EPISODE 16

Hening, tak ada lagi suara ketukan pintu yang terdengar. Mereka saling bertukar pandang. Lim mendorong Zero yang berdiri di depannya, untuk mengecek keadaan di luar. Didukung oleh Rena. Zero, denagn tangan bergetar memutar kunci dan menarik gagang pintu sehingga memberi sedikit celah untuk matanya mengintip keadaan di luar. Wajah Zero memucat, dengan cepat dia menutup pintu dan berlari menjauh. Semua orang menatap heran kearah Zero yang kini telah menghilang di balik pintu kamar mandi.

Rena berpaling, kembali menatap lekat daun pintu di depannya. "Hei?. Apakah ada sesuatu yang buruk di balik pintu ini?", Ucapnya.

"Kau akan tahu. Jika kau memiliki nyali untuk melihatnya sendiri", sahut Lim.

Tuan Loner beranjak dari duduknya. Setelah melihat reaksi Zero ketika membuka pintu, sesuatu yang ada di sana membuatnya merasa penasaran. Ditaruhnya senapan panjang ke atas meja, dan digantikan dengan sembilan pisau panjang miliknya yang ia sandarkan di bawah jendela. Kilat pisau terkena sinar mentari membuat siapa saja bergidik ngeri. Pisau dengan gagang unik itu ia genggam dengan tangan tua penuh ototnya. Tuan Loner memegang gagang pintu dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya siap menebas dengan pisaunya.

Mike yang melihat kewaspadaan tuan Loner, sedikit cemas. Tangan kekarnya seakan siap menebas siapa saja atau apa saja yang mungkin akan muncul di hadapannya. Mike berjalan menghampirinya sebelum Tuan Loner sempat membuka pintu. Tongkat bisbol yang digenggamnya digerakkan kearah bilah pisau milik Tuan Loner, dengan tujuan menurunkan sedikit pisau yang diangkat tuan Loner. "Kuharap kau tidak asal tebas, Tuan!", Ucap Mike. "Kita tidak tahu siapa dan apa yang ada di depan sana. Turunkan sedikit senjatamu, atau aku akan memukul kepala mu!".

"Baiklah, Mike. Sepertinya aku terlalu bersemangat?!", Balas Tuan Loner. Bilah pisau yang diangkatnya sebahu dengan posisi mata pisau ke samping yang siap menebas itu, ia turunkan hingga menunjuk ke lantai.

Mike beringsut mundur. Mempersilahkan Tuan Loner untuk membuka pintu sesuka hatinya. Tentu saja dengan catatan 'tidak asal tebas'.

Tuan Loner siap memutar gagang pintu kebawah. Namun, teriakan Zero membuatnya berhenti dan menoleh ke belakang.

"Jangan buka!!", Teriak Zero yang baru saja keluar dari kamar mandi. "Demi apapun, kumohon jangan buka pintunya!".

Tuan Loner mengerutkan alisnya,"Kenapa?".

Mike berjalan menghampiri Zero yang masih mengatur nafasnya. Ditepuknya bahu sahabatnya itu lalu bertanya,"Ada apa sobat?, Kenapa pintunya tidak boleh dibuka?".

"Ayolah Zero!, Hal mengerikan seperti apa yang ada di luar sana?", Ledek Lim.

Tuan Loner melangkah mundur kebelakang memberi jalan, ketika Lim bergerak mendekati pintu dan membukanya, dengan mata yang masih tertuju kearah Zero. "Lihat!, Tidak ada apa-apa!", Ucap Lim ketika telah berhasil membuka pintu. Tatapannya ia langsung alihkan ke tempat yang tadinya tertutup daun pintu. Hal pertama yang ia lihat didepannya adalah wajah seorang pria bertampang ganas, tapi ada hal lain yang menarik perhatiannya. Ditangan pria itu, ada sebuah kepala dengan wajah pucat menyeringai kearahnya dengan mata putih, seputih susu.

Dengan jantung berdebar Lim beringsut mundur. Begitu juga Rena. Tuan Loner dengn pisau ditangannya, semakin menautkan alisnya. Mike terbelalak, dan Zero kembali masuk ke dalam toilet sambil berteriak histeris; "Aku tak akan keluar dari tempat ini, sebelum kepala sialan itu pergi!!".

"Hei?, Ada apa ini? Kenapa kalian ribut sekali?", Pria yang tadinya terlelap diatas sofa, sudah kembali dari alam tidurnya. Matanya mengintip walau masih samar-samar. Mata yang baru saja terbuka itu ia sipitkan, memaksanya untuk fokus melihat sekelilingnya. "Apakah itu kepala... Bone... Ha...? Itu.... Tidak mungkin!. Itu kepala manusia?", Mata pria itu langsung beralih kepada sang pemilik tangan yang sedang menatap garang kearahnya. "Anak mu, tuan?", Tanyanya kemudian.

"Ya, ini anakku", ucap pria gagah yang sedang berdiri di ambang pintu. "Bolehkah aku masuk?. Tapi sepertinya aku membuat kalian takut?".

"Tidak masalah tuan, jika ada yang ingin kau tanyakan atau katakan kami dengan senang hati menerima kehadiran mu", Ucap Tuan Loner ramah.

"Anda sungguh baik, tuan!", Pujinya. Sersan berbadan tegap itu menoleh kearah dua wanita yang sedang berusaha tidak berteriak, dan memalingkan wajah mereka."Tapi aku tidak yakin, apakah aku menakuti kalian nona?".

