BAB 16

"Shania?"

"Shania itu sahabat gue. Gue gak mungkin bisa jauhin dia. Tapi kalau gue gak jauhin dia, gue takut, gue akan melukai Shania." cerita Adrian.

Ken menopang kepalanya mendengar cerita Adrian. Tentu saja dia tahu penyebabnya. Ken teringat lagi akan masa lalu. Saat itu raja serigala sangat marah besar karena Edo telah berhasil membunuh Pangeran Leon.

Raja Erros berdiri sambil menghentakkan tangannya dengan keras di pegangan kursi tempat peraduannya. "Berani-beraninya panglima itu membunuh putraku!"

"Maaf tuan tapi saya dengar Putri Amora juga ikut bunuh diri masuk ke dalam api itu," kata Ken yang saat itu menjabat sebagai panglima perang di kerajaan serigala sekaligus sahabat Pangeran Leon.

Raja Erros memejamkan matanya seperti menerawang sesuatu. "Mereka akan terlahir kembali 1000 tahun lagi dengan cinta yang tetap sama dalam hati mereka." Raja Erros membuka matanya dengan sorotan merah yang tajam di manik matanya. "Dan aku akan meminta pada Dewa agar Pangeran Leon kelak tidak bisa menahan dirinya saat berdekatan dengan jiwa murni Putri Amora."

"Jiwa murni Putri Amora?" ucap Ken tiba-tiba setelah fikirannya kebali lagi ke masa sekarang.

"Jiwa murni maksud lo?" tanya Adrian yang tidak mengerti dengan ucapan Ken.

Ken menceritakan semuanya. Tentang kutukan itu dan tentang jiwa murni Putri Amora yang ada di tubuh Shania.

Adrian seperti putus asa. Dia tidak mungkin bisa mendekati Shania lagi. "Itu tandanya, gue gak bisa deketin Shania lagi biar gue gak menyakitinya."

"Jangan baper gitu mukanya. Lo sama Putri Amora, eh maksud gue Shaniaq memiliki cinta yang abadi. Gue yakin lo gak akan nyakitin Shania."

"Tapi gue gak yakin, gue bisa nahan diri gue." kata Adrian lagi.

Ken mengusap pundak Adrian agar dia yakin dengan dirinya sendiri. "Gue yakin lo bisa. Katanya lo serigala modern masak lo kalah ama gue yang lo kata serigala jadul. Pakai masker dong untuk sementara selama masa adaptasi lo."

"Ternyata meskipun lo udah tua masih pinter juga yah." Adrian baru kepikiran akan hal itu.

"Tua?" Ken tak mengerti. Apa yang Adrian maksud itu dirinya.

"Kan lo sendiri yang bilang, lo sudah hidup di 1000 tahun yang lalu. Jadi udah tua banget. Udah saatnya dimuseumkan."

Sekarang gantian Ken yang menjitak kepala Adrian. "Gue masih muda. Lo lihat tuh Edo sama Aura mereka juga seumuran gue tapi masih cocok jadi murid SMA."

"Jadi lo kenal sama mereka?"

"Ya kenal dong. Edo itu panglima perang di kerajaan vampir. Jadi berhati-hati sama dia soalnya Edo datang ke sini atas perintah dari raja vampir untuk membunuh lo dan melindungi reinkarnasi dari Putri Amora."

Adrian menganggukkan kepalanya. Sekarang dia tahu mengapa Edo begitu membencinya. Haruskah Adrian berhati-hati atau justru menyerahkan dirinya pada Edo. "Apa Aura juga punya misi yang sama seperti Edo?"

"Aura itu adik Putri Amora. Dia juga gak mungkin ngebunuh lo karena dia..." Ken menghentikan kata-katanya. Dia tahu akan perasaan Aura pada Pangeran Leon dulu, tapi untuk satu itu Ken tak mau menceritakanya. Tentang perasaaan, Ken tidak mau ikut campur.

"Karena apa?" Adrian mengernyitkan dahinya karena pernyataan Ken yang tiba-tiba berhenti mendadak.

"Karena Aura itu adik Putri Amora. Aura gak mungkin menyakiti seseorang yang dicintai kakaknya." Ken melanjutkn ceritanya sampai tak terasa hari sudah mulai sore.

