EPISODE 17

"Selamat jalan, sersan!", Teriak Mike dari jendela dengan tangan kanan yang dilambaikan. Pria yang ia panggil 'sersan' membalas dengan hal serupa dari jalanan.

"Pria yang malang", Ucap Tuan Loner, bergerak menyeruput kopinya. "Kehilangan keluarga tercinta, dan itu ia saksikan akhir anggota keluarga nya dengan matanya sendiri".

"Ya! Aku sungguh Sersan polisi itu sangat kuat. Ia bahkan tidak meraung ketika melihat jasad anaknya yang malang itu", Sahut Mike. Bergerak duduk di sofa kosong yang ada di hadapan Tuan Loner.

"Maaf tuan-tuan, kami tak bermaksud mengganggu pembicaraan kalian. Tapi... Sepertinya perut kami bermaksud begitu", Ucap Lim mengusap perutnya yang masih bergemuruh.

"Ahahahah, maaf. Sepertinya perutku juga lapar", Ucap Mike.

"Apakah kau tidak menyimpan beberapa persiapan makanan?. Aku lihat ruangan ini hanya ada kursi, meja dan alat-alat yang.... Aku tidak tahu apa itu", Ucap Tuan Loner.

"Sebenarnya kami..."

"Hei! Kalian semua! Apakah pria itu sudah pergi?. Ooh aku bahkan bisa mencium amis darah yang keluar dari kepala yang dibawa, dari dalam toilet ini!", Teriak Zero yang duduk berjongkok diatas toilet, memotong ucapan Mike.

"Bertahanlah disitu sobat! Pria itu belum pergi. Mungkin besok?", Bohong Rena.

Rapat dimulai kembali —tentunya setelah mereka selesai mengisi perut — mereka berlima terlihat duduk diatas sofa, dengan sebuah meja kayu tepat berada ditengah-tengah. Sementara pria yang sebelumnya menjadi pemilik supermarket itu, duduk dipojokan dengan kursi kayu yang menyangga tubuhnya. Ini bisa dibilang siang pertama bagi mereka di masa wabah zombie. Memang terlalu dini untuk menyiapkan segalanya. Setumpuk kertas berserakan diatas meja, kelihatannya orang yang menulis disana sudah memiliki gambaran untuk kedepannya. Hanya mencari persetujuan yang lain untuk bergerak. Ada lima kertas putih dengan torehan tulisan yang berbeda. Tentunya lima kertas itu berisikan usulan dari masing-masing anggota rapat. Kertas putih yang telah diisi kemudian disatukan dan akan dibacakan oleh Rena. Lim dan Rena mengintip usulan dari semua orang. Tatapan tajam mereka melayang kearah Zero, yang kertasnya hanya berisikan gambar tidak jelas yang lebih berkesan coretan hantu, atau mantra, atau apalah.

Rena mulai membaca setiap usulan yang tertera di kertas.

"Lim memberi usulan; 'Cari dan temukan senjata yang berguna, sebelum orang lain mendahului kita'" . Kemudian Rena beralih ke kertas selanjutnya dan kembali membaca.

"Mike memberi usulan; 'Untuk saat ini (3 hari kedepan), lebih baik meneliti bagaimana zombie ini dapat hidup, dan apakah manusia yang terjangkit benar-benar masih hidup atau sudah mati'". Lim Menganti kertas.

"Isi usulan Tuan Loner; 'Karena masih awal persebaran zombie, kemungkinan pedesaan di sekitar masih tidak tercemar. Oleh karena itu, selmatkn terlebih dahulu orang-orang, baru kemudian kita membahas rencana selanjutnya'". Rena kembali mengganti.

"Rena memberi usulan... sepertinya tidak perlu dibacakan?" Ucap Rena, meletakkan lima lembar kertas diatas meja kayu didepannya. "Usulan ku sama dengan Tuan Loner", kemudian tersenyum kearah tuan Loner yang sibuk mengusap senapannya dengan kain persegi berwarna hitam.

"Kalau begitu sesuai perjanjian; usulan sama yang diberikan oleh orang yang berbeda, itulah yang akan kita gunakan", Ucap Mike.

Tuan Loner mengerutkan dahinya "Tunggu sebentar anak muda!", Ucapannya, kemudian bergerak menunjuk kearah Zero. "Sepertinya kau melupakan kertas milik pria menyedihkan ini?".

"Ikhh... Siapa yang kau sebut 'menyedihkan', pak tua?!", bentak Zero tak terima.

"Maaf sebelumnya Tuan Loner, tapi apa yang ada di kertas milik Zero sama sekali tidak bisa dibaca, atau dijelaskan dengan bahasa manusia. Tapi jika kau mau, kau boleh mencobanya?", Ucap Lim, menyerahkan selembar kertas yang telah ia ambil dari atas meja.

