EPISODE 05

Hari-hari yang cukup membingungkan berhasil mereka lalui. Nanti malam adalah puncaknya. Segudang persediaan telah mereka tata sedemikian rupa di dalam sebuah kamar apartemen berukuran 4x3,5 meter.

Mike menatap keluar jendela kamar, dilihatnya langit dengan sejurut bangunan tinggi yang menghiasi. Ekspresi senang, bercampur dengan kabahagiaan untuk melepas karinduan dengan para zombie benar-benar terpancar dari wajah Mike. Zero yang sedari tadi memerhatikan Mike, benar-benar bergidik ngeri melihatnya. Kemudian dia menghampiri Mike menepuk pundaknya, kemudian berkata,"Hentikan ekspresi bodoh mu itu, Mike!. Kau terlihat seperti sedang menunggu seorang wanita bergaun merah".

"Hahaha, bukan wanita bergaun merah, Zero!. Sepertinya lebih tepat disebut menanti seorang mempelai wanita bergaun putih yang akan berjalan dikarpet merah bersamaku!", Balas Mike sambil tertawa.

"Huh!, Baiklah terserah padamu saja!. Ngomong-ngomong apakah kisah yang kita ceritakan hari itu, dapat diterima pihak pemerintah?"

"Aku rasa tidak?!. Tak ada balasan sama sekali. Aku pikir kita harus berhenti berharap dengan para manusia yang menduduki jabatan di pemerintahan?"

"Ya, kau benar!. Dengan kata lain, hanya ada kita berdua?"

"Tidak! Tentu saja. Aku sudah mengirim pesan kepada pihak surat kabar beberapa hari lalu. Dan jika kau rajin membaca, kau akan melihat sepenggal kisah ku di halaman tengah koran pagi. Aku sudah membayar untuk menampilkan kisah ku itu selama 3 hari."

"Aku tidak percaya jika mereka mempercayai ceritamu!"

"Oh ayolah, apakah seburuk itu?"

"Justru sebaliknya!, Aku pikir ceritamu cukup mulus tanpa cacat. Seperti seorang penulis novel profesional!"

"Maaf, aku benar-benar tidak tau harus membalas apa"

"Hohoho, santai saja sob. Itu benar-benar setengah pujian dan setengahnya lagi hinaan!"

"Aku sudah menduganya, tidak perlu diperjelas!"

"Maaf!?"

"Baiklah!, Aku memaafkan mu" Balas Mike, kemudian bergerak meraba saku celananya, mengambil sebuah buku rekening, memeriksa saldo yang tersisa dikartu kredit milik Zero. Angka-angka yang berderet rapi di dalam buku sedikit membuat Mike lega. Karena uang yang tersisa masih bisa digunakan untuk menjalankan sedikit rencana kecil milik Mike, yang dipikirkannya semenjak lima hari belakangan. Dengan langkah mantap dia berjalan keluar pintu kamarnya, meninggalkan Zero yang masih menatap langit berhias awan dari balik kaca jendela.

"Burung yang indah. Bukankah itu warna biru?, Hei Mike, apakah kau tau itu burung jenis apa?", Ucap Zero menunjuk sebuah burung kecil yang bertengger diranting pohon tak jauh dari tempat dia berada. Mendengar tak ada sahutan dari Mike, Zero memutar kepalanya mencari keberadaan temannya itu. Zero melihat kearah pintu yang terbuka lebar, kemudian beralih ke rak sepatu didekat pintu, yang dilihatnya sudah tidak ada sepatu hitam milik Mike yang tadinya terpajang di sana.

"Nah. Sekarang dia meninggalkan ku?, Apakah Mike sama sekali tidak pernah peduli padaku?", Dengus Zero. Dia lebih memilih kembali melihat keluar jendela dari pada mengejar Mike, tak lama getar ponsel mengagetkannya Zero lantas memetikan panggilan, kemudian dia dikejutkan dengan lemparan batu kerikil dari arah jalanan. Terlihat Mike yang mengipas-ngipaskan kartu kredit dari trotoar jalan dengan tangannya.

Zero bergerak membuka jendela, kemudian berteriak,"apakah kau mengajakku minum?". Mike membalas dengan anggukan. Zero dengan cepat turun, menghampiri Mike.

Dua kantung putih besar, berisi berbagai macam makanan dan minuman cepat saji bergelantungan di kedua tangan pria yang sedang melangkah menaiki tangga apartemen kecil dipinggir jalan. Sebuah ruangan dilantai tiga menjadi tujuan mereka, terjangan kaki Mike layangkan untuk membuka pintu ruangan kecil yang tidak terkunci itu. Mike masuk terlebih dahulu, dan disusul oleh Zero yang terus mengeluh tentang beban berat (dua kantong besar minuman) di kedua tangannya. Zero meletakkan dua kantung minuman yang dibawanya itu di depan setumpuk besar minuman lainnya, yang telah mereka siapkan beberapa hari sebelumnya.