...***...

Sore itu terlihat Shania sedang mondar-mandir di teras rumahnya. Memikirkan Adrian yang sampai saat itu belum pulang juga. Dia begitu khawatir dengan Adrian. "Ian kemana sih belum pulang juga. Gak tahu apa gue khawatir banget gini. Semoga aja deh gak terjadi apa-apa." Shania menghela napas panjang lalu duduk di kursi teras rumahnya karena kakinya sudah terasa pegal sedari tadi berdiri dan mondar-mandir tidak jelas.

Dia menatap lurus ke arah jalanan. Senyumnya pun mengembang saat dilihatnya seseorang yang sedang mengendarai motor sport hitam itu. "Ian..." Shania langsung berdiri dan menghampiri Adrian yang tengah menghentikan motornya.

Adrian menatap Shania sesaat. Dia bergidik ngeri sendiri saat mengingat kejadian tadi pagi. Tapi Adrian tidak bisa menjauhi Shania lagi. Apalagi sekarang sudah jelas-jelas Shania sedang menunggunya. Adrian pun membuka helmnya dan memakai masker yang sempat dia beli di apotek barusan. lalu dia turun dan mendekati Shania.

Shania memicingkan matanya melihat Adrian memakai masker. Tidak biasanya, bahkan saat Adrian kena flu berat beberapa bulan lalu dia tidak mau memakai masker dengan sengaja dia tularkan pada Shania. "Yan, lo beneran sakit? Kok lo pakai masker?"

"I-iya Shan. Gue kena flu takut lo ketularan kayak kemaren." katanya berbohong lalu duduk di kursi yang diikuti oleh Shania. "Hmmm.. Shan, gue minta maaf soal tadi. Gue gak sengaja bentak lo. Gue bener-bener minta maaf.

"Iya gak papa. Gue cuma khawatir sama lo."

Adrian menunduk sesaat. Ingin dia bercerita semuanya pada Shania tapi dia tidak bisa. Apa tanggapan Shania tentang dirinya jika Shania tahu semuanya. Pasti Shania akan menjauhinya. Tidak! Untuk saat ini Adrian tidak akan menceritakan semuanya pada Shania. "Iya, kepala gue pusing banget gara-gara flu."

"Kalau lo sakit kenapa lo gak pulang ke rumah? Lo malah bolos. Emang lo bolos kemana?" tanya Shania.

"Hmmm..." Adrian sedikit bingung mau menjawabnya. Terpaksa dia harus berbohong lagi pada Shania. "Gue ke rumah temen gue." Adrian berusaha untuk tersenyum. "Makasih yah, lo pehatian banget sama gue."

Shania pun membalas senyuman Adrian. Sebenarnya dia teringat kejadian semalam saat Adrian mengungkapkan perasaannya. Ingin dia menjawab tembakan Adrian semalam tapi Adrian tak juga mengungkitnya sama sekali.

"Shan, gue ada sesuatu buat lo." Adrian melepaskan tangan Shania dan mencari sesuatu di dalam tasnya.

"Apa?" Shania menantikan sesuatu itu dengan penasaran.

Adrian merogoh tasnya tapi yang dia cari tak juga ketemu.

"Ian, kamu udah pulang."

Belum juga Adrian menemukannya, mamanya sudah muncul.

"Ada apa Ma?" Adrian langsung berdiri dan melepas maskernya agar mamanya tidak curiga.

"Mama dari tadi nungguin kamu. Mama sama papa mau balik lagi ke Amrik ada urusan yang belum terselesaikan."

"Shan, ntar aja yah," ucap Adrian sambil berjalan mengikuti mamanya masuk ke dalam rumah.

Shania hanya tersenyum. Meski sebenarnya dia penasaran dengan apa yang akan Adrian kasih.

"Mama sama papa buru-buru amat sih mau balik ke Amrik. Gak mau nemenin Ian dulu di sini."

"Soalnya mama sama papa masih ada kerjaan penting. Setelah kerjaannya selesai mama janji mama akan temenin Ian terus di sini." mereka mengobrol sambil masuk ke dalam rumah.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!