Adrian dan Shania berjalan beriringan di lorong kelas. Mereka sama-sama terdiam. Masih dengan kegugupan yang melanda dada masing-masing.
Tapi tiba-tiba Shania teringat sesuatu. "Yan, gue duluan yah mau cari Devi dulu." Shania segera berjalan mendahului Adrian.
"Kita kan mau ke kelas, Shan." Perkataan Adrian sudah tidak digubris lagi. Adrian menggelengkan kepalanya melihat tingkah aneh Shania.
Langkah Adrian terhenti saat ada Edo yang sengaja berdiri di depannya. "Ngapain lo!"
Tak ada jawaban dari Edo. Dia hanya menatap tajam Adrian. Tiba-tiba saja Edo memegang pergelangan tangan Adrian dengan keras hingga membuat Adrian meringis kesakitan.
Adrian bergidik ngeri saat tak sengaja melihat bola mata Edo yang mengeluarkan cahaya merah. Tak lama Edo melepaskan tangannya dan melangkah pergi.
Adrian masih saja tidak percaya dengan apa yang dia lihat barusan. "Apa gue gak salah lihat? Mata Edo? Hah! Udahlah dia kan orangnya emang aneh. Gue gak salah apa-apa malah dimusuhi." Adrian kembali melanjutkan langkah kakinya menuju kelas.
...***...
"Eh, maaf gue gak sengaja." Kata Shania yang tanpa sengaja menabrak Aura.
Aura menatap lekat Shania. Dia begitu rindu dengan kakaknya yang kini menjelma di dalam tubuh Shania. "Kakak." Panggilnya pelan namun masih dapat ditangkap oleh telinga Shania.
Shania mengernyitkan dahinya, "Ngapain lo manggil gue kakak. Panggil aja gue Shania." Shania tersenyum ramah pada Aura. Gadis putih dengan hidung mancung itu memang terlihat pucat dari lainnya. "Lo kok pucat? Lo sakit?" tanya Shania.
Aura menggelengkan kepalanga. Jelas saja dia pucat karena tidak ada aliran darah yang mengalir di tubuhnya, meski sudah ditutup oleh make up tetap saja pucat itu masih terlihat. "Enggak kok. Gue cuma kecapekan sejak pindah ke sini belum istirahat. Eh, iya Shan, lo mau ke kelas kok buru-buru amat?"
"Gue cariin Devi. Oiya mumpung ketemu lo di sini." Shania membuka tasnya dan memberikan sesuatu pada Aura. "Ini buat lo. Jangan lupa datang yah. Tapi jangan bilang sama orangnya soalnya ini surprise banget." Setelah berbicara demikian, Shania berlalu sambil tersenyum.
Aura berdiri mematung sambil menatap nanar sesuatu yang dia pegang. Pikirannya melayang jauh di 1000 tahun yang lalu. Dimana Putri Amora masih hidup dan bersamanya.
"Kak Mora, aku jatuh cinta." teriak Aura sambil memegang kedua tangan kakaknya. Dia tersenyum bahagia merasakan cinta yang baru saja bersemi di hatinya.
"Aku juga, Ra. Kau tahu betapa bahagianya aku hari ini." Mereka saling bergandengan tangan dan berputar-putar sambil tertawa bahagia. "Pangeran Leon bilang kalau dia cinta sama aku, Ra."
Mereka pun berhenti berputar. Perlahan Aura melepaskan tangan kakaknya.
"Aku bahagia sekali. Aku kira Pangeran Leon hanya anggap aku sahabatnya tapi ternyata dia mempunyai rasa yang sama." Putri Amora begitu bahagia. Senyum tak berhentinya mengembang di bibir tipisnya.
Kata-kata Putri Amora membuat ekspresi Aura seketika berubah. Dengan sekuat tenaga dia menahan tangisnya yang hampir terjatuh dan berusaha untuk tersenyum. Dia harus bisa bahagia dengan kebahagiaan yang dirasakan kakaknya.
"Katanya kamu juga lagi jatuh cinta. Kamu jatuh cinta sama siapa?" tanya Putri Amora. "Apa setampan Panglima Edo?" goda Putri Amora.
Aura menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin baginya untuk bilang yang sesungguhnya. "Gak kok kak. Aku cuma ikut bahagia melihat kakak bahagia. Tadi hanya bercanda saja."
