EPISODE 14

Sebuah mobil pickup terparkir di atas jalanan beraspal hitam, menghiasi halaman apartemen kecil, sebuah markas orang-orang yang telah dilanda rasa kantuk dan kelelahan akibat aksi mereka beberapa jam yang lalu. Matahari naik ke atas, memberikan cahaya untuk menciptakan bayangan setiap makhluk di bawahnya.

Mike membuka mata dengan malas, ketika sinar mentari mencolek kelopak matanya. Antara sadar atau tidak, Mike bergerak duduk dengan kepala yang lentur; bergerak naik turun. Sofa yang menjadi tumpuan tidurnya benar-benar penuh dengan tubuh manusia yang masih larut di alm mimpi mereka masing-masing. Seorang pria tua bermata biru terlihat menatap keluar jendela dengan secangkir kopi ditangannya. Setelan ala pemburu binatang hutan sangat serasi dibadannya, ditambah dengan sepucuk senapang angin yang tergeletak di pangkuannya. Sepertinya sesuatu menarik perhatiannya, retina biru itu sama sekali tak berkutik menatap ke luar jendela.

Mike berjalan mendekat sembari berkata,"apakah ada hal menarik di luar?. Sepertinya kau terlalu serius jika hanya menatap sebuah zombie yang merobek tubuh kucing dan memakannya?".

Pria tua itu melihat kearah Mike, kemudian tersenyum,"tidak ada hal yang menarik, hanya seonggok tubuh hancur yang membuat ku sedikit penasaran". Retinanya kembali menatap lepas ke luar jendela. Ditelitinya wajah gadis kecil yang tersenyum kearahnya. Wajah didepan kepala yang tak memiliki anggota tubuh lainnya. 'Sungguh tatapan kematian yang mengerikan', pikirannya.

"Dia gadis kecil yang malang, bahkan aku masih ingat jeritan terakhir sebelum truk besar melindas dan ******* tubuh kecilnya", ucap Mike.

Tak ada reaksi dari pria tua yang duduk dengan secangkir kopi ditangannya, itu. Matanya kemudian mengalih ke benda panjang yang terbaring diatas pahanya. Tangan keriputnya membelai alat pembunuh itu dari kiri ke kanan. Mike berniat meninggalkan lelaki tua itu dan pergi ke kamar mandi, sebelum pria itu menghentikan langkahnya.

"Kau masih saja berhati dingin, Mike?!.", Pria tua itu berhenti sejenak seakan mengingat sesuatu, kemudian kembali berkata,"seperti kehidupan lalu. Kau tahu, bahkan moncong senapan ku ini kalah dinginnya dengan hati mu!".

Mike tersenyum, tanpa menoleh kearah pria beretina biru itu ia berkata; "Tolong ajarkan aku untuk berhati lunak, Tuan Loner!. Ngomong-ngomong terimakasih untuk tumpangan mu tadi. Kami tertolong".

"Tidak, tidak. Berterima kasihlah kepada sobat yang satu itu", ia menunjuk seorang pria yang terkulai tak berdaya di samping sofa.

"Aku pasti akan berterima kasih setelah tahu alasan kenapa dia diikat secara sadis seperti itu", ucap Mike, kembali melangkah menuju kamar mandi.

Loner, si pemilik retina biru, menyeruput kopi hitam kental yang ditampung oleh gelas kaca berdiameter lima centimeter. Tangannya dengan lembut mengusap senapan angin di pangkuannya, kemudian berkata; "Hadiah menarik karena datang ke kota!, Ia kan, me-ki?".

Pria itu memejamkan mata, menyembunyikan mata indah berwarna biru langit itu dibalik kulit kelopak mata miliknya. Masih lekat diingatan Si tua Loner ketika ia baru saja menempuh perjalanan suram dikelilingi pepohonan, sebelum ia melihat indahnya bangunan kota yang dilapisi lampu warna warni. Loner menikmati perjalanan, dengan ditemani musik klasik yang diputarnya di dalam mobil. Dengan sedikit bersenandung ia lewati bangunan-bangunan tinggi menjulang yang berbris rapi di sepanjang jalan. Jalanan kota sangat tenang, pikirnya. Dia berniat melakukan sebuah atraksi mobil pengangkut, sebelum sebuah kendaraan lain melaju tak terkendali dari arah belakang, benar-benar mengurungkan niatnya. Dan malah berusaha menghindari serangan tak tentu arah dari mobil gila yang menerjang jalanan.

Edward Loner membanting setir ke kekiri, diarahkannya mobil pickup yang dinaikinya kearah sebuah halaman bangunan yang cukup luas. Mobil gila yang mengejarnya berlalu pergi dengan ban yang terus berkelok-kelok. Loner memutar mobilnya, kembali meneruskan perjalanan yang sempat terjeda hanya karena sebuah mobil yang desetiri seorang zombie. Jalanan kota membawanya ke sebuah atraksi eksekusi zombie yang cukup menarik. Dua orang wanita dengan semangat mengayunkan senjata mereka kearah manusia berliur yang berusaha menggapai kaki mereka.

Seorang pria terlihat menyadari kedatangannya. Dengan wajah tersenyum layaknya seorang profesional, ia mengangkat tangannya kelatas dengan gerakan sedikit melambai. Pria itu berdiri tak jauh dari kerumunan zombie yang minta dipukuli. Loner tua mengingat wajah itu, wajah dingin seseorang yang datang ke gubuk tuanya, dengan tubuh penuh darah. Loner mendekati lelaki itu, beruntung mesin tua yang ditumpanginya tak menimbulkan suara sama sekali.

"Aku butuh sedikit bantuan mu, teman?", Ucap Mike, si pria yang melambaikan tangan kepada Loner.

"Aku tidak keberatan!.", Loner berhenti sejenak, melirik kearah dua wanita yang sedang berpesta melalui kaca spion. "Apakah kau ingin menghentikan pesta panggung mereka?", Ucapnya. Menunjuk kearah kerumunan zombie dengan jempolnya.

"Aku sedikit khawatir!, Bisa dilihat mereka benar-benar kewalahan".

"Apa rencana mu?".

"Hoho, tentu sangat menarik", tawa licik diatas ekspresi menyeramkan milik Mike, membuat Zero yang sedari tadi hanya mengamati bergidik ngeri.

"Aku tidak peduli dengan hal yang menariknya, sobat!. Tapi kuharap dapat sedikit menghibur di tahun baru ini?!".

"Tentu saja, tentu saja"

Mike berjalan mendekat, diikuti oleh Zero yang juga ingin tahu apa yang akan didiskusikan Mike dan Loner. Beberapa menit setelah diskusi, Mike memberi kode kepada dua wanita pengayun besi itu. Loner mengarahkan bagian belakang pickup mendekati kerumunan zombie, dengan jarak sekitar lima meter, Zero memukul-mukul pickup sehingga menimbulkan suara bising yang memancing para zombie untuk mendekatinya. Mike kembali memberi kode untuk melemparkan tubuh pria yang terikat di dalam minimarket kearah pickup. Loner ingat betul seringai menyeramkan kedua wanita itu ketika hendak melemparkan pria malang itu. Entah apa yang terjadi sebelumnya, pria itu terlihat jelas memasang wajah pasrah, seakan malaikat maut telah berada di depan matanya dan siap melemparkannya ke liang kubur.

Tubuh pria itu mendarat dengan molek, Zero terus membuat suara bising di belakang. Loner memacu mobilnya sesuai arah yang dikatakan Mike sebelumnya. Dengan mempertahankan kecepatan 60km/jam, Loner terus melirik kearah belakang melalui kaca spion. Zero yang terus memukuli besi di belakang, terlihat bermandikan peluh di wajahnya. Sepertinya Mike memberikan tugas kepada orang salah, pikir Loner. Pria dibelakang dengan tubuh terikat terus meronta-ronta, sesekali terdengar ancaman Zero yang berkata jika pria yang terikat itu terus meronta, dia akan melemparkannya kearah zombie-zombie yang berjalan dibelakang, sebagai makanan untuk mereka.

Loner terus memacu mobilnya, kali ini lebih cepat. Dan Zero terpaksa memukuli besi pickup itu dengan sangat keras, agar zombie-zombie itu terus mengejar mereka. Dari sekian banyak zombie yang mengejar hanya bebarapa yang tersisa. Sebuah gudang kayu telah didepan mata, Zero membuka ikatan pada tubuh pria malang itu, kemudian ia memberikan tongkat bisbol dan mengikatkan gelang berlonceng besar di kedua kakinya, dengan senyum menyeringai. Loner melihat pria malang itu meloncat dari bak pickup, suara gemerincing yang cukup nyaring muncul ketika kakinya berpijak ketanah.

Kemudian terdengar teriakan Zero dari belakang, "berjuanglah pak tua!, Aku tak tahu apa masalahmu dengan kedua wanita itu. Yang jelas, larilah ke dalam dan panjat jendelanya, jika kau masih ingin membuka matamu!".

"Sial!. Sepertinya nasib baik sedang tak berpihak padaku?!", Pria itu mengumpat. Dengan langkah bergemerincing, pria malang itu terlihat berlari memasuki gudang kayu, diikuti segerombolan zombie. Zero terlihat berhenti memukuli bak pickup. Dengan sedikit arahan darinya, Loner menghentikan mobilnya tepat di belakang gudang kayu. Zero melangkah pergi dengan cepat untuk menutup gudang kayu dengan memasang beberapa lempengan besi dengan alat bor listrik yang ia temukan di toko perkakas tak jauh dari tempatnya mengamati kedua wanita yang sibuk memukuli zombie, Sementara itu Loner, duduk diam di kursi pengemudi, menunggu kemunculan pria malang yang dijadikan tumbal untuk memerangkap segerombolan zombie.

Terpopuler

Comments

gadis sukses (amin)

gadis sukses (amin)

lanjutkan 😎 bagus cerita tau👇🤘👍

2022-12-21

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!