Tuan Loner mengernyit, diambilnya kertas yang diulurkan Lim. Ia sedikit menyunggingkan senyum saat menatap selembar kertas yang ada ditangannya. Mike penasaran dan bergerak ikut melihat isi kertasnya.

"Cukup menginspirasi", Ucap Tuan Loner tersenyum.

Matahari sudah berada tepat diatas kepala, tidak ada tanda-tanda kemunculan zombie sama sekali. Zero beranggapan bahwa zombie sama haknya dengan vampir, bersembunyi ketika terang dan muncul ketika gelap. Mobil pick up yang dibawa tuan Loner dari desa, telah penuh dengan beberapa persediaan makanan dan senjata. Mike menyeka keringatnya setelah diletakkannya beberapa botol air mineral ke dalam bak pickup. 'Panas yang cukup untuk menjemur seekor ayam dewasa', pikir Mike. Semua barang yang diperlukan telah ditata dengan rapi, hanya tinggal mencari tempat yang aman untuk orang-orang yang akan mereka selamatkan nantinya.

Mereka dibagi menjadi dua tim, setiap tim berisi tiga orang (dengan sandera). Tim A yang berisikan Lim, Tuan Loner, dan pemilik minimarket (sandera), bergerak menyusuri dam memeriksa bangunan-bangunan yang berada di sisi kiri. Sementara tim B, yaitu Zero, Mike, dan Rena, bertugas di sisi sebelah kanan. Masing-masing tim memeriksa bangunan yang paling dekat dengan apartemen yang mereka huni sekarang.

Tim A memasuki sebuah bangunan yang terlihat seperti rumah dengan tiga lantai. Lantai pertama berhasil mereka masuki tanpa hambatan, ruangan yang cukup terang, karena bola lampu yang tertancap diatas langit-langit ruangan menyala dan ditambah dengan sinar matahari yang masuk lewat jendela kaca bening. Sepertinya lantai ini digunakan sebagai tempat penjualan alat tulis. Karena ada berbagai macam kertas, buku, dan perlengkapan menulis maupun menggambar lainnya. Setelah memeriksa lantai pertama dan dinyatakan aman, mereka beranjak kelantai dua. Dilantai ini ruangan dan tangga cukup gelap, sebab lampu diatas mereka mati dan tidak ada sama sekali cahaya matahari yang masuk karena tertutup gorden. Sebuah ruangan dengan pintu yang terlihat sedikit ternganga. Jujur saja mereka sedikit melihat bercak darah ditangga menuju lantai dua, tapi itu hanya berbentuk 3 tetes darah yang seukuran kancing baju. Jadi mereka tidak menghiraukannya.

Mereka dekati daun pintu itu dengan tangan siap menghunuskan pisau. Lim menyusul dari belakang dengan mengarahkan sebuah pistol glock 17 yang telah diberi peredam sederhana dari botol air mineral yang direkatkan dengan pita perekat, pada lubang tempat keluarnya peluru. Dia harus berterimakasih pada sanderanya karena menyelipkan satu pistol dicelana, sehingga mereka memiliki dua pistol dengan yang dia ambil dari minimarket. Pistol diberikan kepada wanita, dan pria hanya memakai senjata tajam.

Tuan Loner maju lebih dulu, berniat membuka daun pintu. Tapi, Lim menghentikannya, ia menyuruh sang sandera untuk menggantikan Tuan Loner untuk membuka pintu.

Tuan Loner mendesah dan kemudian berbisik, "Baiklah nona. Tapi, bisakah kau turunkan sedikit benda hitam itu? Kau seakan ingin membunuhnya", Ucap Tuan Loner, menatap moncong pistol yang diarahkan kepada pemilik minimarket yang belum diketahui namanya.

"Tidak apa-apa, sobat! Sepertinya dia takut jika aku membunuhmu?", Ucapnya.

Lim sedikit menurunkan pistol ditangannya, "Hehh... Setidaknya kau paham maksudku. Cepatlah, buka pintunya!", Perintahnya.

Tuan Loner bergeser ke samping, memberi jalan kepada lelaki malang yang berdiri di belakangnya. Pintu ruangan telah dibuka, mereka masuk ketika saling bertukar anggukan kepala. Pemilik minimarket dituntut untuk maju lebih dulu, serangan dadakan diterimanya. Sebuah zombie pria melayang kearahnya. Kemeja biru langit dibadan zombie itu. Lim meluncurkan satu tembakan, tepat mengenai tempurung kepala sebelum sang pemilik berhasil menancapkan gigi putihnya kepada pria itu.

