EPISODE 04

"Hei, Mike? Apakah kau yakin tidak ingin memberi tahu peristiwa itu ke pihak berwajib?", Tanya Zero dengan mulut penuh spaghetti.

"Lebih baik kau kunyah dan tekan terlebih dahulu apa yang ada di mulutmu, baru bicara!", Protes Mike.

Zero membalas Mike dengan senyum lebar, memperlihatkan gigi-giginya yang mantap menggigit belasan spaghetti. Kemudian lanjut mengunyah makanannya. Mike benar-benar menyerah dengan temannya yang satu ini. Namun, perkataan Zero ada benarnya 'bagaimana jika dicoba dulu, masalah dipercaya atau tidak itu masalah belakangan'.

Sebuah suapan terakhir mendarat ke mulut Mike sebelum dia beranjak keluar restoran dan meninggalkan Zero yang masih terpaku menatap dirinya, tanpa berkedip.

Pria yang ditinggal oleh temannya itu hanya bisa menghela nafas dan tersenyum kecut, menatap spaghetti miliknya yang hampir habis didepannya. Dengan kesal dia bergumam,"Bagus! Bagus sekali Mike!. Sangat bagus!, Aku akui itu!. Aakkhh!!".

Seakan mengerti situasi yang sedang melanda seorang pria yang sedang duduk dengan menggenggam garpu ditangannya, seorang wanita pelayan restoran mendekati Zero, menyapa dengan ramah diikuti senyuman,"Selamat pagi, tuan!. Ada yang bisa saya bantu, tuan?".

Zero hanya membalas pelayan pelayan wanita itu dengan senyuman, dia benar-benar tak tahu harus berbuat apa saat itu juga."Jika aku bertemu dengan mu, Mike. Aku akan pastikan jika kau akan puasa tanpa makan seharian penuh!", Batin Zero, berusaha mempertahankan senyum diwajahnnya.

...◣◈◊◈◢...

"Demi apapun, Mike!. Aku menginginkan tanggung jawabmu sekarang!".

"Apa kau hamil?", Tanya Mike menghentikan langkahnya, kemudian menatap Zero dengan wajah serius.

Zero bingung, dia memalingkan wajahnya dengan dahi berkerut dan alis bertaut, berusaha mencerna apa yang diucapkan orang disampingnya. Kemudian dia kembali menatap Mike dengan wajah bingung, dan berkata,"Tidak".

"Bagus!. Jadi tak ada yang harus ku pertanggung jawabkan?!" Ucap Mike, kembali melangkah. Meninggalkan Zero yang masih mematung memikirkan ucapan Mike.

"Apa? Hei Mike, tunggu! Bukan itu yang kumaksud!. Hei!", Teriak Zero, mengejar Mike.

"Lalu apa?, Kucing mu hamil?"

"Demi apapun, hentikan kata-kata hamil itu, Mike!"

"Baiklah, Zero. Jika bukan hamil berarti..... Melahirkan? Kucing mu?"

"Mike!!. Kumohon!"

"Bukan?. Kamu? Istrimu?"

"Baiklah, Mike! Aku benar-benar menyerah!"

"Baguslah!"

"Aku benar-benar tidak bisa membayangkan, kenapa aku bisa berteman dengan orang seperti mu?"

"Takdir, sob. Ini adalah takdir!"

"Ya!, Takdir yang sangat buruk!"

"Aku suka kata-kata mu"

"Terserah!"

"Baiklah sob, sepertinya perdebatan kita harus berakhir?", Mike menunjuk sebuah gedung yang menjadi tujuannya.

Sebuah gedung tinggi berwarna abu-abu, berdiri tegak dihapan mereka. Orang-orang berpakaian setelan jas, dan seragam putih-biru keluar masuk dari pintu kaca gedung. Lambang merak terukir jelas didepan gedung. Tak ada kendaraan yang berlalu lalang didepan gedung, karena terletak jauh dari jalan raya. Gedung memiliki lapangan berbentuk jalan disekelilingnya. Beberapa kendaraan bercat putih-hitam terparkir rapi di samping gedung, yang dihiasi tumbuhan hijau yang menghiasi tepian gedung.

Zero melihat gedung di depannya sekilas, kemudian untuk beberapa kalinya, dia melihat Zero dengan kening berkerut, "Kepolisian pusat?" Ucap Zero, tak percaya.

"Ya!, Kita akan berbincang sedikit disini. Kuharap!" Jawab Mike.

"Apa kau berniat untuk mengadukan 'cerita' mu ke pihak kepolisian?"

"Berhentilah memasang wajah jelek seperti itu", ucap Mike, kemudian melangkah mendekati gedung. Diikuti Zero yang tak henti-hentinya mengomel, dibelakangnya.

