BAB 19

Aura dan Adrian berjalan menuju taman sekolah lalu duduk di bangku taman. Hari itu masih lumayan pagi. Hanya beberapa siswa yang datang ke sekolah.

"Lo mau gomong apa?" tanya Adrian sambil menatap Aura.

"Yan, gue mohon sama lo, lo hati-hati sama Edo. Lo lindungi diri lo. Lo lawan setiap dia mau nyerang lo." kata Aura.

Adrian menggelengkan kepalanya dan melempar pandangannya agar Aura tidak tahu kesedihan di matanya. "Biarin Edo membunuh gue, Aura. Gue gak peduli dengan diri gue, yang penting gue gak menyakiti Shania. Dan bukannya tujuan lo ke sini juga mau melindungi kakak lo. Jadi buat apa gue harus melindungi diri gue lagi."

Mata Aura berkaca-kaca. Hatinya bergeming mendengar kata-kata putus asa dari Adrian. Andai Adrian tahu, dia sangat tidak mau kehilangan Pangeran Leon untuk kedua kalinya. Tanpa tahu sedikitpun perasaannya pada Adrian, andai Adrian tahu akan perasaan Aura pada Pangeran Leon, itupun juga percuma. Tak akan berpengaruh apapun pada Adrian.

Aura teringat lagi masa lalunya, dimana ia mulai mencintai Pangeran Leon.

Saat itu dia masuk ke kawasan bangsa serigala hanya untuk mengetahui Pangeran Leon. Kenapa bisa kakaknya begitu tergila-gila pada Pangeran Leon. Kawasan serigala sangat terlarang dimasuki oleh vampir manapun. Baru beberapa langkah, beberapa serigala sudah menghadangnya. Aura tidak memiliki cukup kekuatan untuk melawan mereka.

"Aaaaa..." teriak Aura saat salah satu dari serigala itu melompat dan akan menerkamnya. Tapi tiba-tiba ada yang menendang serigala itu hingga terlempar jauh. Dia berdiri dengan gagah di depan serigala-serigala itu.

"Pergi kalian! Aku yang akan menjamin kalau dia bukan vampir penyusup." Serigala-serigala itu begitu tunduk dan patuh mengikuti perintahnya. Dia berbalik dan berjalan mendekati Aura.

Aura begitu terpesona melihat ketampanannya. Sangat terlihat dia seorang pemimpin yang bijaksana, baik dan begitu tulus. Sorot matanya yang begitu teduh mampu menghipnotisnya.

"Ada perlu apa kamu ke sini?" tanya Pangeran Leon yang membuyarkan kekaguman Aura.

"Hmmm, aku... Aku..." Aura bigung apa yang harus dia jawab.

"Kamu adik Putri Amora?" Pangeran Leon mengendus aroma tubuh Aura hingga dia mengenalinya.

"Iya. Kamu Pangeran Leon?"

"Iya. Kalau kamu tidak ada urusan di sini lebih baik kamu kembali karena di sini sangat bahaya bagi kamu. Aku antar kamu pulang, biar kamu tidak bertemu lagi dengan serigala." Pangeran Leon menuntun Aura untuk melesat keluar dari kawasan bangsa serigala.

Sedangkan Aura terus melihat wajah Pangeran Leon dari samping.

Jadi dia yang bernama Pangeran Leon. Pantas saja kak Mora begitu tergila-gila. Kak Mora gak salah memilih. Dan.. Apa yang aku rasakan saat ini? Kenapa aku tidak bisa lepas memandangnya? Aku sudah gila kalau aku sampai jatuh hati pada Pangeran Leon. Seandainya aku punya jantung pasti detak jantung aku berkejaran dengan detik jam saat ini.

Aura semakin menangis saat teringat kejadian itu, perih dan sakit. Pada kenyataannya sampai sekarang saat Pangeran Leon sudah menjadi Adrian, Aura semakin mengaguminya. Tidak ada lelaki yang sebaik dan setulus Adrian.

"Aura, lo kenapa?" tanya Adrian yang melihat Aura tiba-tiba terisak.

"Gue gak tahu harus gimana? Gue bingung gue harus melindungi lo atau Shania. Gue.. Gue gak bisa kehilangan kalian untuk kedua kalinya." Tak disangka tiba-tiba Aura memeluk Adrian dan menangis di dada bidang Adrian. Awalnya Adrian ingin melepaskannya tapi dia urungkan. Dia tahu kesedihan Aura.

