"Woi, lo bengong aja." teriak Dika di dekat telinga Adrian yang dengan sengaja mengagetkannya.
"Lo ngapain sih ngagetin gue." Adrian langsung menjitak kepala Dika tapi dengan cepat dia mengelak. Dika adalah sahabat Adrian. Teman sekelas Adrian yang begitu dekat.
"Lo ngapain bengong aja. Baper sama Shania?" Mereka berjalan bersama menuju tempat parkir sambil mengobrol. "Elo sih punya perasaan di pendem muluk. Punya perasaan itu di ungkapin jangan dipendem ntar numbuh jadi taoge."
"Eh, emang kacang-kacangan. Lo tuh kalau ngomong jangan asal. Gue sama Shania itu udah sahabatan sejak kecil. Mana ada tuh baper-baper segala."
"Masih musim tuh yang namanya sahabat. Gue emang baru kenal sama lo setahun tapi gue bisa lihat kedekatan lo sama Shania itu lebih dari sahabat. Lo jujur sama diri lo sendiri, lo rela gak Shania dekat sama cowok lain?"
Mendengar pertanyaan Dika, Adrian hanya terdiam. Dia memang tidak rela jika Shania dekat dengan cowok lain. Terbesit lagi dipikirannya tentang Taufan. "Eh, Dik lo kenal sama Taufan gak?"
"Taufan? Taufan anak kelas Biologi itu?” tanya Dika memastikan.
"Iya. Emang ada berapa Taufan lagi sih di sekolah ini." Mereka berdua sampai di parkiran lalu menaiki sepeda motor mereka masing-masing dan masih saja tetap mengobrol.
"Emang kenapa sama Taufan?" tanya Dika lagi. Begitulah ketika Adrian berbicara dengan Dika selalu berputar-putar dengan pertanyaan yang sama.
"Entah kenapa Shania sekarang bisa dekat dengan Taufan."
Tiba-tiba ekspresi Dika berubah dengan serius. "Gawat bro. Taufan itu cowok playboy. Pasti Shania akan jadi korban selanjutnya."
"Ah, seriusan lo." Adrian jadi mengkhawatirkan Shania. Bagaimana jika perasaan Shania dipermainkan.
"Lo gak percaya sama gue? Taufan itu tetangga gue jadi gue taulah tingkah lakunya."
Adrian masih berfikir. Dia harus mencari bukti tentang Taufan agar Shania tidak terjebak. "Dik, ikut gue yuk ke toko buku."
"Oke. Oke. Tapi gue beliin yah,” canda Dika.
"Emang gue bokap lo." Kemudian mereka segera melajukan motor mereka meninggalkan sekolah.
...***...
Di taman terlihat Shania dan Taufan sedang duduk berdua di sebuah kursi taman dekat pohon yang rindang sebagai penambah kesejukan udara yang panas siang itu.
Rupanya Taufan benar-benar telah memulai aksi PDKTnya pada Shania. "Shan, gak ada yang marah kan gue ajak jalan lo."
"Gak ada. Emang kenapa?" tanya Shania dengan wajah polosnya yang selalu sukses membuat para lelaki gemas.
"Ya.. Siapa tahu Adrian marah sama gue."
Shania tertawa mendengar tuduhan Taufan. "Adrian itu sahabat gue. Dia udah gue anggap kayak kakak gue sendiri."
Ada kelegaan di wajah Taufan. Dia menatap Shania sambil tersenyum. "Lo berbeda dengan cewek lainnya."
Shania mengernyitkan dahinya. "Hmm, beda apanya?" tatapan Taufan yang begitu dalam membuat jantung Shania kian berlomba.
"Lo lebih cantik." gombal Taufan.
Shania hanya tersenyum malu mendengar modusan Taufan. Rupanya sang buaya darat sudah mulai beraksi. Beberapa saat kemudian terdengar handphone Taufan berbunyi.
"Bentar yah." kata Taufan sambil berdiri dan berjalan sedikit menjauh mengangkat panggilan yang masuk. Entah dia mendapat telepon dari siapa. Tak cukup lama setelah dia berbicara pelan lalu dia menyudahi panggilannya dan menaruh ponselnya ke saku seragamnya. Dia kembali berjalan mendekat lalu mengambil tas dan memakainya. "Shan, sorry yah gue barusan dapat telepon dari nyokap suruh jemput dia jadi gue harus cepat balik. Lo gak papa kan pulang sendiri?"
"Iya gak papa kok. Lo balik aja dulu, ntar gue bisa pulang naik Gojek" kata Shania dengan senyumnya tanpa rasa kesal di hatinya.
Taufan membalas senyuman Shania. "Besok pagi sebagai gantinya gue jemput lo."
"Oke."
Lalu Taufan berjalan pergi meninggalkan Shania sendiri.
...***...