Lim meniup moncong pistol."Tepat sasaran", ucapnya kemudian.

"Sedikit membuat kaget dan...", Pria itu melemparkan tubuh zombie itu kesamping sebelum dirinya bergerak bangun. "Pria ini bau, sepertinya teman polisimu belum mandi dari tahun yang lalu?", Ucapnya.

"Teman polisi?", Bingung Tuan Loner.

"Tidak! Dia bukan seorang polisi, apalagi temanku!", Tegas Lim. Kemudian ia menghela nafas, "Harus aku berapa kali lagi wahai kasih minimarket?!".

"Hem?, Maaf tuan. Apakah kau beranggapan jika zombie itu adalah komplotan kami?", Tanya Tuan Loner.

"Ya bagitulah. Aku tidak percaya dengan semua yang dia katakan", Pria itu menunjuk Lim. "Kuharap kau mengerti, Pak!", Ucapannya.

"Biarkan saja dia Tuan Loner. Mari kita periksa saja tempat ini". Lim melangkah masuk, dan mulai memeriksa setiap sisi.

Ruangan yang cukup gelap dan lembab. Disetiap sisi terlihat masih dalam keadaan rapi. Ada sebuah meja dengan panjang sekitar 50 cm dengan tinggi yang sama terletak didekat jendela, bersama dua bantal duduk yang bersebrangan. Dua cangkir berisikan Bir hitam terletak di atas meja. Lim bergerak memeriksa lemari pakaian berukuran sedang berbahan kayu, yang terletak di sebuah sudut ruangan. Tuan Loner memeriksa tempat tidur single bed yang berhimpitan dengan dinding ruangan. Pria pemilik minimarket hanya mengamati sekitar tanpa menyentuh apapun.

"Sepertinya aman?", Ucap pria itu, tetap pada tempatnya.

Lim bergerak menutup pintu lemari pakaian, "Ya, aku rasa begitu", Ucapnya. "Tuan Rudi?".

"Wah kau hebat juga, bisa tahu namaku", Ucap pria yang dipanggil Rudi oleh Lim.

"Jika kau tidak ingin namamu diketahui oleh orang lain. Jangan gunakan tanda pengenal itu!", Lim menunjuk kearah kartu tanda pengenal yang bergantung di baju bagian dada pria itu.

"Ya, baiklah. Dasar!", Dengus pria bernama Rudi.

"Kelihatannya tidak seaman yang kalian kira", Tuan Loner berjalan mendekati meja yang bersikan dua cangkir yang berisikan Bir. "Ada dua cangkir bir disini, dan kedua gelasnya tidak penuh maupun kosong. Jika perkiraan ku benar, pria zombie tadi adalah salah satu orang yang duduk di sini. Dan, Lim? Bagaimana lemarinya?".

"Emm... Hanya ada beberapa pakaian santai, kemeja, dan beberapa celana" jawab Lim. "Tapi ada yang aneh...", Dia kembali membuka pintu lemari dan mengeluarkan sebuah tas besar yang berada di bawah baju yang bergantungan. Lim membuka isi tas itu dan menunjukkannya kepada dua pria yang kini berjalan menghampirinya. Ada beberapa kaos santai dan bermacam celana yang ukurannya lebih besar, berbeda dengan baju yang bergelantungan di dalam lemari.

Tuan Loner memutah tubuhnya, ia berusaha berfikir sejenak, "Jika ada dua orang yang mendiami ruangan ini. Dimana satu orang lainnya?. Cawan bir yang tergeletak itu sepertinya telah diminum. Kamarnya tidak terkunci, dilantai bawah tidak ada siapapun. Tidak ada ruangan lain selain ini dilantai dua".

"Apa yang kau pikirkan pak tua?, Apakah kau berfikir satu orang lainnya sedang bersembunyi di ruang kecil yang ada di sebelah?", Ucap Tuan Rudi.

"Ada ruangan lain?", Tanya Tuan Loner.

"Sepertinya ada!. Aku tadi samar-samar melihat sebuah ruang kecil di samping, cukup kecil untuk ukuran ruangan. Aku rasa sebuah koridor?", Sambung Lim.

"Gawat!. Ayo kita periksa sebelum...", Sebuah geraman terdengar dari depan. Tuan Loner sempat mengira jika itu hanya dari satu sumber. Tapi, anehnya geraman itu seperti bersahutan, seakn ada sekelompok anjing liar yang mengintai mereka. Dengan cepat Tuan Loner berlari kearah pintu berniat menutupnya. Namun terlambat, tiga pasang tangan berbagai ukuran terulur masuk, Tuan Loner sekuat tenaga mendorong daun pintu dan menjepit tangan yang berusaha mencakar nya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!