Adrian dengan ragu memegang punggung Aura meski pada akhirnya Adrian berhasil menapakkan tangannya di punggung Aura dan mengusapnya pelan.

"Lo jangan nangis." kata Adrian menenangkan Aura. "Shania gak akan kenapa-napa. Lo juga gak usah khawatirin gue. Gue juga bingung kenapa lo juga begitu gak mau kehilangan gue?"

Aura melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya. Dia masih saja menatap Adrian. "Ian, andai lo tahu, vampir juga memiliki hati dan perasaan, meskipun dia tidak memiliki jantung yang berdebar untuk merasakan cinta itu.."

"Ma-maksud lo?" kata-kata Aura begitu mengena di hati Adrian. Dia teringat lagi kejadian semalam saat Edo bilang bahwa Aura mencintainya. Jadi itu benar?

Aura tersenyum pahit lalu dia berdiri dan meninggalkan Adrian.

Adrian masih tercengang memikirkan perkataan Aura. Lalu dia mengacak-acak rambutnya sendiri. "Bagaimana mungkin Aura masih mencintai gue. Gue bukan Leon."

"Ian..." gumam Shania lirih saat melihat dari kejauhan apa yang dilakukan Aura dengan Adrian. Meski tidak mendengar pembicaraan mereka tapi Shania melihat dengan jelas saat Aura memeluk Adrian.

Shania membalikkan badannya dan berjalan dengan air mata yang masih membasahi pipinya. "Ternyata lo lebih memilih Aura sekarang daripada gue. Lo udah berubah. Apa lo udah gak cinta lagi sama gue?" Shania menghentikan langkahnya dan duduk di bangku. Air matanya masih saja tidak bisa berhenti mengalir. Dia benar-benar tidak bisa kehilangan Adrian.

Sebuah jari menghapus air mata Shania yang ada di pipinya. "Hapus air mata lo. Lo gak seharusnya menangis seperti ini."

Shania menoleh dan menatap sesaat Edo yang kini tengah duduk di sampingnya. Kemudian dia menghapus sisa-sisa air matanya lagi.

"Lo kenapa? Adrian yang udah buat lo kayak gini?"

Shania hanya menunduk tak menjawab pertanyaan Edo.

"Shan, gue udah bilang sama lo untuk hati-hati sama Adrian."

"Tapi kenapa? Lo kenal sama Ian? Sepertinya lo tahu betul siapa gue dan siapa Ian, padahal kan lo baru di sini?" tanya Shania yang sebenarnya butuh alasan dari Edo.

"Iya, gue memang baru di sini tapi sejak pertama gue lihat lo entah kenapa gue berasa udah kenal lama sama lo." kata Edo menutupi kebenarannya.

Shania mengernyitkan dahinya menerka maksud Edo. "Kenapa bisa begitu?"

"Mungkin karena perasaan." Edo tersenyum manis seperti memberi kode pada Shania.

"Perasaan? Perasaan apa?"

"Eh, bukan. Hmm... maksud gue, gue rasa lo mirip sama sahabat lama gue." Edo rupanya tak pintar mencari alasan.

Untunglah Shania tak mau lagi membahas soal itu. Dia justru bertanya tentang Adrian dan Aura. "Hmm, Do lo kan deket sama Aura. Apa Aura suka sama Ian?"

Edo menatap Shania dengan kaku. Apa Shania sudah tahu semuanya. "Gue gak tahu pastinya. Tapi lo sebenarnya bisa membaca perasaan Aura lewat sikapnya pada Adrian."

Shania mengerti apa maksud Edo. Secara tidak langsung dia membenarkan pertanyaannya.

Shan, andai lo tahu kita telah dijodohkan di 1000 tahun yang lalu. Tapi lo begitu sangat mencintai Pangeran Leon, sampai gak ada kesempatan sama sekali buat gue deketin lo dan sekarang gue mempunyai kesempatan itu untuk melihat lo bahkan berada di dekat lo, tapi lagi-lagi lo mencintai Adrian. Adrian yang sekarang sangat membahayakan jiwa lo.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!