Aura masih memaksakan senyum di bibirnya. Bagaimana mungkin aku bilang kalau aku juga mencintai Pangeran Leon. Bodohnya aku yang tidak pernah tahu kalau ternyata Pangeran Leon juga mencintai Kak Mora. Ternyata seperti ini rasanya patah hati. Sakit... Perasaanku pun layu sebelum berkembang.
Kembali pada masa kini, yang ternyata masih tetap sama seperti dulu. Takdir kembali terulang. Sangat terlihat jika Shania dan Adrian tidak akan bisa dipisahkan.
Aura mengusap sedikit air matanya yang hampir terjatuh karena mengingat masa lalunya, kemudian dia berjalan pelan masuk ke dalam kelas.
...***...
"Aduh laper banget perut gue. Tumben sih istirahat gini Shania gak keliatan bentukannya." kata Adrian yang sedang duduk di bangku depan kelas saat itu. "Mana tadi gak sempet sarapan. Duit pakai ketinggalan. Apes banget gue. Mau pinjam Dika gak mungkin. Dia itu kan rajanya bokek." Adrian terus menggerutu sambil memegangi perutnya yang terasa sangat lapar.
"Ini buat lo." Ada seseorang yang menyodorkan sebungkus roti di hadapan Adrian yang membuat Adrian mendongakkan kepalanya.
"Aura.." Adrian tersenyum sambil mengambil roti itu dari tangan Aura. "Makasih yah. Tahu aja kalau gue lagi lapar."
Aura hanya membalas senyuman Adrian sambil duduk di sampingnya.
Adrian langsung membuka bungkus roti itu dan memakannya. "Lo mau? Ini gue suapin."
"Nggak. Lo aja yang makan. Gue udah kenyang kok." Aura semakin melebarkan senyumnya. Yah, tentu saja mana ada vampir makan roti.
Shania menghentikan langkahnya sesaat ketika melihat Adrian sedang berdua dengan Aura. Ada perasaan yang aneh di dirinya. Cemburu? Ya, mungkin itu memang rasa cemburu. Tapi kenapa dia seperti tidak bisa marah pada Aura. Shania justru merasa telah lama mengenalnya.
Keliatannya Ian sudah mulai deket sama Aura. Tapi kenapa setiap gue lihat Aura, gue merasa sudah mengenalnya sejak lama. Hmm.. Udahlah. Mumpung Ian lagi diluar kelas, gue harus jalanin rencana gue..
Shanka mempercepat langkahnya masuk ke dalam kelas dan menuju bangku Adrian. Dia langsung mengambil tas Adrian dan merogohnya. "Ini dia." Shania tersenyum ketika barang yang dicarinya ketemu.
"Shan.." panggil seseorang yang membuat Shania terkejut.
"Edo. Gue kira Ian. Kaget banget gue." Shania segera menutup tas Adrian dan mengembalikannya ke tempatnya.
"Lo ngapain?" tanya Edo yang melihat aneh gerak-gerik Shania.
"Cuma sebagian dari rencana gue aja. Elo ntar malem datang kan?" tanya Shania.
"Ya pasti." kata Edo sambil tersenyum. Gue pasti datang, karna gue merasa gen serigala itu akan muncul malam ini tepat saat Adrian berusia 17 tahun.
"Shan, lo keliatannya care banget sama Adrian. Kenapa lo gak pacaran aja sama dia?" tanya Edo yang sebenarnya hanyalah ingin tahu perasaan Shania yang sebenarnya.
Pertanyaan Edo cukup sulit dijawab Shania. "Hmm, karna kita nyaman seperti ini." Shania berusaha menunjukkan senyum lebarnya. Meski dia sebenarnya juga ragu dengan jawabannya sendiri.
Shan, gue tahu perasaan lo sekarang sangat besar pada Adrian, karna lo sudah bersama dia sejak lo masih kecil. Andai lo berdua gak menanggung kutukan itu lo pasti bahagia dan gue gak mungkin ambil kebahagiaan lo. Tapi keberadaan Adrian sangat mengancam nyawa lo untuk saat ini. Apa gue harus membuat lo jatuh cinta sama gue agar lo bisa menjauh dari Adrian...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments