BAB 3

Pagi hari itu Adrian memutar motornya keluar dari rumahnya saat akan berangkat ke sekolah. Dia langsung menatap ke arah rumah Shania. Senyum manis pun terulas di bibirnya. "Shan..." panggilan Adrian tertahan karena ternyata Shania sudah ada yang menunggunya di sisi kanan rumahnya.

Shania tersenyum dan langsung menghampiri Taufan.

"Taufan lagi.. Taufan lagi.. Kapan lo tahu Taufan yang sebenarnya Shan." Gerutu Adrian lalu kembali melajukan motornya.

Adrian merasa sangat dongkol sepagi itu, karena mau tidak mau dia berada di belakang motor Taufan. Adrian ingin menyalipnya tapi ternyata Taufan dengan sengaja mempercepat motornya.

Hingga akhirnya sampai juga di sekolah. Tapi tiba-tiba motor Taufan sedikit oleng saat memarkir sampai tangan Shania tergores ranting pohon yang cukup tajam.

"Auu." pekik Shania sambil turun dari motor. "Yah, tangan gue..." kata Shania sambil melihat luka di tangannya.

Taufan pun turun dari motornya dan melihat luka Shania. "Cuma tergores dikit. Gak papa kan. Gue ke kelas dulu yah." Taufan meninggalkan Shania sendiri lagi. Shania hanya menatap Taufan dari belakang. Terbesit rasa kecewa di hatinya. Mengapa dengan mudah Taufan membiarkannya begitu saja.

Adrian pun turun dari motornya dan langsung menghampiri Shania. "Shan, tangan lo kenapa?" tanya Adrian yang melihat luka di tangan Shania.

"Cuma tergores sedikit."

Adrian mengambil plester yang ada di tasnya lalu menutup luka Shania dengan plester itu. "Meskipun cuma luka kecil tapi harus tetap diobati. Untung gue bawa plester kemana-mana."

Shania menatap Adrian yang sangat perhatian dengannya. Dari dulu sampai sekarang Adrian tetap perhatian. Bahkan perhatiannya semakin bertambah besar saat ini.

"Udah yuk ke kelas." Adrian menggandeng tangan Shania sambil mengangguk dan tersenyum.

Saat mereka melewati lorong sekolah tiba-tiba ada hembusan angin dingin yang melintas. "Yan, barusan apaan?" kata Shania sambil ketakutan dan melingkarkan tangannya di pinggang Adrian. Hawa itu sangat dingin. Seperti ada aura hantu yang beberapa kali melewati mereka.

"Gak tahu Shan. Mungkin ada hantu." Adrian semakin menakuti Shania dengan ekspresinya. Dia tahu, sejak kecil Shania pobia dengan hantu.

"Masak di sekolah kita ada hantu, Yan." Shania semakin mempererat pelukannya.

Sedangkan Adrian semakin tersenyum merasakan pelukan Shania.

Plak!!!

Shania menampar Adrian saat melihat senyuman Adrian dengan arti lain. “Ih, dasar omes.”

Adrian meringis kesakitan sambil memegang pipinya. "Aduh Shan. Gak usah gampar-gampar kali. Kan lo yang peluk gue duluan malah gue dibilang omes."

Shania pun berjalan mendahului Adrian sambil menggerutu. "Shan, tunggu!”

Karena kesal mendengar Adrian yang terus memanggilnya, Shania membalikkan badannya dan berjalan mundur. "Udah lo jangan ikutin gue. Kita sekarang udah remaja, harus bisa jaga jarak.” Begitulah Shania, dia yang memulai tapi dia juga yang marah.

Tiba-tiba Shania menabrak seseorang yang ada di belakangnya. Spontan badan Shania dan orang itu kehilangan keseimbangan. Dengan cepat ada tangan yang melingkar di pinggang Shania dan menahan tubuhnya agar tidak jatuh.

"Pangeran Leon..." ucap seseorang yang ditabrak oleh Shania dan tak disangka ternyata Adrian yang menangkap tubuh gadis itu. Mereka saling bertatapan untuk beberapa sesaat.

"Pengeran Leon? Pangeran Leon maksud lo?" kata Adrian sambil melepaskan tangannya.

"Mm-maaf bukan apa-apa kok." Ucap gadis itu yang tak lain adalah Aura.

Tapi sedetik kemudian pandangan Adrian beralih pada Shania yang masih bertatapan dengan pria itu, segera Adrian menarik tubuh Shania. "Apaan sih lo main peluk-peluk segala."

"Ih, Yan, dia yang nolongin gue barusan. Lo tuh yang gak nolongin gue malah nolong cewek lain." Shania membenarkan roknya sambil memanyunkan bibirnya.

"Reflek, Shan. Gerak tubuh secara spontanitas.”

"Ya sama, tapi gak usah salahin gue." Adrian dan Shania lagi-lagi kembali beradu argumen.

Jiwa murni Putri Amora...

Edo yang berada tepat di belakang Shania mengendus aroma jiwa murni yang ada di tubuh Shania.

"Heh! Heh! Ngapain lo ngendus-ngendus gitu." Adrian menarik tangan Shania agar Shania berdiri di sampingnya. "Udah kayak vampir aja lo." kata Adrian dengan seenaknya. Dia memang belum tahu, berhadapan dengan siapa.

"Adrian ngomong apa sih lo. Ngaco! Udah yuk ke kelas, udah mau masuk nih.” Shania menarik tangan Adrian agar segera mengikutinya masuk ke dalam kelas.

Edo merasa kesal. Dia hampir saja memukul Adrian tapi Aura mencegahnya dan menarik tangan Edo agar pergi dari tempat itu. "Edo, tahan emosi lo.” kata Aura sambil berjalan menuju ruang guru bersama Edo.

"Gue yakin cewek itu adalah Putri Amora dan..."

"Dan cowok itu adalah Pangeran Leon. Tapi Edo kekuatan di diri cowok itu belum muncul." Kata Aura. Meski dari tatap matanya dia yakin jika pria yang menahan tubuhnya itu adalah pangeran Leon.

"Justru itu lebih memudahkan kita untuk membunuhnya."

"Nggak! Kalau ternyata dia bukan Pangeran Leon gimana?” cegah Aura agar Edo tak bertindak gegabah.

"Yah. Elo benar." Lalu mereka segera masuk ke dalam ruang guru.

Terpopuler

Comments

renjana biru

renjana biru

yuhuuu kak,, aku mampir bawa like
jgn lupa mampir jg ke karyaku "faith"
ayok kita saling dukung😁

2022-11-19

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!