Setelah selesai membeli buku, Adrian dan Dika keluar dari toko buku. Mereka langsung menuju motor mereka masing-masing. Adrian memutar sepeda motornya dan bersiap-siap lepas landas tapi secara tiba-tiba dia mengurungkan niatnya. Dia melihat seseorang yang berada di pinggir jalan dan membuatnya terpaku. Dia melihat Taufan sedang bersama gadis lain. Menggandeng tangan gadis itu dengan mesra.
Tinn!
Di belakang Adrian, Dika mengklakson motornya karena Adrian tak juga menjalankan motornya. "Yan, lo bengong aja sih. Ayo jalan."
"Itu Taufan kan?" tanya Adrian memastikan penglihatannya.
Dika melihat arah telunjuk Adrian. "Iya. Bukannya kata lo dia lagi jalan sama Shania. Tuh kan apa gue bilang dia itu cowok playboy."
Spontan Adrian langsung memikirkan Shania. Segera dia mengambil ponselnya dan menghubungi Shania. Beberapa kali terdengar nada sambung, Shania sudah mengangkatnya. "Shan, lo sekarang dimana?"
Dika tertawa melihat tingkah kawannya satu ini yang begitu khawatir dengan Shania.
"Lo tunggu sana yah. Bentar lagi gue otw ke tempat lo." Lalu Adrian menutup panggilannya.
"Elo itu udah kayak sebastian tau gak." kata Dika yang masih saja tertawa.
"Sebatian? Sebastian siapa?"
"Sebatas teman tanpa kepastian. Hahaha." ejek Dika sambil menjalankan motornya mendahului Adrian.
"Woy, dasar kampret lo!" Adrian pun menjalankan motornya dan segera melaju menuju taman. Sepanjang perjalanan dia masih saja memikirkan Shania.
Beberapa saat kemudian Adrian sudah sampai di depan taman. Dia segera memarkir motornya, melepas helmnya dan turun dari motor. Bergegas masuk ke dalam taman dengan langkah cepatnya sambil melihat ke kanan dan ke kiri mencari Shania. Terulas senyum di bibirnya saat dia telah menemukan sosok yang dia cari. Dia langsung menghampiri Shania dan duduk di sampingnya sambil merangkulnya. "Shania.."
“Eh, Adrian. Kaget gue.”
Adrian pun melepas rangkulannya karena rasa keingintahuannya yang tinggi pada Taufan dia pun menanyakan alasan yang dibuat Taufan untuk meninggalkan Shania. "Taufan kenapa bisa ninggalin lo sendiri di sini? Emang dia mau kemana?"
"Katanya dia mau jemput nyokapnya,” jawab Shania.
"Terus lo percaya?"
"Ya iya."
Adrian terus menatap Shania. Semudah inikah Shania percaya pada seseorang. "Eh, Shan, gue barusan habis dari toko buku." kata Adrian sambil membuka tasnya mengambil sebuah buku lalu diberikannya pada Shania. "Nih, gue beliin juga buku Kimia buat lo."
Shania mengambil buku itu sambil tersenyum girang. "Lo baik banget sih gue dibeliin juga. makin sayang deh sama lo." Shania menyandarkan kepalanya dipundak Adrian.
Adrian hanya tersenyum, ya tentu saja dia tahu ungkapan sayang Shania hanya sebagai seorang sahabat tidak lebih. Merasakan kemanjaan Shania yang bersandar di pundaknya, dia jadi teringat masa kecilnya dengan Shania. Dulu, dimana Adrian tak pernah merasakan sakit hati seperti sekarang. Yah jauh sebelum dia tahu apa itu cinta.
"Gue juga sayang sama lo, Shan.." ucap Adrian. Tentu baginya ungkapan sayang itu berbeda. Karena dia sayang dengan Shania lebih dari sekedar sahabat. "Gue jadi ingat masa kecil kita dulu kalau kita kayak gini."
Shania pun mendongak dan menatap Adrian. "Gue kangen masa kecil kita."
"Apalagi gue, Shan..." Adrian menatap sendu Shania. Tapi dia bahagia hanya dengan bersamanya. “Kita, pulang yuk." ajak Adrian.
"Yuk." Mereka beranjak dari duduknya dan berjalan menuju motor Adrian yang sedang parkir di depan taman. Adrian memakai helmnya lalu naik ke motornya yang diikuti oleh Shania. Beberapa saat kemudian motor Adrian mulai melaju. Shania pun melingkarkan tangannya di pinggang Adrian.
Adrian melepaskan genggaman tangan kanannya dari setirnya. Dia ingin mengusap tangan Shania yang ada di pinggangnya. Tapi dia urungkan niatnya dan menjauhkan tangannya kembali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
나의 햇살
kok aku gk percaya kalau yg nelepon itu nyokapnya
2022-11-18
3