EPISODE 12

Suara luncuran kembang api mulai lenyap dari pendengaran. Sersan Joursen terus memacu mobilnya untuk menembus kepekatan malam. Matanya terus melihat ke sekeliling jalan, berharap menemukan istri dan anaknya di sana. Tidak ada tanda-tanda kehidupan sepanjang jalan yang ia lalui menambah rasa khawatirnya. Sesekali matanya melirik ke benda bulat yang melingkar di pergelangan tangannya.

Hanya tinggal setengah kilometer lagi dia akan sampai ke taman kota. Mobilnya terus melaju, sebelum sesosok tubuh memaksanya untuk berhenti. Wanita berambut panjang sedada berjalan terseok-seok dengan kepala yang terlihat miring ke samping. Sersan Joursen menatap lekat wanita yang berjalan di depan mobilnya. Walau sudah berwajah pucat dan timbul urat-urat hijau, Sersan Joursen tahu betul siapa yang sedang mengunci penglihatannya saat ini.

Mata Sersan Joursen benar-benar terbelalak, setitik air mata mengalir di pipinya. Dia sama sekali tidak sanggup untuk melihat istri tercintanya yang telah berubah menjadi seperti manusia tak bernyawa yang berkeliaran tak tentu arah. Kepanikan melanda dirinya, hanya ada istri dan dimana anaknya?. Tanpa berfikir panjang, pria berkulit sawo matang itu kembali meluncurkan mobilnya. Sesekali ia terlihat menyeka air mata yang mengalir membasahi pipinya.

Pandangan matanya benar-benar difokuskan untuk hanya melihat kearah jalan. Tak ingin lagi ia melihat istrinya yang kini tidak terlihat seperti manusia lagi.

Pikirannya bimbang, sersan Joursen berharap putri kecilnya yang malang bisa selamat, dan kembali ke pelukannya sebari berucap 'Papa' dari mulut kecilnya. Bayang-bayang indahnya cinta keluarga, merasuki pikirannya. Namun, sepertinya itu hanya akan menjadi sebuah cerita lama, dengan ditemukannya sang istri yang telah kehilangan kesadaran pikiran, dan putri kecilnya yang hilang dan berkemungkinan juga berubah seperti ibunya.

Sudah ia susuri seluruh kota bersama mobil hitam miliknya. Namun, bahkan sehelai rambut miliki putrinya pun belum ia temukan. Sersan Joursen menghentikan mobilnya di persimpangan jalan yang dipenuhi dengan balon dan terompet yang bergelantungan, berusaha menenangkan pikirannya. Setelah lama merenung, sersan Joursen memutar mobilnya dan kembali melaju menerobos jalan.

...◣◈◊◈◢...

"Mike pembunuh! Mike membunuh seseorang!. Aku melihatnya dia membunuh orang itu!", Racau Zero. Kedua tangannya menutup erat kedua telinga miliknya, mulutnya terus melanturkan kata-kata yang sama dengan jarak 10 detik sebelum kata itu terulang kembali.

Mike benar-benar tak sanggup lagi, ingin dia memasukkan pasir berkerikil di tempat konstruksi yang tadi mereka lewati ke dalam mulut Zero, atau menghantamkan kepala Zero ke dinding kafe penuh cat coklat yang berdiri tegak di belakang trotoar jalan.

"Diamlah sobat!, Aku bisa saja kehilangan kendali dan melemparkan tubuhmu ke dalam pusaran zombie!", Ancam Mike.

"Diam kau pembu....". Mike menghantam keras kepala Zero dengan kepalan tangannya, sebelum ia menyelesaikan ucapannya.

"Ku harap pukulan kepala bisa mengembalikan kesadaran mu!.

Trotoar berlantai batu, menjadi tempat mereka berpijak. Entah apakah sebuah keberuntungan atau sebuah permen manis sebelum pahit, tak terlihat satupun manusia hijau selama mereka keluar dari gedung apartemen. Jalanan yang cukup sepi, tak ada satupun suara selain dua pasang langkah kaki yang berasal dari mereka. Zero memegangi kepalanya, dia benar-benar berhenti meracau sekarang. Sesekali Mike melirik kearah temannya takut ia kembali meracau dengan intonasi suara yang lebih besar. Jika itu terjadi, terpakai Mike akan dengan cepat membuat Zero pingsan dengan memukul leher belakangnya.

"Aku harap pukulan ku tadi, tidak membuat mu gila sob!. Apa kau baik?", Mike melirik kearah Zero dan kemudian berpindah ke jam tangannya.

Zero membalas dengan anggukan,"Pukulan mu seperti ingin membunuh ku!. Kumohon jangan lakukan lagi!".

"Tergantung, jika kau kembali meracau mungkin kau akan menerima yang lebih parah dari yang tadi?!".

"Carilah cara yang sedikit lembut!. Aku bisa saja mengalami epidural hematoma akut karena pukulan mu!".

"Baiklah, jika kau ingin yang lebih lembut... Bagaimana dengan menyuntikkan sedikit obat penenang?".

"Demi apapun, aku benci suntikan!".

"Haha, kalau begitu bagaimana dengan...". Mike menghentikan ucapannya ketika tanpa sadar kakinya menyentuh sebuah benda berbahan besi yang berdiri di berhimpitan di depan sebuah toko. Benda itu terjatuh, dan membuat suara gaduh yang lumayan keras. "Gawat!, Aku benar-benar kehilangan fokus ku!".

Segerombolan Zombie berlari dari segala arah seperti pasukan polisi yang sedang memburu buronan yang kini tersudut dan dengan penuh keyakinan bisa ditangkap dengan satu serangan berkelompok.

"Ow ow, Mike!. Sepertinya kita akan menjadi menu panggang para zombie di malam tahun baru ini!?".

"Tenanglah Zero!. Hei, sepertinya kau tak sepanik saat pertama kali bertemu zombie di dalam apartemen tadi?!", Ucap Mike, bersiap dengan senjata ditanganinya.

Zero tersenyum miring, digenggamnya besi panjang yang baru saja diserahkan Mike padanya. "Aku siap bertarung!", Ucap Zero mantap.

Mike menarik tangan Zero, berlari menjauhi kerumunan Zombie yang mendekat. Zero tercengang, dia hanya bisa terus mengikuti langkah Mike tanpa berkata apapun. Mike terus fokus mencari celah pada kepungan zombie yang terus menerus bergerak denagn cepat, berkumpul di asal suara yang memancing mereka.

"Apa kau gila?!, Segerombolan zombie yang bahkan jumlahnya puluhan itu ingin kau lawan?", Ucap Mike sambil terus berlari.

"Apa?".

"Apanya yang apa?. Kau pikir denagn hanya kita berdua akan sanggup?".

"Tapi kau tadi terlihat yakin dengan raut wajahmu yang seperti panglima perang dinasti Qin!".

Mike tersenyum tipis, dia hanya berniat memberi semangat kepada Zero agar tidak terlalu takut dan panik melihat manusia mengerikan yang berlarian mengepung mereka. Beberapa zombie terlihat berbalik arah, tak lagi tertarik dengan suara keras akibat kaleng sampah besar yang tumbang tersenggol tungkai kaki. Kibasan bayangan hitam dan kilauan besi di sela-sela cahaya, sepertinya lebih menarik sekarang. Dengan langkah kaku, sebagian zombie terlihat mengejar Mike dan Zero yang berlari menyusuri trotoar jalan.

Mike melihat para manusia hijau itu mengejar mereka, dihentikannya sementara gerakan larinya. Dengan bebarapa langkah kedepan, dilemparkannya tongkat bisbol yang ada di tangannya kearah kaca jendela berjarak sekitar 5 meter di belakang arah pelariannya. Suara kaca yang pecat dan dentuman tongkat bisbol berhasil memancing para zombie untuk kembali mendatangkan rasa penasaran mereka sementara.

Entah apa yang dipikirkan oleh Mike, ketika telah berhasil mengalihkan perhatian zombie dengan tongkat bisbolnya, dia temenung seperti memikirkan sebuah hal besar di otaknya. Kali ini giliran Zero yang menarik tangan Mike selagi zombie-zombie itu sedang sibuk dengan urusan mereka.

Jalanan yang mereka lewati kembali sepi, seperti sebelumnya. Namun, itu hanya sementara. Segerombolan zombie yang mungkin berjumlah dua ratusan sedang berdiri di sebuah gedung pendek. Terilhat seperti sedang menonton tarian dua wanita yang denagn semangat mengayunkan besi panjang di tangan mereka masing-masing. Sepertinya pistol pembawa petaka telah dilempar entah kemana, hanya ada tongkat bisbol dan pipa besi yang bertengger di tangan mereka.

Mike dan Zero berajalan lebih dekat untuk menyaksikan sebuah pentas panggung dari balik dinding bangunan yang mereka anggap cukup aman untuk mengamati kondisi. Mike bersiul penuh takjub, melihat dua wanita yang dikiranya sedang meringkuk penuh ketakutan, terlihat bergerak denagn lincah mengayunkan besi ditangan mereka. Zero ternganga tak percaya, kedua wanita itu sungguh tangguh. Zero bahkan sedikit sedih karena tak memiliki nyali sebesar mereka.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!