"Sungguh tidak, siapapun dirimu! Hal yang kami takutkan bukan ada pada wajahmu, tapi ditangan mu", Jawab Rena.

"Ya ya!. Wanita berguncir dua ini benar!. Setidaknya kau tinggalkan atau taruh dimana kepala ditanganmu itu sebelum mengetuk pintu ruangan ini!", Sahut Lim.

"Ah?, Maafkan aku!. Aku hanya ingin bersama putriku yang malang ini.", Pria itu membalik kepala itu sehingga menghadap kearahnya, dielusnya pipi yang pucat itu dengan penuh kasih sayang. "Lihat! Dia tersenyum!. Aku yakin dia telah bahagia, atau dia sedang menertawakan ku diatas sana?".

"Kurasa orang ini sudah gila?!", Bisik Rena.

Lim mendekat kewajah Rena dan ikut mengutarakan pendapat, "ya! Kau benar! Ini mungkin syok tingkat tinggi yang memengaruhi kejiwaannya".

"Apakah kau berfikir, jika rumah sakit jiwa di seberang laut sana, masih beroperasi?"

"Apa yang kau pikirkan?, Apakah kau bermaksud mengirimnya ke sana?. Oh ayolah zaman sudah berubah, bahkan mungkin dokter spesialis kejiwaan yang ada di sana sudah menjadi manusia pucat, seperti yang ada ditangannya itu", Lim menunjuk sedikit kearah kepala itu.

"Masuk akal!", Ucap Rena setuju.

Empat pria, dan satu kepala tanpa tubuh duduk diatas yang diatur berhadapan dengan dipisahkan oleh sebuah meja. Mike, Tuan Loner, dan pria yang dijadikan sandera, duduk di satu sofa yang memiliki panjang satu setengah meter. Sedangkan pria dengan kepala ditangannya itu, duduk disebrang diatas kursi dengan panjang sama, menghadap mereka.

"Sersan? Jadi apa yang ingin kau katakan?", Ucap Mike membuka pembicaraan.

◣◈◊◈◢

'Mobil kota, terkutuk!', itulah ucapan batin wanita tua itu sebelum dirinya terjangkit virus yang akan mengendalikan tubuhnya. Kini desa kecil itu telah dihuni oleh tiga zombie salah salahsatunya masih terperangkap oleh benda yang membawanya masuk ke tempat itu. Matahari belum terlalu memancarkan cahaya dan suhu panasnya. Dua zombie itu berjalan kaku menuju pemukiman penduduk. Suara gaduh membuat penasaran sang Zombie pria yang masih memegang cangkul ditangannya, ia mampir ke salah satu rumah warga yang penghuninya sedang bertikai. Mulut kaku yang terus mengeluarkan suara geraman seperti seekor anjing, terus ia gerakan. Muncul teriakan seorang wanita dari dalam rumah yang ia hendak masuki, diikuti oleh suara pecahan kaca membuat zombie itu tambah bersemangat. Ia langkahkan kakinya lebih cepat, dengan mata cangkul yang terus diseretnya kebawah.

Pria berwajah merah dengan mata melotot, menatap kearah wanita yang sedang tersipuh tak berdaya diatas lantai. Pria itu mengarahkan matanya menatap seseorang yang datang tak diundang masuk kerumahnya. Pria itu berteriak, "Hei Sialan! Apa maksud tatapan mu, ha? Apakah kau ingin mengasah cangkul mu? Jika iya bawa kesini, akan ku pertajam dengan mengasahnya ke kepala wanita sialan ini!".

Melihat tak ada reaksi selain suara geraman, pria itu melmpar vas bunga yang tergeletak diatas meja kearahnya. "Bicaralah sialan!. Jika kau tak terima, keluar saja!", Bentar pria itu.

Zombie tukang kebun dengan cangkul itu melangkah kecil kearah pria itu, dalam hitungan ketiga Zombie itu mengayunkan cangkulnya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Pria itu tak sempt menghindari mata cangkul yang berusaha menancap ke ubun-ubun kepalanya. Suara desiran darah yang muncrat, dan teriakan wanita itu terdengar. Dentuman keras tubuh bongsornya membuat lantai kayu itu sedikit bergetar. Wanita paruh baya yang malang itu hanya bisa lari melewati jendela, membawa serta rasa kepanikannya.

Sementara itu dirumah yang lain. Seorang gadis kecil berusia lima tahunan tersenyum gembira, dengan dua boneka kayu ditangannya.

"Ayo Tuan Tet! Kita harus minta mama untuk memasakkan ayam goreng untuk kita!", Ucap Gadis manis itu sambil menggerakkan salah satu boneka yang dipegang nya.

Gadis itu kemudian menggerakkan boneka dengan topi koboi hitam dikepala,"Maaf nyonya Jisei, kata mama menu kali ini bukan ayam. Apakah kau merasa kecewa Lia?", Ucap gadis itu, bertanya kepada diri sendiri melalui boneka.

Seakan menjawab pertanyaan orang lain, gadis kecil bernama Lia, ini menggelengkan kepalanya, "Aku tidak kecewa! Aku suka apa pun yang ibu masak!", Ucapnya. "Hei, Tuan Tet dan nyonya Jisei! Apakah bibi itu temannya mama?", Lia menunjuk kearah seorang wanita yang berjalan masuk ke halamannya. Entah apa yang dipikirkannya, Lia bergerak menutup semua pintu dan jendela dengan cepat, ia kemudian berlari kearah dapur, berteriak memanggil ibunya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!