Mike bergerak menata rapi isi didalam kantung yang tadi dibawanya. Sementara, Zero memukul-mukuli pinggangnya yang terasa nyeri. "Kau tadi mengatakan, jika kau membawaku pergi minum. Tapi apa yang kudapat?".

Mike menghentikan aktivitasnya kemudian berkata,"bukankah yang kau bawa di dalam kantong itu minuman?".

Zero mendengus,"itu bukan Alkohol!".

"Sobat!, Tidak baik terus-terusan mengonsumsi alkohol!. Lebih baik kau minum saja jus jeruk atau minuman isotonik yang kubeli di dalam kantung itu!", Saran Mike sembari kembali bergerak menata makanan yang tadi dibawanya.

"Baiklah!", Zero menatap lesu kantong putih di depannya, kemudian bergerak mengeluarkan isi didalam kantung. Diambilnya sekaleng minuman isotonik, kemudian bergerak membuka kaleng dan meminumnya. "Ini tidak buruk!", Ungkap Zero menikmati minumannya.

"Kalau begitu, tolong susun kaleng dan botol minuman yang ada di kantong itu!", Perintah Mike.

"Ya baiklah!", Dengus Zero. "Ngomong-ngomong, Mike. Apakah kita tidak membutuhkan senjata?, Aku lihat yang sibuk kita kumpulkan hanyalah setumpuk makanan dan minuman cepat saji", Tanya Zero.

"Berpikirlah, Zero!. Bagaimana kita mendapatkannya?, Apakah kau ingin mengusulkan untuk membuat surat izin kepemilikan senjata api?, Itu terlalu lama untuk diprosesnya!. Atau kau ingin membeli senjata api ilegal? Rakitan?, Itu sungguh mustahil!, Semua pedagang senjata api ilegal dan rakitan telah dipantau dan ditangkap semenjak setengah tahun terakhir", Terang Mike.

"Kau benar juga!, Tapi apakah tidak perlu senjata tajam yang tidak memerlukan surat izin kepemilikan atau semacamnya?", Tanya Zero.

"Aku juga sempat berfikir ingin membeli beberapa pisau dan pedang. Tapi jika dipikir-pikir, sebaiknya kita membeli makanan dari pada senjata jarak dekat!. Karena zombie ini sangat angresif, aku bahkan tak pernah menyentuh pisau saat berlawanan dengannya, aku hanya melawan mereka dari jauh!", Jelas Mike, dengan gerak memperagakan perbedaan serangan-serangan dengan pisau dan pistol.

"Untuk yang kedua kalinya, kau ada benarnya!", Ucap Zero setuju. Sebuah pertanyaan kembali muncul dari kepala Zero, "Tapi, bagaimana cara kita menyerang, jika kita sama sekali tidak memiliki senjata untuk melawan?".

"Apakah kau ingat sebuah gedung kecil tanpa jendela yang ada di dekat taman?", Tanya Mike.

"Maksudmu, rumah beton kecil yang dilengkapi sepuluh cctv, itu?. Ya aku mengingatnya!. Memangnya kenapa?", Jawab Zero.

"Bangunan itu sebenarnya kamuflase dari sebuah gudang senjata. Berbagai senjata bersembunyi dibawah bangunan kecil itu. Mungkin didalam bangunan itu hanya ada setumpuk barang tak berguna, namun hartanya bukan diatas tapi dibawah!", Terang Mike.

"Kau hebat sob!. Tunggu apa lagi!, Ayo!!", Seru Zero, kemudian bergarak keluar ruangan. Dengan cepat Mike menarik kerah leher baju Zero, yang membuat Zero sekitika berhenti melangkah, dan membuka mulut untuk protes.

Sebelum Zero memulai omelannya, Mike berucap lebih dulu,"Aku mengatakan itu bukan untuk mengambil senjata itu!. Aku harap kau sedikit bersabar, karena segudang senjata itu tak akan lari kemana-mana!.", Ucap Mike, melepaskan tangannya yang memegang kerah leher baju milik Zero.

"Tapi, jika kita tak mengambilnya sekarang kita tak akan ada waktu lagi!", Protes Zero.

"Tenanglah sob, pasti ada waktu!", Bantah Mike. Lanjut menata makanan cepat saji yang masih berbungkus di dalam kantong.

"Kapan?", Tanya Zero kurang yakin.

"Tepat dihari kedua kiamat Zombie melanda dunia!", Jawab Mike penuh keyakinan.