Dua orang itu melangkah masuk ke dalam kantor pusat kepolisian, lorong bercat silver mengiring langkah kedua orang pria tersebut. Seorang pria berbadan tegap berjalan melewati mereka dengan tatapan selidik kearah kedua pria itu. Zero memperhatikan punggung pria berbadan tegap itu ketika pria itu telah melewatinya. Zero menyikut lengan Mike dan bertanya, apakah dia yakin ingin memberitahukan kisahnya pada polisi, dan Mike hanya menjawab, jika dia hanya berniat mencoba, setidaknya dia sudah berusaha, dari pada tidak sama sekali. Mike benar-benar tak gentar untuk menceritakan semua cerita dan kisah yang telah dilaluinya saat menghadapi segerombolan zombie di masa itu. Zero mngangguk tanda setuju dengan apa yang dikatakan Mike.

"Apa kau tau kita akan kemana?, Rasanya seperti berjalan tanpa tujuan yang jelas?", Ucap Zero merasa aneh.

"Kau benar!. Tapi tujuan kita benar-benar besar!. Aku harus mengumpulkan peluh sebelum berbanjir keringat didalam ruangan", Jawab Mike, bergerak menaiki tangga darurat, menuju lantai atas.

"Baiklah! Aku benar-benar menyerah dengan Mike. Lift tak jauh dari sini! Dan dia memilih menggunakan tangga?. Aku benar-benar tidak mengerti!" Bisik Zero.

"Apa kau melihat dua pria mencurigakan lewat sini?", Tanya pria berbadan tegap dengan jas melekat di tubuhnya.

"Ya sersan, sepertinya mereka menaiki tangga menuju keatas", jawab seorang pria dengan setelan putih-biru, menunjuk kearah tangga yang dinaiki Mike dan Zero.

"Baik, terikasih!. Lanjutkan tugasmu!", Ucap pria berbadan tegap itu menepuk pundak lawan bicaranya, kemudian melangkah mengejar dua pria yang tadi terlihat menaiki tangga.

"Em..., Sepertinya sebelah sana?!" Ucap Mike, menunjuk ruangan berpintu putih. Kemudian berpaling ke pintu lainnya, dan mengatakan hal yang sama.

"Oh ayolah kawan! Hei, apakah kau tidak berfikir jika pria menyeramkan tadi akan kembali dan menghampiri kita, kemudian mengintrogasi kita, dan akan menghukum mati kita, karena masuk tanpa izin ke sini?", Ucap Zero cemas.

"Sepertinya sudah terlambat untuk kita memikirkan nya. Lihat dia datang!", Ucap Mike menunjuk kearah tangga, yang beberapa detik kemudian menampakkan sebuah sosok pria tinggi berbadan tegap dengan setelan jas hitam, dan dasi biru tua menggelantung di lehernya.

Dua jam telah mereka habiskan untuk sekedar berbincang-bincang santai dengan para polisi, di dalam gedung berwarna abu-abu itu. Mike melangkah keluar dengan wajah masam, disusul dengan Zero yang terus mengoceh tentang sikap dan respon kepolisian yang melewati ekpentasinya.

"Aku benar-benar tidak mengerti!, Apakah begitu sikap seorang petugas kepolisian terhadap warga sipil yang menyedihkan ini?", Omel Zero, kecewa. "Tidak waras katanya?, Kita berdua tidak waras katanya, Mike!. Apakah mereka sedang bercanda, yang tidak waras itu bukan kita berdua tapi...", Ucap Zero menghentikan ucapannya, menoleh kearah Mike memeriksa ekspresi yang sedang dilukis diwajahnya. Kemudian melanjutkan ucapannya dengan sedikit berbisik,"Hanya kau, Mike!".

Mike menghentikan langkahnya,"Bahkan kau masih mempertahankan pemikiran mu, Zero?, Jika kau bertanya kepadaku, maka aku akan menjawab, jika aku tidak yakin dengan kejiwaanku. Bisa jadi benar! Aku gila?, Tapi bisa jadi ceritaku benar!. Sekarang aku memberimu dua pilihan, Zero!". Mike mengeluarkan sebuah kartu kredit dari saku mantelnya dan menunjukkan kartu itu kepada Zero, kemudian dia berkata,"Jika kau tak percaya padaku dan menganggap ku tidak waras, ambil kartu ini dan pergilah!. Atau kau ingin...".

"Ya baiklah!Terserah padamu. Sebaiknya kau membelanjakan isi kartu ini, dari pada kita mati kelaparan ditahun depan!", Ucap Zero sambil mendorong kartu yang ditunjukkan Mike, kemudian melangkahkan kakinya kedapan, meninggalkan Mike yang terharu dengan sikap sahabatnya. "Hei! Apakah kau akan tetap diam disana dan dimakan Zombie?!", Teriak Zero, melihat Mike yang masih berdiri mematung di trotoar jalan dengan wajah tersenyum tipis.

"Ya-ya, baiklah. Kelihatannya kita akan menikmati 2 atau 3 botol minuman malam ini?", Ucap Mike, bergarak menghampiri Zero, dan merangkul sobat ya itu.

"Ide yang bagus!, Aku sangat setuju!", Sorak Zero, kemudian disambung dengan suara gelak tawa mereka berdua.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!