, sok ganteng banget." Devi pun berjalan dan kembali duduk dibangkunya yang berada di samping Shania.
Dika masih saja tak berhenti menggoda Devi. "Gitu amat sama gue, daripada lo ngarep sama Ian terus tapi Ian gak mau mending lo sama gue. Gantengan juga gue daripada Ian." kemudian Dika duduk dibangkunya.
Satu timpukan pun mendarat di kepala Dika dari Adrian. "Gue seneng lo bisa sama Devi. Tapi jangan bawa-bawa kegantengan gue. Lo pikir lo lebih ganteng daripada gue." kata-kata Adrian begitu menarik perhatian seisi kelas.
"Huuu.. Dasar kalian berdua narsis." Sorakan-sorakan pun terdengar.
"Diam anak-anak!" ucap Pak Rudi cukup keras yang membuat para murid diam seketika. Pak Rudi masuk ke dalam kelas yang diikuti koleh dua orang murid baru di belakangnya. Pandangan pak Rudi menyapu seluruh kelas. "Pagi anak-anak."
"Pagi pak..." jawab mereka secara serempak.
"Hari ini kalian kedatangan dua orang murid baru. Mereka pindahan dari Banyuwangi karena mendapat beasiswa di sekolah kita sebagai murid berprestasi. Oke, kalian bisa memperkenalkan diri kalian."
Aura pun mulai memperkenalkan dirinya yang diawali dengan senyuman ciri khasnya dengan sedikit lesung pipi di dekat bibirnya. "Hai semua nama aku Aura Michella. Kalian bisa panggil aku Aura. Salam kenal."
Sekarang gantian Edo yang memperkenalkan dirinya. Tetap pada tatapan dinginnya dan tanpa senyum sedikitpun. "Perkenalkan nama aku Edorado." Begitu singkat Edo memperkenalkan dirinya padahal yang lain menunggu kelanjutannya sampai mungkin terdengar suara jangkrik saking sunyinya.
"Ya udah kalian duduk di bangku kosong sana yah." Mereka pun berjalan menuju bangku kosong yang ada di sebelah Adrian dan di belakang Shania. Tentu saja Aura duduk di samping Adrian dan Edo duduk di belakang Shania.
Cewek ini lumayan juga, senyumnya manis apalagi wajahnya imut-imut banget.
Adrian pun mengulurkan tangannya pada Aura. "Hei, kenalin gue Adrian."
Aura membalas uluran tangan Adrian tersenyum menatapnya. Lewat tangannya yang menyentuh tangan Adrian saja, dia yakin bahwa Adrian adalah Pangeran Leon.
Tangan ini... Gue yakin kalau dia adalah Pangeran Leon.
"Ian kalau mau kenalan nanti saja waktu istirahat. Jangan pengaruhi murid baru di sini." kata pak Rudi yang melihat Adrian masih saja bersalaman dengan Aura cukup lama.
Adrian langsung melepaskan tangannya. Dan pelajaran pun dimulai.
...***...
Gue bingung sama hati gue sendiri. Harusnya gue bilang yang sebenarnya pada Shania tentang semua perasaan gue. Gue gak bisa terus memendam kayak gini. Tapi gue bener-bener gak ada nyali.
Adrian berjalan sendiri menyusuri lorong kelas sambil melamun saat jam istirahat waktu itu.
"Woy!!" teriak Dika yang dengan sengaja mengagetkan Adrian.
"Eh, lo ngagetin gue terus kerjaannya!" Adrian menjotos lengan Dika karena dia cukup terkejut dan lamunan itu buyar seketika.
"Lo sih jalan sambil melamun. Eh.." Dika menarik Adrian agar menghentikan langkahnya. "Lihat deh itu Shania tumben sendirian." Dika menunjuk Shania yang sedang duduk di bangku taman sendirian.
"Terus kenapa?" Adrian melipat kedua tangannya sambil melihat Shania dari kejauhan.
"Ini saat yang tepat buat lo nyatain perasaan lo." kata Dika memberi semangat pada Adrian.
Adrian menggelengkan kepalanya. "Gak! Ini belum waktunya."
"Sampai kapan lo mau pendam perasaan lo. Lo bilang sekarang sebelum semuanya terlambat." Dika mendorong tubuh Adrian agar berjalan ke arah Shania. Akhirnya Adrian berjalan mendekat dan duduk di samping Shania.
"Shan, tumben lo gak ke kantin?" tanya Adrian memulai pembicaraan.
"Lagi males aja. Kenapa? Mau ajak ke kantin? Traktir dong sekali-kali." kata Shania.
Adrian sedikit menggerak-gerakkan kakinya untuk menghilangkan rasa nervous yang kian menjadi. "Nggak. Gue juga lagi malas ke kantin. Hmmm.. Shan, gue mau bilang sesuatu sama lo."
"Mau bilang apa?" Shania kini menatap Adrian yang nampak serius itu. "Serius amat."
"Gue, gue sayang sama lo." kata Adrian dengan mengerahkan segala keberaniannya.
Shania hanya terdiam menatap Adrian. Sayang? Apa sayang yang dimaksud sayang sebagai sahabat?
"Gue cinta sama lo." tambah Adrian.
Seketika raut wajah Shania berubah. Tanpa berkata apa-apa lagi dia berdiri dan hendak melangkahkan kakinya.
"Tunggu Shan!" kata Adrian menghentikan langkah Shania. "Gue sayang sama lo, kayak kakak ke adik sendiri." Shania kembali memutar tubuhnya dan tersenyum lalu duduk di samping Adrian.
Adrian merangkulnya sambil tertawa. Meski jauh di dalam lubuk hatinya, bukan itu yang ingin dia katakan.
"Gue takut kalau seandainya lo beneran cinta sama gue, kita gak akan bisa lagi kayak gini." kata Shania sambil bersandar manja ke bahu Adrian.
Dan nyatanya itu beneran, Shan. Gue bener-bener sayang sama lo. Bukan sebagai adik tapi sebagai kekasih hati gue. Mungkin gue gak akan pernah bisa miliki lo.
Hati Adrian berkecamuk, untuk kesekian kalinya cinta itu hanya bisa dia pendam.
"Iya lo benar." kata Adrian pada akhirnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments