Shania dan Adrian keluar dari rumah. Mereka berjalan beberapa langkah sampai ke pinggir jalan.
"Yan, kok pintu rumah lo terbuka," kata Shania sambil menunjuk pintu rumah Adrian yang memang terbuka.
Adrian langsung melihat rumahnya. "Iya, tapi kok gelap banget. Jangan-jangan ada maling lagi masuk dalam rumah. Ke sana yuk." Adrian segera menarik tangan Shania agar ikut dengannya masuk ke dalam rumah.
"Bik.. Bibi.." panggil Adrian, siapa tahu saja pembantunya sudah ada di rumah. Tapi tetap tidak ada sahutan.
Adrian terus masuk ke dalam rumah. Semuanya gelap. Hampir-hampir Adrian tak bisa melihat apa-apa. Sampai langkah mereka terhenti di halaman belakang rumahnya. "Ini rumah berasa kayak kuburan aja."
"Eh, Ian!" tiba-tiba Shania berteriak seperti ketakutan kemudian dengan cepat dia langsung menutup kedua mata Adrian dengan tangannya.
"Shan, kalau lo takut kenapa mata gue yang lo tutup." Adrian menyingkirkan tangan Shania yang menutup matanya. Saat berhasil terbuka, semua lampu menyala. Adrian menjadi speechless saat dilihatnya taman rumahnya sudah penuh dengan hiasan balon dan lampu berwarna-warni. Ditambah lagi dengan semua teman-temannya datang dan menyanyikan lagu happy birthday untuknya. Adrian menepuk jidatnya sendiri saat menyadari kalau hari itu adalah hari ulang tahunnya.
"Kenapa gue bisa lupa sama hari ulang tahun gue sendiri." Adrian semakin terkejut saat kedua orang tuanya datang dengan membawa kue ulang tahun dengan lilin berangka 17 tahun di atasnya. "Mama, papa, katanya gak jadi pulang hari ini."
"Ini surprise buat kamu sayang. Sekarang kamu make a wish lalu tiup lilinnya."
Adrian memejamkan matanya sesaat lalu meniup lilin itu. Semua orang yang hadir tepuk tangan dengan meriah saat lilinnya telah padam. Adrian pun memotong kue ulang tahunnya dan memberikan potongan pertama pada mamanya. "Selamat ulang tahun sayang." Mamanya mencium kedua pipi Adrian.
"Makasih Ma, surprise-nya. Aku bener-bener gak nyangka, bahkan aku sendiri lupa sama hari ini." Lalu Adrian memberikan potongan kedua pada papanya.
"Selamat ulang tahun, Ian." Papanya memeluk sesaat tubuh Adrian.
"Makasih, Pa."
Adrian membalikkan badannya dan berjalan mendekati Shania. Mereka saling bertatapan dan tersenyum. "Selamat ulang tahun yah, Ian. Wish you all the best."
"Makasih, Shan." Adrian meraih tubuh Shania dan memeluknya.
Shania pun melingkarkan tangannya ke leher Adrian.
"Gue jadi terharu banget hari ini. Ternyata i'm so spesial buat lo." kata Adrian sambil tersenyum.
"Ih, sok sweet lo. Tapi maaf yah buat hari ini."
Adrian melepaskan pelukannya dan menatap Shania. "Maaf?" Dia baru teringat dengan kejadian hari ini. Motornya hilang sampai dia harus mencarinya berputar-putar. Sudah begitu setelah sampai di depan rumah ada yang mengguyurnya dengan air. Komplit sudah penderitaannya. Adrian mencubit hidung Shania karena gemas. "Jadi lo yang nyuri motor gue. Tega banget lo."
"Ian lepasin." Shania menarik tangan Adrian yang ada di hidungnya dan memanyunkan bibirnya. "Gue gak nyuri. Gue cuma ambil kunci motor lo." Shania menyunggingkan senyum lebarnya.
"Yee, sama aja." Adrian meraih lagi tubuh mungil Shanka ke pelukannya. "Tapi sekali lagi makasih banget."
"Yaelah ini pelukan dari tadi gak selesai-selesai." Devi mendekat dan langsung menarik Shania agar terlepas dari pelukan Adrian. "Yang lain kan juga pada ngantri." Devi langsung menyalami Adrian. "Happy birthday yah Ian. Gue ada hadian yang spesial buat lo."
"Apaan?"
"Sini deket gue." Devi mendekatkan wajahnya dan memejamkan matanya. Dengan bibir Devi yang sedikit mengerucut, Adrian bisa menebak apa yang akan dilakukan Devi. Segera Adrian menghindar sehingga ciuman Devi mendarat di pipi Dika yang memang sengaja didekatkannya.
Devi langsung membuka matanya. "Aaa.. Dika. Rese banget sih lo." teriak Devi saat melihat Dika yang mendapatkan ciumannya. Devi langsung menabok Dika yang diikuti oleh gelak tawa semuanya. Dia mengusap-usap bibirnya. "Aduh! Najis gue habis nyium lo."
"Eh, biar gini-gini gantengan gue kali daripada Ian. Sadar dong sadar. Ian itu cintanya cuma sama Shania gak mungkin sama lo. Yah, meskipun Ian selalu pendem perasaannya tapi gue tahu Ian itu..."
Seketika Dika menghentikan perkatannya saat Adrian yang secara tiba-tiba menginjak kaki Dika dengan keras. "Lo ember banget sih jadi cowok."
"Maaf bro.. Kelepasan." Dika mengusap rambutnya sesaat. "Oiya bro, selamat ulang tahun ya. Semoga semua yang baik-baik deh buat lo." Dika memeluk sesaat sahabatnya sambil menepuk punggungnya.
"Thanks."
"Gue udah siapin sesuatu buat lo. Lo ikut gue," ajak Dika.
Adrian mengikuti langkah Dika. Dia melebarkan matanya setelah apa yang dilihatnya, "Lo beliin gue ini semua." Rupanya Dika sudah menyiapkan semua alat band yang sudah tertata dan siap untuk digunakan.
"Eh, gila!! Dapat uang darimana gue beli semua ini. Ini semua gue yang sewa. Haha.. Yah meskipun gak ternilai tapi gue yakin nilai history-nya bakalan teringat banget. Lo sekarang nyanyi biar kita main musiknya."
Adrian mengernyitkan dahinya. Belum juga ada persiapan kenapa dia langsung disuruh menyanyi. "Nyanyi? Nyanyi lagu apa?"
"Lagu yang itulah. Kita kan udah sering latihan. Mumpung ini momen yang tepat buat lo."
Akhirnya Adrian setuju lalu dia mengambil mik, sedangkan personil yang lainnya langsung memegang alat musik masing-masing. Di sekolah, Adrian memang memiliki sebuah grup band, meskipun hanya kadang-kadang saja mereka latihan.
"Adrian lo mau nyanyi?" tanya Shania yang melihat Adrian sedang mengetes miknya.
"Iya." ucap Adrian sambil tersenyum penuh arti.
"Jangan, Yan. Ntar semua pada kabur dengerin suara lo."
Seketika raut wajah Adrian berubah. Dia cukup gemes dengan Shania. "Ya ampun Shan, sejelek itukah suara gue." Adrian menarik tangan Shania agar Shania berdiri di sampingnya. "Gue mau nyanyiin lagu ini buat seseorang. Yah, syukur-syukur kalau dia merasa."
Shania langsung menatap Adrian. Dia seperti bisa mengartikan ucapan Adrian.
Inginku bukan hanya jadi temanmu.
Atau sekedar sahabatmu yang rajin dengar ceritamu.
Tak perlu hanya kau lihat ketulusan yang sebenarnya tak kusangka kadang kuhilang kesabaran.
Adrian mulai bernyanyi dengan sepenuh jiwaya.
Shania terus menatap Adrian. Begitupun Adrian yang membalas tatapan Shania tak kalah dalam. Adrian kini meraih tangan Shania dan menggenggamnya.
Mungkinkah akan segera mengerti seiring jalannya hari sungguh kutergila padamu.
Yang ada bilakah kau juga sadari akan kutempuh banyak cara agar engkau tahu semua mauku.
Tepuk tangan terdengar begitu meriah dengan sorakan-sorakan. Adrian semakin mempererat genggamannya yang semakin membuat pipi Shania merah merona. Adrian menjauhkan miknya sesaat lalu membisikkan sesuatu ke telinga Shania. "Selesai acara ini lo tunggu gue di taman belakang. Ada yang mau gue bilang sama lo."
Shania hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Baru kali ini Adrian begitu romantis. Ternyata ini sisi lain dari Adrian. Adrian yang sangat childish tiba-tiba berubah menjadi sesosok yang sangat romance yang mampu meluluh lantahkan hati Shania.
Biarkan aku untuk jadi kasihmu karna tak percaya ungkapan jika tak harus kumiliki.
Terlambat jika aku harus berubah kuterlanjur ingini semua yang ada di dalam dirimu..
Adrian melanjutkan lagunya yang belum selesai.
Mungkinkah akan segera mengerti seiring jalannya hari sungguhku tergila padamu
Yang ada bilakah juga kau sadari akan kutempuh banyak cara agar engkau yakin semua mauku
(Lagu by yovie & Nuno - Inginku Bukan Hanya Jadi Temanmu)
Di sisi lain ternyata ada sepasang mata yang menatap mereka dengan tatapan tajam penuh amarah. "Lo boleh seneng-seneng sekarang Pangeran Leon. Tapi lihat saja sebentar lagi pasti lo akan merasakan perubahan dalam diri lo." Edo mengepalkan kedua tangannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments