EPISODE 19

Tim B naik menuju lantai dua menggunakan tangga kayu yang didesain dengan antik. Mike memimpin di depan dengan melangkah pelan, berusaha untuk tidak menimbulkan suara. Jauh berbeda dengan lantai pertama, cahaya disini terlihat sangat terang karena ada sebuah kaca bening besar yang dibingkai seakan sebuah lukisan raksasa yang menampakan pemandangan perkotaan dengan langit biru berawan, yang membuat sinar matahari menerobos masuk dengan senang hati.

Meja dan kursi terlihat berserakan, begitu juga dengan hidangan diatasnya. Mike terus melangkah masuk diikuti oleh Zero yang bahunya dijadikan sandaran tangan oleh Rena yang ikut berjalan dibelakangnya. "Kenapa wanita ini sekarang menjadi seorang penakut?", Batin Zero.

Alis hitam Mike, bertaut sempurna ketika matanya menangkap sepasang kaki yang terbujur dibelakang meja yang beralaskan kain. Mike menimbang-nimbang untuk melangkah mendekat ia kemudian mengulurkan tangan kebelakang, "Rena, Tolong pinjam pistolnya!", Pinta Mike.

Rena terkesiap ia meraba-raba tubuhnya, mencari diamana pistol yang seharusnya berada di genggamannya. "Maaf Mike, sepertinya aku meninggalkannya di lantai bawah.", Ucap Rena merasa bersalah. "Aku akan mengambilnya!", Ucapnya kemudian. Rena berbalik, kembali menuju tangga untuk kelantai bawah. Namun sepertinya dia harus mengurungkan niatnya. Sepuluh atau bahkan lebih zombie yang telah berkeliaran dibawah tangga yang tadi mereka lalui.

Dengan kaku Rena menoleh kearah kedua teman satu timnya. "Aku benar-benar minta maaf, tapi sepertinya aku tidak bisa?!", Keluhnya.

Mike melangkah mendekat, ia bingung dimana para zombie itu bersembunyi. Bukankah seluruh ruangan telah diperiksa. Apakah mereka memiliki sebuah pil atau apalah yang bisa mengecilkan tubuhnya dan bersembunyi dilubang semut, dan keluar ketika mereka telah naik ke lantai atas. "Tidak apa, asal tidak ada sesuatu yang menarik perhatian mereka, semua kan ba...", Belum sempat Mike menyelesaikan kalimatnya, sebuah teriakan histeris muncul dari arah belakang.

Zero mendekap mulutnya sendiri setelah berteriak cukup kencang, wajahnya memerah dengan air muka panik, tangannya terlihat menunjuk kearah belakang meja yang terlihat menyembunyikan tubuh sang pemilik kaki yang terbujur. Mike menoleh sebentar kearah Zero kemudian kembali berpaling kearah lantai bawah. Beberapa Zombie berjalan naik melalui tangga. Mereka sungguh tidak beruntung, pintu yang menjadi jalan masuk atau keluar ruangan melalui tangga itu, tidak memiliki daun pintu sama sekali. Mike memutar otak mencari ide untuk membuat zombie yang bergerak naik itu kembali turun kebawah.

Rena melangkahkan kakinya menuju sebuah meja dengan vas bunga diatasnya. Sedetik kemudian dia kembali dengan vas kaca yang telah kosong ditangannya. "Mungkin ini sedikit membantu", ucapnya sambil memperlihatkan benda yang ada di tangannya.

"Atau mungkin sangat membantu!", Balas Mike bergerak mengambil vas kaca dari tangan Rena, dan kemudian dia lemparkan ke bawah setelah menemui titik yang memungkinkan.

Suara pecahan kaca membuat beberapa zombie terlihat berbalik dan mendekati sumber suara. Zombie yang tidak tertarik hanya melihat sekilas kearah vas pecah itu, dan kembali melanjutkan langkahnya. Rena kembali mengambil beberapa vas kaca dan melemparkannya ke bawah. Mike menumpuk beberapa kursi kayu yang ia temukan, di depan pintu. Zero ikut membantu dengan menyusun meja setelah tumpukan kursi yang disusun Mike sebelumnya.

Mereka bertiga menghembuskan nafas lega. Zero menyeka keringat yang terus mengalir diwajah setengah pucatnya.

"Bernafas lah kawan! Benteng kayu itu tidak akan bertahan lama", Ucap Mike.

"Ya, setidaknya kita bisa memikirkan rencana selanjutnya", Sahut Rena.

Suara deru nafas Zero, menyita perhatian Mike. Nafas Zero sama sekali tidak beraturan. Sesuatu pasti mengganggu pikirannya, dia seperti telah menyaksikan sebuah eksekusi yang dramatis. Dimana orang yang dieksekusi adalah seorang pria yang tidak jelas kejahatannya, pria malang dengan lima anak kecil dibawah umur yang masih belum tahu arti kehidupan dan tanpa seorang ibu. Pria malang yang akan meninggalkan buah hati dengan eksekusi pemenggalan kepala yang akan ditonton oleh keluarga kecilnya.

Mike melirik kearah meja yang sebelumnya ditunjuk oleh Zero. "Apakah ada hal yang tidak bagus disana?", Tanya Mike kepada Zero.

"Begitulah, sobat! Aku bahkan hampir memuntahkan isi perutku yang sudah kutahan untuk tetap berada di tempatnya", Balas Zero. Dia memandang wajah Mike yang terlihat penasaran pada sesuatu yang sedang dilihatnya.

Zero mengikuti arah mata Mike, "jika kau penasaran, pergi dan lihat saja! Kau tetap akan hidup walau melihatnya dengan matamu", ucapnya.

Mike melangkah mendekat ke sepasang kaki yang sedari tadi menyita perhatiannya. Hanya orang dengan lambung terkunci yang bisa melihatnya. Sebuah mayat pria dengan tubuh terkoyak, dari dada hingga pusar. Ribuan tetes darah yang sudah mengering mengotori sekitarnya sejauh tiga meter. Kepalanya menghadap kesamping dengan mulut ternganga dan mata terbuka lebar. Begitu jelas tergambar diwajahnya ketika tubuhnya dikoyak-koyak dengan sangat brutal. Tubuhnya yang pucat beralaskan darah kering miliknya sendiri. Mike tidak menampilkan ekspresi apapun diwajahnya, bagaimanapun dia mungkin telah melihat hal yang lebih kejam dari yang ada di depan matanya, atau melihat manusia yang terbunuh dengan sadis sudah menjadi penampakan yang lazim, baginya. Mike berjongkok, berniat memeriksa mayat yang ada didepannya. Rigor mortis (kaku mayat) pada tubuh pria itu sudah hampir menghilang, waktu kematiannya kurang lebih 12 jam yang lalu. Tubuhnya pucat dengan lebam kebiruan yang menggenagi dagingnya.

Rena datang menghampiri dengan tangan yang sedang sibuk melayangkan vas bunga ke udara dan kembali menangkapnya. "Ada apa Mike?", Tanyanya.

"Tidak ada! Hanya sesuatu yang cukup buruk untuk dilihat", Jawab Mike.

Mata Rena terbelalak, jantung miliknya seakan meronta keluar dari tubuhnya, perutnya melilit dan menjerit. Layangan vas bunga tidak bisa ia tangkap lagi dengan tangannya yang kini bergetar hebat. Mike bergerak cepat mengulurkan tangannya untuk menangkap vas bunga yang dijatuhkan Rena. "Aku minta jangan membuat suara apapun, atau orang-orang pucat diluar sana akan mengamuk dan menerkam kita disini", Ucap Mike memperingati.

Rena memandangi sebuah lorong yang sepertinya akan membawanya ke sebuah ruangan yang dicarinya. "Maaf... Tapi..., Sepertinya aku harus mencari toilet!", Ucapnya. Kemudian bergegas pergi, dengan tangan memegang mulut dan perutnya.

Zero menatap kepergian Rena, dengan yang sedikit alis terangkat. "Sepertinya, lambungku lebih kuat?", Ucapannya. Dia menepuk perutnya dengan tangan kanan kemudian mengacungkan jempol kearah Mike dengan bangga.

"Ya, ku akui itu!", Ucap Mike mengiyakan.

Mayat pria malang itu Mike tutupi dengan taplak meja berwarna cokelat gelap. Dua pria itu menatap mayat yang kini tertutup kain selama beberapa saat. Mereka seperti sedang membayangkan seperti apa kejadian yang menimpa pria itu, hingga sebagian tubuhnya hancur tak berbentuk. Apakah dia sudah mati pada saat dikoyak, atau mungkin malah dikoyak hidup-hidup. Cukup kejam untuk dibayangkan bagaimana berakhirnya hidup pria itu. Tapi, setidaknya dia telah bebas dari siksaan yang lebih menyakitkan, menjadi zombie adalah hal yang paling hina bagi Mike.

Zero menghela nafas, ia memalingkan wajahnya kearah pintu yang telah dibentengi meja dan kursi. Dia tidak tahu sampai kapan benteng pelindung mereka itu tetap berdiri. Tidak ada suara dorongan atau cakaran dari luar, sepertinya akan aman selama mereka tetap tenang di dalam sana.

"Maaf mengganggu lamunan kalian!, Tapi aku sedikit butuh bantuan disini!", Ucap Rena dari mulut lorong.

Mike dan Zero berjalan mengekor dibelakang Rena. Sebuah pintu kayu bercat putih dengan lambang wanita menjadi tujuan mereka.

"Pintunya terkunci dari dalam, atau sama sekali tidak bisa dibuka. Dan aku mendengar sebuah suara. Sepertinya manusia, tapi aku tidak yakin. Karena saat ku ketuk pintu ini, sama sekali tidak ada sahutan atau balasan dari dalam", Ucap Rena, sedikit bingung.

Zero dan Mike bertukar pandang. Mereka mempertimbangkan untuk mendobrak pintu putih itu. Entah itu zombie atau manusia yang sedang ada di dalam. Jika manusia maka mereka harus memperingatkan mereka untuk menjauh. Dan jika zombie, akan merepotkan dan sangat sedikit kesempatan untuk membela diri jika terjadi serangan mendadak.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!