"Apa kau serius?!. Dengar Mike! Aku benar-benar tak ingin menjadi zombie untuk yang kedua kalinya!. Aku harap kau serius dengan semua hal ini!", Terang Zero.

"Hahaha, kau tenang saja Zero!. Aku benar-benar serius dengan semua ini!. Apakah kau berfikir jika aku akan mempermainkan hidupku?", Balas Mike. "Ngomong-ngomong, Sob. Aku akan memiliki sedikit urusan sebentar lagi", ucap Mike melihat jam yang melingkar ditangannya. "Bisakah kau tolong aku dengan sedikit urusan di toko swalayan?. Aku harap kau tidak keberatan", Sambungnya, kemudian menyerahkan sebuah kertas bertinta dengan kartu kredit diatasnya.

"Hm?, Sedikit urusan?. Baiklah terserah padamu!. Aku pergi!". Zero mengambil secarik kertas dan kartu kredit dari Mike, kemudian melangkah pergi dengan wajah tersenyum meninggalkan Mike yang katanya memiliki sedikit urusan tersebut.

"Hore!, Pesta!. Aku benar-benar bodoh!, Karena tidak dari dulu membelanjakan uang orang tua itu!", Ucap Zero bersorak.

Dua sosok wanita tiba-tiba muncul dari arah tangga, melewati Zero yang sedang membolak-balikkan secarik kertas yang diberikan oleh Mike. Dua wanita dengan rambut coklat kehitaman, berkaca mata hitam dan riasan tipis menarik perhatian Zero. Satu diantara kedua wanita itu, sepertinya pernah dilihatnya. Zero sedikit merenungi kedua wanita yang baru saja melewatinya. Kemudian dia menggubris pikirannya, dan kembali melanjutkan perjalannya.

"Apa kau yakin ini benar?", Tanya seorang wanita kepada teman disampingnya, sambil menatap daun pintu dihadapannya yang berangka 10.

"Aku tidak tahu. Tapi sepertinya kita menuju alamat yang benar!. Lebih baik kita coba saja?", Saran seorang wanita lainnya.

"Kau benar!", Wanita dengan baju putih dan celana jeans, itu bergerak menekan bel yang melekat didinding samping pintu.

Beberapa detik kemudian pintu terbuka, lalu muncul sesosok pria dengan sweater hitam melekat ditubuhnya. Mike, mempersilahkan kedua tamunya untuk masuk ke sebuah ruang apartemen lainnya yang ia sewa.

"Apakah kau tuan Mike?", Ucap salah seorang tamu wanitanya, setelah mereka duduk di sebuah kursi tamu yang terlah ditata oleh Mike sebelumnya.

"Ya. Aku Mike", Jawab Mike.

"Apakah benar anda yang menulis berita di koran beberapa hari yang lalu?", Ucap seorang tamu wanita lainnya.

"Ya, anda benar", Jawab Mike lagi.

"Perkenalkan, saya Rena. Mungkin anda pernah melihat saya?", Ucap seorang tamu wanita berbaju putih, melepas kacamatanya.

"Anda adalah seorang pelayan Cafetaria, kita pernah bertemu sembilan hari yang lalu?", Tebak Mike.

"Ya kau benar!. Aku juga mengingatmu, kamu adalah seorang pelanggan yang membentak teman di tempat yang salah", Sindir Wanita bernama Rena dengan sedikit tertawa.

"Aku harap kau juga mengingatku!", Ucap seorang wanita lainnya, bergerak melakukan hal yang sama. "Panggil saja aku Lim. Aku seorang pegawai di sebuah toko kosmetik yang pernah dikatai oleh temanmu." Ucapnya memperkenalkan diri.

"Oh! Maksud mu Zero?. Maafkan dia, orang itu memang suka membuat orang kesal", Ucap Mike.

"Ah tidak masalah! Walau memang sedikit membuatku kesal!", Tawa Lim.

"Ngomong-ngomong, melihat tulisanmu di koran. Sepertinya kau juga orang yang kembali?", Tanya Rena.

"Apakah kau juga?", Tanya Mike heran.

"Ya. Aku juga. Tapi aku hanya bertahan sampai hari ke tiga kiamat zombie. Kalau kau bagaimana?", Ucap Rena.

"Entahlah, aku tidak ingat. Bagaimana dengan mu Lim?", Kata Mike.

"Aku sama dengan Rena, aku hanya bertahan sampai hari ke tiga kiamat zombie", jawab Lim.

"Wah? Apakah kalian satu komplotan?", Tanya Mike penasaran.

"Tidak mungkin!", Jawab mereka bersamaan.

Mike mengerutkan keningnya melihat reaksi kedua tamunya. Kemudian dia bertanya "Kenapa?".

"Ceritanya panjang!"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!